
"Alex!!" teriak Sonya histeris.
"Sonya!! Sonya!!" Alex berusaha menggapai tangan Sonya, tapi bukan hal yang mudah ditengah kerumunan massa yang panik itu, badannya terbawa arus massa ke kanan dan ke kiri yang justru membuatnya semakin menjauh dari Sonya.
Alex melihat handphone Sonya yang ia pakai untuk merekam momen pergantian tahun tadi jatuh dan terinjak-injak. Alex berdoa dalam hati semoga Sonya memiliki akal sehat dengan tidak mengambil handphonenya, karena ia bisa terdorong jatuh dan terinjak-injak.
Sampai akhirnya Sonya hilang dari pandangan Alex, membuat Alex terus meneriakkan namanya seperti orang gila. Jantungnya berdegup kencang, rasa takut yang teramat sangat, yang selama ini selalu menghantuinya, datang kembali.
Tuhan... Tidak lagi Tuhan... Please....
"Sonyaa!!" Alex terus meneriakkan nama Sonya.
Rasa panik dan khawatir terus menerjangnya, takut Sonya jatuh dan terinjak-injak, atau bertemu dengan sekumpulan pria mabuk.
Ya Tuhan... Sebagian besar orang-orang disini sudah dalam pengaruh alkohol!! Aku harus segera menemukan Sonya...
Mencari seseorang diantara kerumunan ribuan massa ini seperti mencari jarum di dalam jerami, Alex mengutuk dirinya sendiri karena tidak menentukan meeting point, hanya untuk berjaga-jaga kalau sampai mereka terpisah atau tersesat. Alex tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi sesuatu dengan Sonya.
Semakin lama suasana semakin kacau dan tidak terkendali, polizia sudah standby, dan ada beberapa yang sedang membekuk warga, yang diduga dalang kekacauan ini. Sampai akhirnya suasana kembali tenang dan acara kembali di lanjutkan. Tapi sebagian warga memilih meninggalkan lokasi.
Dengan sigap Alex mengambil handphone Sonya yang terjatuh tadi, sebelum kembali mencarinya. Hotel mereka berada tidak jauh dari sini, dan Alex berharap Sonya menunggunya disana. Meski demikian, tetap saja Alex masih merasakan rasa takut yang luar biasa itu.
Alex melangkah kearah hotelnya, matanya tetap melihat kanan dan kiri jalan, mencari sosok Sonya, sesekali ia juga menengok ke arah belakangnya.
Alex mempercepat langkahnya begitu memasuki lobby hotel, matanya mencari ke setiap sudut lobby itu, dan jantungnya kembali berdetak dengan cepat karena ia tidak menemukan Sonya disana.
"Tidak mungkin dia dikamar, karena acces card aku yang pegang!" gumam Alex, tapi langkah kakinya membawanya kedepan pintu lift, bersamaan dengan turis lainnya yang sedang membahas kehebohan acara tadi.
"Sonya!" panggil Alex dari depan pintu kamarnya lalu masuk dan mencari Sonya tapi nihil. Sonya belum kembali ke hotel.
"Aarrggghhh!!" teriak Alex putus Asa sambil mengacak rambutnya.
Alex kembali lari ke arah lift, dengan tidak sabar Alex terus menekan tombol turun, sampai pintu lift terbuka dan ia bergegas masuk.
Sesampainya dilobby Alex melihat Sonya yang sedang sedikit membungkuk ke kedua orang polizia wanita.
"Grazie..." seru Sonya.
"Prego, Signorina.." balas salah satu polizia itu sebelum balik badan meninggalkan Sonya.
Alex setengah berlari menghampiri Sonya, "Sonya... sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Alex panik, Alex menangkup wajah Sonya yang terlihat syok, lalu menciuminya, pipi, kening, bibir, hidung semuanya dengan kelegaan yang luar biasa... "Terima kasih Tuhan... Terima kasih..." seru Alex sambil terus menciumi Sonya.
"Alex... Alex..." rintih Sonya sambil memeluk Alex dan tangisannya langsung pecah, mendengar isak tangis Sonya membuat Alex sedikit tidak nyaman, jauh dilubuk hatinya Alex merasakan sakit. Ia mendapati dirinya tidak suka melihat Sonya menangis.
"Alex... huhuhu... Aku takut Lex..." isak Sonya, Alex menepuk-nepuk punggung Sonya dan berusaha menenangkannya, "Sstt... Sekarang kamu sudah aman... Kamu sudah kembali ke hotel dan aku sudah memelukmu..." bujuk menenangkan Alex.
