Mengejar Cinta Alex

Mengejar Cinta Alex
Anger Room


Tempat yang di maksud Ryo itu adalah semacam rage room atau anger room, tempat untuk menyalurkan emosi dengan cara memecahkan dan menghancurkan barang bekas yang telah disediakan sambil berteriak sepuasnya, tanpa ada konsekuensi yang ditimbulkan.


Sonya dan Ryo memakai alat pelindung dari atas kepala sampai ke ujung kaki ala astronot, yang sudah disediakan oleh pihak penyewa. Alat pelindung ini bertujuan agar pecahan dari barang bekas yang Sonya hancurkan tidak melukai dirinya sendiri.


Sambil menenteng tongkat baseball sebagai alat pemukul barang bekas nanti, Sonya memasuki sebuah ruangan yang sudah disediakan, ruangan itu berdinding semen polos tanpa cat.


"Silahkan kau mau memulainya darimana..." seru Ryo sambil menyerahkan tongkat baseballnya ke Sonya.


"Loh... Nanti kamu pakai apa?" tanya Sonya.


"Hari ini kau raja penghancurnya, aku hanya menemani saja... Next kalau aku yang sedang bad mood gantian kau yang menemaniku..." jawab Ryo.


"Ok!" balas Sonya lalu balik badan memunggungi Ryo, menghadap ke berbagai jenis botol bekas, tv tabung bekas dan lainnya.


Saat Sonya bingung memilih barang yang akan ia hancurkan, Ryo mengambil satu botol bekas dan melemparnya ke tembok sambil berteriak,


"Soonyaaaaa kaamuuuu jahaaatt!!!" botol itu pecah dan menyebar ke berbagai penjuru ruangan.


Sonya langsung beralih ke Ryo, "Aku jahat apa?" tanyanya.


"Itu hanya contoh sweethearth..." jawab Ryo sambil menyeringai lebar, "Ayo cepat mulai..., waktu kita hanya tigapuluh menit..." lanjut Ryo.


Sonya beralih lagi ke barang-barang bekas itu, lalu menimang-nimang botol bekas ditangannya, "Berengseeekkk kaamuuu Aleexx!!!" teriak Sonya sambil melempar botol itu ke tembok, lalu terus beralih ke botol lainnya, musik metal yang memenuhi ruangan itu membuat adrenalin Sonya kian terpacu.


"Aargggghhhh... Jaaahaaatttt!!!"


"Tegaaaa kamuuu samaa akuuu!!!"


"Kaamuu jahaaattt.... Jailangkung sialan!!!"


"Kaamuuu tidak beerperasaaan!!"


"Kaamuu dingiiin... Kakuuu.... Egooiiissss!!!"


"Tahukaah kamu Lex? Kamuuu sudaahh menyakitiii hatikuu!!!"


Dan ketika botol bekas itu habis, Sonya beralih ke TV tabung bekas, dengan tongkat baseball di tangan kanan dan kirinya, Sonya lanjut melampiaskan amarahnya kesana.


"Kaamuuu menghancurkan hatikuuu Lex!!! Kamuuu membunuhku pelan-pelan!! Kamuu melarangkuu jatuh cinta padamu... Tapi apa hatiii ini bisa memiliihh dengan siapa dia akan berlabuh?!!! Kenapa kamuu menikahikuuu kalauu kamuu tidak siap memberikan hatimu padaku?!!! Kenapaaa menikahikuuu ketikaa ada wanitaa lain di hatimu?!! Kenapaa menikahikuu kalau hanya ingin menyakitiku??!! Kenapa waktu itu kamu mencegahku menikahi pacarku??!! Kenapa justru kamu yang menawarkan dirii??!! Kenapa Lex?!! Kenapa?!!."


"Apa artinyaa pernikahan kita untukmu?!! Apa aku hanya alat pemuas nafsumu saja??!!! Apa aku p*lac*rmu?!! Aku harap akuu bisa kembali membencimuuu Lex!!! Aku sungguh-sungguh berharap aku bisa meninggalkanmu!! Tapi rasanya sulit Lex... Itu akan terasa sulit karena aku begitu mencintaimu... begitu mencintaimu Lex Sampai terasa sakit!!"


Sonya terdiam ketika tidak ada lagi barang bekas yang tersisa untuk dihancurkan, ia menatap barang bekas yang sudah tidak berbentuk lagi, dan membayangkan barang bekas itu adalah Alex, "Tapi aku Sonya... Sonya si pemberani... Aku tidak takut kehilanganmu... Aku hanya tidak siap hatiku terluka... Aku akan memberikanmu waktu sampai setahun pernikahan kita... Kalau sampai saat itu kamu tetap seperti ini... Dengan berat hati aku akan meninggalkanmu..." tekad Sonya.


