
Sonya berenang ke arah Talita, bercanda dan tertawa bersama, sampai lomba renang dengan waktu tercepat dari ujung kolam ke ujung lainnya.
"Kau unggul sepuluh detik dariku..." seru Talita cemberut sambil melihat jam tangannya.
"Ayo buktikan Bu Dokter kalau kamu bisa..." tantang Sonya sambil tergelak.
Tidak mau kalah, Talita langsung mencoba berenang lagi tapi sampai di tengah kolam setinggi dua meter, tiba-tiba saja ia tenggelam, lalu muncul lagi di permukaan sambil berteriak minta tolong, sebelum akhirnya tenggelam lagi. Sepertinya kakinya kram.
Sonya bergegas berenang ke arahnya, kemudian berusaha membawa Talita ke pinggir kolam tapi ternyata sulit, Sonya tidak terlalu mahir berenang, jadi berenang sambil membawa Talita apalagi dengan Talita yang panik dan tidak bisa diam itu membuat Sonya kewalahan, berapa kali pegangannya terlepas dan membuat Talita kembali tenggelam lagi.
Hingga tiba-tiba Alex sudah berada di sebelahnya, dan berusaha mengambil alih Talita dari Sonya, "Aku bisa Lex..." seru Sonya.
"Kau hanya akan membuat dirimu sendiri dan dokter ini tenggelam bersama..." geram Alex lalu dengan cekatan membawa tubuh Talita yang sudah melemas ke pinggir kolam.
Sonya melihat Alex memberikan CPR pada Talita ketika ia menaiki hand railing pool. Alex terus menekan dada Talita dan meriksa pernafasannya. Setelah melihat usahanya tidak berhasil, Alex langsung meberikan nafas buatan ke Talita.
Sonya melihat bibir Alex yang bersentuhan langsung dengan bibir Talita. Membuat hatinya terasa tertusuk sembilu, perih, dan sakit hingga tidak tertahan. Istri mana yang tidak akan merasakan hal yang sama dengan yang Sonya rasakan saat ini.
Sambil menahan air matanya, Sonya bergegas pergi menuju lift ke arah pantai, dan meluapkan kesedihannya di sana, kepada lautan luas dan deburan ombak yang membasahi kakinya, meninggalkan pasir-pasir kecil di atas kaki telanjangnya.
"Sial kamu Alex....!!! Aku ada di sana...!!! Aku istrimu...!!! Tega kamu melakukan itu padaku...!!! Apa kamu benar-benar tidak menganggapku ada...?!!!" teriak Sonya dengan suara tercekat karena isak tangisnya.
Lalu menambahkan dengan desahan pelan dan putus asa, "Terbuat dari apa hatimu itu Lex...? Kamu tidak mengindahkan aku, istrimu... Aku tahu kamu tidak mencintaiku... Tapi setidaknya jagalah perasaan istrimu Lex sebelum bertindak... Sebenci apapun kita dulu, tetap saja tidak bisa membenarkan perbuatanmu hari ini. Bagaimanapun juga kita sudah menikah..., ada batas-batas yang tidak boleh kita lewati...."
"Aku tahu pernikahan kita bukan atas dasar saling mencintai, tapi karena keadaan yang memaksa. Kamu dipaksa Boss Hardhan, dan aku karena kondisi Papa.... Tapi sekarang... Aku sudah jatuh cinta padamu Lex... Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya orang yang kamu cintai, mencium wanita lain... Walaupun hanya untuk memberi nafas buatan sekalipun. Banyak anak buahmu berdiri di sana... Kenapa harus kamu yang melakukannya...?"
Sonya duduk di atas pasir, lalu membasuh wajahnya sebelum memeluk kedua lututnya, sambil menopang dagu diatas lututnya, Sonya menatap Samudera Hindia di depannya itu, yang seolah-olah tidak berujung.
Apa aku terlalu baper...? Apa Alex melakukan hal yang wajar...? Sebagai seorang pria pasti akan langsung tergerak menolong ya kan...? Tapi kenapa pria lain yang berdiri di sana hanya diam saja...? Kenapa hanya Alex yang peduli...?
Benak Sonya di penuhi banyak pertanyaan, ia terhanyut dalam pertanyaan-pertanyaan itu hingga tidak sadar Alex sudah berdiri menjulang di belakangnya.
