Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
132. Aku bukanlah Ayahmu!


Putri Li Jiang berjalan tanpa berani mengangkat kepalanya. Dia benar-benar merasa malu dengan tindakan yang sebelumnya terhadap Qian Yingzhi.


"Jinhai, aku baru tahu, ternyata Putrimu sangat pemalu." ujar Kaisar Qian yang melihat Putri Li Jiang hanya menunduk saja.


"Semua tidak seperti yang kau bayangkan, Long Qian. Putriku sangatlah periang!" balas Kaisar Li Jinhai yang merasa heran dengan perubahan sikap Putrinya saat ini.


"Itu sangatlah bagus! Putraku sangat pendiam, jika dia bisa berteman dengan Putrimu yang periang, mungkin sikap pendiamnya akan berubah." ujar Kaisar Qian yang membuat wajah Putri Li Jiang semakin pucat.


Li Jing Sheng yang berdiri tak jauh dari tempatnya, hanya mampu mendo'akan Adik perempuannya di dalam hati. Dia berharap, jika Pangeran Qian Yingzhi tidak menceritakan perihal keributan tadi kepada Kaisar Qian. Agar Adiknya, tidak mendapatkan hukuman karena telah berbuat kasar kepada Pangeran calon Putra Mahkota kerajaan tersebut.


"Ide yang bagus! Aku harap, semua Putra-Putri kita bisa berteman dengan baik." balas Kaisar Li Jinhai dengan tersenyum lebar.


"Aku juga setuju dengan ucapanmu, tidak ada salahnya jika kita membiarkan Putra-Putri kita semua berteman." balas Kaisar Li Jinhai dengan suka cita.


Setelah semua urusan di sana selesai, dan setelah semua kesalahpahaman di luruskan. Akhirnya, mereka semua memutuskan untuk kembali ke tempat mereka masing-masing dan beristirahat.


Semuanya ini, Hu Liena yang menyarankan. Mengingat kesehatan Kaisar Qian masih belum stabil, dan masih membutuhkan banyak waktu untuk memulihkan tenaganya.


Di malam harinya...


Putri Jia Li menyelinap keluar dari kamar untuk menuju ke penjara, tempat di mana Pangeran Yu Zemin dan juga Putri Song Qian di tahan.


Dia ingin menanyakan langsung tentang alasan Putri Song Qian melakukan hal yang sangat kejam tersebut kepada Kakak kandungnya, Qian Yingzhi.


Kebetulan, tadi siang secara tidak sengaja Putri Jai Li mendengar para pengawal berbincang-bincang, dan ada salah seorang pengawal yang menyebutkan lokasi tempat Putri Song Qian dan Putranya di tahan.


Dengan pertimbangan yang matang, akhirnya, Putri Jia Li memutuskan untuk menemui Putri Song Qian dan Pangeran Yu Zemin malam ini.


Menurutnya, malam ini adalah malam yang tepat untuk menemui mereka sebelum waktu persidangan di mulai esok harinya.


"Siapa di sana?" tanya Putri Song Qian yang sedang meringkuk di sudut ruangan.


"Aku! Jia Li!" jawan Putri Jia Li dengan tegas.


Kilatan cahaya terlintas sesaat di mata Putri Song Qian. Namun karena gelap, tak ada seorangpun yang dapat melihat kilatan cahaya tersebut.


"Putri ... akhirnya, kau datang juga!" ucap Putri Song Qian dengan suara serak seperti orang yang sudah lama menangis.


Dia sengaja merangkak untuk sampai ke dekat jeruji besi tempat Putri Jia Li berdiri.


"Bagaimana kabar Bibi?" tanya Putri Jia Li dengan nada bicara yang dingin.


"Kau bisa lihat sendiri, bukan? Pangeran Jun sangat kejam, dia mengurung, dan menyiksa Bibi di dalam penjara." ucap Putri Song Qian sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menangis sesenggukan.


"Aku bisa melihat dengan keadaan Bibi yang seperti ini, mungkin Pangeran Jun menyiksamu dengan sangat keras." kata Putri Jia Li tanpa berkedip sama sekali.


Putri Song Qian pikir, ucapannya sudah berhasil mempengaruhi Putri Jia Li. Dia berencana menggunakan kesempatan ini untuk menghasut Putri Kakaknya yang sangat menghormati dirinya tersebut.


