
Begitu Kai dan Zheng Yan telah menghabiskan makan siang mereka. Zheng Yan bersendawa keras dengan senyuman puas di wajahnya.
"Apakah kamu senang?" Zhukai menatap datar pada Zheng Yan kemudian bertanya.
"H–Hhehehe... Ya, aku sudah lupa kapan terakhir kali aku bisa memakan makanan seperti ini." Zheng Yan berkata dengan sedikit malu sambil memainkan rambut panjangnya.
Setelah mereka berdua menghabiskan satu kendi arak yang telah mereka pesan, Kai segera pergi ke meja kasir untuk membayar semua makanan yang dia pesan.
Begitu mereka meninggalkan rumah makan, Kai bertanya pada salah satu Kultivator yang dia temui di jalan tentang kota Heinan.
"Hmm, apa kalian berdua pergi ke sana untuk menonton turnamen antar benua?"
Kai mengangguk, "Ya... Apakah kota Heinan berada jauh dari sini?"
"Tidak, jika kalian berdua Kultivator di ranah God of Destiny, kalian akan sampai di sana dalam waktu setengah hari."
"Kalian berdua hanya perlu terbang kearah sana, akan ada sebuah kota yang sangat besar jika kalian berdua terus terbang lurus kesana. Kita besar itu adalah kota Heinan."
Kai melihat arah yang di tunjukkan oleh pria itu kemudian menghela nafas sambil menunjukkan rasa terimakasihnya.
"Ayo pergi Zheng Yan, kita harus sampai di sana sebelum malam hari."
"Baiklah."
Setelah Kai dan Zheng Yan meninggalkan kota itu, Kai segera mengeluarkan bilah naga terbang sebagai kendaraan untuk pergi kesana.
Dengan kecepatan Kai saat ini, sampai di kota Heinan hanya memerlukan waktu setidaknya tiga jam.
Di atas bilah naga, Zheng Yan seperti biasanya memeluk Zhukai agar terhindar dari tekanan udara yang menghantam mereka.
"Hahaha, ternyata iblis kuno juga bisa ketakutan seperti ini juga." Zhukai tertawa ringan.
Di depannya, Zheng Yan mengerutkan keningnya sambil menatap Zhukai dengan raut wajah cemberut.
"Hmph, bicara saja sesukamu. Jika saja aku memiliki kekuatan asliku aku pasti sudah memukulmu berulang kali disini."
Kai tidak menjawabnya, dia hanya tertawa sambil menambah kecepatan dari bilah naga terbang.
Di tengah-tengah perjalanan mereka, seekor burung besar. Mirip seperti elang tetapi memiliki mata berwarna merah serta paruh yang sangat tajam.
Kwakkk! Kwakkk!!
Burung itu mengepakkan sayap besarnya hingga memunculkan gelombang angin yang. sangat kuat.
Gelombang angin itu segera menghantam bilah naga terbang tetapi itu seketika terbelah menjadi dua oleh bilah naga terbang.
"Hehehe, kebetulan sekali. Aku juga kekurangan Poin Shura saat ini."
Kai menyeringai lebar sambil mengeluarkan sebilah pedang dari Inventory nya.
"Mati!!..."
Pedang yang berada di tangan Zhukai menyala, saat Kai mengayunkan pedang di tangannya itu. Sebuah cetakan pedang berbentuk bulan sabit menyerang kearah burung besar.
Tubuh burung itu terbelah menjadi dua bagian kemudian meledak menjadi kabut darah.
Pada saat yang sama, suara notifikasi system berbunyi di kepalanya.
"Haha, mudah sekali."
Zhukai tertawa lepas sambil kembali memeluk Zheng Yan yang duduk di atas bilah naga terbang.
"Cih, dasar tukang pamer."
***
Di kediaman utama Klan Zi, dua orang gadis yang memakai jubah tebal untuk menutup wajah dan tubuh sampai di gerbang masuk Klan.
Terlihat bahwa ada seorang pria paruh baya yang memiliki basis Kultivasi yang cukup tinggi sedang berdiri di dekat pilar gerbang dengan wajah datar.
Saat pria paruh baya itu melihat kedatangan dua gadis yang memakai jubah, dia segera menghentikan langkah mereka karena terlihat sangat mencurigakan.
"Berhenti, ini adalah kediaman utama Klan Zi. Hanya anggota utama yang bisa memasuki kediaman ini." tegas pria paruh baya itu.