"Kamu tidak sedang mencoba untuk bunuh diri kan?" tanya Alex dengan nada mengejek.
Sonya menghela nafas panjang-panjang dan menghembuskannya, menenangkan dirinya sebelum tersenyum dan mendongak ke arah Alex.
"Kenapa kamu ke sini...? Bagaimana dengan Talita...?" tanya Sonya sambil berdiri dan menepuk bokongnya untuk menyingkirkan pasir yang menempel.
Pandangan Alex juga tertuju ke sana, ke lekukan indah pinggang Sonya dan bokongnya yang padat, membuat pria mana pun akan tergoda untuk menepuknya, tidak terkecuali Alex, dan itu juga yang menyebabkan Alex merasa kesal tadi. Hingga amarahnya sekarang kembali bangkit lagi.
"Apa kau sudah gila memakai pakaian minim seperti ini di depan umum? Kau sengaja menggoda anak buahku?" tanya Alex dingin, matanya menyusuri inci demi inci tubuh Sonya.
Dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin, Sonya melihat dirinya sendiri, lalu kembali menatap Alex, "Kenapa memangnya dengan pakaianku Pak...? Ini pakaian renang... Dan kalau Bapak sudah hilang ingatan biar saya ingatkan kembali, kalau tadi itu saya memang sedang berenang... Tidak mungkin kan saya renang pakai daster..." jawab Sonya santai.
"Banyak pakaian renang yang lebih sopan dari ini. Dan kenapa panggil saya Bapak lagi?" geram Alex.
"Cih, kau tidak akan bisa membuatku hilang kendali Son!" ujar Alex penuh percaya diri.
"Bicara tanpa bukti adalah omong kosong Lex..." seru Sonya dengan nada meremehkan.
"Apa maksudmu?!" geram Alex lagi.
Bagus... Emosinya sudah mulai keluar...
Batin Sonya.
Sonya mengangkat bahunya, "Aku hanya percaya dengan kendali dirimu yang kuat itu, kalau aku sudah membuktikannya sendiri..." pancing Sonya.
"Kau mau bukti apa?" tanya Alex sudah mulai kehabisan kesabaran.
"Kamu tidak akan bereaksi apapun kalau aku menciummu... Itupun kalau kamu berani..." tantang Sonya.
"Cih, kau hanya membuang waktumu Son! Sudah pasti aku tidak akan bereaksi!" seru Alex sebelum balik badan.
"Pengecut....!!" pancing Sonya lagi.
Sambil menggeram kesal Alex balik badan lagi ke arah Sonya, "Apa maksudmu mengataiku pengecut?!"
"Lari sebelum bertempur itu apa namanya Pak...?" Sonya balik nanya sambil mengangkat dagunya dengan sikap menantang.
"Saya hanya menghindari hal yang hanya membuang waktu saya!" tegas Alex.
"Bilang saja kamu takut kehilangan kendali diri, kamu tidak bisa melepas diri dariku..." tebak Sonya dengan nada sarkastis.
Alex menekan dagu Sonya, "Kau begitu ingin menciumku, Iya kan?" tanyanya dingin.
Sonya mengangkat bahunya, "Aku hanya ingin membuktikan batas seseorang yang katanya memiliki kendali diri paling kuat. Itu pun kalau memang benar, dan bukan hanya sekedar pepesan kosong..."
Alex tertawa hambar, "Silahkan... Buktikan sendiri kalau itu bisa membuatmu berhenti menggangguku. Dan aku ingatkan sekali lagi, jangan kecewa dengan hasilnya."
Dengan tatapan mata penuh hasrat, Sonya langsung merangkul leher Alex, menarik lehernya kearahnya kemudian mencium bibir Alex dan mel**atnya lembut, dadanya bergesekan dengan dada Alex.
Tapi Alex tetap bergeming, Mengetahui dirinya kalah telak dari Alex Sonya mengurangi intensitas ciumannya di bibir Alex, setelah ini Alex pasti akan semakin pongah di depannya, Alex pasti akan terus mengingatkannya dengan tantangan konyol ini.
Sial...!!! Aku sudah mempermalukan diriku sendiri...!! Harga diriku benar-benar hancur sekarang...
Erang Sonya dalam hati.