Mengejar Cinta Alex

Mengejar Cinta Alex
Makan Siang


Alex langsung berdiri dan menepuk pundak Sam, "Tidak apa-apa Sam, dan pastikan Sonya memakannya, karena pagi tadi dia tidak sempat sarapan." sahut Alex, lalu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kau mau kemana...?" tanya Sam yang diacuhkan Alex karena pria itu tetap jalan, jangankan sekedar menengok, menjawab pun tidak.


Sam mengalihkan perhatiannya ke Sonya, "Saya masih tidak habis pikir, kau mau menikahi pria sedingin itu..., berlawanan sekali dengan sifatmu..." gumam Sam sambil menyerahkan kotak makan siang Sonya.


Sonya menerima pemberian Sam itu, dan meletakkannya di sebelahnya, "Bukankah itu bagus...? Ibarat magnet, dua kutub yang berlawanan justru akan saling tarik-menarik..." sahut Sonya sambil mencoba untuk tersenyum, tapi tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan nada pahit dalam suaranya.


Sonya tidak habis pikir, kenapa ia dengan mudahnya meluapkan kesedihannya pada Alex. Tadi harga dirinya meminta Alex untuk meninggalkannya, karena ia tidak ingin Alex melihat sisi rapuh Sonya.


Tapi hati kecilnya berkata sebaliknya, hati kecilnya justru menginginkan Alex untuk tetap bersamanya, mendampinginya, dan berharap Alex bersedia meminjamkan bahunya untuk Sonya menangis.


Dan hati kecilnya mengalahkan egonya, Sesaat setelah Alex merengkuhnya ke dalam pelukannya, tangis Sonya langsung tidak terbendung lagi, kata-kata papanya sebelum operasi kembali terngiang-ngiang di telinganya. Sonya takut papanya tidak akan bertahan.


Tapi tepukan lembut di punggungnya, dan belaian jemari Alex di kepalanya, membuat Sonya merasa tenang dan nyaman, sepertinya Alex sudah menyerap semua kesedihan Sonya hingga tidak bersisa, karena tadi Sonya sudah merasa jauh lebih baik dan tegar.


Dan sekarang rasa sedih itu datang kembali walaupun untuk alasan yang berbeda, saat Alex meninggalkannya tadi.


"Kenapa kalian merahasiakannya dari Hardhan dan Kei...?" tanya Sam.


"Itu keinginanku..., merahasiakan pernikahan kami untuk sementara waktu. Lagipula..., kami hanya menikah sirih..." jawab Sonya muram.


"Tetap saja Kei pasti akan kecewa saat ia mengetahuinya nanti..." ujar Sam.


"Kei pasti akan mengerti. Yaa mungkin awalnya Kei akan marah-marah dan kecewa, tapi pada akhirnya ia akan mampu memaafkan... Terlebih lagi dengan alibi kuat tentang pernikahan dadakan aku dan Alex."


"Itu alibi untuk pernikahan kalian... Lalu alasan apa yang akan kau buat karena sudah merahasiakan pernikahanmu...?" tanya Sam, lalu mengibas tangannya, "Sudah lah..., kau tak perlu menjawabnya, itu urusan kalian berdua."


Selang dua jam berlalu, Alex kembali datang menghampiri mereka, dengan membawa tumbler minuman di tangan kanannya.


"Untukmu." katanya sambil menyerahkan tumbler itu ke Sonya, dengan segera Sonya mengambilnya.


"Terima kasih..." ucap Sonya.


"Kau dendam yaa...? Makanya tidak memesankan satu untukku juga...?" tanya Sam merujuk pada makan siang yang hanya ia berikan untuk Sonya tadi.


Mengabaikan pertanyaan Sam, Alex melihat kotak nasi Sonya yang belum tersentuh, "Kau belum makan?" tanya Alex.


Sonya menggeleng, "Aku sedang tidak berselera..."


Sambil berdecak kesal, Alex mengangkat kotak nasi itu lalu duduk di sebelah Sonya, kemudian membuka kotak nasinya.


"Kau tetap harus makan, kau sudah melewati makan pagimu. Sekarang buka mulutmu..." perintah Alex.


"Saya tidak mau.... Apa Bapak sudah gila menyuapi saya di sini...?" tanya Sonya.


