
Kedua mata Alex berkilat-kilat karena amarah, bibirnya membentuk garis tipis, dan nafasnya memburu, "Apa kau pikir aku akan mengizinkanmu menikah lagi?" desis Alex dari sela-sela giginya.
Sonya mengangkat bahunya dengan tidak acuh, "Aku tidak butuh izinmu... Ingat minggu depan kau bukan lagi suamiku!"
"Dan apa kau pikir aku akan membiarkanmu menikah lagi?!"
Sonya tertawa getir sambil menggelengkan kepalanya, "Aku tidak menyangka kau akan menjadi sepicik ini Lex... Memangnya apa hak mu melarangku menikah lagi? Apa kamu berharap aku akan sepertimu yang terus menerus menangisi kisah tragis masa lalumu itu? Yang tidak bisa move on dari Rara? Apa kamu berharap aku tidak bisa move on darimu? Cih!! Cinta boleh Lex tapi bodoh jangan!! Dan aku sudah cukup bodoh kemarin karena terlalu berharap padamu... Untungnya kata-katamu itu kembali menyadarkan akal sehatku!! Aku berterima kasih padamu untuk itu..."
"Bagaimana kalau kau sedang mengandung anakku?" tanya Alex dengan nada dingin.
Sonya ternganga tidak percaya dengan pertanyaan Alex yang tidak masuk akal itu, "Apa kamu ngelindur Lex? Selama ini aku minum pil KB... Kamu yang selalu memastikan aku harus meminumnya!"
Alex mengangkat bahunya, "Bisa saja kebobolan kan?"
Sonya tertawa pendek, "Tuhan... Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Lex... Well... Kalaupun aku hamil, itu pun tidak jadi masalah... Kalau memang pria itu benar-benar tulus mencintaiku... Dia pasti mau menerima anakku juga..."
Alex menyipitkan matanya ke arah Sonya, "Kalau ternyata kau hamil Son... Aku akan mengambil anak itu... Aku akan mendapatkan hak asuh anak itu dengan cara apapun..." tegas Alex.
"Memangnya aku akan tinggal diam saja... Aku juga..."
"Pilihannya hanya itu atau aku akan memaksamu menggugurkannya!! Jangan harap aku akan membiarkan pria lain yang mengasuh anakku!!" potong Alex dengan nada mengancam.
Sonya tertawa getir lagi, "Oh astaga... Aku tidak percaya aku sedang membahas masalah anak denganmu Lex... Padahal aku tahu betul kamu tidak mau memiliki anak... Kamu tidak perlu khawatir... Aku selalu rutin meminumnya..."
Sonya memberanikan diri menatap penuh wajah Alex yang sekarang terlihat dingin, "Kenapa tidak ada pilihan kamu akan menikahiku lagi kalau aku ternyata hamil?" pancing Sonya.
Alex menaikkan sebelah alisnya, "Apa kau pikir aku akan mau kembali pada wanita yang sudah memilih untuk meninggalkanku?" tanya Alex dengan nada sinis.
Fix... Mulai hari ini tertutup sudah pintu hatiku untukmu Lex.
"Aku tidak memilih pergi... Kamu lah yang membuatku pergi Lex... Dan aku harap kamu selalu ingat kata-kataku itu..." jawab Sonya tidak kalah sinisnya.
"Kau yang minta Hardhan memutasimu ke Milan kan?" tanya Alex.
"Iya... Kenapa? Masalah?" tantang Sonya sambil menaikkan dagunya.
"Pengecut!" Alex mencemooh Sonya.
Sonya menyipitkan kedua matanya, "Apa maksud perkataanmu itu?"
"Akui saja kau sengaja menghindar dariku kan? Kau tidak bisa melupakan perasaanmu padaku kan? Makanya kau memilih menjauh dariku... Dan aku yakin, kalau aku menciummu..., kau akan merespon seperti biasanya... Menyerah dan memasrahkan tubuhmu padaku... Dan kau tahu itu dengan pasti... Makanya kau memilih pergi sejauh mungkin dariku... Iya kan...?" tebak Alex dengan penuh percaya diri.
Sonya mengangkat dagunya tinggi-tinggi, "Percaya diri sekali kamu... Bukannya aku sudah pernah bilang aku sangat menyukai Milan, terutama Lake Como... Dan aku akan tetap kesana dengan atau tanpamu... Itulah alasanku minta dipindahkan kesana!"
Tiba-tiba Alex tersenyum manis, membuat dada Sonya berdesir, ribuan kupu-kupu menari-nari di perutnya, dan jantungnya berdegup kencang, hingga Sonya menyadari sesuatu, ternyata dia masih belum terlalu kebal dengan pesona Alex.
