
Dan sore harinya mereka baru kembali ke alun-alun Duomo lagi, pertunjukan penari dan akrobat serta pertunjukan lainnya sudah di mulai. Sudah banyak juga warga dan turis yang mulai berdatangan.
Ketika matahari sudah mulai terbenam, Alex mengajak Sonya masuk ke salah satu restaurant, "Baiknya kita makan malam sekarang, sebelum seluruh restaurant penuh..." seru Alex.
"Il cameriere... Vorrei prenotare un tavolo per due. (Saya ingin memesan meja untuk dua orang.)" seru Alex ke salah satu pelayan.
Pelayan itu mengarahkan Alex dan Sonya ke meja yang kosong. Restaurant ini sudah menyiapkan hidangan mewah dan lezat serta anggur berkualitas untuk malam utama.
"Kenapa banyak cafe yang tutup ya?" tanya Sonya.
"Karena rata-rata orang Italia benar-benar memanfaatkan libur Natal dan Tahun Baru mereka bersama keluarga, jadi jarang yang makan diluar. Liburan ini sangat dicintai warga Italia, mereka mengundang kerabat atau teman untuk berkunjung. Mungkin mereka keluar saat perayaan malam tahun baru saja... Untuk mengekspresikan emosi. Dan paginya Milan seperti kota mati." jawab Alex."
"Oh... atau mungkin karena warganya masih tertidur setelah merayakan pergantian tahun..."
Alex mengangkat bahunya, "Bisa jadi... Kamu tahu kenapa makan malam Tahun Baru di sebut disini disebut makan malam St. Sylvester?" Sonya menggeleng.
"Menurut legenda itu karena St. Sylvester ini seorang imam yang meninggal pada tanggal 31 Desember." jelas Alex.
Sonya menatap penuh pria yang sedang asik makan di depannya itu. Pria yang selama bulan madu mereka berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi Alex yang dingin dan kaku.
Apa Alex akan terus seperti ini? Sonya bertanya-tanya dalam hati.
"Lex... Perusahaan Hardhan membuka kantor cabang di Italia kan?" tanya Sonya.
Alex mengangguk, "Kenapa?" dia balik nanya lalu kembali menikmati Fettucininya.
"Aku sangat menyukai Italia... Terutama Lake Como. Apa kamu tidak bisa minta dimutasi ke Italia Lex? Jadi kita bisa tinggal di sini."
"Kenapa minta mutasi ke sini? Kenapa tidak ke Paris saja? Rata-rata wanita lebih menyukai Paris, daripada pedesaan macam Lake Como." Alex mengelap mulutnya dengan serbet sebelum menatap Sonya, menunggu jawabannya.
"Aku kan beda dengan wanita lainnya..." jawab Sonya sambil nyengir.
"Ya benar kamu memang berbeda... Mana ada suami yang dibanting istrinya saat malam pertama mereka." tegas Alex.
Sonya kembali memberengut, "Dasar pendendam!"
"Jadi apa alasanmu yang sebenarnya minta aku dipindahkan ke sini?" tanya Alex lagi sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
Karena aku merasa kamu lebih nyaman menjadi dirimu sendiri disini...
"Aku benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama sama Lake Como Lex... Aku membayangkan menghabiskan masa tua disana... Ditempat yang damai dan indah itu..." jawab Sonya berusaha meyakinkan Alex.
"Itu pun kalau kamu tidak mati karena kedinginan terlebih dahulu..." ejek Alex.
Sonya memberengut lagi, "Aku kedinginan hanya kalau tidak memakai sarung tangan Lex... Selebihnya aku bisa menahannya. Lagipula tidak selamanya musim dingin disana.. Ingat Lex, ini negara empat musim!" tegas Sonya.
"Kamu benar-benar menyukai danau itu yaa? Bukan karena berniat ingin menenggelamkanku kan?" ledek Alex lagi.
Sonya mengibas tangannya, "Lupakan saja... Tapi aku akan tetap tinggal di Lake Como setelah anak-anakku nanti sudah menikah semua..." ujar Sonya. Matanya tidak lepas dari mata Alex yang sekarang kembali terlihat dingin.
"Aku sudah pernah bilang Son... Aku tidak ingin memiliki anak. Kamu tetap meminum pil KBmu kan?"
Rasanya sakit mendengar dia tidak ingin memiliki anak dariku...
"Itu tidak akan menghentikanku... Aku akan tetap kesana dengan atau tanpamu..." tegas Sonya.
"Kamu meminum pil KBmu kan?!" ulang Alex dengan suara dinginnya.
