Mengejar Cinta Alex

Mengejar Cinta Alex
Lebih Buruk Dari Patah Hati


Club The One


Hardhan melihat Alex yang sedang memutar champagne di gelas Performance Champagne, gelas yang di desain dengan kristal kaca yang lebih bening dan mengilap itu terlihat mewah dan berkilau karena terkena paparan sinar lampu. Hardhan sendiri yang memilih gelas itu untuk clubnya ini, karena mampu membuat rasa champagne menjadi lebih enak.


"Kenapa kau terus membohongi perasaanmu sendiri Lex...? Kenapa kau pura-pura tidak peduli...? Akhirnya kau sendiri kan yang patah hati...?!!" seru Hardhan sambil duduk di kursi sebelah Alex.


"Apa Dino yang memberitahumu keberadaanku sekarang...?!!" desis Alex kesal, lalu memutar gelasnya sebelum meyesap champagne itu.


"Dua minggu ini kau tidak pulang ke Apartmentmu Lex... Coba lihatlah dirimu sendiri... Kau terlihat mengenaskan sekali...!!" geram Hardhan kemudian mengendus tubuh Alex lalu mengibaskan tangannya, "Astaga... Berapa hari kamu tidak mandi Lex...?!!" lanjutnya dengan nada dongkol.


Alex menggeleng, "Aku tidak bisa pulang... Wanita itu ada dimana-mana... Di kamar... Ruang keluarga... Di dapur..." racau Alex yang sudah mulai terlihat sedikit mabuk, "Tapi dia menghilang ketika aku peluk..." lanjutnya sambil memberengut, lalu menuang champagne ke gelas kosongnya.


"Kau tahu peraturan di sini Lex... Tidak boleh minum sampai mabuk...!"


Alex mengibaskan tangannya dengan tidak peduli, "Kau mau mencabut keanggotaanku seperti kau menyuruhku mencabut keanggotaan Galang...?" ejek Alex.


Hardhan menekan tombol suara di jam tangannya, "Dino segera kosongkan club ini...!!" perintahnya.


"Baik boss..." balas Dino.


Hardhan kembali mengalihkan perhatiannya ke alex, mungkin ada baiknya dia mabuk jadi Hardhan bisa mengorek isi hatinya.


"Dan siapa wanita itu...?" pancing Hardhan.


"Siapa lagi kalau bukan wanita bar-bar ku itu... Yang sudah pergi meninggalkanku...!!"


"Sonya...?" tanya Hardhan berpura-pura tidak tahu.


Alex menutup telinganya, "Jangan kau sebut namanya... Aku bisa gila...!!" lalu menghabiskan lagi segelas champagnenya.


"Kenapa Sonya bisa membuatmu gila...?"


"Dia... Dia istriku... Bukan... Bukan istriku lagi... Dia sudah keluar dari Apartmentku... Tapi... Dia tidak mau keluar dari pikiranku...!! Dia... Membuatku gila... Wanita barbar ku itu... Dia membuatku tidak bisa tidur...!!" racau Alex


"Kenapa kau bisa tidak bisa tidur...?" pancing Hardhan lagi.


"Dia... Dia selalu datang... Setiap kali aku memejamkan mataku... Senyumnya... Tawanya... Wajah cemberutnya... Tapi... Tapi kemudian dia menangis... Aku benci... benci melihatnya menangis...!! Aku... Aku ingin memeluknya... Tapi... Dia selalu menghilang... Dia... menghilang seperti yang lainnya..." Alex kembali meneguk champagnenya lagi.


"Aku... Merindukannya... Aku ingin... Melihatnya lagi... Tapi dia menghilang... Dia... Tidak sayang lagi... Padaku..."


"Kenapa kau bisa terlihat menyedihkan seperti ini...? Kau kan tidak mencintainya... Kau kan selalu mengacuhkannya dan tidak peduli padanya... Kau selalu menyakitinya..."


Sambil menggeram kesal Alex meraih kerah baju Hardhan dan menariknya, "Jaga ucapanmu...!! Aku mencintainya... Aku... Aku sangat mencintainya... Aku mencintainya sampai..., sampai terasa sakit..." Alex melapas kerah baju Hardhan dan kembali menegak champagnenya.


"Apa kau tahu... Bagaimana rasanya mencintai..., namun bertahan untuk tidak memiliki? Bertahan untuk..., tidak mengungkapkan...? Percayalah... Ini lebih buruk dari..., dari patah hati... Aku harus melepasnya... Atau... Atau... Dia akan mati juga..."


