
"Itu cincin keluarga kami secara turun temurun..." jelas Oma itu, "Boleh saya melihatnya... Hanya sekedar memastikan saja..." lanjut Oma.
Ahh gila.... Kali ini masalah apa lagi yang dibuat Jailangkung itu...
Sonya dan Kei saling bertukar pandang sebelum akhirnya Sonya bertanya, "Darimana Oma bisa seyakin itu kalau cincin yang saya pakai ini adalah cincin putri anda?"
"Hanya ada satu cincin seperti itu, kau bisa melihat di bagian dalamnya, ada ukiran huruf A dan S..." jawab Oma dengan penuh keyakinan.
Sonya tidak pernah melihat bagian dalam cincinnya, karena cincin itu tidak pernah lepas dari jarinya. Jadi dengan ragu-ragu Sonya mengeluarkan cincin itu dari jarinya, dan langsung memekik kaget ketika melihat ukiran yang ada di bagian dalamnya.
Kei meraih cincin itu dari tangan Sonya, dan juga melihat ukiran A dan S di bagian dalamnya, lalu menyerahkannya ke Oma.
"Kenapa cincin ini bisa ada ditanganmu?" tanya Oma sambil melihat dengan teliti cincin itu.
"Itu cincin kawinku, sudah tentu suamiku lah yang memberikannya padaku..." jawab Sonya, Oma langsung membelalak kaget.
"Alex... Kau istri Alexku?" tanya Oma sumringah.
Alexku?
"Dan Oma siapa?" tanya Sonya sambil mengambil cincin kawinnya itu kembali dari tangan oma, dan memasangnya lagi di jari tengahnya.
"Saya neneknya Alex... Ya Tuhan... Dimana Alexku sekarang?" tanya Oma, air mata langsung mengalir ke pipinya.
"Nenek!" seru Sonya dan Kei bersamaan.
Sonya langsung berdiri, dan menuntun Oma duduk di sebelahnya.
"Maaf Oma... Tapi kata Alex dia yatim piatu dan sebatang kara..." jelas Sonya.
"Tidak... Dia tidak sebatang kara... Dia masih memiliki aku neneknya... Satu-satunya keluarganya yang masih hidup..." sanggah Oma.
"Lalu kenapa Oma tidak mencarinya ketika orang tua Alex meninggal?" tanya Sonya lagi.
"Ceritanya panjang... Sekarang tolong katakan dimana cucu saya? Alexku..."
Sonya dan Kei kembali saling bertukar pandang, lalu sambil menyeringai lebar, Kei menekan tombol darurat jam tangannya.
"Kenapa kamu menekan itu Kei?" tanya Sonya, Hardhan dan Alex pasti sedang panik sekarang.
"Itu cara tercepat membuat mereka segera kesini tanpa banyak tanya lagi..." jawab Kei sambil mengangkat bahunya, "Sekarang kita tinggal bilang ke Upin, Ipin dan kedua pengawalmu itu untuk tidak menerima panggilan dari Hardhan dan Alex..." lanjut Kei.
**********
Club The One
"Apa kamu sudah gila Lex? Kenapa kau memandang Talita seperti itu? Apa kau menyukainya?!" cecar Hardhan.
"Demi Tuhan tidak Boss." jawab Alex.
"Berhenti memanggilku Boss... Aku bukan Bossmu... Aku kakakmu! Aku sudah terlalu lama membiarkanmu seperti ini... Kali ini aku akan tegas... Kau harus memanggilku Hardhan lagi... Seperti dulu!!" tegas Hardhan, "Sial kau Lex! Aku merindukan dirimu yang dulu..." lanjut Hardhan.
"Baik Boss." jawab Alex, lalu melihat sebelah alis Hardhan naik ia langsung buru-buru meralatnya, "Dhan..."
Alex selalu ingin meniru gaya menaikkan sebelah alis seperti Hardhan itu, tapi tetap saja sampai sekarang dia tidak bisa melakukan sebaik Hardhan.
"Kau sudah menikah sekarang... Kau sudah memiliki tanggung jawab Lex... Mulai sekarang kau berhenti melakukan tugas yang bisa membahayakan nyawamu... Kembali lagi ke posisimu sekarang, sudah lama posisi Executive Director itu kau tinggalkan..." tambah Hardhan.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapi... Lex... Kau tidak perlu mengkhawatirkanku lagi... Dino sudah mengganti posisimu... Kau sendiri yang bilang dia secakap dan seterampil dirimu..."
