
Begitu Kai meninggalkan kediaman tetua murid inti, dia tidak langsung pergi ke asrama laki-laki melainkan datang ke sebuah air terjun yang berada tidak jauh dari kaki gunung.
"Holy God Langit Keempat, ini peningkatan yang sangat cepat jika di bandingkan dengan kehidupan pertama ku."
Meski di kehidupan ketiganya Zhukai tidak memiliki bakat menjadi penguasa, tetapi dengan bantuan system dan ingatan kehidupan pertamanya.
Menjadi penguasa bukanlah hal yang mustahil!!
"Tujuh pedang hati, kuharap teknik ini memberiku sedikit kejutan."
Zhukai melepas pakaian atasnya dan berdiri dengan satu kaki di atas potongan kayu kecil.
Dia mengeluarkan pedang pemberian ketua sekte dan mulai memejamkan kedua matanya.
"Bentuk pertama, niat pedang."
Zhukai mengakumulasi niat pedangnya dan menggabungkannya dengan teknik sword emperor.
Saat dia mencoba memadatkan niat pedang itu menjadi satu bersama dengan pedangnya, ada sedikit kesalahan yang membuat Kai harus mengulang dari awal.
"Menarik, ini tidak semudah seperti yang aku harapkan. Meski teknik ini sedikit lebih sulit dari yang aku pikirkan, tetapi mempelajarinya dalam tiga hari juga bukan hal yang mustahil."
Zhukai kembali berkonsentrasi dan mulai membentuk kembali niat pedang dengan cara yang sama seperti yang ia lakukan tadi.
***
Di sebuah kuil yang berada di puncak pegunungan sekte tujuh pedang, seorang gadis yang tengah bermeditasi di halaman kuil membuka kedua matanya.
Boomm!!
Ledakan yang di hasilkan dari terobosan nya barusan cukup kuat hingga menerbangkan beberapa daun dan juga ranting yang berjarak lima ratus meter darinya.
"Hahhh..." gadis itu menghembuskan nafas panjang sambil menstabilkan energi spiritual nya setelah menerobos.
Tak jauh dari gadis itu, pria tua yang baru saja terbangun dari tidur siangnya segera berjalan menemui gadis itu.
"Guru! guru! aku baru saja berhasil menerobos ke ranah Holy God Venerable." gadis itu berkata dengan penuh semangat pada pria yang sudah tua itu.
"Benarkah? itu hebat... Kau bahkan hanya memerlukan tiga bulan untuk menerobos ke ranah Holy God Venerable."
"Hehehe, ini karena guru melatihku dengan baik. Jika tidak, bagaimana mungkin aku bisa melakukan terobosan secepat ini." gadis itu tersenyum senang.
"Hahaha, kamu sungguh gadis yang penuh semangat." pria tua itu terkekeh sambil berpikir sejenak.
"Hmm, baiklah karena kamu sudah melakukan terobosan ke ranah Holy God Venerable, aku akan mengikutsertakan dirimu dalam kompetisi sekte. Bagaimana dengan itu?"
Gadis itu sangat terkejut saat mendengarnya, "Tapi guru, bukankah aku harus ikut seleksi sekte dulu sebelum mengikutinya?"
Pria tua itu tertawa, "Hahaha, tidak perlu khawatir muridku. Aku akan berbicara pada anak itu untuk mendaftarkan mu iku dalam kompetisi."
Pria tua itu segera mengajak muridnya untuk turun dari gunung dan menemui Li Yan yang saat ini sedang beristirahat di kediamannya.
"Sungguh hari yang damai, jika saja Wu–..."
"Li Yan, pamanmu telah tiba, datang dan sambutlah pamanmu ini."
Mendengar suara itu dari gerbang masuk kediamannya, Li Yan tidak dapat menahan kerutan muncul di wajah nya.
"Pak tua ini... tidak bisakah dia datang lain kali. Padahal ini waktu bagiku untuk beristirahat." meskipun Li Yan merasa kesal, tetapi dia masih berdiri dan turun untuk menyambut pak tua dan muridnya.
"Pak tua, tidak bisakah kamu berbicara dengan pelan." saat tiba di gerbang masuk, Li berteriak marah pada pak tua di depannya.