"Aku tidak pernah setakut ini Lex..." lanjut Sonya lagi.
Alex langsung membopong Sonya, membawanya ke kamar mereka, dan mendudukkannya di tempat tidur, Alex duduk disebelahnya, kedua tangannya menghapus air mata Sonya. Sonya masih terlihat sesengukan.
"Kenapa kamu bisa bersama polizia tadi?" tanya Alex lembut.
"Tadi... Tadi aku diganggu dua pria mabuk..." jawab Sonya.
"Untung polizia itu menolongmu..." gumam Alex.
"Mereka menolongku setelahnya..." ralat Sonya, membuat wajah Alex memucat.
"Setelahnya? Mereka menyakitimu?"
Sonya menyeringai lebar, "Aku berhasil melumpuhkan mereka, dan ternyata seseorang memanggil polizia, jadi mereka langsung di bekuk..."
"Tapi tadi aku tidak melihatmu... Aku sudah memastikan tidak ada satu sudutpun yang terlewati untuk mencarimu..."
"Polizia memintaku masuk ke mobil mereka, sampai rekan wanita mereka yang tadi datang dan mengantarku ke hotel." jelas Sonya.
"Maaf... Tadi aku tidak bisa menjagamu dengan baik..." desah Alex lembut, jemari tangannya membelai lembut pipi Sonya, tapi malah membuat Sonya kembali nangis dan memeluk Alex lagi.
"Kenapa menangis lagi?" tanya Alex dengan kening berkerut.
"Tadi aku takut sekali Lex... Aku takut terjadi sesuatu denganmu... Aku tidak pernah setakut ini..."
Alex kembali menepuk-nepuk punggung Sonya, "Sstt... Seperti yang kamu lihat sekarang... Aku baik-baik saja... Jadi tolong jangan menangis lagi... Yaaa..." bujuk Alex.
Sonya melepaskan diri dari pelukan Alex, lalu menatap penuh mata Alex, "Aku benar-benar takut kehilanganmu Lex..., aku benar-benar takut. Aku masih ingin terus bersamamu... Aku tidak peduli kalau nanti kamu akan membenciku... Tapi aku tetap akan mengatakannya..." seru Sonya.
Dengan kening yang mengkerut makin dalam, Alex menatap lekat-lekat mata Sonya, mencari jawaban dari matanya itu, dan bayangan yang ada dipikirannya membuat Alex menggeleng keras, "Tidak... Jangan katakan!!" cegah Alex.
"Alex... Aku..."
"Sonya stop!!! Aku tidak mau mendengarnya." teriak Alex sambil berdiri dan menjauh dari Sonya, punggungnya terlihat kaku.
"Tapi aku tidak bisa menahannya Lex..."
Dengan menahan amarah Alex balik badan ke arah Sonya, "Tahan... sampai kapanpun kamu harus menahannya, kamu harus bisa mencegahnya!!!" raung Alex.
Sonya terperanjat dibuatnya, ia langsung tertunduk dan memainkan kuku tangannya, khas Sonya saat ia sedang gelisah. Sambil mengumpat pelan Alex menghampiri Sonya, dan memegang kedua bahunya.
"Sonya... Kamu sudah menerima syaratku untuk tidak...."
"Kamu mau tanggung jawab kalau aku kena batu ginjal?" desah Sonya lirih.
"Batu ginjal?" ulang Alex lalu menggoyangkan bahu Sonya, "Maksud kamu apa Son?"
"Aku mau pipis dan kamu menyuruhku menahannya... Kalau aku kena kencing batu atau batu ginjal bagaimana? Kamu jahat sekali!"
Alex merasakan sesuatu mengalir ke dalam tubuhnya, Astaga... Apa itu Oksigen? Aku sampai menahan nafas saking takut mendengar apa yang tidak ingin kudengar darinya...
"Kenapa tidak bilang kalau mau pipis... Ya sudah sana ke kamar mandi..." seru Alex.
"Bagaimana mau bilang kamu selalu memotong perkataanku..." gerutu Sonya sambil bergegas ke kamar mandi.
Sementara Alex bernafas lega, Sonya bersandar pada pintu kamar mandi sambil menutup mulutnya kuat-kuat, menahan isak tangisannya kekuar dari mulutnya.
Tuhan... Rasanya sakit sekali tidak bisa mengungkapkan perasaanku... Aku tidak ingin Alex berubah dingin lagi kalau ia tahu aku sudah mencintainya... Aku ingin Alex terus seperti ini selamanya Tuhan... Walaupun itu berarti aku harus memendam perasaanku padanya seumur hidupku... Selama ia masih terus bersamaku aku rela...