"Jia Li, tolong keluarkan Bibi dari sini! Kakakmu juga, tolong keluarkan dia sekalian!" pinta Putri Song Qian sambil memasang wajah memelas.


"Aku, tidak mau!" tolak Putri Jia Li dengan tegas.


"Ke-kenapa? Apa yang salah?" tanya Putri Song Qian sambil membelalakkan matanya.


Putri Jia Li berdecih sebal dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Putri Song Qian.


"Bibi tanya kenapa? Heh, lucu sekali! Apa Bibi pikir, aku ini gadis yang bodoh? Oh, aku yakin, Bibi pasti sering menggunakan trik murahan seperti ini untuk menipuku dulu. Bibi berpura-pura baik, berpura-pura teraniaya, agar aku merasa kasihan dan mau membantu Bibi? Sungguh naif!" ucap Putri Jia Li setengah berteriak saking marahnya kepada Putri Song Qian yang selama ini selalu memanfaatkan kebaikannya.


"Jia Li! Jaga bicaramu!" bentak Yu Zemin dari arah ruangan belakang tempat Putri Jia Li berdiri.


"Hey, Pangeran palsu ada di sini juga ternyata." sindir Putri Jia Li yang membuat Yu Zemin mendengus dengan kasar.


"Gadis tengil! Jaga mulutmu!" bentak Yu Zemin dengan sarkas.


"Bukan dia, tapi kau yang harus menjaga mulutmu!" teriak Kaisar Qian yang masuk bersama dengan Kaisar Li Jinhai dan juga yang lainnya.


"Ayah!" Putri Jia Li berlari ke arah Kaisar Qian dan memeluknya.


"Kau tidak apa-apa 'kan, Putriku?" tanya Kaisar Qian dengan cemas.


Putri Jia Li menggeleng perlahan, dia merasa menyesal karena telah membuat sang Ayah mengkhawatirkannya.


"Yingzhi, jaga Adikmu!" kata Kaisar Qian sambil mendorong tubuh Putri Jia Li pelan ke arah Qian Yingzhi.


Setelah melihat Putrinya berada dalam perlindungan Qian Yingzhi, Kaisar Qian 'pun melangkahkan kakinya ke dalam ruangan penjara.


Dia berdiri di tengah-tengah ruangan, yang menghubungkan sel tahanan Putri Song Qian dan Putranya, Yu Zemin.


"Kalian berdua, jangan bersandiwara lagi. Semua orang sudah tahu, tentang kebusukan kalian. Jangan melemparkan kesalahan kepada orang lain, terima saja nasib kalian yang sebentar lagi akan mati di tiang gantungan." ucap Kaisar Qian.


Memang terdengar kasar, namun itulah kenyataannya. Besok, Putri Song Qian dan Putranya akan di adili. Dan kemungkinan besar, mereka berdua akan di hukum mati. Tidak ada lagi kesempatan untuk mereka berdua melarikan diri.


"Kakak, selamatkan aku! Aku tidak mau berakhir seperti ini, Kak!" pinta Putri Song Qian dengan berderaian airmata.


"Apa kau juga pernah mendengarkan tangisan Putraku yang saat itu kau siksa? tidak pernah, bukan? Lalu, untuk apa aku mendengarkanmu juga?" sindir Kaisar Qian dengan kasar.


"Ayah, dia itu pantas mendapatkannya!" teriak Yu Zemin sambil menunjuk ke arah Qian Yingzhi dan menatapnya dengan penuh kebencian.


"Jangan panggil lagi aku Ayah! Aku bukanlah Ayahmu! Dan kalian berdua, kalian pantas untuk mendapatkan hukuman yang setimpal." jawab Kaisar Qian dengan penuh penekanan.


Yu Zemin kembali mendengus kasar, hatinya di penuhi dengan kebencian dan juga kemarahan kepada Kaisar Qian sekarang.


"Ayah, sebaiknya kita keluar. Tidak baik jika berada di bawah atap yang sama dengan para penjahat!" ujar Putri Jia Li sambil menggandeng lengan Kaisar Qian


"Awas kau, Jia Li!" teriak Putri Song Qian penuh kemarahan.


Dia mengguncang-guncang jeruji besi sekuat tenaga berharap dirinya bisa keluar dan menerjang ke arah Putri Jia Li yang kini melenggang pergi bersama dengan yang lainnya.