Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
32. Racun Kalajengking Merah.


Hu Liena terbelalak begitu mengetahui orang yang mencengkeram tangannya.


"Kau! Lepaskan tanganku!" Ucap Hu Liena setengah berteriak.


Li Junjie yang melihat kepanikan di wajah Hu Liena, malah menyunggingkan senyumnya.


"Tidak! Aku tidak akan melepaskannya." Selepas berbicara begitu, Li Junjie langsung menghentakkan tangannya hingga Hu Liena tertarik dan jatuh ke dalam pelukan Li Junjie.


Berada sangat dekat dengan Li Junjie seperti itu, membuat jantung Hu Liena seakan berhenti berdetak.


"Kau! Jangan berani macam-macam denganku!'' Hu Liena berusaha memberontak. Kepanikan, jelas terlihat di wajah Hu Liena. Bahkan kini rona wajahnya sudah berubah merah karena menahan rasa malu dan amarah.


Namun, tenaga Li Junjie lebih kuat dari Hu Liena, semakin keras dia berusaha, semakin kuat juga pelukan Li Junjie di tubuhnya.


"Lepaskan aku, Pangeran mesum!" Teriak Hu Liena seraya berusaha melepaskan diri dari pelukan Pangeran calon Suaminya itu.


Li Junjie yang mendengar teriakan Hu Liena, malah semakin melebarkan senyumannya. "Coba saja, jika kau bisa."


Hu Liena tetap berusaha memberontak meskipun hasilnya masih sia-sia.


Saking kesalnya karena tak bisa berbuat apa-apa, Hu Liena berteriak-teriak memaki Tabib Hong sebagai bentuk kekesalan karena menjadi penyebab dirinya datang ke tempat Li Junjie.


"Dasar Tabib tua, kalau saja aku tidak mendengarkannya, mungkin aku tidak akan terjebak dengan Pangeran mesum ini!"


Teriakan Hu Liena sontak membuat Li Junjie melonggarkan pelukannya.


Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Hu Liena, dia langsung bergerak lalu menjauh dari Li Junjie.


"Huhhh ... dasar mesum!" Gerutu Hu Liena seraya bangkit dan menjauh dari Li Junjie.


Li Junjie bangkit dan duduk di tepian tempat tidur, lalu menatap Hu Liena dengan tatapan yang sangat rumit untuk di jelaskan.


Mendapat tatapan seperti itu, membuat Hu Liena secara spontan mundur beberapa langkah ke arah belakang.


"Me-mengapa kau menatapku seperti itu?" Ujar Hu Liena yang mendadak gugup, ia takut jika Li Junjie akan memeluknya lagi.


Li Junjie memicingkan matanya ke arah Hu Liena penuh selidik. "Apa yang Tabib Hong katakan?"


"Dia tidak mengatakan apa-apa." Balas Hu Liena seraya menegakkan tubuhnya.


"Baiklah, aku akan membuatmu berbicara jujur padaku." Ujar Li Junjie seraya bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan ke arah Hu Liena dengan perlahan.


"Berhenti!" Hu Liena langsung mengangkat tangan menghentikan langkah kaki Li Junjie, ia sangat ketakutan jika harus berada sangat dekat dengan Pangeran mesum itu.


"Aku, aku akan mengatakannya. Tapi kau harus janji, untuk tetap berdiri di sana dan jangan coba-coba untuk mendekat." Ujar Hu Liena seraya mundur beberapa langkah lagi.


"Baik, aku akan mendengarkanmu dengan tenang di sini." Sahut Li Junjie sembari duduk di bangku seberang Hu Liena berada.


"Ok! tetaplah di situ, dan jangan bergerak!" Hu Liena pun mengambil bangku kosong menggunakan kakinya, lalu duduk berhadap-hadapan dengan Li Junjie yang sedang menatap tajam ke arahnya.


Sebelum bercerita, Hu Liena mengatur pernafasannya terlebih dahulu. Karena terlalu gugup, ia serasa sesak untuk bernafas. Di tambah lagi jantungnya yang seakan tak mau lagi bekerja dengan sempurna, membuat Hu Liena semakin kepayahan saat itu.


Baru saja berada dekat dengannya sebentar, aku sudah kepayahan seperti ini. Bagaimana jika aku jadi menikah dengannya, mungkin aku akan kehilangan semua detak jantungku dan langsung mati untuk kedua kalinya, batin Hu Liena.


