
Mama kembali melihat Alex, "Kita harus mengobati luka-luka itu terlebih dahulu, sambil menunggu Dokter Daru..." seru mama.
"Hardhan, tolong ambilkan kotak P3K, semoga Anindira sedang tidak memainkannya...."
"Ya Ma..."
Sejurus kemudian terdengar suara riang anak perempuan yang berlari ke arah mereka sambil menenteng kotak P3K, dan Hardhan berjalan santai dibelakangnya sambil menggelengkan kepalanya "Dokter Rara datang..." teriaknya.
Alex langsung menengok ke arah suara itu, ke sosok Anindira yang terlihat begitu manis dan ceria.
"Kakak jatuh yaa...? Sini Rara obati..." tanyanya.
"Biar mama saja Ra... Nanti kamu malah nyakitin kak Alex lagi..." kata Mama sambil mencoba mengambil kotak P3K itu dari tangan Anindira, tapi Anindira menahannya.
"Biar Rara saja Mama... Rara kan calon dokter..." ujarnya bersikeras.
"Tidak apa-apa tante... Sama Rara saja..." kata Alex, lalu mengalihkan perhatiannya ke Rara, "Tapi pelan-pelan yaa..." goda Alex sambil menyeringai lebar, dan Rara mengangguk antusias.
Sebulan kemudian Alex resmi di adopsi Mamanya Hardhan, dan Alex tinggal bersama mereka. Karena Hardhan juga harus mengurus perusahaan peninggalan papanya, jadi Hardhan dan Alex belajar dengan metode home schooling.
Mereka selalu bersama. Alex mendapat pelajaran yang Hardhan juga dapat, belajar bisnis yang juga di pelajari Hardhan, bahkan Alex diminta membantu Hardhan di perusahaannya. Mama tidak pernah membeda-bedakan antara Hardhan dan Alex.
Alex juga mengikuti kegilaan Hardhan pada ilmu beladiri. Karate, Taekwondo, Silat, sampai Judo semua mereka ikuti. Hardhan benar-benar sudah menjadi sosok yang Alex kagumi, panutannya.
Hingga bulan berganti tahun, dan tahun berganti tahun. Alex yang diam-diam mengagumi Anindira, terus bekerja keras membantu Hardhan untuk membangun kembali perusahaannya yang nyaris saja gulung tikar. Alex ingin sukses, dan mapan ketika saatnya nanti ia melamar Anindira.
Alex setiap hari mengantar dan menjemput Rara ke sekolah, dan harus mendengar celotehan Rara tentang para pria yang ingin menjadi pacarnya, membuat Alex kesal karena cemburu.
"Kenapa tidak kamu terima saja sih pria-pria sialan itu...!" rutuk Alex pada akhirnya ketika kecemburuannya mengambil alih.
Daripada kau menyiksaku dengan cerita tentang pria lain...!
"Tidak akan..., karena sudah ada pria yang aku suka Kak..." sahut Anindira sambil senyum-senyum sendiri.
"Oh..." jawab Alex pura-pura acuh untuk menutupi kecemburuannya.
Sambil merengut Anindira menatap Alex, "Kenapa kak Alex tidak tanya siapa pria itu...?"
"Buat apa...? Itu bukan urusan kakak. Selama pria itu tidak menyakiti kamu... Lagian kamu masih kelas satu SMU saja sudah genit..."
"Iihh kak Alex gak asik..." rajuk Rara
"Bodo..." jawab Alex.
"Padahal aku senang curhat sama kak Alex karena kakak tidak sekaku dan sedingin kak Hardhan. Tapi kayanya kakak sekarang sudah bosan yaa mendengar curhatanku...?"
Tidak bosan hanya cemburu...
"Mana pernah kakak bosan mendengar celotehanmu itu..." sahut Alex sambil mengelus lembut kepala Anindira.
Anindira langsung tersenyum lebar, senyum yang mampu menjungkir balikkan dunia Alex. Senyum yang membuat Alex keluar dari kesedihannya atas kepergian orang tuanya untuk selamanya. Alex rela melakukan apapun untuk membuat Anindira tetap tersenyum kepadanya seperti itu.
"Kak Alex memang kakak ter the best lah pokoknya..." seru Anindira sambil mencium pipi Alex.
"Anindira... Kau tidak boleh main sembarangan mencium seorang pria seperti itu...!" tegur Alex sambil tetap fokus nyetir, walau jantungnya berdetak dengan sangat kencangnya, dan perutnya terasa jungkir balik.
"Masa mencium pipi kakak sendiri saja tidak boleh..." elak Anindira sambil menyeringai lebar.
Yah... Mungkin selamanya kau akan tetap menganggapku kakak.
Hingga suatu hari, seperti biasa Alex bersandar pada kap mobilnya di depan sekolah Rara, sambil menunggu Rara keluar dari sekolah. Tidak lama kemudian Rara keluar dengan tampang kesal, tanpa berteriak manja memanggil nama Alex seperti biasanya, Rara langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan sekencang mungkin.