"Baik Bo... Dhan..." sahut Alex sambil menegak brandynya.
"Kembali lagi ke Talita... Apa niatmu sebenarnya? Kau tahu... Kei nyaris menyeret Talita keluar dari rumah kalau aku tidak melarangnya... Kau tahu sendiri hubungan Kei dan Sonya seperti apa kan Lex? Kau membuat istriku itu mengoceh dan mengutukmu nyaris sepanjang malam... Dan itu membuatku nyaris setengah gila Lex!!"
Alex menghela nafas panjang, "Tidak ada apa-apa Dhan... Kalian semua salah paham..." jelas Alex frustasi.
"Kau lihat sendiri video-video ini..., iris kupingku kalau kalian tidak terlihat seperti saling menggoda, walau cuma dari tatapan mata saja..." Hardhan memperlihatkan rekaman CCTV dari ponselnya.
Dan wajah Alex memucat seketika, apa separah itu terlihatnya? Ia tidak ada niat sama sekali ingin menggoda Talita.
Aku hanya memikirkan Rara...
"Apa pendapatmu setelah melihatnya?" tanya Hardhan.
"Aku tidak pernah membayangkan akan seperti ini... Aku hanya merindukan Anindira Dhan... Talita mengingatkanku dengan Rara... Kita semua tahu Rara sangat ingin menjadi dokter kan? Kalau Rara masih hidup, pasti ia sudah jadi dokter sekarang..."
Hardhan kembali meneguk brandynya, "Aku juga merindukan adikku itu Lex... Tapi biarkan Rara istirahat dengan tenang... Rara pasti akan sedih disana jika melihat kita sedih Lex... Sudah suratan takdirnya Rara harus seperti itu... Dan kita hanya bisa menerimanya dengan ikhlas..."
Alex baru akan mengakui perasaannya ke Rara pada Hardhan ketika jam mereka menyala dengan warna merah.
"Kei..."
"Nona Kei..." seru Hardhan dan Alex bersamaan.
"Hubungi Upin Ipin Lex..." perintah Hardhan.
Dan tanpa buang waktu lagi mereka bergegas keluar dari club, berlari lebih tepatnya, menuju kafe Kei dengan mobil terpisah.
Ada apa dengan Nona Kei.... Astaga... Sonya istriku sedang bersama Nona Kei sekarang... Ada apa dengan mereka?
Dengan tangan gemetar Alex menghubungi Upin Ipin tapi tidak dijawab, lalu ia menghubungi Ekram dan Damar tidak diangkat juga. Sambil mengumpat kesal Alex memukul stir mobilnya.
"Aarrgghh wanita ini tidak bisa tidak membuatku khawatir!!"
Mobil Alex tiba bersamaan dengan mobil Hardhan di depan lobby, setelah menyerahkan kuncinya ke petugas Valet Parking, Hardhan dan Alex melangkah cepat menuju kafe.
Langkah mereka terhenti dan menghela nafas lega secara bersamaan, saat melihat tidak terjadi hal yang tidak diinginkan dengan wanita-wanita mereka.
Mereka tengah berbincang dengan wanita tua, keempat pengawal itu menunduk dan merasa bersalah.
"Kenapa tidak menjawab panggilanku?" geram Alex.
"Maaf Boss... Kedua Nona melarang kami mengangkatnya..." elak pengawal itu.
"Kenapa kau menurutinya?" tanya Alex.
"Nona Kei mengancam akan memberitahu Big Boss bahwa kami sudah menggodanya kalau kami tidak menuruti perintahnya..." jawab Ekram dengan wajah memerah.
Yaahh siapa yang akan berani mengambil resiko mendapat amarah Hardhan...
Setelah menepuk pundak Ekram, Alex beranjak masuk menghampiri Sonya, Hardhan sudah menuntun Kei ke ruang kerjanya. Alex menatap tajam punggung Sonya yang sudah membuatnya khawatir.
Aku akan menghukumnya lagi... Lihat saja nanti.
"Son..."
"Nah Alex sudah datang Oma..." seru Sonya ke wanita tua itu, lalu secara bersamaan mereka menatap Alex, "Lex Oma ini Nenek kandungmu..." lanjut Sonya, membuat Alex terdiam dan mematung.