"Kamu tenang saja... Aku selalu meminumnya..." desah Sonya lirih.
Alex langsung menghembuskan nafas lega, "Syukurlah..." gumamnya penuh kelegaan.
Tuhan... Sampai segitunya Alex tidak ingin memiliki anak...
Sonya memalingkan wajahnya ke arah panggung, tempat pertunjukan musik live berlangsung. Mereka menyanyikan lagu-lagu Italia walaupun sesekali ada lagu berbahasa Inggris juga.
Hampir semua warga membawa Anggur bersoda khas Italia, mereka merayakan pergantian tahun dengan meminum itu, dengan alasan nanti sepanjang tahun akan berada di bawah sayap keberuntungan. Bahkan Turis asing di belakang meja mereka sudah mulai minum-minum.
Sampai jam sebelas malam lewat, Alex mengajak Sonya untuk bergabung dengan ribuan manusia yang berkumpul di alun-alun itu.
Alex memeluk Sonya dari belakang, sekaligus melindunginya dari senggolan orang-orang yang melewati mereka. sampai musisi di atas panggung itu menyanyikan Lagu Nothing's Gonna Change My Love For You nya George Benson. Semua ikut menyanyikan lagu hits itu bersama-sama, dengan kedua tangan yang terangkat ke atas, bergerak kekiri dan ke kanan.
Termasuk Sonya, tidak peduli Alex akan menghina suaranya jelek, yang penting malam ini ia ingin senang-senang, apalagi ini lagu favorit Sonya sepanjang masa.
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
I'll never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you
"Aarrgghh suka sekali dengan lagu ini..." pekik Sonya, Alex hanya terkekeh pelan melihat kelakuan Sonya.
Sampai akhirnya hitung mundur pun di mulai, mereka sama-sama menghitungnya,
Dieci....
Nove...
Otto...
Sette...
Sei...
Cinque...
Quattro...
Tre...
Due...
Uno...
Dan suasana langsung menjadi hingar bingar dengan suara kembang api, yang menghiasi langit malam dengan anggunnya, orang Italia secara besar-besaran meluncurkan petasan dan kembang api, mereka percaya bahwa dengan cara ini mereka tidak hanya melukis langit dengan indah, tetapi juga menakut-nakuti roh jahat yang nakal sepanjang tahun. Serta bunyi terompet yang memekakkan telinga.
"Buon Anno!" Orang Italia itu saling berteriak kepada satu sama lain, sambil menuangkan sampanye, dan menawarkan kepada yang lainnya, kemudian membanting botolnya ke lantai. Mereka juga percaya percikan sampanye, pecahan kaca dan kebisingan selain bertujuan untuk menakuti roh jahat tapi juga dapat mendatangkan kekayaan dan kemakmuran.
Selain itu juga banyak pasangan yang menikmati dan merayakan awal tahun ini dengan saling berpelukan dan berciuman. Membuat Alex dan Sonya ikut terbawa suasana. "Selamat Tahun Baru..." seru Alex sebelum mencium bibir Sonya.
Ciuman yang awalnya hanya sebatas menggesekkan bibir menjadi ciuman dalam dan menggairahkan, membuat seakan dunia hanya berpusat kepada mereka berdua. Suara riuh dan gegap gempita tidak terdengar lagi di telinga mereka, yang ada hanya suara nafas mereka yang saling memburu.
Sampai akhirnya suasana berubah menjadi chaos, berubah kacau karena kerumunan massa sambil berteriak tiba-tiba bergerak meninggalkan lokasi, karena tangan-tangan usil yang melempar petasan ke tengah kerumunan, bahkan ada yang di sebar dilantai.
"Jangan pernah lepaskan tanganku!!" seru Alex berusaha membawa Sonya keluar dari kerumunan.
Alex merasa Sonya semakin mengencangkan pegangan tangannya, tapi dengan ribuan massa yang panik dan juga sama-sama berusaha keluar dari keributan itu, membuat Sonya terbawa arus menjauh dari Alex, dan membuat Alex ketakutan setengah mati.
"Alex!!" teriak Sonya histeris.
"Sonya!!! Sonya!!" Alex berusaha mendekati Sonya, tapi bukan hal yang mudah ditengah kerumunan massa yang panik itu, badannya terbawa arus massa ke kanan dan ke kiri yang justru membuatnya semakin menjauh dari Sonya.
Bab ketiga di hari ini....
Lanjutannya besok yaa...😁
Nah... Sambil menunggu Author Up bisa baca novel lainnya dulu,
Terpaksa Jatuh Cinta Lagi... Karya Arkayna.
Covernya seperti dibawah ini yaa...
Happy Reading