Setelah beristirahat sebentar dan merasa cukup tenang, barulah Hu Liena membuka suaranya. "Aku sudah tahu, perihal racun yang ada di tubuhmu itu, Pangeran." Ujar Hu Liena mengawali pembicaraan mereka.


"Apa Tabib Hong, yang memberitahumu?" Tanya Li Junjie datar, dia sudah bisa menebak perkataan Hu Liena ketika pertama kali nama Tabib Hong keluar dari mulut gadis di hadapannya ini.


"Kalau bukan dia, siapa lagi? Bukankah kau tadi sudah dengar, jika alasanku datang kesini karena Tabib tua itu." Cibir Hu Liena yang jadi sedikit kesal ketika mendengar nama Tabib Hong di sebutkan.


Seandainya dia tahu akan terjadi hal memalukan seperti tadi, mungkin dia tidak akan mengabulkan permintaan dari Tabib Hong itu.


Tapi karena ini juga menyangkut akan keselamatan dirinya, dia berusaha menahan rasa kesalnya saat ini, biarlah nanti dia akan melampiaskannya ketika bertemu lagi dengan orang yang menyuruhnya kesini, Tabib Hong.


"Baik, tolong katakan, apa yang dia ceritakan padamu, Nona?" Tanya Li Junjie tenang, seakan tidak terjadi apa-apa barusan di antara dia dengan Hu Liena.


"Aku di minta, untuk menawarkan racun dari dalam tubuhmu." Kata Hu Liena dengan santai, namun perkataannya berhasil membuat Li Junjie terbelalak.


"Kau? menawarkan racun?" Tanya Li Junjie dengan rasa tidak percaya.


"Memangnya kenapa? kau tidak mau?" Tanya balik Hu Liena.


"Bu- ...,"


"Aku tahu kau tidak akan mempercayaiku, tapi aku yakin, aku pasti bisa melakukannya." Ucapan Li Junjie langsung di potong oleh Hu Liena.


Li Junjie ingin menyangkal, tapi ia tak punya alasan yang kuat untuk melakukannya.


Tapi seingat Li Junjie, Hu Liena tidak memiliki kemampuan apapun. Bahkan, Hu Liena tidak memenuhi kualifikasi apa-apa untuk menyembuhkan luka ringan sekalipun.


"Kenapa anda diam, Pangeran? Apa anda sedang mencemoohku di dalam benakmu itu?" Tanya Hu Liena sarkas kepada Li Junjie.


Li Junjie terdiam, ia ingin menolak perkataan Hu Liena, tapi memang itulah yang ada di pikirannya saat ini.


"Aku tidak tahu harus berkata apa, haruskah aku memujimu, atau mencemoohmu. Aku juga masih bingung untuk menentukan, kata mana yang benar-benar pas untuk mengapresiasikan keberanianmu." Ujar Li Junjie yang di sambut pelototan mata oleh Hu Liena.


"Kau tidak perlu menentukan, karena dari kata-katamu sudah jelas, jika kau sedang mencemoohku." Ujar Hu Liena dengan kesal.


Bagaimana dia tidak kesal, mendengar ungkapan seperti itu. Seandainya saja Hu Liena bisa memilih, tentu dia tidak akan memilih untuk terlibat dengan masalah yang berhubungan dengan Pangeran mesum di hadapannya ini.


Tapi Hu Liena tidak memiliki pilihan lain, keselamatan dirinya dan juga orang-orang terdekatnya, akan bergantung pada Li Junjie di masa mendatang.


"Bukan itu maksudku, Nona." Li Junjie berusaha menyangkal, namun ekspresi wajahnya yang dingin semakin membuat Hu Liena merasa sebal.


"Sudahlah, aku anggap anda tidak mengatakan apapun juga." Potong Hu Liena seraya mengibaskan lengan bajunya.


"Baiklah!" Li Junjie mengangguk patuh.


Dia juga kehabisan akal berbicara dengan Hu Liena, karena setiap kata yang keluar dari mulutnya, pasti selalu salah di hadapan wanita di hadapannya kini.


"Sekarang, ulurkan tanganmu." Pinta Hu Liena, ia ingin memeriksa denyut nadi Li Junjie.


