Mengejar Cinta Alex

Mengejar Cinta Alex
Antara Aku, Kau dan Dia


Alex terbangun dengan kepala yang seperti tertusuk-tusuk dengan ribuan jarum, entah sudah berapa jam ia tertidur dengan posisi terlengkup seperti ini, membuat leher dan kepalanya bertambah sakit.


Alex tidak bisa tidak memikirkan Sonya, melihat video dan foto-foto Sonya dengan Ryo membuatnya nyaris setengah gila. Alex nyaris menyusul Sonya ke pulau itu, walaupun pada akhirnya Alex bisa mengendalikan diri lagi, dan beralih ke minuman, hingga membuatnya mabuk dan terbangun seperti ini.


"Argghh sial!!" gerutunya sambil balik badan hingga terlentang dan menekan pelipisnya, lalu matanya terbelalak lebar.


Alex menyibak selimutnya dan langsung mengumpat pelan ketika melihat bagian bawah tubuhnya yang telanjang, dan bukti bekas percintaan yang masih menempel di adik kecilnya, membuatnya langsung terduduk dan mengenakan kembali celananya.


"Sial!! Sial!! Sial!!" rutuk Alex sambil jalan bolak-balik di depan sofa, berusaha mengingat-ngingat apa yang terjadi dengannya.


"Sonya sedang di kota X... Tidak mungkin dengan wanita lain kan? Aarrgghhh!!!" teriak Alex frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya.


"Ahh CCTV..." Alex langsung bergegas ke laptopnya yang ia letakkan di atas meja bar dan melihat rekaman CCTVnya.


Entah Alex harus bernafas lega atau tidak ketika mengetahui Sonya lah yang bersamanya tadi, dan Alex kembali mengumpat,


"Sial!! Bukankah seharusnya besok Sonya baru kembali!! Kenapa aku harus menidurinya lagi... Aargghhh!!" rutuk Alex.


Mengabaikan rasa sakit yang menusuk di kepalanya, Alex melangkahkan kakinya ke kamar, dan mendapati Sonya yang terlelap tidur.


Dia pasti kelelahan sampai langsung tertidur dengan busana lengkap seperti itu... Biasanya dia lebih nyaman tidur kalau dalam keadaan tanpa busana.


Alex mencari kotak P3K di laci meja nakas di samping tempat tidurnya, kemudian meminum obat pereda nyeri untuk meringankan sakit kepalanya, sebelum ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menghilangkan sisa-sisa mabuknya.


"Aku tidak bisa berhenti... Aku tidak boleh menyerah... Aku harus tetap menjalankan niatku... Aku tidak akan membiarkan Sonya mencintaiku... Aku takut ini akan berakhiran sama... Aku dan dia saling jatuh cinta... Lalu kehilangan... Dan aku kembali hanya bisa mengenang dan merenungkannya dari jauh.... Aku tidak akan sanggup lagi menanggungnya... Tidak... Akan jauh lebih baik kalau aku dan Sonya hidup bersama tanpa cinta... Aku akan meyakinkan Sonya untuk berhenti mencintaiku..." tegas Alex pada dirinya sendiri.


**********


Sore harinya mereka duduk berhadapan di meja bar, sambil menikmati segelas red wine yang Alex bawa langsung dari Paris. Alex membuka laptopnya kemudian memperlihatkan sebuah video ke Sonya.


"Apa ini?" tanya Sonya bingung.


"Lihat saja sendiri." jawab Alex.


Sonya mengklik tombol play di video itu, dan langsung memekik dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Ryo benar Alex memiliki rekaman video CCTV di ruang Angry Room itu.


"Kamu mendengar semua keluh kesahku dan kamu masih bersikap kejam seperti itu padaku Lex? Masih bersikap tidak peduli seperti ini? Tidak tergugah kah sedikitpun hatimu itu Lex ketika melihat rekaman ini?" tanya Sonya tidak bisa menyembunyikan kepahitan dalam suaranya.


"Sudah berkali-kali aku ingatkan untuk tidak jatuh cinta padaku... Dan akhirnya kau sendiri yang terluka kan?!! Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak bisa memaksa diriku untuk mencintaimu! Aku masih mencintai Anindira!!" tegas Alex, kemudian tersenyum mengingat kisah cintanya pada Anindira, "Aku tidak ingin melupakan kenangan indah bersamanya..."


