Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
96. Musuh lama.


Tangan si ketua terasa kebas setelah pedangnya beradu dengan pedang Guotin.


Dia ingin kembali menyerang, tapi ketika matanya melirik ke arah pertarungan anak buahnya, niat menyerangnya itu terpaksa harus dia batalkan.


"Mundur!" Teriak si ketua memberikan perintah agar para anak buahnya segera pergi dari tempat ini.


Mendapatkan perintah seperti itu, orang-orang yang sedang bertarung dengan Bingwen langsung menjauh dan segera melarikan diri.


Begitupun si ketua, setelah menyuruh anak buahnya untuk mundur dia harus pergi dengan menelan kekecewaan karena gagal menjalankan perintah dari majikannya.


"Jangan di kejar! Biarkan saja mereka!" Guotin berkata untuk mencegah Bingwen yang akan pergi menyusul para penyusup.


"Tapi ...," Bingwen ingin menolak tapi langsung diam begitu mendengar kata-kata Guotin selanjutnya.


"Pangeran Jun yang mengatakannya!" Guotin berkata dengan tenang.


Bingwen masih belum puas menghajar para penyusup tadi. Tapi jika dia harus melawan perintah dari Pangeran Jun, Bingwen tidak akan berani. Dia hanya berharap, akan datang kesempatan kedua untuk menghajar mereka lagi.


Guotin berjalan menghampiri Tabib Hong.


"Aku akan membawamu menemui Pangeran Jun sekarang." Kata Guotin sambil langsung membawa Tabib Hong di pundaknya.


"Kenapa kau tidak membuka totokannya saja?" Tanya Bingwen yang heran dengan perlakuan Guotin.


Untuk apa dia membawa Tabib Hong seperti penculik, pikir Bingwen.


"Merepotkan!" Jawab Guotin lalu berlari kencang dan menghilang dari pandangan.


"Selalu saja begitu ...," Gumam Bingwen sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Di kediaman Perdana Menteri...


"Lama sekali!" Hu Liena sudah tidak sabar menunggu kedatangan Guotin di sisi Li Junjie.


"Sebentar lagi ...," Jawab Li Junjie tenang.


Wusshhh...


Sesuai perkiraannya, Guotin datang dengan membawa Tabib Hong di atas pundaknya.


"Ish, cepat turunkan dia!" Hu Liena merasa kasihan melihat wajah Tabib Hong yang nampak tertekan.


Guotin 'pun menurunkan tubuh Tabib Hong.


"Buka totokannya!" Perintah Hu Liena.


Guotin 'pun melakukan lagi apa yang di perintahkan calon pendamping majikannya ini.


Meskipun dia tidak suka di perintah oleh seorang wanita, tapi Hu Liena adalah pengecualian.


"Nona Hu! Terima kasih!" Ucap Tabib Hong setelah terbebas dari totokan di tubuhnya.


"Jangan sungkan!" Jawab Hu Liena tenang.


Tabib Hong memberi hormat kepada Li Junjie yang kini duduk di sisi Hu Liena.


"Siapa orang-orang yang ingin membawamu itu, Tabib?'' Li Junjie langsung mengajukan pertanyaan setelah Tabib Hong tampak jauh lebih tenang.


"Hamba juga tidak tahu, Yang Mulia! Tapi saya mengira jika orang-orang itu sepertinya bukan berasal dari Kerajaan kita." Jawab Tabib Hong.


"Bagaimana kau bisa yakin?" Li Junjie mengangkat sebelah alisnya.


"Jika mereka berasal dari Kerajaan kita, mungkin mereka tidak akan melakukan hal seperti itu, Pangeran. Orang-orang dari Kerajaan kita akan berpikir dua kali jika ingin melakukan kekerasan di kediamanku. Meskipun hanya seorang Tabib biasa, namun 'Kaisar' telah memberikan gelar Tabib Kehormatan kepadaku. Bahkan para Menteri sekalipun, takkan berani memaksa untuk memberikan pengobatan kepada mereka." Tutur Tabib Hong yang di balas anggukkan oleh Li Junjie.


"Ucapanmu masuk akal juga, Tabib." Balas Li Junjie.


Guotin maju ke hadapan Pangeran Jun.


"Yang Mulia! Ketika hamba bertarung dengan pemimpin mereka tadi, hamba melihat lambang 'Kalajengking Merah' di bagian dada kiri mereka."


"KALAJENGKING MERAH!" Hu Liena tampak terkejut dengan laporan dari Guotin.


"Benar, Tuan Putri!" Jawab Guotin yakin.


Li Junjie menoleh ke arah Hu Liena yang masih tertegun dengan kenyataan yang di dengarnya.


"Ada apa, Putri Xia?" Tanya Li Junjie penasaran.


Hu Liena memalingkan kepalanya ke arah Li Junjie, dan menatap mata hitam Li Junjie dengan lekat.


"Jika orang itu memakai baju dengan lambang Kalajengking Merah, itu artinya, orang-orang itu adalah bawahan dari orang yang telah meracuni anda beberapa puluh tahun yang lalu, Pangeran." Jawab Hu Liena dengan cemas.


