Mengejar Cinta Alex

Mengejar Cinta Alex
Aku Mencintaimu


Sebenarnya Sonya malas turun dari tempat tidur, tapi cacing-cacing di perutnya Sudah mulai berdemo minta diisi. Bagaimana mereka tidak berdemo, Sonya sudah melewatkan makan malamnya.


Sonya melihat Alex di dapur, Sonya langsung mengucek kedua matanya, takut itu hanya halusinasinya saja, tapi ternyata pria yang sedang masak itu memang Alex.


Dari harum masakannya saja sudah terasa enaknya, Sonya sampai harus menelan air liurnya, cacing di perutnya semakin keras berdemo.


“Kenapa tidak bilang kalau kamu bisa masak Lex?” tanya Sonya sambil menghampiri Alex.


Alex langsung balik badan, “Kenapa kamu turun dari tempat tidur? Aku sedang menyiapkan makanan untuk breakfast kita...”


“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Sonya.


“Iya ada... Duduk diam saja di sana...” Alex menunjuk kursi makan yang biasa Sonya duduki.


“Kamu yakin tidak mau dibantu?” tanya Sonya lagi.


Alex tidak menjawab, ia hanya balik badan dan langsung asik dengan masakannya lagi, membuat Sonya menjadi dongkol.


Cih!


Sonya menatap punggung tegap Alex, pria itu terlihat lumayan mahir menggunakan peralatan dapur, mungkin karena ia terbiasa tinggal sendiri, jadi mau tidak mau Alex harus bisa masak.


Sejurus kemudian Alex meletakkan breakfast buatannya di meja Sonya dan mejanya, “Apa ini?” Tanya Sonya.


“Chicken Oregano, aku selalu membuat ini kalau sedang bosan dengan makanan luar...” sahut Alex.


“hmmm... Ini enak Lex... Sumpah!” seru Sonya lalu memejamkan matanya, menikmati fillet ayam dengan rasa lemon, Italian herbs dan Oregano yang melumer menjadi satu, “Aku jadi merindukan Italia...” lanjut Sonya.


“Aku minta maaf Son...”


Sonya mengalihkan perhatiannya dari menu breakfastnya ke Alex, “Maaf untuk apa?”


“Sudah membuatmu salah paham tentang hubunganku dengan Icha...”


“Oh... Ini tentang kamu yang terlihat menggoda Icha itu?” tanya Sonya.


Sial! Kenapa Alex bahas masalah Talita lagi sih? Aku sudah puluhan kali merutuki diriku sendiri karena kemarin sempat melupakan masalah Talita, dan malah menyerahkan diriku padanya, bukannya terus marah padanya!


“Aku tidak sedang menggodanya sialan!!” bantah Alex.


"Mata adalah jendela hati Lex, mata tidak akan berbohong... Karena mata mewakili pikiran dan kata hati kita. Kamu bisa melihat dari CCTV Boss.. Bagaiman caramu memandang Icha, dan bagaimana cara dia membalas pandanganmu itu!"


"Itu karena aku melihat bayangan Rara di dalam diri Icha... Rara begitu ingin menjadi dokter, dan melihat Icha memakai snelli di rumah Hardhan membuatku jadi mengingat Rara..." aku Alex.


"Kalau begitu kenapa tidak kamu nikahi saja si Icha... Anggap saja dia Anindira! Kamu bisa langsung menikahinya tanpa perlu izinku... Toh kita hanya menikah siri!"


"Siapa yang mau menikahi Icha?"


"Katamu dia mirip Anindira!!"


"Mirip bukan berarti dia Rara!! Anindira tidak akan tergantikan oleh siapapun!!"


"Termasuk aku?" tanya Sonya pelan.


"Ya... Termasuk kau!!" jawab Alex dengan penuh keyakinan.


"Apa Boss tahu kamu mencintai adiknya?" tanya Sonya lagi.


"Tidak... Untuk sementara kami merahasiakannya dari Hardhan dan Mama..."


Tuhan... Itu berarti mereka saling mencintai... Bagaimana rasanya dicintai Alex?


"Iya sampai sekarang..."


Yaa itulah cinta... Kita tidak pernah bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta, dan sialnya... Aku jatuh cinta dengan pria dingin, kaku dan tidak peka ini... Pria yang masih terjebak pada cinta masa lalunya...


“Aku mencintaimu Lex...” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Sonya tanpa bisa ia tahan lagi.


