
"Sia-sia aku ke sini untuk minta pertolongan Oma... Ya sudah kalau begitu Oma bisa mengucapkan selamat tinggal juga untuk calon cicit Oma...!!" seru Sonya dengan nada kesal, Sebelum akhirnya mematikan sambungan teleponnya.
"Nenek sama cucu kelakuan sama saja...!!!" geram Sonya.
Oma kembali menelepon Sonya tapi Sonya abaikan, Sonya menatap dongkol ponselnya sambil menggigit bibir bawahnya. Oma terus menerus meneleponnya, dan Sonya sengaja mengabaikannya.
Biar Oma merasakan dulu seperti apa rasanya frustasi.... Huft!!
Dan tidak lama kemudian chat masuk dari Oma, Sonya hanya melihatnya dari layar ponselnya tanpa membukanya.
"Jangan berani-beraninya membawa cicit Oma pergi... Tunggu di sana... Cucu Keponakan Oma sedang menjemputmu... Oma sudah mengirim fotomu padanya, jadi dia bisa mengenalimu nanti..."
Sonya mendesah pelan, "Kalau bukan karena cicitnya, Oma pasti tidak akan mau menjemputku...!" rutuk Sonya.
Sonya mencari kafe di sekitar sana, setelah melalui perjalanan panjang Milan ke Seoul, kaki Sonya terasa bengkak karena terlalu lama duduk di pesawat, padahal baru dua minggu lalu ia melalui perjalanan panjang Jakarta ke Milan, jadi rasanya badannya seperti remuk.
"Jeogiyo..." Sonya meminta perhatian salah satu pramusaji kafe, dan pelayan itu langsung menghampirinya. Salah satu nilai positif dari hobby Sonya menonton drama Korea adalah Sonya jadi bisa bahasa Korea.
"Ne. Jumun dowadeurilkkayo?"
"Ya. Mau pesan apa?" tanya pramusaji itu.
"Musun umsiki masitsueoyo? Eotteon geol chucheonhae husigesseoyo...?"
"Masakan apa yang paling enak? Apa rekomendasi anda...?"
"Bibimbap wa saengseon-jjigae masitsumnida."
"Bibimbap dan sop ikan." jawab pramusaji itu.
"Kereom, bibimbap wa saengseon-jjigaerul meggo sipeoyo."
"Saya ingin makan bibimbap dan sop ikan." seru Sonya.
"Eumyosu meonjeo juseo...?"
"Apakah anda ingin minum dulu...? tanya pramusaji itu lagi.
"Orenjijuse-reul masigo sipeoyo."
"Saya ingin minum jus jeruk.: jawab Sonya.
"Ne, jamsiman kidariseyo..."
"Silahkan tunggu sebentar..." seru pramusaji itu lalu bergegas ke bagian dalam kafe.
Sonya menyandarkan badannya ke sofa sambil memegang perutnya. Lima hari lalu Sonya hanya iseng-iseng saja melakukan test pack karena telat haid satu hari dan hasilnya positif, lalu siang dan malamnya kembali test dan tetap positif.
Saat itu perasaan senang dan sedihnya berbaur menjadi satu. Senang karena Sonya akan memiki baby, dan sedih karena baby ini di ketahui kehadirannya setelah perceraian Sonya dan Alex.
Sonya sempat tidak percaya ia sedang hamil, seingatnya Sonya selalu meminum pil itu, yaa kecuali saat Sonya mabuk setelah melihat Alex dengan Rara di rumah Hardhan, dan Alex bercinta dengannya seperti orang kesetanan itu. Sonya tidak sempat meminumnya karena ia langsung tertidur.
Dan keesokannya pun demikian, setelah bertemu Oma Alex melakukan itu lagi, bercinta dengannya sampai Sonya kelelahan dan akhirnya tertidur. Jadi dua malam ia tidak minum pil itu.
Apakah itu penyebabnya...? Apa tidak minum dua hari bisa membuatku hamil...? Atau terjadi di percintaan terakhir aku dan Alex...? Karena setelah itu aku tidak pernah minum pil itu lagi...
Pertanyaan demi pertanyaan terus berseliweran di dalam pikirannya. Dan yang lebih menakutkannya lagi adalah, Sonya teringat perkataan Alex yang akan mengambil hak asuh anaknya, dan yang parahnya lagi akan memaksa Sonya menggugurkan kandungannya.
Itu makanya Sonya memilih meninggalkan Milan dan mengunjungi Oma di Seoul. Tidak ada yang tahu dimana tempat tinggal Oma selain Sonya, bahkan Sonya tidak pernah memberitahu di mana Oma tinggal, mendengar bahasa Indonesia Oma begitu lancar, Kei berpikir Oma adalah orang Indonesia asli.
