Mengejar Cinta Alex

Mengejar Cinta Alex
Lake Como



Villa mereka berada tepat di depan Lake Como. Danau yang terletak di sebelah utara Italia itu terlihat begitu indah dan menawan.


Danau yang menjadi destinasi liburan favorit para jetset, selebriti A-list dan juga wisatawan dari seluruh dunia ini memiliki latar belakang pegunungan dan bukit yang mengelilingi danau.


Suasana terlihat romantis dengan birunya air danau, sama birunya dengan warna langitnya, serta lokasinya yang berada di kaki bukit Alps, dan pedesaan di sekeliling danau, yang di penuhi bangunan warna-warni dengan arsitektur gothic, membuat Lake Como ini juga menjadi destinasi favorit untuk venue pernikahan dan juga untuk pasangan yang ingin berbulan madu.


Pantas saja Hardhan dan Kei memilih lokasi ini sebagai hadiah pernikahan dari mereka untukku dan Alex.


Sonya tidak mau berlama-lama di balkon villanya, udaranya benar-benar dingin, rasanya seperti menusuk sampai ke tulang-tulang.


Sambil meniup kedua tangannya lalu menggosoknya, Sonya masuk kembali ke kamarnya, kehangatan yang diberikan kamar itu membuat Sonya enggan keluar lagi.


Alex yang baru keluar dari kamar mandi, langsung menaikkan sebelah alisnya melihat Sonya sedang meringkuk di atas tempat tidur.


“Bangun, kita harus cari makan siang!” Seru Alex, sambil menggoyang-goyangkan badan Sonya.


“Aku tidak mau keluar... Diluar dingin sekali...” rengek Sonya.


“Ya sudah kalau tetap mau berdiam diri di sini. Jangan salahkan saya kalau nanti kau merasa lapar, dan saya tidak akan mau menemanimu cari makan di luar.” seru Alex sambil beranjak kearah pintu keluar.


“Tunggu aku ikut...”


Sonya buru-buru turun dari tempat tidur, lalu mengenakan kembali jaket Puffernya.


Sepanjang jalan di pinggir danau, dipenuhi cafe dan restaurant, dengan aneka bunga yang juga turut menghiasi jalan, dan pohon-pohon rindang yang berjajar rapi menaungi tempat duduk outdoor cafe dan restaurant itu.


Sonya memeluk dirinya sendiri, lalu memasukkan tangannya ke saku jaketnya, tapi tetap saja tangannya seperti membeku. Kalau tangan Sonya dingin, maka seluruh tubuhnya akan ikut dingin. Sialnya sarung tangannya tertinggal di villa.


Sepertinya badannya yang gemetar tidak luput dari perhatian Alex, “Kau kedinginan?” tanya Alex.


Sonya mengangguk, “Aakuu llupaaa mmembawa ssarung tangankuu...” jawab Sonya dari sela-sela giginya yang saling beradu karena menahan dingin.


Sambil mengumpat pelan Alex membuka sarung tangan kanannya dan memakaikan ke tangan kanan Sonya, sarung tangan Alex menyisakan panas dari tangan Alex, membuat Sonya sedikit lebih nyaman, lalu Alex menggenggam tangan kiri Sonya dengan tangan kanannya.


“Astaga... tanganmu sedingin es Son!” seru Alex dan semakin mengeratkan genggaman telapak tangannya ke telapak tangan Sonya.


Kulit bertemu kulit, membuat hawa panas dari tangan Alex, mengalir ke tangan Sonya, dan mengedarkannya ke seluruh tubuhnya, membuat Sonya tidak merasa sedingin tadi.


Merasa belum cukup, Alex membawa tangan mereka masuk ke saku jaket parkanya. Sonya merasa jauh lebih hangat lagi. Terutama hatinya, terasa hangat dengan perhatian Alex itu.


Alex memilih cafe yang menghadap langsung ke arah danau, “s’accomodi! (silahkan duduk!)” seru pelayan wanita yang terlihat seksi itu.


“Grazie.” balas Alex.


“Cosa vuole mangiare? (Anda mau pesan apa?)” tanya pelayan itu lagi.


“Kau mau makan apa Son?” tanya Alex.


“Terserah kamu.” Jawab Sonya.


Alex menyebutkan pesanannya yang ada di dalam buku menu itu.