Tetapi teriakannya terhenti begitu melihat seorang gadis cantik yang berdiri di samping pak tua itu.
Meski dia memiliki identitas sebagai ketua sekte tujuh pedang, dia masih harus menunjukkan sedikit rasa hormat terhadap putri kaisar.
Sementara itu, pria yang menjadi guru dari Nalan Ruyue tidak lain adalah tetua pertama sekte tujuh pedang.
Chen Yang, kakek Chen Xia.
Meski awalnya Chen Yang tidak menerima murid lagi setelah memutuskan untuk pensiun, tetapi setelah mendengar ada bakat berwarna ungu saat penerimaan murid. Bagaimana bisa dia membiarkan bakat itu menjadi sia-sia.
"Jadi paman, apa yang kamu inginkan? Sangat jarang melihatmu meninggalkan kediaman mu." Li Yan bertanya.
Tanpa banyak basa-basi, Chen Yang segera mengatakan niat kedatangan nya.
"Aku ingin kamu mengikutsertakan muridku sebagai perwakilan sekte di kompetisi sekte tiga hari lagi."
"Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu paman. Kami hanya bisa mendaftarkan lima orang dan baru tadi pagi kami melakukan seleksinya." jelas Li Yan dengan sedikit penyesalan.
Wajah Chen Yang sedikit berubah, "Apakah benar-benar tidak bisa?"
Li Yan merenung sesaat, dia tiba-tiba teringat dengan suatu hal yang terjadi beberapa hari yang lalu.
"Ada, ada satu cara paman."
"Apa!? cepat katakan apa itu." seru Chen Yang dengan wajah penuh semangat.
"Sekte gunung giok menawarkan satu token mereka bagi siapapun yang bisa menyembuhkan penyakit putra ketua sekte."
"Penyakit? bisa kau jelaskan lebih detail tentang penyakit itu?" Chen Yang mengelus janggut panjang nya sambil bertanya.
Li Yan kemudian melanjutkan penjelasannya tentang gejala-gejala yang di derita oleh putra ketua sekte gunung giok.
"Jadi, apakah paman tahu penyakit apa itu?" Li Yan bertanya setelah mengembuskan napas panjang.
Chen Yang berpikir keras untuk beberapa waktu hingga akhirnya berbicara, "Aku menemukan beberapa penyakit yang mirip seperti itu di benakku. Tetapi sebelum aku bertemu dengannya secara langsung, aku tidak bisa mengatakannya secara pasti."
"Tapi, apakah kamu bisa menyembuhkannya paman?"
Chen Yang tersenyum, "Kau pikir siapa aku, cepat bawa aku pergi ke sana. Aku pasti akan menyembuhkan dan memberikan token itu pada muridku."
Setelah perbincangan dengan Li Yan, Chen Yang akhirnya meninggalkan sekte tujuh pedang berbekal dengan beberapa jarum emas untuk melakukan akupuntur.
Sementara itu di bawah air terjun, Zhukai akhirnya berhasil mempelajari bentuk ketiga setelah berlatih keras seharian penuh.
"Seperti yang diharapkan dari tubuh fisik di kehidupan lamaku, aku bahkan tidak kelelahan setelah berlatih seharian."
Zhukai mengambil pedangnya kemudian membersihkannya di kolam kecil yang terbentuk di bawah air terjun.
Pantulan wajahnya yang tampan terlihat dengan jelas di permukaan air. Dia kemudian membasuh wajahnya, pantulan cahaya bulan yang terlihat di dalam air terlihat sangat indah.
"Ini sudah hampir tengah malam, aku harus segera bergegas kembali ke asrama." pikir Zhukai saat dia merasakan kesunyian di sekitarnya.
Setelah memakai pakaiannya, Kai dengan langkah bayangan bergerak dengan sangat cepat dan kembali ke sekte tujuh pedang.
Dia bahkan membutuhkan waktu kurang dari satu menit untuk sampai.
Saat Kai hendak mengangkat kakinya untuk menaiki anak tangga. Langkah kakinya berhenti saat tatapan matanya terfokus pada bulan yang mengeluarkan sinar perak terang.
"Lin Yue, apakah dia baik-baik saja..."
****
Bersambung..