"Apa yang kau bilang barusan itu, Putri?" Suara Li Junjie bergetar ketika menanyakan hal itu pada Hu Liena.


"Orang yang meracunimu adalah pemimpin dari mereka yang berniat menculik Tabib Hong hari ini!" Tegas Hu Liena.


Tangan Li Junjie mengepal erat begitu kata-kata itu di ucapkan oleh Hu Liena.


"Aku harus mendapatkan orang itu." Ucap Li Junjie dengan geram.


Bagaimana tidak, dia itu sudah sangat dendam kepada orang yang telah meracuninya sejak kecil.


Bagaimana bisa, ada orang sekejam itu di dunia ini.


Li Junjie saja yang seorang Pangeran sekaligus Jendral perang, tidak pernah sekalipun menyakiti anak kecil di dalam pertempuran. Dia akan menghentikan penyerangan, jika secara tidak sengaja ada anak kecil masuk ke arena pertempuran


Tapi orang kejam ini, berani meracuni dirinya ketika dia sedang berusia beberapa bulan saja. Sungguh manusia berhati iblis!


"Tenangkan dulu dirimu, Pangeran!" Hu Liena berusaha menenangkan hati Li Junjie yang di landa kemarahan hebat.


Setelah hatinya merasa lebih tenang, Li Junjie kembali berbicara dengan Tabib Hong.


"Untuk apa orang itu mencarimu, Tabib?" Tanya Li Junjie dingin.


"Itu ...," Tabib Hong melirik ke arah Hu Liena.


"Jangan-jangan!" Hu Liena seperti tersadar akan sesuatu.


Tabib Hong mengangguk yang semakin menguatkan kecurigaan Hu Liena.


"Apa yang kalian berdua sembunyikan dariku?" Li Junjie merasa penasaran dengan komunikasi antara Tabib Hong dan Hu Liena.


"Pangeran! Jika kecurigaanku benar, tujuan orang-orang itu menculik Tabib Hong adalah ingin menggali informasi tentang Tabib dalam ramalan."


Ucapan Hu Liena mampu membuat Li Junjie terperanjat kaget.


Tabib dalam ramalan?


Itu berarti, mereka mengincar calon Istrinya juga?


Tidak! Li Junjie tidak akan membiarkan tentang hal ini. Dia harus menyusun rencana agar orang-orang itu tidak bisa mencelakai calon Istrinya.


"Kumpulkan semua orang yang ada di kediaman Perdana Menteri, sekarang juga!" Perintah Li Junjie kepada Guotin.


"Untuk apa kau memanggil semua orang?" Tanya Hu Liena heran.


Karena Li Junjie tidak menjawabnya, yang bisa di lakukan oleh Hu Liena sekarang adalah menunggu hingga semua orang di kumpulkan.


Hu Liena ingin tahu, apa yang akan fi lakukan oleh Pangeran yang satu ini.


"Pangeran, ada apa ini?" Hu Boqin tampak bingung ketika dia di giring oleh Guotin bersama para pelayan kediamannya.


"Apa semua sudah berkumpul?" Bukannya menjawab Hu Boqin, Li Junjie malah bertanya kepada Guotin yang mendapatkan perintah darinya mengumpulkan semua orang.


"Sudah, Pangeran!" Jawab Guotin singkat.


Setelah Guotin menjawab, barulah Li Junjie melirik ke arah calon mertuanya.


"Aku akan memindahkan kalian ke tempat yang lebih aman!" Kata-kata Li Junjie sontak membuat Hu Boqin terkejut.


"Apa yang anda bicarakan, Pangeran? Jika kami di pindahkan, bagaimana dengan kediaman ini?" Tanya Hu Boqin dengan heran.


"Kosongkan!" Itu kata yang keluar dari mulut Li Junjie.


"Di kosongkan?" Hu Boqin semakin heran.


Hu Liena baru mengerti apa yang coba di lakukan oleh Li Junjie. Dia ingin memindahkan seluruh orang di kediamannya untuk mencegah agar orang-orang itu tidak mencelakai keluarganya. Jadi Hu Liena memutuskan, untuk membantu rencana calon Suaminya ini agar berjalan dengan lancar.


"Turuti saja ucapan Pangeran Jun, Ayah! Ini untuk keselamatan kita semua, jadi jangan ada orang yang membantah!" Ucap Hu Liena tegas.


"Tapi ...," Hu Boqin ingin berbicara lagi, namun segera di potong ucapannya oleh Hu Liena.


"Tidak ada tapi-tapi! Jika keadaan sudah aman, kalian akan kembali lagi ke tempat ini!"


Li Junjie merasa puas dengan bantuan yang di lakukan oleh Hu Liena.


Tak perlu lagi banyak berbicara, Hu Boqin langsung menyetujui ucapan Putrinya untuk di pindahkan ke tempat yang sudah Pangeran Jun siapkan.


Semua orang di pindahkan dengan segera, mereka tak banyak bicara, mereka hanya melakukan apa yang telah di perintahkan oleh Pangeran Jun.


Bahkan para tetangga saja, tidak mengetahui tentang acara pemindahan mereka.