Sonya menjatuhkan tongkat baseball yang ia pegang itu dikedua sisinya, dan tersadar ketika Ryo menepuk pundaknya, "Kau butuh waktu tambahan?" tanya Ryo.


Sonya menggeleng, "Tidak usah Ryo... Sudah cukup..." jawabnya, lalu menghela nafas lega, "Aahh... Aku merasa plong sekarang..."


Ryo terkekeh pelan, "Ya sudah kita keluar sekarang... Waktunya sudah mau habis dan antrian masih panjang."


"Kamu tahu saja tempat seperti itu Ryo..." seru Sonya ketika mereka sampai di kafe, mereka juga duduk dikursi yang mereka tempati sebelumnya.


"Aku pertama kali mengetahui ada tempat Anger Room ini saat aku di Jepang, dan ada satu kawanku yang memberitahu ku kalau disini juga sudah ada... Ini kedua kalinya aku ke Anger Room tadi..." jelas Ryo.


"Aku pernah mendengar teriak bisa meredakan rasa sakit dan menghilangkan stress dan ternyata itu benar, aku mampu mengeluarkan segala beban pikiranku yang selama ini menumpuk, dan lumayan juga mengendorkan otot-ototku yang tegang karena stress..." jelas Sonya dengan tersenyum puas.


"Berteriak juga mampu melancarkan peredaran darah, karena hormon adrenalin pada tubuh menjadi meningkat, hingga jantung memompa darah dengan optimal, dan pembuluh darah yang menuju ke jantung dan keluar akan membuka lebar sehingga membuat darah mengalir lancar..." sambung Ryo.


"Ya betul... Ditambah musik metal tadi... Adrenalinku semakin terpacu..."


"Kau tidak bisa terus begini Nyaa... Aku nyaris menitikkan air mata tadi saat mendengar keluhanmu..."


Sonya tergelak, "Lebay ahh..."


"Aku serius... Kenapa kau terus berjuang untuk orang yang tidak mau memperjuangkanmu... Bahkan cenderung mengabaikanmu!"


"Ada kalanya dia tidak mengabaikanku Ryo... Contohnya pagi ini... Tanpa diminta Alex datang membantuku dikantor polisi tadi..." bantah Sonya, lalu menyandarkan badannya ke kursi sambil menghela nafas panjang, "Yaa walaupun ujung-unjungnya aku dan Alex ribut lagi, dan aku kembali sakit hati lagi..." desahnya.


"Kamu seperti menunggu sesuatu yang tidak akan terjadi Nyaa..." gumam Ryo pelan tapi Sonya mendengarnya.


"Terkadang aku ingin menjadi wanita yang lembut seperti wanita yang Alex sukai... Agar ia mampu berpaling padaku... Tapi aku lebih nyaman mencintai dia dengan apa adanya aku, tanpa harus merubah diriku menjadi orang lain... Dan aku berharap pada akhirnya Alex membuka hatinya untukku..."


"Kau harus menjadi dirimu sendiri Nyaa... Jangan pernah berpikir ingin menjadi orang lain!"


"Iyaa aku tahu... Terimakasih untuk hari ini Ryo..." ujar Sonya.


"Kau sudah janji untuk menemaniku ke tempat itu kalau aku sedang bad mood..." Ryo kembali mengingatkan Sonya.


"Iya bawel... Aku akan dengan senang hati menemanimu kok nanti... Santai saja..."


"Sudah menjelang sore... Aku antar kau pulang yaa?"


Sonya mengangguk, "Masukkan kembali alat pelacak itu ke handphoneku Ryo..."


Ryo mencari alat pelacak itu di vas bunga tempat ia meletakkannya tadi, tapi alat itu sudah tidak ada. Ryo dan Sonya saling tatap, "Apa Alex yang mengambilnya?" tanya Sonya ragu-ragu.


Ryo mengangkat bahunya, "Bisa jadi..." jawabnya.


Sonya mengerang pelan, "Tuhan... Alex pasti akan marah sekali nanti..."


"Apa Alex selalu memarahimu? Apa dia memukulmu?" tanya Ryo khawatir.


Sonya menggeleng keras, "Tidak.... Alex tidak pernah sekalipun memukulku... Dia punya cara sendiri untuk... Menghukumku..." jawab Sonya,


"Aarggghhhh habislah aku kali ini!" erangnya pelan.