"Sudah kaya nutup pintu angkot saja Ra..." tegur Alex setelah duduk di belakang kemudi.
"Besok-besok kalau jemput... Kakak tidak usah turun dari mobil deh..., diam saja di dalam mobil... Yaa..." pinta Anindira.
Alex mengerutkan keningnya, "Kenapa...?"
"Banyak anak-anak cewek kelas lain yang nitip salam ke kakak... Mereka pada suka sama kakak...!" rutuk Rara, membuat Alex tergelak.
Rara memberengut dan membuang muka ke arah jendela, "Kakak tidak tahu sih..., aku tuh cemburu..."
Alex mendadak menginjak remnya, untung tidak ada mobil lain di belakangnya, dengan segera Alex meminggirkan mobilnya.
"Kamu apa...?" tanya Alex.
Rara menatap Alex lekat-lekat, "Aku cemburu... Aku menyukai Kakak... Pria yang aku suka itu Kakak... Aku sudah suka sama Kakak dari pertama kali aku mengobati luka Kakak..."
Ya Tuhan... Ternyata Anindira juga menyukaiku...
"Ahh itu pasti cinta monyet..." goda Alex sambil terkekeh pelan, yang di sambut dengan cubitan Rara di lengannya, membuat Alex memekik kesakitan.
"Sakit Ra..." rintih Alex sambil mengusap lengannya.
"Jadi bagaimana...?" tanya Rara.
"Bagaimana apanya...?" Alex balik nanya.
"Kakak terima cintaku tidak...?"
"Oohh jadi ceritanya kamu nembak kakak niihh...?" goda Alex lagi, dan langsung menghindar ketika jari Rara ingin menyubitnya lagi.
"Kakak jahat... Aku turun di sini saja deh..." rajuk Rara sambil membuka pintu mobil.
"Ra tunggu...!" Alex menahan tangan Rara dan Rara kembali menutup pintunya.
"Kenapa...?" tanyanya sewot.
Alex merapikan poni Rara dan menatap lembut Rara, "Tapi kita harus merahasiakan ini dari Hardhan dan Mama yaa..." kata Alex lembut.
"Jadi kakak juga suka sama aku...?" tanya Rara sumringah.
Sambil tersenyum lebar Alex mengangguk.
Satu tahun sudah mereka berpacaran diam-diam, sampai akhirnya Anindira meminta merayakan sweet seventeennya di Paris, bersama dengan Karina. Saat itu berbarengan dengan proyek baru Hardhan di Paris, jadi mereka berempat berangkat bersama.
"Kak Alex please ikut dong..., masa tidak mau menemani pacar ulang tahun sih..." pinta Rara untuk kesekian kalinya.
"Ra... Nanti Hardhan malah curiga... Jadi kamu berdua sama Karina saja yaa... Kakak dan Hardhan tunggu di penthouse saja. Dan ingat..., jangan malam-malam pulangnya." bujuk Alex.
"Ya sudah aku jalan sekarang yaa... Bye" Rara mencium pipi Alex sebelum pergi, "I love you..." bisiknya lembut. Bisikan terakhirnya yang masih terus terngiang sampai sekarang.
Dan saat kecelakaan itu terjadi, saat Alex melihat tubuh Rara yang bersimbah darah, tubuhnya yang sudah dingin dan tak bernyawa, saat itu pula Alex merasa mati bersamanya. Setidaknya hatinya yang ikut mati bersama Rara.
Alex tersadar dari lamunannya ketika notif chat masuk ke handphonenya, pesan dari monsieur Gerrard tentang jadwal persidangan Karina dan otak pembunuhan Anindira.
Sekali lagi Alex menatap tajam Karina, yang sudah membuat Alex kehilangan satu-satunya wanita yang sangat berarti untuknya, yang sangat ia cintai dan kasihi dengan sepenuh hati, cinta pertama dan terakhir untuknya.
Alex menengadah wajahnya ke atas langit, berharap melihat bayangan Anindira di antara kumpulan awan musim panas kota Paris.
*Anindira..., Aku sudah memburu banyak waktu, berharap waktu itu mampu melupakan rasa cintaku padamu, tapi ternyata semua sia-sia...
Bagaimana aku bisa melupakanmu jika setiap nada terdengar seperti suara merdumu, dan angin seperti detak jantungmu, dan kau selalu hadir di setiap hembusan nafasku.
Ah, tenyata benar...
Perpisahan paling menyakitkan adalah berpisah karena kematian....
Karena sebesar apapun rinduku padamu...
Aku tidak akan pernah bisa melihatmu kembali.
Seharusnya malam itu aku menerima undanganmu untuk ikut hadir di pestamu... Tapi saat itu aku terlalu pengecut...!! Aku lebih mengkhawatirkan hubungan kita di ketahui Hardhan, daripada mengkhawatirkan keselamatanmu....
Kau tahu Anindira..., sampai saat ini aku masih menyesali keputusanku itu. Seandainya malam itu aku berada di sampingmu... Mungkin saat ini kau masih berada di sini... Masih mencintaiku dan memberikan senyuman termanismu untukku*.