Mengejar Cinta Alex

Mengejar Cinta Alex
Mansion Oma



Visual Kim Joon-Tae... Blasteran Korea Selatan - Indonesia.


Jadi wajahnya beda dengan Oppa-Oppa asli Korsel pada umumnya yaaa... 😁


"Halmeoni..., dia menyuruhku menjemput seorang wanita di sini... Yaa... Awalnya sih aku menolak menjemput wanita itu, karena biasanya itu hanya akal-akalan nenekku saja untuk menjodohkanku dengan wanita-wanita itu... Dan bayangkan ketika nenekku itu mengirim foto wanita yang harus aku jemput sekarang... Aku nyaris berteriak karena saking senangnya wanita itu adalah kamu Sonya... Berkali-kali aku merutuki diriku sendiri karena lupa meminta nomor ponselmu saat kita bertemu di taman waktu itu..." jelas Joon-Tae sambil menyeringai lebar.


"Well... Aku sudah telat masuk kantor waktu itu... Jadi terburu-buru kembali ke kantor... Jadi kita tidak sempat bertukar nomor ponsel..." sahut Sonya.


"Nah sekarang... Karena Halmeoni sudah berkali-kali menghubungiku, hanya untuk bertanya apa aku sudah berhasil menemukanmu... Jadi sebaiknya kita berangkat sekarang... Sebelum nenekku itu mengeluarkan tanduknya..." seru Joon-Tae membuat Sonya tergelak, Sonya tidak bisa membayangkan tanduk keluar dari kepala Oma, tanpa tanduk saja Oma sudah terlihat menyeramkan.


"Sebentar yaa aku bayar dulu..."


"Aku sudah membayarnya...." kata Joon-Tae.


Melihat Sonya yang sedang menatapnya bingung, Joon-Tae langsung menyeringai lebar sambil menggaruk-garuk tengkuknya walaupun tidak gatal.


"Aku sudah membayarnya terlebih dahulu sebelum aku menghampirimu..." akunya.


"Kenapa kamu yang bayar... Kita kan baru saling kenal..." protes Sonya sambil memberengut.


"Maaf... Bagaimana kalau sebagai gantinya lain kali kau yang traktir aku...?" tanya Joon-Tae dengan nada menyesal, tapi Sonya tahu itu hanya modusnya saja.


"Beuh Modus..." ledek Sonya sambil mendengus.


Joon-Tae mengkerutkan keningnya, "Modus...? Maksudmu nilai dengan frekuensi paling tinggi...?" tanya Joon-Tae dan tawa Sonya kembali pecah.


"Bukan itu maksudku... Modus di sini adalah bahasa slang... Akronim dari modal dusta atau istilah lainnya hanya modal bohong saja..." jelas Sonya sambil mengibaskan tangannya.


"Sepertinya kau harus lebih banyak mengajariku bahasa apa tadi sebutanmu...?"


"Slang... Bahasa gaul..."


"Ya bahasa itu... Supaya perbendaharaan kataku tentang bahasa Indonesia semakin banyak Ok...?!"


Sonya mengusap-ngusap dagunya sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk Joon-Tae, ia tidak enak kalau harus langsung menolaknya, tapi sebenarnya berteman dengan Joon-Tae juga tidak ada salahnya kan?, dimana lagi Sonya bisa menemukan orang Korsel yang bisa lancar berbahasa Indonesia.


Sonya menoleh dan mendapati Joon-Tae yang sedang menunggu jawaban Sonya, "Hmmm tapi ada syaratnya...!" seru Sonya.


"Apa...?!" tanya Joon-Tae dengan tidak sabar.


"Kau harus mau menemaniku selama di sini... Berkeliling Seoul misalnya..." jawab Sonya dengan santai.


"Dengan senang hati sweet baby..." sahut Joon-Tae sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ya sudah ayo kita ke rumah Oma..." seru Sonya sambil berdiri dan menarik kopernya, tapi dengan sigap Joon-Tae menawarkan diri membawa koper-koper Sonya.


"Biar aku saja... Kau tidak boleh terlalu capai.."


Sonya langsung melepas koper-kopernya,


Tanya Sonya dalam hati, tapi ia tidak mau memastikannya lagi ke Joon-Tae, tidak masalah untuknya Joon-Tae tahu Sonya sedang hamil atau tidak. Joon-Tae jalan terlebih dahulu ke arah mobilnya terparkir, dan Sonya membuntuti di belakangnya.


Karena di Korsel setir pengemudinya berada di sebelah kiri mobil, maka Sonya duduk di kursi depan sebelah kanan, Joon-Tae menutup pintu Sonya terlebih dahulu sebelum ia memutari mobilnya dan duduk di belakang kemudi.


