Mengejar Cinta Alex

Mengejar Cinta Alex
Ciao Milan


Keesokan paginya Sonya dan Alex bertolak dari Lake Como ke kota fashion dunia, Milan. Kota ini tidak memiliki banyak peninggalan Romawi seperti di Lake Como, bangunan modern terlihat lebih banyak di kota ini.


Disepanjang jalan menuju pusat Milan, bangunan-bangunan di dekorasi dengan ribuan karangan bunga, terdapat presepio di jendela-jendela toko, dan pohon-pohon Natal yang bertebaran di hampir tiap sudut kota dengan elegan.


Hotel yang mereka tempati tidak jauh dari Alun-alun Katedral Piazza del Duomo, tempat acara penyambutan tahun baru nanti diadakan. Hanya menghabiskan waktu sepuluh menit dengan berjalan kaki dari hotelnya.


Disekitar hotel banyak terdapat cafe dan restaurant, tapi hanya beberapa saja yang buka, dan harganya naik menjadi dua sampai tiga kali lipat dari harga biasanya saat liburan Natal dan Tahun baru ini.


Setelah makan siang, Alex mengajak Sonya melihat Duomo di Milano. Gereja Katolik dengan arsitektur Gothik ini dibangun pada abad ke lima, dan mampu menampung hingga empat puluh ribu orang.


Banyak penjual yang menjajakan barang-barang seperti tongsis, mainan anak-anak, gelang dan juga makanan burung, di sekitar gereja itu dengan harga yang bikin geleng-geleng kepala. Dan cara mereka menawaripun sama dengan waktu Sonya di Paris, setengah memaksa.


Panggung untuk malam nanti juga sudah berdiri megah di alun-alun, dan banyak pohon Natal yang dihiasi dengan pita merah, dan bunga-bunga dibawah pohon Natal itu. Ada rumah kaca kecil, yang menceritakan tentang kunjungan orang Majus kepada Yesus Kristus.


Dibawah pohon juga terdapat tempat tidur bunga, serta singa-singa Venesia berpakaian topi Tahun Baru dan jenggot yang terbuat dari kapas.


Ada juga stand makanan yang menjual kerupuk warna-warni. Minuman segar dan kue tradisional ditawarkan kepada pejalan kaki, seperti pannetone, richarelli, torreno dan anggur khas Italia.


Dan ada juga yang menari dengan tarian untuk mengusir roh jahat.


Puas melihat alun-alun kota itu, Alex dan Sonya memasuki Galleria Vittorio Emanuele II. Pusat perbelanjaan elit di Milan. Didalamnya berjajar toko-toko yang terlihat elegan, bar, restaurant dan juga cafe. Galleria Vittorio Emanuele II ini menghubungkan dua landmark paling terkenal di Milan, Duomo dan Teatro Alla Scala.


Galleria dengan kubah kaca sebagai atapnya itu merupakan gudangnya barang-barang branded seperti LV, Prada, dan sebagainya.


Biasanya menjelang Natal dan Tahun Baru, toko-toko akan diskon besar-besaran, tapi ternyata budaya Boxing Day itu tidak berlaku di Milan. Bahkan kebanyakan toko tutup, kecuali beberapa premium stores, meskipun tidak ada diskon, tapi tetap.saja banyak turis yang shopping gila-gilaan.


Alex pun membelikan Sonya salah satu tas branded meskipun Sonya tidak memintanya. "Kamu mau beli apalagi?" tanya Alex.


Sonya menggeleng kuat-kuat, "Sudah ahh... Aku tidak mau Lex, harganya mahal-mahal sekali, kemarin kamu sudah memberikanku jam tangan, lalu tas ini... Itu saja sudah cukup..." jawab Sonya.


Alex merangkul pinggang Sonya, "Kalau begitu kita makan Gelato saja yaa?" usul Alex dan Sonya mengangguk.


"Apa legenda yang terkenal itu benar Lex? Kalau orang Italia menyambut tahun baru dengan membuang barang lama mereka dari jendela rumah pada malam tahun baru?" tanya Sonya sebelum menjilat gelatonya.


"Itu sudah lama tidak diizinkan lagi, sepertinya sudah ada hukuman serius untuk itu." jawab Alex, lalu bertanya pada Sonya, "Kamu tahu kebiasaan warga sini lainnya saat merayakan tahun baru?"


