
Tidak terasa empat bulan sudah Sonya dan Alex menikah, walaupun tidak seperti pernikahan pada umumnya. Mereka hanya tinggal di tempat yang sama, Tetapi dengan kamar yang terpisah, seperti pasangan yang sedang pisah ranjang.
Mereka sudah terbiasa melakukan rutinitas harian mereka, makan pagi dan makan malam bersama, mungkin sesekali berbincang-bincang di depan televisi, atau di depan balkon samping kolam renang. Itu pun hanya membahas masalah pekerjaan. Walaupun ujung-unjungnya mereka ribut lagi, dan kembali ke kamarnya masing-masing.
Alex dan Sonya sudah sepakat tidak akan membahas hubungan mereka akan seperti apa nantinya, mereka sepakat membiarkan hubungan mereka mengalir secara alami.
Seperti pagi ini, Sonya dan Alex sedang menyantap makan pagi yang Sonya hidangkan, setidaknya Sonya merasa ada sedikit hal positif dari hubungan mereka, Alex jadi terbiasa sarapan pagi, sebelum berangkat ke kantor.
"Bagaimana proyekmu dengan Ryo...?" tanya Alex.
"So far baik-baik saja..." jawab Sonya lalu memasukkan lagi sesendok penuh makanannya ke mulutnya.
"Apa Ryo yang menyuruhmu mengenakan rok ke kantor...?" tanya Alex lagi.
Sonya cepat-cepat mengunyah makanannya dan menelannya sebelum menjawab Alex, "Tidak... kenapa...?" Ia balik nanya.
Alex mengangkat bahunya, "Hanya penasaran saja, beberapa bulan ini kau sudah jarang mengenakan celana panjang ke kantor..."
"Oohhh..." Sonya menyeringai lebar.
"Oohh...?" ulang Alex.
Sonya mengibas tangannya dengan santai, "Hanya ingin membuktikan saja kalau tidak ada satupun gocapan di kakiku..."
"Gocapan...?" ulang Alex lagi.
Astaga Jailangkung ini... senang sekali mengulang perkataanku.
"Abaikan saja... Kamu tidak akan mengerti..." ujar Sonya sambil terkekeh pelan, lalu menegak minumannya.
"Saya akan mencari arti kata itu di google." gumam Alex, membuat Sonya menyemburkan sisa air yang belum turun ke kerongkongannya, Alex menaikkan sebelah alisnya.
"Astaga Lex... Kamu tidak akan menemukannya di google..." sahut Sonya sambil mengambil serbet makan di sebebelahnya lalu membersihkan sisa air dari bibirnya, dan di meja makan. "Lagipula ini hanya perang dingin antar wanita..."
"Cih, wanita mana yang berani menantangmu Son...? Kau pasti akan meninjunya sampai hidung mereka patah." cibir Alex.
"Aku tidak sebar-bar itu Lex... Aku tidak pernah meninju seseorang hanya untuk melindungi diriku sendiri... Yang pernah merasakan tinjuku hanya pria-pria bodoh yang menyakiti Kei. Tapi kalau kamu terus menerus membuatku marah, sampai batas kesabaranku, bisa jadi aku akan meninjumu suatu saat nanti...!" geram Sonya.
"Coba saja kalau berani..." tantang Alex.
Sonya meletakkan sendok makannya, lalu menatap tajam Alex, "Kenapa kamu selalu memancing keributan diantara kita sih...? Aku sedang malas ribut sekarang... Tidak mau moodku terganggu karena aku ada pertemuan hari ini di kantor Ryo..."
Sonya menumpuk piring kotornya dan Alex, kemudian mencucinya.
"Tidak perlu di cuci... Nanti Bibi juga akan ke sini!"
"Aku sudah terbiasa mencuci sendiri piringku..."
"Ya sudah piringmu saja yang kau cuci... Piringku biar Bibi yang mencucinya." tegas Alex dingin.
Sonya mengabaikan perkataan Alex dengan tetap mencuci piring Alex, seperti biasa dia lebih memilih bersenandung, daripada harus terus ribut dengan Alex.
Dan seperti biasanya juga, Alex langsung bergegas meninggalkannya, "Packing baju-bajumu... Boss mengajak kita ke pulau X besok..." serunya sebelum keluar dari Apartment.