"Kata Oma kau cucu keponakannya...? Dari kakak atau adiknya Oma...?" tanya Sonya.


"Halmeoni... Beliau kakak nenekku..." jawab Joon-Tae, pandangannya tetap fokus ke jalan raya.


Itu berarti Joon-Tae dan Alex... Mereka sepupuan...?Sepupu jauh.


Sonya melirik Joon-Tae, Apa Joon-Tae tahu ia memiliki saudara sepupu di Indonesia...?" Gumamnya dalam hati.


"Apa kau tinggal dengan Oma...?" tanya Sonya lagi.


"Tidak... Aku tinggal di Apartmentku sendiri... Hanya sesekali saja ke rumah nenekku... Karena beliau tinggal sendirian di rumah jadi aku harus sering-sering melihatnya... Itu amanat nenek kandungku sebelum meninggal..." jelas Joon-Tae.


"Aku turut berduka cita..." gumam Sonya pelan.


Joon-Tae mengibas tangannya, "Tidak perlu... Sudah sepuluh tahun yang lalu..."


Saking asiknya berbincang sampai tidak terasa mereka sudah sampai di Seoul, sama halnya seperti kota modern lainnya, terdapat banyak gedung-gedung bertingkat yang tertata rapi, modern dan teratur.


Dan di trotoar pinggir jalan, banyak dijumpai sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara, berjalan sambil bergandengan tangan atau saling merangkul. Bahkan ada yang berpelukan dan berciuman di pinggir jalan.


Rumah Oma sendiri berada di area Pyeongchang-dong Art District. Area perumahan termewah di Seoul ini terletak dilereng gunung Mt. Bukhan Pyeongchang-dong yang megah dan indah, yang dijuluki Beverly Hillsnya Korea. Dengan tingkat keamanannya yang sangat tinggi, membuat pencuri menghindari daerah ini.


Nampak petugas keamanan sudah mengenali mobil Joon-Tae, dan langsung membukakan pagar hitam tinggi dengan ukiran yang rumit itu, dan membiarkan mereka masuk.


"Apa Oma tidak takut tinggal di rumah sebesar ini sendirian...?" tanya Sonya, sambil melihat ke sekeliling mansion Oma, halamannya luas dan bertingkat-tingkat, dan ada beberapa kursi taman di sana.


"Pengawal dan pelayannya lumayan banyak, jadi Oma tidak akan kesepian..." jawab Joon-Tae lalu terkekeh pelan sebelum menambahkan, "Mereka termasuk pelayan yang bertahan dengan ocehan nenekku... Dan semoga kau bertahan tinggal dengannya..." lanjutnya.


"Apakah aku boleh berubah pikiran sekarang...?" tanya Sonya sambil menyeringai lebar.


"Yang sudah masuk ke dalam sini... Tidak akan bisa keluar tanpa izin Oma..." jawab Joon-Tae sambil mengerlingkan sebelah matanya, mengingatkan Sonya pada sikap Alex saat bulan madu mereka.


Sonya menggelengkan kepalanya, berusaha menjernihkan lagi pikirannya, Sial!! Kenapa harus ingat Jailangkung kutub itu lagi sih...??


"Terdengar arogan nenekmu itu..." ledek Sonya.


"Arogan... Sikap yang sudah turun temurun di dalam keluarga kami sweet baby... Selain keras kepala tentunya..." balas Joon-Tae sambil mencubit gemas dagu Sonya sebelum turun dari mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Sonya.


Dengan tergopoh-gopoh pelayan Oma dengan seragam yang identik turun menghampiri mereka, dan Joon-Tae mengisyaratkan mereka untuk membawa koper-koper Sonya ke dalam.


Joon-Tae memberikan lengannya, mengundang Sonya untuk merangkul lengannya itu, dan tanpa pikir panjang lagi, Sonya menyambut lengan Joon-Tae, hanya karena Sonya takut terpeleset ketika menaiki undakan menuju rumah utama, mengingat kakinya sendiri sudah mulai lemah karena kelelahan.


"Kau mudah sekali merajuk Sonya!... Apa Oma tadi terdengar serius sewaktu tidak ingin menjemputmu di bandara tadi...? Kamu akan selalu di sambut di mansion ini Sonya... Dengan atau tanpa Alexku... Bahkan tanpa cicitku itu sekalipun....!" seru Oma dari ambang pintu sambil bertolak pinggang.


Oh astaga.... Bisakah aku bertahan tinggal lama dengan Oma... Baru hari pertama datang saja Oma sudah menyambutku dengan marah-marah sambil bertolak pinggang... Huft! desah Sonya dalam hatinya.