Mengejar Cinta Alex

Mengejar Cinta Alex
Lunch di Taman


Lo Storto atau The Twisted One... Itulah julukan dari gedung perkantoran yang di sewa Hardhan untuk kantor cabangnya di Milan. Bentuk gedungnya heliks seperti terbelit, seperti menara yang berputar, semakin tinggi semakin mengecil, dengan bagian dinding luarnya berbentuk rhomboid, yang kisi-kisinya memiliki sistem penangkal matahari dan dilapisi oleh lapisan kaca ganda.


Gedung setinggi seratus tujuh puluh meter dengan empat puluh empat lantai ini Merupakan masterplan CityLife Milano, yang terletak di distrik bersejarah kota Fiera. Berisi ruang komersial, perkantoran dan pusat perbelanjaan yang terhubung langsung ke stasiun metro.


Gedung ini menyuguhkan pemandangan dari Piazza Firenze hingga Piazza Giovanni Amendola. Sedang dari ruang kerja Sonya sendiri menyuguhi pemandangan Santa Maria delle Grazie, gereja abad ke lima belas yang masuk menjadi salah satu bangunan warisan dunia UNESCO. Dan Apartment tempat Sonya tinggal sekarang, yang memang berdekatan dengan kantornya... Jadi Sonya hanya berjalan kaki dari Apartmentnya ke kantor.


Seminggu sudah Sonya berada di kantor ini dan masih harus beradaptasi dengan lingkungan kerja barunya, memang ada beberapa orang Indonesia yang bekerja disini tapi mayoritas pekerja dari penduduk lokal.


Seperti biasa di saat jam istirahat, Sonya lebih memilih makan sambil duduk di taman area kantirnya. Saat ini sudah mulai peralihan musim dari musim dingin ke musim semi, jadi udara tidak terlalu dingin dan aneka bunga warna-warni sudah mulai bermekaran


Pemandangan pun menjadi lebih indah. Yang awalnya lanskap pucat pasi dengan warna putih keabu-abuan saat musim dingin, berubah menjadi indah dengan hamparan bunga warna-warni nan cantik. Pepohonan yang pada musim dingin terlihat gundul pun kini sudah terlihat hijau karena sudah dipenuhi dedaunan lagi.


Dan... Banyak pasangan muda-mudi yang memadu kasih di taman ini, duduk berdekatan saling melempar senyum dan rayuan, sesekali mereka tertawa bahagia, dan ada pula pasangan yang tanpa canggung sedang berciuman, membuat jiwa jomblo Sonya meronta-ronta penuh rasa iri.


"Alex...!!" teriak seseorang membuat dada Sonya berdegup kencang dan ia langsung mengalihkan pandangannya ke sekitar taman, mencari sosok Alex yang ia kenal. Tapi ternyata Alex asing lah yang di panggil orang itu.


Sambil menghela nafas panjang, Sonya bersandar pada kursinya, "Mungkin akan ada masanya nanti... Entah kapan... Aku akan bersikap biasa saja ketika mendengar namamu..." desah Sonya pelan sambil menatap makan siangnya di tangannya.


Tapi untuk saat ini aku belum bisa melupakanmu... Tidak pernah bisa melupakanmu walau sedetikpun... Hatiku terluka dan rapuh karena aku terlalu mencintaimu... Terlalu menyayangimu... Dan kini... Aku terlalu merindukanmu...


Apakah kamu juga merindukanku Lex...? Ah, hanya dia yang akan selalu kau rindukan... Iya kan...? Aku hanya bisa berharap Tuhan mengobati rinduku dengan menghadirkanmu di dalam mimpi-mimpiku...


Tapi... Bukankah itu justru akan membuatku semakin tidak bisa melupakanmu...? Kalau begitu aku akan berdoa... Semoga Tuhan tidak menghadirkanmu lagi ke dalam mimpi-mimpiku... Dan semoga Tuhan tidak membiarkanku mendengar namamu lagi entah dari mulut siapa pun... Setidaknya sampai aku tidak memiliki perasaan apa-apa lagi untukmu...


Tapi aku selalu berharap suatu saat nanti kamu juga akan merindukanku... Dan ketika kamu merasakannya, kamu akhirnya akan tersadar bahwa sebenarnya kamu juga mencintaiku... Lalu kamu akan menyalahkan dirimu sendiri... Karena kesalahanmu yang sudah membiarkan aku berlayar pergi dari hidupmu... Dan aku harap kesalahan itu membuatmu sakit... Sama halnya seperti rasa sakit yang kamu tinggalkan untukku...