Saat dia kembali ke akal sehatnya, mulutnya terbuka lebar sambil berkata dengan suara sedikit terjeda-jeda.
"A–... Maafkan aku karena tidak mengenali anda sebelumnya, nona muda."
Zi Lan Mei tersenyum lembut seolah dia sama sekali tidak menganggap serius apa yang pria paruh baya itu lakukan sebelumnya.
"Tidak perlu meminta maaf paman, kamu telah melakukan dengan sangat baik."
Setelah berbicara sebentar dengan penjaga gerbang, Zi Lan Mei dan adiknya segera masuk kedalam kediaman utama Klan Zi untuk menemui ibunya.
Sementara itu di dalam sebuah ruangan yang berada di kediaman utama. Sosok wanita dewasa yang sangat cantik duduk di atas kasur dengan wajah kelelahan.
"Haahh... Kedua gadis itu, di mana mereka sekarang."
Selain memikirkan kedua putrinya yang menghilang entah kemana. Zi Suyuan juga sibuk memikirkan tentang Turnamen antar benua.
Karena akan ada banyak orang yang menghadirinya nanti. Dia takut jika terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan.
Meskipun Klan Zi termasuk salah satu klan terbesar di tanah suci, mereka juga memiliki banyak musuh.
Entah itu berasal dari ras manusia ataupun ras-ras jahat lainnya.
Saat Zi Suyuan terhanyut dalam pikirannya, suara ketukan pintu membuatnya terkejut sekaligus membuatnya kembali tersadar.
"Siapa itu?"
Zi Suyuan berdiri dari atas kasurnya dan berjalan kearah pintu. Saat dia hanya beberapa langkah lagi untuk sampai di gagang pintu.
Pintu di depannya tiba-tiba terbuka, dua wanita remaja yang sangat cantik tersenyum lebar sambil melihatnya dengan penuh kerinduan.
"Ibu..."
Melihat wajah kedua wanita itu, Zi Suyuan memeluk mereka berdua seketika sambil menangis terisak-isak.
"Hiks... Kalian berdua, apa kalian tahu seberapa khawatirnya ibu. Mengapa kalian meninggalkan rumah tanpa memberitahu ibu."
Meskipun dia sangat ingin memarahi kedua putrinya, tetapi Zi Suyuan lebih memilih untuk terus memeluk mereka berdua.
"Emm... Maaf ibu, kami tidak bermaksud seperti itu. Kami hanya–..."
Saat Zi Lin Yue ingin menjelaskan alasan mereka pergi meninggalkan rumah. Zi Lan Mei mencubit lengannya sambil memberinya sinyal untuk tetap diam.
Seolah sadar dengan sinyal dari kakaknya, Zi Lin Yue segera mencari alasan lain untuk membuat kekhawatiran Zi Suyuan mereda.
"Ya, itu tidak penting lagi untuk saat ini. Apa kalian sudah makan?"
Zi Lin Yue dan Zi Lan Mei mengangguk secara bersamaan, "Ya ibu, sebelum kami datang kesini. Kami berdua sudah makan siang terlebih dulu di salah satu rumah makan."
"Ahh, baiklah kalau begitu. Kalian berdua harus beristirahat. Ibu akan pergi sebentar untuk mengurus sesuatu."
Zi Suyuan mengelus kepala kedua putrinya dengan lembut setelah itu berjalan keluar dari kamar.
Sayangnya, kedua putrinya menggenggam tangan kanan dan kirinya mencoba menghentikan untuk pergi keluar.
"Tidak, ibu harus beristirahat!!..." Zi Lan Mei berkata tegas.
Meskipun dia tidak berada di rumah selama beberapa hari, dia tahu bahwa ibunya terlalu memaksakan dirinya hanya dengan melihat perubahan pada wajahnya.
"T–Tapi ada sesuatu yang harus ibu ker–..."
"Tidakk!!.. Untuk saat ini ibu harus beristirahat.."
Merasa bahwa Zi Suyuan tidak bisa pergi bahkan dengan alasan apapun. Dia akhirnya memutuskan untuk menuruti apa yang kedua putrinya inginkan.
"Ayo ibu, aku dan adik akan menemani ibu tidur..."
Pada akhirnya, saat malam tiba. Ketiga wanita itu tidur bersama di satu kasur. Meskipun Zi Suyuan adalah ibu mereka. Tetapi melihat mereka bertiga tidur bersama. Mereka bertiga lebih terlihat seperti seorang saudara...
****
Bersambung...