"Saya bahkan akan mencekokimu kalau kau tetap menolak makan. Cepat buka mulutmu." gertak Alex.


"Kenapa Bapak peduli sama saya...? Saya makan atau tidak juga bukan urusan Bapak!" seru Sonya dengan nada membangkang.


Alex menaikkan sebelah alisnya, "Apa kau lupa kau istriku sekarang? Tentu saja itu jadi urusanku juga. Dan jangan berpikiran macam-macam dulu, saya melakukan itu karena tidak mau kau sakit, dan akan merepotkan saya nantinya!" tegas Alex.


Apa karena Papa sakit Alex jadi merasa direpotkan...?


"Berikan padaku...!" rutuk Sonya sambil mengambil kotak nasi itu dari tangan Alex.


malah terdengar seperti putus asa.


"Bukan itu maksudku Son, dan kau tahu itu!" sahut Alex tajam.


Merasa nada bicara Alex yang mulai meninggi, membuat amarah Sonya terpancing.


"Tidak...! Saya tidak tahu apa maksud Bapak." bantah Sonya, sambil mengangkat dagunya menantang Alex.


"Apakah kau sebodoh itu hingga saya harus menjelaskannya secara mendetail?! Dan kau bukan anak kecil lagi Son."


"Kenapa Bapak selalu menghinaku dengan setiap kata yang keluar dari mulut Bapak...?!"


"Saya tidak..."


"Apa?!" potong Sonya, nada suaranya terdengar tajam dan defensif.


"Demi Tuhan, tidak ada kata-kataku yang menghinamu Son."


Sam memandang bolak-balik ke Alex dan Sonya yang masih asik bertengkar, merasa di abaikan mereka, "Hei kalian berdua..., saya masih di sini loohh.." celetuk Sam dengan nada geli, tapi tidak ada satupun diantara mereka berdua yang beralih menatap Sam.


Tatapan mereka masih saling terkunci satu sama lain, yang satu tidak ingin ada yang membantah perintahnya, yang satu lagi selalu membangkang.


Astaga... Canggungnya berada diantara pertengkaran suami istri... Dan semua hanya karena masalah sepele... Karena makan siang...!


Sambil menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya, Sam berdiri dari kursinya, "Ckckck... Itu makanya saya tidak ingin buru-buru menikah... Tidak lama lagi Alex pasti akan terlihat lembek di depan Sonya, seperti halnya Hardhan di depan Kei." decak Sam sambil beranjak menjauh meninggalkan pasangan suami istri aneh itu.


"Maaf..." seru Sonya sambil memainkan kuku-kuku jarinya, setelah lama hanya ada keheningan diantara mereka.


Sonya tidak tahu kenapa emosinya mudah sekali tersulut jika menyangkut pria itu. Sebenarnya ia tahu Alex tadi bermaksud baik, hanya saja Sonya sudah merasa kecewa dengannya, karena meninggalkannya tadi.


"Saya akan memaafkanmu kalau kau mau memakan makan siangmu." sahut Alex.


Cih, aku pikir kau juga akan minta maaf karena sudah memancing emosiku...! batin Sonya.


Sonya melirik sekilas ke Alex lalu ke kotak makan siang di pangkuan Sonya, "Suapin..." permintaan itu keluar dari mulutnya tanpa bisa Sonya cegah.


Sonya menundukkan kepalanya Sambil memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya, lalu mengerang pelan mengutuk dirinya sendiri. Sonya dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai Alex menolaknya.


Kau sudah membuat malu diri sendiri Sonya....


rutuk Sonya dalam hati.


"Lihat aku." seru Alex.


Pelan-pelan Sonya membuka matanya dan mendongak ke arah Alex. Dan mendapati kedua mata Alex yang menatap lekat matanya.


"Kau bukan anak kecil lagi, jadi makan sendiri, dan habiskan." kata Alex tegas.


"Aku juga tahu..., tadi aku hanya mengetesmu saja... Kamu punya jiwa romantis atau tidak... Yang ternyata jiwamu juga sekaku wajahmu..." elak Sonya menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya.


Sebelah alis tebal Alex terangkat, "Kau mau mulai keributan lagi Son?" tanyanya.


Sonya menggeleng kesal, "Tidak..., aku mau mulai makan..."