"Excuse me..." seru seseorang membuyarkan lamunan Sonya.


Sonya mendongakkan kepalanya menatap ke sosok pemilik suara itu, ke sosok pria yang sedang tersenyum lebar ke arahnya, dengan kantong berisi makanan di tangan kanannya, dan tumbler minuman di tangan kirinya.


"Yaa..." balas Sonya.


"May I sit here...?" tanya pria itu.


Sonya mengedarkan pandangannya ke kursi taman lainnya, yang ternyata memang sudah penuh,


"Yes, of course... have a seat..." jawab Sonya sambil menggeser posisi duduknya.


"My name is Tae... Where do you come from?" pria itu menyebutkan namanya sembari mengulurkan tangannya ke Sonya.


"I'm from Jakarta, Indonesia..." jawab Sonya dengan enggan menyambut uluran tangan pria itu, tanpa menyebutkan namanya.


"Your name miss...?" tanya pria itu lagi tidak mau melepas tangan Sonya sebelum Sonya menyebut namanya.


"Sonya... My name is Sonya..." jawab Sonya sambil menarik tangannya, "Enjoy your lunch, sir..." lanjut Sonya sambil berdiri dan bersiap meninggalkan pria itu.


"Kamu bisa bahasa Indonesia...?" tanya Sonya.


"Hmmm cukup lancar..., Bersediakah kau menemaniku makan siang...? Aku baru empat hari disini..." ujar Tae.


Sonya langsung duduk di sebelahnya, rasanya menyenangkan bisa berbincang dengan menggunakan bahasanya. Tae terlihat seperti orang Asia, mungkin dari Thailand, Filipina atau Singapura, entahlah... Dan Sonya tidak mau menanyakannya.


"Kunjungan kerja atau memang akan bekerja di sini...?" tanya Sonya lagi.


"Aku ada pertemuan penting dengan klien di gedung Lo Storso itu... Sekalian liburan..." jawab Tae lalu memasukkan makanannya ke mulutnya.


"Itu berarti kamu tidak akan lama di sini...?" tebak Sonya.


Tae menggeleng sambil mengunyah cepat-cepat makanannya lalu menelannya sebelum menjawab, "Besok aku sudah sudah harus kembali ke negaraku... Ini hari terakhirku di sini..." sahut Tae.


"Oh... sudah berapa hari kamu disini...?"


"Sudah empat hari... Dan aku selalu melihatmu duduk termenung di taman ini setiap kali jam makan siang... Tapi baru kali ini aku ada kesempatan berkenalan denganmu..." jelas Tae sambil menyeringai.


"Apa aku terlihat sejelas itu kalau aku sedang merenung...?" tanya Sonya dengan nada tidak percaya.


"Oh iyaa... Keningmu selalu mengkerut... Seperti ini..." Tae memperagakan cara kening Sonya mengkerut, membuatnya tertawa lebar.


"Terlihat mengerikan yaa...?"


"Tidak kok... Justru menggemaskan..." sanggah Tae lalu meneguk minumannya.


"Kamu sendiri sedang ada kunjungan kerja atau memang menetap di sini...?"


"Aku di mutasi dari kantor pusat di Jakarta ke cabang Milan ini... Well, sebenarnya aku yang minta pindah..." terang Sonya.


"Kenapa...? tidak betah di Jakarta...? Atau mau mencari suasana baru...?" tanya Tae.


"Hmm mencari suasana baru saja... Aku jatuh cinta sama kota ini sejak pertama kali menjejakkan kaki ku di sini... Yaa.. Walaupun tidak semua penduduknya bisa berbahasa Inggris, tapi itu bagus aku jadi tergerak untuk mempelajari bahasa mereka..." jawab Sonya lugas.


"Yah kita memang harus menguasai beberapa bahasa... Kau tahu... Di negaraku banyak yang sudah tertarik belajar bahasamu, mereka berebut untuk bisa masuk ke kelas bahasa Indonesia yang memang kuotanya terbatas itu..." seru Tae dengan penuh semangat.


"Oh yaa...? Kenapa...?"


"Banyak youtuber dari negara kami yang banyak subscribernya justru karena mereka bicara dengan bahasa Indonesia... Dan konten mereka juga tentang Indonesia... Mungkin itu juga yang menjadi salah satu pencetusnya..."


Obrolan dengan Tae terus berlanjut sampai waktu jam makan siang Sonya selesai dan ia kembali lagi ke kantornya. Dan sialnya mereka lupa saling tukar nomor ponsel.