Sonya ke Lake Como karena ingin melihat danau indah itu untuk terakhir kalinya, karena setelah itu Sonya tidak akan mau kembali lagi kesana. Tempat itu merupakan kenangan termanis sekaligus terpahit dalam hidupnya.
Sonya mengelus lembut dan menatap perutnya yang masih terlihat rata, belum ada perubahan sedikitpun.
"Nak, jangan salahkan Bunda yaa karena memilih merahasiakanmu dari Ayahmu... Bunda tidak ingin Ayahmu mengambilmu dari Bunda... Kamu lah hal terbaik yang tercipta dari hubungan Bunda dan Ayah... Bunda tidak akan kuat kalau harus kebilanganmu juga..." gumam Sonya pelan.
"Jumunhasin eumsigi nawassĂ´yo..."
"Pesanan sudah datang..." seru pramusaji tadi sambil meletakkan pesanan Sonya di atas mejanya, memutus obrolan Sonya dengan babynya.
"Masitke deuseyo..."
"Selamat menikmati..." ucap pramusaji itu sambil sedikit membungkuk.
"Kamsahamnida..."
"Terima kasih..." balas Sonya sambil tersenyum.
Setelah pramusaji itu pergi Sonya langsung melahap bibimbabnya, nasi yang diatasnya terdapat lauk pauk yang terdiri dari lima warna dasar, warna gelap dari jamur, orange dari cabai dan wortel, hijau dari sayuran segar, putih dari nasi dan lobak, serta kuning dari telur yang diletakkan ditengah-tengahnya, makanan yang sederhana tapi lumayan enak, mungkin kalau di Indonesia namanya nasi campur.
Tapi dengan sop ikannya, Sonya merasa mual melihat ikan itu, perutnya terasa di aduk-aduk, dan ia nyaris muntah di sana kalau tidak menahannya dengan sekuat tenaga.
Astaga Nak... Kamu tidak menyukai ikan yaa...?
Tanya Sonya dalam hati sambil terus menahan rasa mualnya.
Sonya mendorong sop itu menjauh, supaya ia tidak menghirup aromanya, Sonya langsung meminum habis jus jeruknya, lumayan menghilangkan rasa mualnya.
"Kalau jodoh memang tidak akan kemana-mana..." seru seseorang, membuat Sonya tersentak kaget dan langsung melihat pemilik suara itu.
"Tae...!!" seru Sonya sumringah.
"Kenapa aku menemukanmu selalu dalam keadaan merenung...?" tanya Tae.
"Aku tidak termenung... Aku sedang makan siang kalau kamu tidak melihatnya..." jawab Sonya sambil menunjuk ke makanannya.
"Sebelum makan... Aku sudah memperhatikanmu daritadi..."
"Oh ya...? Kenapa kamu bisa berada di sini...? Urusan pekerjaan lagi...?" tanya Sonya membuat Tae tergelak,
"Ini negaraku... Aku lahir dan besar di sini..." jawab Tae dengan santai sambil duduk di depan Sonya.
"Aku sudah menduga kamu pasti orang Asia... Tapi Korea tidak terpikirkan olehku... Kamu tidak terlihat seperti.... Yaa kebanyakan orang Korea..."
"Nenekku asli Indonesia, dan kakekku asli Korea..." jelas Tae.
"Biasanya ada nama marga dalam Korea... Apa margamu...?" tanya Sonya penasaran, karena ia hanya tahu namanya Tae saja.
"Kim... Kim Joon-Tae..." jawab Tae.
"Apa aku seharusnya memanggilmu dengan sebutan Joon-Tae...?" tanya Sonya lagi.
"Joon-Tae oppa juga boleh..." goda Joon-Tae, membuat Sonya terkekeh pelan.
"Terdengar seperti di drama-drama Korea... Oh iyaa Kamu sedang apa di sini...?"
"Halmeoni..., dia menyuruhku menjemput seorang wanita di sini... Yaa... Awalnya sih aku menolak menjemput wanita itu, karena biasanya itu hanya akal-akalan nenekku saja untuk menjodohkanku dengan wanita-wanita itu... Dan bayangkan ketika nenekku itu mengirim foto wanita yang harus aku jemput sekarang... Aku nyaris berteriak karena saking senangnya wanita itu adalah kamu Sonya... Berkali-kali aku merutuki diriku sendiri karena lupa meminta nomor ponselmu saat kita bertemu di taman waktu itu..." jelas Joon-Tae sambil menyeringai lebar.