“Prendiamo I spaghetti e la pizza, e la una porzione patatine con ketchup. (Kami pesan spaghetti dan pizza, dan seporsi kentang goreng dengan saus tomat).


“Vorrei una bottiglia di spumante, (Saya ingin sebotol anggur bersoda).


“Momentino.” seru pelayan itu setelah mencatat pesanan Alex dan bergegas pergi.


“Hebat... Kamu bisa bahasa Italia juga...” seru Sonya kagum.


“Boss selalu memastikan saya harus menguasai lebih dari lima bahasa.”


“Sebanyak itu? Untuk apa?” tanya Sonya.


“Untuk tidak terlihat seperti orang bodoh kaya kau, yang hanya bisa menganga melihat percakapanku dengan pelayan tadi.” ejek Alex.


Sonya mencibirkan bibirnya “Iblis diusir dari surga karena sombong Lex, kamu belum masuk surga saja sudah sombong....”


“Siapa yang sombong?”


“Kamu lah...”


“Ada kata-kata saya yang menyiratkan kalau saya menyombongkan diri?” tanya Alex.


“Menghina aku bodoh itu apa namanya? Kamu menganggap dirimu lebih pintar dari aku kan? Itu namanya menyombongkan diri...” jawab Sonya dengan nada ketus.


“Itu pernyataan bukan hinaan.” ralat Alex.


“Apa bedanya kamu menyatakan aku bodoh dengan menghina aku bodoh?”


“Pernyataan adalah kalimat deklaratif, kesesuaian antara apa yang dinyatakan dengan keadaan sebenarnya, yang berarti kamu memang bodoh. Sedang hinaan hanya bermaksud untuk merendahkan, dalam artian kau tidak benar-benar bodoh, tapi hanya dibuat bodoh.”


Sonya menatap Alex sambil memberengut kesal, “Kalau begitu lebih baik kamu menghina aku bodoh daripada menyatakan aku bodoh!”


Sonya seperti mendengar tawa tertahan yang keluar dari tenggorokan Alex, sebelum Alex menutupi bibirnya dengan kepalan tangannya dan langsung pura-pura terbatuk, tadi raut wajahnya juga terlihat melembut walaupun hanya sekilas, sebelum kembali memasang muka kaku dan dinginnya lagi.


Sonya memicingkan kedua matanya, “Kalau mau tertawa... Tertawa saja jangan ditahan-tahan... Nanti kena wasir baru tahu rasa kamu!” geram Sonya, dan diluar dugaannya Alex langsung tergelak.


Mata Sonya langsung berubah dari disipitkan menjadi terbelalak tidak percaya, melihat sosok Alex yang baru pertama kali dilihatnya, sosok yang terlihat lembut dan lebih mudah didekati. Membuat Sonya sekali lagi jatuh cinta pada pria itu. Senyum dan tawa memang dapat mengubah banyak hal.


Aku rela kau mengataiku bodoh, selama aku bisa melihat sisi dirimu yang satu ini Lex...


“Oh astaga Sonya... Kau lucu sekali. Apa hubungannya nahan ketawa dengan wasir?”


Sepertinya jauh dari Jakarta membuat suasana hati Alex menjadi lebih baik... Dia menjadi lebih nyaman menjadi dirinya sendiri... Bukan diri yang selama ini berusaha ia perlihatkan... Ah tapi bukan karena itu juga... Sewaktu di Paris dia masih tetap kaku dan dingin kok... Atau jangan-jangan... Kenangan buruknya ada di Jakarta dan Paris yaa?


Sonya bertanya-tanya dalam hati.


Sonya baru akan menjawab pertanyaan Alex ketika pelayan tadi kembali datang dengan sebotol anggur dan dua buah flute glass. Lalu menuangkannya untuk Alex dan Sonya.


“Anggur ini sangat populer di Italia, dan tidak banyak dijual di negara lain. Konon katanya anggur bersoda merah khas ini sudah ada sejak zaman Etruscan lebih dari duaribu tahun yang lalu...” jelas Alex lalu mengangkat gelasnya mengajak Sonya bersulang.


Sonya menyambutnya, lalu menyesap anggur bersoda itu. Menikmati rasa manis dan gelembung sodanya yang menggelitik.


Dari balik flute glassnya Sonya terus menatap Alex, pun demikian dengan Alex, matanya tidak lepas dari mata Sonya, Seolah-olah mata mereka saling berbicara, berharap mereka berada di dalam kamar alih-alih di tempat umum.