Lalu Alex menangis, Tangisan yang terdengar sungguh memilukan, tangisan yang keluar dari lubuk hatinya yang terdalam, yang sudah terluka dalam waktu yang lama.


Tangisannya mewakili hatinya, yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Rasa kehilangan dan kesedihan yang ia simpan dan ia lewati seorang diri selama bertahun-tahun, akhirnya tercurahkan lewat tangisannya itu.


Hah si bodoh ini... Akhirnya mengakui perasaannya juga....!!


"Dino...!!" teriak Hardhan.


"Ya Boss..."


"Panggil anak buahmu dan bawa Alex ke Apartmentnya...!!"


**********


"Damn...!!" rutuk Alex sambil menekan keningnya.


Dua minggu ini ia selalu bangun dengan kepala yang seperti mau pecah akibat mabuk, tapi kalau tidak mabuk dia tidak akan bisa tidur, wajah Sonya akan terus menari-nari di dalam pikirannya.


"Minum obat itu untuk meringankan pusingmu..." seru Hardhan yang sedang duduk di kursi santai Alex, membuat Alex reflek duduk di tempat tidurnya, lalu mengerang ketika rasa sakit menusuk kepalanya.


"Kenapa kau bisa ada disini...?" tanya Alex lalu mengambil obat yang dimaksud Hardhan tadi dan langsung meminumnya.


"Jadi itu alasanmu meninggalkan semua orang yang kau sayangi... Termasuk meninggalkan aku dan Mama...?" tanya Hardhan.


Alex mengkerutkan keningnya, "Apa maksudmu...?"


Hardhan melempar tablet yang ada di meja sampingnya ke Alex, dan dengan sigap Alex menangkapnya, lalu melihat video rekaman Alex yang sedang mabuk semalam, dan langsung meringis mendengar racauannya sendiri.


"Kau percaya begitu saja dengan racauan orang yang sedang mabuk Dhan...?" elak Alex dengan nada sinis.


"Kau tidak perlu berpura-pura lagi sekarang Lex... Aku tahu betul racauan itu keluar dari lubuk hatimu... Tangisanmu itu tidak terdengar palsu... Apa kau meragukan penilaianku...?"


Hardhan menatap penuh Alex, yang membuat Alex seperti merasa di telanjangi, Hardhan memang ahli melakukannya, tapi sejujurnya Alex merasa lebih lega saat ini. Seperti beban yang selama ini ia pikul terlepas begitu saja dari pundaknya.


Mungkin itu karena ia sudah meluapkannya lewat tangisannya semalam? Entahlah yang pasti saat ini ia merasa lebih lega saja.


"Kenapa diam saja...? Itu kah alasanmu meninggalkan aku dan Mama...? Itu kah alasanmu meninggalkan rumah dan menjaga jarak denganku...? Bahkan memanggilmu boss hanya karena tidak ingin menyayangiku...? Tidak ingin aku dan Mama mengalami nasib yang sama dengan orang tuamu dan Rara...?" Karena kau menganggap dirimu sendiri sebagai pembawa sial...? Iya kan...?" cecar Hardhan, dan dengan enggan Alex mengangguk.


"Dasar bodoh...!! Cinta dan kematian adalah dua hal yang pasti akan dihadapi semua manusia... Dan kau tidak perlu takut untuk menghadapinya... Mau kau sejauh mungkin menghindariku, Mama bahkan Sonya sekalipun kau tidak akan bisa mencegahnya... Kalau memang sudah saatnya kami mati...!!" tegas Hardhan.


"Tapi kalau aku mencintai dan menyayangi kalian... Rasa kehilangan itu akan lebih menyakitkan lagi, dibandingkan kalau kita tidak merasa dekat sama sekali... Atau kalau kita seperti orang asing....!! Aku hanya tidak ingin merasakan rasa sakit itu lagi...!! Aku lebih baik sendiri... Agar tidak ada siapapun yang membuatku merasakan kesakitan itu lagi....!!"


"Tapi sekarang kau sudah terlanjur jatuh cinta pada Sonya... Iya kan...? Dan jangan bilang itu hanya racauan orang mabuk... Aku tahu betul itu ungkapanmu yang tulus dari dalam hatimu..."


Dear Readers...


Bonus satu bab lagi nih untuk malam ini...


Kelanjutannya besok pagi jam 7 yaa...😘


Happy Reading...