Sial! Kenapa Alex tersenyum seperti itu sih... Aargghhh!!
"Apa kau tidak takut akan membangkitkan kembali kenangan indah kita di sana? Saat-saat kita bercumbu mesra... Berpelukan sambil melihat matahari terbenam... Serta malam-malam yang kita habiskan bersama dengan penuh gairah, saat kau meneriakan namaku ketika mencapai kepuasan... Saat kau membuat luka baru di punggungku... Atau saat malam nakal kita di depan balkon... saat...."
"Sudah cukup!!! Hentikan aku tidak mau mendengarnya!!" teriak Sonya sambil memejamkan mata dan menutup telinga dengan kedua tangannya.
Sial.... Sial... Hanya mendengar kata-katanya saja sudah membuat aku meleleh... Membuat ku ingin berlari kepelukannya dan memohon padanya untuk memuaskanku... Aarrgghhh!! Aku pasti sudah gila!!
"Lalu apa bedanya dengan binatang? Hanya sekedar berhubungan tanpa melibatkan perasaan? Dan jangan lupa... Aku menginginkan anak... Sesuatu yang tidak mau kamu berikan untukku!!" cibir Sonya.
"Bagaimana kalau aku bersedia memiliki anak denganmu?" tanya Alex lembut.
"Tapi kamu tidak bisa mencintainya seperti halnya kamu tidak bisa mencintaiku... Iya kan?"
"Kau terlalu banyak meminta Son... Anak saja apa tidak cukup untukmu? Kau masih menginginkan cintaku juga?" ujar Alex dengan sedikit kesan jengkel.
"Aku permisi dulu... Rugi aku buang-buang waktu berdebat denganmu!!" rutuk Sonya sambil balik badan dan beranjak pergi, Alex langsung menahan tangan Sonya.
"Memangnya kau pikir kau mau kemana? Aku belum selesai denganmu!" cegah Alex.
Sonya menarik lepas tangannya dari genggaman Alex, "Apa lagi?" tanyanya dengan tidak sabar.
"Apa selama dua minggu ini kamu merindukanku... Seperti halnya aku merindukanmu?" tanya Alex dengan suara lembut, dan pupil matanya melebar karena gairah.
"Jangan pernah kamu tanyakan perasaanku kalau kamu saja belum bisa berpaling dari masa lalumu itu!! Kamu rindu atau tidak juga semua terasa percuma... Kalau kamu masih terus di hantui masa lalumu!!" rutuk Sonya dengan kesal lalu dengan cepat menambahkan,
"Aku sudah pernah bilang kalau kamu merindukanku... Carilah aku di dasar hatimu yang paling dalam... Seberapa banyak posisiku di hatimu? Kalau Rara yang masih mendominasi hatimu... Maka kata-kata rindumu untukku itu hanyalah sekedar omong kosong belaka!!" lanjutnya.
Alex maju selangkah membuat Sonya mundur selangkah, lalu secepat kilat Alex sudah menarik tangan Sonya dan membawanya ke pelukannya lalu mencium bibir Sonya dengan kasar, mendesak bibir Sonya membuka untuknya, dan langsung mel*matnya.
Untuk sesaat Sonya terbuai dengan ciuman-ciuman Alex, sebelum akhirnya kesadarannya kembali, dan tanpa pikir panjang lagi Sonya langsung menendang adik kecilnya Alex dengan lututnya membuat Alex menjerit kesakitan, "Aarrgghhh sial kau Son!!" raungnya sambil memegang adik kecilnya.
"Beraninya kamu menciumku setelah mencium sekretarismu!!" geram Sonya sambil mengelap bibirnya dengan lengannya.
"Damn!! Kau benar-benar bar-bar!!"
Sonya baru balik badan meninggalkan Alex ketika ponselnya berbunyi dan Sonya mengangkatnya.
"Ya Ma..." sapa Sonya.
"Apa kamu sedang bersama Alex?" tanya mama Hardhan, Sonya langsung melirik Alex yang masih mengerang kesakitan.
"Iya Ma aku sedang bersama Alex... Ada apa Ma?"
"Kalian berdua segeralah ke rumah sakit... Kei sudah mau melahirkan!" seru mama.
"Kei melahirkan? Iya Ma aku akan segera ke sana yaa..."
Setelah mematikan panggilan teleponnya, Sonya kembali melanjutkan langkahnya.
"Tunggu..." cegah Alex.
"Apalagi? Kau mau ku tendang lagi?" geram Sonya.
"Kau lupa kata-kata Hardhan... Rahasiakan dulu perceraian kita dari Mama... Jantungnya sedang bermasalah. Kita harus datang bersama ke rumah sakit..."
Sial... Aku lupa.