Return Of Shura Demon

Return Of Shura Demon
Pemenang Turnamen Antar Benua


Kai kembali ke tempat duduknya sambil menggendong seorang gadis kecil di pelukannya.


Gadis kecil itu terlihat berumur 5 tahun dengan gaun putih sederhana yang cukup kotor.


Dia memiliki rambut berwarna biru gelap dan bulu mata yang sangat lentik. Dia juga memiliki paras wajah yang cantik untuk anak yang seusianya.


Melihatnya, itu mengingatkannya Zhukai akan seseorang.


Tepat saat Kai kembali duduk di tempatnya, Qi Yue yang tidur saat ini telah terbangun sambil menguap cukup lebar.


"Hooammm ... Hubby, siapa gadis kecil ini?" tanya Qi Yue sambil menunjuk Lin Lin yang sedang tertidur.


"Aku juga tidak tahu, dia tiba-tiba menghampiriku dan mengatakan kalau bauku sangat enak."


Setelah mengatakan itu, dia menerima tatapan jijik dari Qi Yue. "Hubby, kamu..."


"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, selain itu gadis ini sangat misterius. Aku tidak bisa merasakan hawa kehadirannya bahkan saat dia berada sangat dekat denganku."


Mendengar itu, Qi Yue sangat terkejut dan hampir tidak mempercayai apa yang Kai katakan.


Dia sangat tahu seberapa kuat persepsi ilahi yang Kai miliki. Melihat gadis itu sesaat Qi Yue yang tidak tahan kemudian menyentuh pipi gadis kecil itu.


"Hehehe, gadis kecil ini sangat lucu. Hubby, biarkan aku yang menggendongnya." ucap Qi Yue sambil membuka lebar pelukannya.


"Baiklah..."


Kai menyerahkan Lin Lin pada Qi Yue kemudian duduk dan fokus pada pertandingan terakhir yang akan segera di mulai.


"Aku yakin Lu Xiao yang akan menangkan turnamen ini. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak di kenal seperti Mo Kun bisa mengalahkannya." ucap seorang Kultivator.


"Ya, aku juga berpikir hal yang sama. Meskipun Mo Kun tampil sangat baik pada pertandingan sebelumnya, tetapi dia tidak berada di tingkatan yang sama seperti Lu Xiao." ujar Kultivator yang lain.


"Lu Xiao saat ini berada di puncak ranah God of Destiny. Bagaimana mungkin Mo Kun bisa menjadi lawannya."


Tak lama kemudian, tetua Klan Zi akhirnya memanggil nama Lu Xiao dan Mo Kun untuk naik ke atas arena.


"Hehehe, lihatlah bagaimana aku akan mempermalukan mu nanti." Lu Xiao menyeringai.


Sayangnya, Mo Kun benar-benar mengabaikannya. Dia kemudian menarik pedang di belakangnya dan memasang kuda-kuda.


"Bajingan ini!! aku akan membunuhmu!!!."


Tepat saat tetua memulai pertandingan, Lu Xiao segera melesat dengan kedua tangannya yang siap untuk mencabik-cabik Mo Kun menjadi beberapa bagian.


Sayangnya, begitu Lu Xiao memasuki area di mana jangkauan serangan Mo Kun. Dia segera di kirim terbang jauh dengan goresan pedang yang menebas perutnya.


Jika bukan karena armor yang di pakaiannya, Lu Xiao mungkin menderita luka fatal karena serangan itu.


Dia menatap Mo Kun dengan tajam kemudian menyeringai lebar, "Hahaha, kau benar-benar mengejutkanku bajingan. Beberapa hari yang lalu kau hanya sampah yang tidak bisa melawan. Bagaimana kau berkembang secepat ini."


Lu Xiao mengangkat tangannya, detik berikutnya sebuah pedang besar dua tangan muncul dari cincin ruangnya.


"Kau mungkin beruntung karena bisa melukaiku, tapi..."


Whuss!!


Tubuh Lu Xiao menghilang dari pandangan Mo Kun, saat dia kembali muncul itu berada tepat di depan Mo Kun sambil mengayunkan pedang besar kearahnya.


Mo Kun mengangkat pedangnya untuk menahan serangan yang Lu Xiao lepaskan.


Bang!!!


Tubuh Mo Kun bergetar saat menerima serangan yang Lu Xiao lepaskan padanya.


Lantai arena yang dia pijak retak dan sebentar lagi itu akan hancur.


