
Sonya turun dari ojek onlinenya, setelah menyerahkan helm dan uang tips untuk drivernya, Sonya bergegas masuk ke dalam kafe pilihan Ryo untuk rapat hari ini.
“Kenapa kamu naik ojek online? Aku bisa menjemputmu tadi kalau mobilmu masuk bengkel lagi...” tanya Ryo, rupanya ia melihat saat Sonya turun dari ojek onlinenya tadi.
“Aku menabrak mobil orang tadi... Itulah Kenapa aku telat kesini... Dan yaa mobilku masuk bengkel lagi...” jawab Sonya sambil menyeringai.
“Aku kan bisa menjemputmu di bengkel Nyaa... atau kau bisa minta jemput suamimu... Aku selalu khawatir kalau melihatmu naik ojek online...”
“Kenapa?” tanya Sonya bingung.
“Kau terlalu cantik, aku takut drivernya naksir padamu....” goda Ryo.
“Basi ah...” balas Sonya.
“Ah, kau memang susah di rayu...” desah Ryo.
“Ryo, kapan kita akan meninjau lokasi proyek kita?”
“Hmm... Kemungkinan minggu depan, sekalian aku juga sudah temu janji dengan vendor kita disana... Kenapa?”
“Biar bisa prepare saja dari jauh-jauh hari...”
“Ok...”
Sejurus kemudian makanan favoritnya Sonya sudah di hidangkan di depannya, padahal Sonya belum order makanan, Sonya langsung menatap Ryo, “Kamu yang pesan yaa? Kok kamu tahu aku pasti akan memesan makanan ini? tanyanya.
“Aku sudah lama perhatikan, kalau ada menu ini di kafe manapun... Kau pasti akan memesannya...” jawab Ryo.
“Terimakasih yaa kamu perhatian sekali sih...” seru Sonya antusias.
Ryo tertawa geli. “Sudah cepat makan... Aku tahu kau tidak bisa fokus kalau sedang lapar, jadi sebelum kita bahas lebih lanjut proyek ini, lebih baik kau isi penuh terlebih dahulu perutmu itu...”
Sonya mengangguk lalu memasukkan satu sendok penuh makanan itu ke mulutnya.
“Maaf sudah membuatmu jatuh di club itu...” ujar Ryo dengan nada menyesal.
Sonya mengangkat bahunya, “Tidak masalah aku sudah memaafkanmu dan Owen, siapa yang tidak akan takut jika menghadapi Alex yang seperti itu...”
“Aku tidak takut dengan Alex...” ralat Ryo.
“Lalu kenapa kamu langsung melepas tanganku?”
“Itu gerakan reflekku saat mendengar kau sudah menikah dengan Alex... Aku syok mendengarnya, dan saat Alex membawamu pulang aku langsung menggantikanmu minum hingga mabuk disana...” aku Ryo sambil menyeringai, kini ia mendapat perhatian penuh dari Sonya.
“Kenapa?” tanya Sonya dengan kening mengkerut.
“Kenapa apa?” Ryo balik nanya.
“Kenapa kamu minum sampai mabuk?”
“Yaa karena aku tahu kau sudah menikah... Dan yang membuatnya lebih parah lagi adalah aku tahu pernikahanmu bermasalah...”
Sonya mendengus, “Jangan sok tahu kamu...”
“Kau mabuk malam itu Sonya kalau kau sudah lupa, kau mengeluhkan Jailangkung atau apalah istilahmu malam itu yang sudah mengabaikanmu... Melarangmu untuk tidak jatuh cinta padanya... dan lainnya...” jelas Ryo.
“Aku... Haha mana mungkin aku bicara seperti itu...” elak Sonya dengan nada skeptis.
“Kamu jangan seperti dia Ryo, bisanya hanya melarang dan melarang saja... Tapi dia tidak bisa melarang dirinya sendiri untuk menggoda wanita lain...” Ryo mengulang kata-kata Sonya saat di club, membuat wajah Sonya langsung memerah dan langsung menutup mulutnya.
“Oh astaga... Aku tidak percaya aku mengatakan hal itu!” gumam Sonya.
Sonya menggeleng, “Tidak... Itu hanya salah paham...” jawab Sonya, tapi terlihat kesedihan dimatanya dan Ryo melihatnya.
“Matamu mengatakan yang sebaliknya....”
“Sudah lah lebih baik kita fokus bahas proyek saja sekarang...” usul Sonya mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Dimana macan kampusku sekarang berada?” tanya Ryo lagi.