Sonya menghapus air matanya, "Kau jadi wanita lemah karena sudah mulai mencintainya Sonya... Sejak kapan kau mengambil hati cibiran Jailangkung itu...? hingga kau menjadi cengeng seperti ini..." gumam Sonya pada dirinya sendiri. "Sial..., kenapa dia menganggapku sebar-bar itu sih...?"
**********
Alex mengangguk, "Sudah Ma..." jawab Alex sambil memeluk dan mencium kening mama.
"Hardhan sama Kei sepertinya masih di ruang makan..."
"Baiklah, saya masuk dulu ya Ma..."
Alex kembali merasakan perasaan sedih dan tidak nyaman saat memasuki rumah ini, Setiap menyusuri aula, bayangan Anindira yang sedang lari menyambut kepulangan Alex dari kantor selalu hadir.
Rumah ini terlalu mengingatkannya dengan Anindira, itu makanya Alex tidak pernah berlama-lama di rumah ini.
Alex terus melangkahkan kakinya menuju ruang makan, tetapi Hardhan dan Kei sudah tidak ada di sana. "Kamu mencari Boss dan Nona Kei...?" tanya Talita yang baru saja masuk ke ruang makan.
"Dimana mereka?" ulang Alex.
"Mereka sedang jalan santai di taman belakang..., itu bagus untuk Nona Kei." jawab Talita sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu saya tunggu di sini saja." ujar Alex sambil menarik bangku dan langsung duduk.
"Kamu mau aku buatkan teh chamomile lagi...?" tanya Talita lembut, dan Alex mengangguk.
Talita memang sering membuatkannya teh itu tiap kali Alex ke rumah Hardhan, dan tehnya memang lumayan bisa sedikit menyegarkan badannya.
Dan melihat Talita sedikit mengingatkannya pada Anindira, kalau saja Anindira masih hidup, pasti yang sekarang duduk di depannya dengan jas snelli itu adalah Anindira alih-alih Talita.
Merasa Alex sedang memandangnya membuat wajah Talita merona merah, Alex selalu menatapnya seperti itu, dengan wajahnya yang terlihat sendu, tidak kaku seperti biasanya.
Apa dia juga menyukaiku...? Tanya Talita dalam hati.
"Berapa usiamu?" tanya Alex dingin.
"Duapuluh lima tahun... kenapa...?" ia balik nanya.
Yah benar..., seusia Anindira... Gumam Alex dalam hatinya. Anindira pasti akan terlihat jauh lebih cantik mengenakan jas snelli itu.
"Lex..."
Suara Talita membuyarkan lamunannya, Alex tidak sadar sedang memandang Talita sambil melamun, dan membuat pipi wanita itu merona merah.
Alex segera mengalihkan perhatiannya ke cangkir teh di depannya, kemudian mengangkat dan menyesapnya pelan-pelan, sudut matanya masih terus mengawasi Talita.
Talita mengambil sepotong roti tawar dari atas meja makan, kemudian menuang susu kental manis coklat diatasnya, lalu melipat dua roti itu sebelum dimasukkan kemulutnya, Talita memejamkan matanya saat mengunyah roti itu, dan setitik coklat menempel di sudut bibirnya.
Alex terpana melihatnya, ia merasa seperti Déjà Vu. Alex pernah melihat kejadian di depannya ini, hanya saja bukan Talita tapi Anindira. Cara Talita mengambil roti, menuang susu coklat, melipat roti sebelum di masukkan kemulut, kemudian menikmati roti sambil memejamkan matanya itu sama persis dengan yang biasa Anindira lakukan setiap pagi, sebelum berangkat sekolah.
Apa ini hanya halusinasiku saja...? Tanya Alex dalam hatinya.
Tanpa bisa dicegah Alex melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Anindira, Sambil tersenyum Alex mengambil tissue kemudian mencondongkan badannya ke arah Talita, dan membersihkan susu coklat yang menempel di sudut bibirnya.
Apa aku sudah gila...? Wanita ini bukan Anindira...!
Merasa kesal dengan dirinya sendiri, Alex bergegas pergi meninggalkan Talita yang sedang terpana tidak percaya melihat sikap manis Alex padanya tadi.
"Kau mau kemana...? Tumben cepat sekali..." tanya mama saat Alex sedang menuju mobilnya.
"Maaf Ma, tiba-tiba ada urusan mendadak, aku permisi dulu." jawab Alex lalu mencium kening mama, sebelum masuk ke mobilnya dan bergegas keluar dari rumah itu.