Astaga... Aku sudah mengatakannya... Aku tidak boleh mundur lagi sekarang.


“Kau apa?” ulang Alex.


“Aku mencintaimu, sial!! Walaupun kau bersikap kasar padaku, tapi itu tidak bisa meruntuhkan perasaanku padamu Lex, maaf Lex aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi... Aku benar-benar sudah....”


“Cukup!!!” teriak Alex sambil menggebrak meja dan berdiri, matanya kembali terlihat seperti tatapan iblis yang siap mencabik-cabik Sonya. Sonya memberanikan diri menantangnya dengan menaikkan dagunya.


“Kamu mau apa? Marah? Mengusirku? atau Menceraikanku?” tanya Sonya dengan suara bergetar.


“Aku sudah tegaskan berkali-kali jangan sampai jatuh cinta padaku... Dan kau sudah melanggarnya!!” seru Alex sambil mengacak-ngacak rambutnya.


“Aku sudah berusaha memendam perasaanku padamu Lex, tapi aku sudah lelah menghadapinya sendirian... Aku ingin kamu juga tahu perasaanku...” desah Sonya.


“Aku tidak akan membalas cintamu sialan!!! Tidak akan pernah!!!” geram Alex.


“Aku tahu kamu tidak akan membalas cintaku... Belum... Tapi cintaku akan selalu ada untukmu Lex... Seberapa seringpun kamu akan mengabaikanku nanti... Dan seberapa seringpun kamu mengingatkanku akan cintamu pada Rara... Itu tidak akan membuatku menyerah untuk mendapatkan cintamu...”


“Bermimpilah sesukamu!!! Aku akan keluar dari Apartment ini sekarang!!” raung Alex lalu beranjak pergi meninggalkan Sonya.


“Kamu tidak bisa pergi!! Aku belum memintamu pergi!!” teriak Sonya membuat langkah kaki Alex terhenti.


“Apa maksudmu?” tanya Alex dingin dengan tetap memunggungi Sonya.


“Kamu janji akan pergi kalau aku yang memintamu pergi kan? Apa kamu lupa? Dan saat itu terjadi bukan kamu yang pergi dari Apartment ini... Tapi aku yang akan pergi...”


Alex mengumpat kesal, ia melanjutkan langkah kakinya ke kamar, dan membanting pintu kamar sekencang mungkin.


Kini, air mata yang sejak tadi berlinang dimatanya mulai berjatuhan, Sonya bertanya-tanya dalam hati apa dia salah karena sudah jatuh cinta pada Alex?


Tidak lama kemudian Alex sudah berganti pakaian, “Kamu mau kemana?” tanya Sonya.


“Bukan urusanmu!” jawab Alex dingin lalu keluar dari Apartment.


Seperti dugaanku... Alex akan kembali dingin kalau aku menyatakan cintaku.


Terkadang sikapnya membuatku merasa kalau sebenarnya aku memiliki kesempatan untuk membuatnya jatuh cinta padaku... Tapi saat aku mencoba tuk meraih kesempatan itu... Kembali lagi ia membuatku sadar... Bahwa sebenarnya tidak pernah ada kesempatan untukku.


Sonya beranjak ke arah balkon, melihat pemandangan ibu kota yang terlihat lenggang dari kendaraan di hari minggu.


Sonya tertawa hampa, ia merasa lucu karena masih tetap mencintai Alex yang sudah menyakiti hatinya, dan sudah terang-terangan menegaskan tidak akan pernah membalas cinta Sonya.


Tapi aku yakin Lex... Akan ada saatnya nanti kamu akan membalas cintaku...


Seperti sebuah pepatah yang mengatakan sekeras-kerasnya batu bila tertimpa hujan akan retak juga... Begitu juga dengan perasaanmu Lex, aku yakin suatu saat nanti kamu akan membalas cintaku. Sekarang aku hanya tinggal menunjukkan seberapa besar cintaku untukmu.


Aku sungguh-sungguh berharap takdir itu akan datang padaku... Pada kita...


Atau... Apa aku harus menyerah saja? Dia terlalu terpuruk di dalam masa lalunya... Yang ada dihatinya saat ini hanyalah Anindira... Bagaimana bisa aku bersaing dengan orang yang sudah tiada?


I’m not sure what scares me more, that you will never start loving me, or that I will never stop loving you. desah sonya.