“Maksudmu?”
“Dimana Sonya yang dulu berada? Apa istilahnya dulu... Ah Sonya si pemberani... Kau selalu berani melakukan apapun, seberapa besarpun resiko yang akan kau hadapi nanti... Kau tidak pernah menyerah... Setidaknya itulah yang kudengar dari teman-temanku setelah kau mematahkan hidungku... Apa kata-kata temanku itu hanyalah sekedar isapan jempol saja?”
Ryo menatap penuh Sonya yang sedang memalingkan wajahnya keluar jendela, dan tidak mau menjawab pertanyaan Ryo, “Atau macan kampusku itu sudah berubah menjadi kucing rumahan?” lanjutnya.
Sonya menghela nafas panjang, lalu mengalihkan perhatiannya ke Ryo, “Sekalipun aku berubah menjadi tikus got, itu tetap bukan urusanmu Ryo...”
“Jika menyangkut hidup wanita yang aku sukai... Sudah tentu itu menjadi urusanku juga...” tegas Ryo.
“Wanita yang kamu sukai? Kamu menyukaiku?” Sonya tergelak lalu mengibaskan tangannya,
“Itu tidak mungkin... Kamu menyukai wanita yang sudah mematahkan hidungmu? Jangan becanda kamu... Siapapun tidak akan ada yang mempercayainya...”
Ryo mengangkat bahunya, “Aku tidak peduli orang lain percaya atau tidak... Aku hanya butuh kau yang percaya padaku...”
Seringian diwajah Sonya menghilang, berganti dengan wajah yang memerah dan ia berdeham sebelum berkata, “Tapi aku sudah menikah Ryo...” seru Sonya sambil mencoba tuk tersenyum dan memperlihatkan cincin nikah yang terselip di jari manisnya.
“Dan kau terjebak dalam pernikahan tidak bahagia... Kalau kau bahagia... Kau tidak akan mengajakku dan mantan pacarmu itu ke club... Kau pasti akan menghabiskan waktu dengan suamimu alih-alih dengan pria lain.”
Hening, Sonya tidak dapat membantahnya, tidak pula membenarkan. “Lain kali kalau kau ingin mengalihkan kesedihanmu... Jangan darang ke club lagi... Kau bisa menghubungiku, aku akan mengajakmu ke tempat yang lebih baik lagi... Kau bisa menyalurkan emosimu dan mengeluarkan amarahmu disana... Tanpa harus merasa malu dilihat orang lain...” lanjut Ryo.
Sonya langsung mengalihkan perhatiannya ke Ryo, “Bisakah kita kesana sekarang?” tanya Sonya.
“Sekarang?” ulang Ryo.
“Well... Dua pengawal yang di tugaskan Alex hari ini sedang tidak bersamaku... Jadi aku bisa bebas pergi... Tapi kalau kamu keberatan ya lupakan saja... Toh kita kesini juga karena ingin membahas proyek, bukan untuk bersenang-senang...”
“Boleh aku pinjam handphonemu sebentar?” tanya Ryo sambil mengulurkan tangannya.
“Untuk apa?”
“Cepat berikan saja....”
Sonya pun menyerahkan handphonenya ke Ryo, dan mengeluarkan sesuatu dari handphonennya, “Apa itu?” tanya Sonya.
“Alat pelacak, jadi percuma kalau dua pengawalmu itu tidak ada, Alex akan tetap dapat mengetahui posisimu melalui alat ini....” jawab Ryo lalu memasukkan alat kecil itu ke dalam vas bunga.
“Pantas saja dia selalu bisa menemukanku!” geram Sonya.
“Mungkin itu juga demi kebaikanmu... Jadi setelah kita menyalurkan emosimu nanti... Kita harus kembali ke kafe ini, dan meletakkan kembali alat itu ke handphonemu supaya Alex tidak curiga....”
Sonya mengangguk setuju, “Iya kau benar Ryo... Jadi bisa kita jalan sekarang?” tanya Sonya.
“Ok, sebentar...” Ryo memanggil pelayan dan meminta biling tagihan, setelah menerimanya Ryo langsung menyerahkan sejumlah uang ke pelayan itu, “Ambil saja kembaliannya....” serunya.
“Terimakasih...” balas pelayan itu sambil tersenyum lebar.
“kita jalan sekarang?” tanya Ryo ke Sonya, dan Sonya mengangguk.