"Arghh.... Ha!!.."


Mo Kun merangsang otot-otot dan melepaskan serangan destruktif yang melemparkan tubuh Lu Xiao menjauh.


Dia kemudian menarik nafas beberapa kali kemudian menatap Lu Xiao yang baru saja bangkit kembali.


"Jangan terlalu senang bajingan! 12 tebasan Klan Lu."


Lu Xiao kembali melesat dan melepaskan 12 tebasan secara beruntun pada Mo Kun.


"Ini memang kuat, tapi...."


Slashhh!!


Hanya dengan satu tebasan dari Mo Kun, kedua belas tebasan pedang yang Lu Xiao lepaskan hancur seketika.


"A– Keterampilan macam apa itu."


Di tempat duduk yang terletak tidak jauh dari arena, Li Cangtian sangat terkejut melihat teknik berpedang yang Mo Kun tunjukkan.


Meskipun dia sangat terkejut, tetapi Li Cangtian merasakan adanya kemiripan dari teknik berpedang Mo Kun dengan seseorang yang pernah ia lawan di masa lalu.


"Tidak mungkin, teknik itu hanya mirip saja." Li Cangtian berkata pada dirinya sendiri.


Sementara itu di atas arena, Mo Kun secara terus menerus menyerang Lu Xiao tanpa memberinya jeda untuk mengambil nafas.


Di serang secara terus-menerus tanpa melakukan perlawanan, kerutan muncul di wajah Lu Xiao.


Dia mencoba untuk membalas tetapi serangan yang Mo Kun lepaskan kepadanya terlalu cepat untuk ia ikuti.


Akhirnya, setelah bertahan untuk waktu yang lama. Lu Xiao menerima serangan fatal di lengan kanannya dan membuat pedang di tangannya terlepas.


"Hanya ini? kau benar-benar membuatku kecewa." ucap Mo Kun dengan wajah datar.


Dia kemudian mengangkat pedangnya dan berniat untuk mengalahkan Lu Xiao dengan serangan itu.


"Heh, Hahaha... kau? berani sekali meremehkan ku. Matilah!!."


Lu Xiao mengangkat jarinya dan mengeluarkan teknik yang sama seperti yang dia lakukan di pertandingan sebelumnya.


"Sword Emperor, tebasan darah!!!..."


Sebuah tebasan pedang berbentuk bulan sabit keluar saat Mo Kun mengayunkan pedangnya.


Itu mengarah pada Lu Xiao dan akhirnya membentur jari surgawi yang Lu Xiao lepaskan.


Kedua orang itu sama-sama terdorong beberapa meter. Memanfaatkan kesempatan itu, Lu Xiao mengambil pedang besarnya dan mengeluarkan teknik terkuatnya.


"Teknik pedang petir!!.."


Kilatan petir muncul di pedang Lu Xiao, dia kemudian melesat kearah di mana Mo Kun berdiri saat ini.


Gerakannya sangat cepat dan mustahil bagi Mo Kun untuk menghindarinya.


"Haruskah aku mengeluarkannya?"


Tanpa berpikir panjang, Mo Kun segera mengeluarkan jiwa pedangnya dan membuat penampilannya berubah.


Tubuhnya memancarkan energi yang sangat tajam, saat kedua mata Mo Kun terbuka. Segala sesuatu yang di lihatnya menjadi sangat lambat.


"Ah, inikah apa yang di maksud senior? Aku bisa merasakannya sekarang."


"Teknik pedang dewa!!!.."


Mo Kun memutar pedang nya di udara kosong, sebuah pedang besar terbentuk di atas udara dengan penekanan yang sangat kuat.


Saat waktu kembali berjalan normal, pedang raksasa itu segera menghantam Mo Kun dan membuatnya terbang keluar dari arena.


"Arghhh!!!..." Mo Kun menjerit kesakitan karena cedera yang dia dapatkan dari serangan pedang dewa.


Sementara itu, Mo Kun jatuh dalam posisi berlutut sambil menarik nafas beberapa kali.


"Ha! Ha! Ha! seperti yang senior katakan, teknik ini benar-benar menguras energi spiritual. Tapi..."


Mo Kun tersenyum, dia kembali berdiri menggunakan pedangnya. Dia menatap kearah Ouyang Jin dan Nalan Ruyue yang baru saja tiba.


Dia mengangkat mulutnya sambil berkata, "Aku memang!!!..."


****


Bersambung...