"Baik!" Sahut Li Junjie seraya mengulurkan tangannya.


Hu Liena meraih tangan Li Junjie, dan langsung memeriksa denyut nadinya.


Dahi Hu Liena berkerut ketika merasakan denyut nadi yang tak beraturan di tangan Li Junjie.


"Apa kau sering merasa sesak?" Tanya Hu Liena yang di balas anggukkan kepala oleh Li Junjie.


"Bagaimana dengan mati rasa ketika malam tiba?" Tanya Hu Liena lagi.


Li Junjie mengangguk, memang itu yang sering ia rasakan selama ini.


Bahkan ketika Hu Liena datang tadi, Li Junjie sebenarnya sedang mengalami mati rasa. Itulah sebabnya, Hu Liena bisa dengan mudah memasuki kamarnya dengan sangat leluasa.


"Hmm ... aku sudah tahu, racun apa yang di dalam tubuhmu ini.'' Ujar Hu Liena seraya melepaskan tangan Li Junjie.


"Kau sudah mengetahuinya?" Kata Li Junjie ingin memastikan.


Hu Liena mengangguk lalu melanjutkan perkataannya. "Racun di dalam tubuhmu terbuat dari ekstrak kalajengking merah yang di campur dengan jenis tanaman beracun lainnya, sesak nafas dan juga mati rasa di sekujur tubuhmu itulah yang menjadi kondisi utamanya."


"Apa? racun seganas itu, ada di dalam tubuhku?" Li Junjie begitu tercengang mendengarkan penjelasan yang panjang lebar dari Hu Liena.


Hu Liena menggelengkan kepala. "Sebenarnya, racun itu sudah tidak terlalu ganas sekarang. Mungkin karena dari dulu kamu sudah berusaha menggunakan beberapa metode pengobatan sebelumnya, meskipun pengobatan itu salah. Namun, itu berdampak juga pada racunnya. Racun itu sedikit berkurang sekarang, dan sudah tak seganas dulu lagi."


Hu Liena terdiam sejenak, lalu kembali bersuara. "Tabib Hong juga mengatakan, jika racunmu telah di keluarkan seorang Tabib di dalam mimpimu. Itu juga adalah sebuah keberuntungan, karena dengan keluarnya racun itu, kesempatan hidupmu menjadi bertambah meskipun sedikit. Tapi kau jangan khawatir, sudah ada aku di sini untuk membantumu."


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya Li Junjie.


"Tidak ada!" Kata Hu Liena singkat.


"Tidak ada? jadi, sedari tadi yang kau ucapkan hanya mempermainkanku saja?" Li Junjie kembali merasa tak percaya dengan Hu Liena.


"Ck ... jangan salah paham dulu, untuk saat ini memang tidak ada yang bisa aku lakukan padamu. Kita berdua hanya bisa berdiam diri dan menunggu." Tutur Hu Liena yang di sambut rasa keheranan oleh Li Junjie.


"Menunggu?" Ujar Li Junjie.


"Benar! menungguku, guna meneliti lebih lanjut dan mencari bahan obat-obatan yang cocok untuk mengeluarkan semua racun yang ada di dalam tubuhmu. Dan selama menunggu itulah, aku akan menggunakan jarum akupuntur untuk menekan pergerakan racunnya agar tidak menyebar dan merusak organ-organ vital yang lainnya." Jelas Hu Liena kepada Li Junjie.


"Apa kau yakin itu akan berhasil?" Tanya Li Junjie sedikit ragu.


"Bagaimana anda tahu itu berhasil atau tidak sebelum mencobanya?" Hu Liena malah membalikkan pertanyaan dari Li Junjie.


Li Junjie tertegun sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepala tanda setuju dengan perkataan Hu Liena.


"Baik, aku akan menunggu. Jika berhasil, aku anggap itu adalah keberuntungan. Jika tidak, aku akan menganggap itu adalah takdir burukku yang harus aku terima. Setidaknya, selama ini aku telah berusaha." Ucap Li Junjie pasrah.


Hu Liena sedikit terenyuh mendengar ucapan dari Li Junjie. "Jangan menyerah, aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa menyembuhkanmu. Lagipula, di masa mendatang aku akan membutuhkan bantuanmu, Pangeran."


"Membutuhkan bantuanku?" Ujar Li Junjie terheran.