Senyuman Alex seperti menabur garam di atas luka Sonya, "Kalau kamu memang tidak ingin melupakannya... Kenapa kamu menawarkan diri untuk menikahiku? Kenapa kamu menciptakan bulan madu kita begitu indah? Seolah-olah kamu sudah membuka hatimu untukku... Seolah-olah kamu tidak ingin jauh dariku dan tidak ingin berpisah dariku..."


"Itu sebelum aku tahu kau sudah mencintaiku!! Aku tegaskan lagi... Kau hanya akan membuang-buang waktumu kalau terus berharap aku mencintaimu!!"


"Aku salah... Seharusnya aku tidak memaksakan cintaku padamu Lex... Yang pada akhirnya semua hanya akan melukaiku... Sudah jelas sekarang kamu tidak pernah pedulikan cintaku... Dan dengan bodohnya selama ini aku selalu berharap suatu saat nanti kamu akan mampu menyadarinya, betapa besar dan tulusnya cintaku padamu... Dan aku selalu berharap pada akhirnya kamu akan luluh hingga mampu membalas cintaku, dan melupakan Anindira..."


Sonya terdiam, tatapan yang di berikannya kepada Alex setengah terluka dan setengah marah, kemudian menutup matanya saat menambahkan dengan lemah, "Yang tidak pernah aku bayangkan adalah... Betapa sulitnya bersaing dengan orang yang sudah tiada... Kenapa tidak kamu susul saja sekalian dia ke alam baka Lex... Jadi kamu tidak akan bertemu denganku dan membuatku sesakit ini..."


Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Sonya, sekali berkedip maka air mata itu akan turun ke pipinya. Kesedihan Sonya sama buruknya dengan melihat wanita itu menangis, semua di luar kuasa Alex, dan Alex mendapati dirinya tidak suka melihat Sonya seperti ini.Tapi ia harus terus melanjutkannya, supaya Sonya tidak lagi berharap pada cinta semu itu lagi.


"Jangan menangis Son... Hatiku telah mati bersama dengan kematiannya... Jadi tangisanmu itu tidak akan berpengaruh padaku!"


Sonya tertawa hambar, "Anindira lagi... Masalah kita hanyalah antara Aku, Kau dan Dia... Terkadang aku berpikir aku ingin cepat mati Lex... Supaya..."


"Jaga ucapanmu!! Jangan bicara sembarangan!!" potong Alex dengan nada kesal dan takut.


Tidak... Sonya tidak boleh mati!


"Supaya aku bisa bertemu dengannya... Aku akan bercerita padanya betapa sukarnya aku mendapatkan cintamu... Betapa sukarnya aku mempertahankanmu di sisiku... Aku jadi seperti pengemis Lex, yang memelas meminta perhatianmu walau sedikit saja... Tapi yang ku dapat hanyalah ketidak pedulian dan sikap dinginmu itu... Aku iri... Aku iri pada Anindira... Padahal aku yang hidup dan dia yang tiada..." lanjut Sonya.


Alex menarik tangan Sonya, dan menggenggamnya dengan erat, "Jangan pernah berpikiran untuk mati Son!! Aku tidak akan membiarkannya!!" seru Alex.


Sonya menarik tangannya dari genggaman Alex, "Lebih baik aku menghilang... Daripada terus ada tetapi tidak pernah di pedulikan..."


Alex menarik dan menggenggam kembali tangan Sonya, "Aku janji aku akan peduli lagi padamu seperti saat bulan madu kita... Selama kau berjanji untuk tidak mencintaiku lagi..."


Sonya merasa sangat bingung, luar biasa bingung dengan sikap Alex ini, sebenarnya apa maunya Alex sih?


"Aku ingin kamu jujur Lex... Kamu sudah mulai mencintaiku kan? Kamu hanya merasa takut karena sudah membagi cinta Anindira denganku... Kamu hanya merasa bersalah dengan Anindira iya kan? Kamu hanya tidak ingin mengakuinya..."