Sonya menggeleng, "Apa?"


"Mereka memakai pakaian dalam berwarna merah. Lumayan banyak pria dan wanita yang mematuhi tradisi ini..."


"Kenapa harus warna merah?"


"Karena mereka percaya merah melambangkan gairah, kehangatan, kekuatan, ketegasan dan energi, itu semua dapat membawa keberuntungan untuk mereka." jawab Alex, lalu menambahkan sambil menyeringai lebar, "Lingerie merah menjadi salah satu hadiah Natal paling populer..."


"Apa aku juga harus memakai pakaian dalam berwarna merah juga?" tanya Sonya sambil menyeringai lebar.


"Apa kamu sedang menggodaku?" Alex balik nanya, lalu sebelum Sonya menjawab Alex menarik Sonya ke pelukannya, kemudian mencium bibirnya, dan menjilati es gelato yang tertinggal di bibir Sonya.


Sonya mendengus, "Modus... Bilang saja kamu mau menciumku..."


"Memangnya aku harus mencium siapa lagi selain menciummu?" goda Alex sambil mencubit dagu Sonya.


Sonya memakan gelato itu lagi, sengaja dibiarkan meninggalkan jejak di bibirnya, lalu ia mencium Alex, membagi rasa manis gelato itu ke Alex. "Naahh... Itu baru impas..." seru Sonya.


"Itu baru namanya modus..." balas Alex.


"Tradisi apalagi yang kamu tahu tentang tahun baru disini?"


"Hmm... Ah ada tradisi yang sangat lucu di Roma, mereka berpikiran kalau melompat dari jembatan ke Sungai Tiber di malam Tahun Baru, maka mereka akan selalu beruntung sepanjang tahun..."


"Itu konyol... Bagaimana kalau nanti mereka hanyut? Belum lagi kalau mati membeku!"


"Tapi itu tradisi mereka Son... Makanya yang memiliki nyali besar saja yang berani lompat ke sungai."


"Lalu apalagi?" tanya Sonya lagi.


"Mereka tidak makan ayam saat Malam Tahun Baru..." jawab Alex, tangan kanannya merangkul pinggang Sonya, dan tangan kirinya memegang kantong belanja.


"Kenapa?"


"Karena akan membawa sial. Mereka mengasosiasikan ayam dengan kebodohan dan kebodohan."


"Poor chicken..." gumam Sonya, "Terus?"


"Orang pertama yang mereka temui pada tanggal satu, dapat menandakan baik atau buruk nasibnya setahun mendatang. Jika yang mereka temui pertama kali dijalan adalah pria tua apalagi yang bungkuk, maka masa depan mereka akan bahagia dan makmur, apalagi kalau bertemu wanita muda dan cantik... Tapi kalau bertemu imam di jalan, itu menjadi pertanda buruk."


"Lebih baik berdiam diri di rumah saja kalau begitu sih... Terus?"


"Terus... Terus... Memangnya aku tukang parkir..." Alex pura-pura merengut, membuat Sonya terkekeh.


"Aku ingin menguji pengetahuanmu Lex..." ledek Sonya.


"Bukan menguji pengetahuanku, tapi menguji kesabaranku..."


Puas berputar menelusuri lorong-lorong yang tersambung ke deretan pertokoan lainnya di sekitar landmark kota Milan itu, mereka memutuskan untuk kembali dulu ke hotel, mengistirahatkan kaki mereka untuk menikmati pesta pergantian tahun nanti malam.


Dari balkon kamar hotel yang sudah dihias ornamen Natal, dan karangan bunga dengan pita berwarna merah, terlihat gereja Duomo yang tadi ia lewati. Karena antrian yang mengular panjang, Sonya dan Alex batal masuk kedalamnya.


"Kamu tidak lelah?" tanya Alex sambil menyerahkan segelas anggur ke Sonya.


"Sebentar, aku masih ingin menikmati kota ini..." jawab Sonya sambil mengambil gelas yang disodorkan Alex tadi, dan menyesapnya sedikit demi sedikit.


Alex mengangkat gelasnya, mengajak Sonya bersulang, "Bon Anno!" serunya, "Semoga tahunmu menyenangkan..." balas Sonya.