
Li Jiang tertunduk malu di hadapkan dengan pertanyaan dari Kaisar Li Jinhai.
Seandainya bisa, dia ingin bersembunyi untuk menghindari tatapan dari orang-orang yang hadir di acara perjamuan.
"Ayah, aku ...," Ucapan Putri Li Jiang tersendat-sendat karena merasa gugup yang berkepanjangan.
Hu Liena yang merasa bersimpati, langsung menghampiri dan menguatkan calon Adik Iparnya tersebut.
"Tarik nafas yang panjang terlebih dahulu, Putri. Biar hatimu merasa tenang!" bisik Hu Liena.
Putri Li Jiang mengangguk, lalu melakukan apa yang di ucapkan oleh Hu Liena.
Benar sekali, kini hati dan pikiran Putri Li Jiang kadi lebih tenang dari sebelumnya.
Kaisar menatap ke arah Putri kesayangannya, dengan perasaan cemas.
"Bagaimana, Putri? Apa kau sudah mengambil keputusan?" tanya Kaisar.
Tampak sekali, jika Kaisar Li Jinhai juga merasa gugup karena terlalu lama menunggu Putri Li Jiang mengambil keputusan.
"Karena Pangeran Qian sudah setuju, aku juga akan menyetujuinya." wajah Putri Li Jiang semakin memerah setelah selesai mengatakannya.
"Ha-ha-ha! Kau dengar itu, Long Qian? Putriku sudah setuju, kita berdua akan secepatnya menjadi besan." ucap Kaisar Li Jinhai tanpa ragu berteriak kepada Kaisar Qian.
"Huhh!" Kaisar Long Qian membuang nafas kasar.
Dirinya juga merasa lega, setelah mendengar jawaban Putri Jiang yang akan menjadi calon menantunya nanti.
"Karena Putra dan Putriku setuju, kini giliran Putrimu yang harus memberikan jawaban. Jika dia setuju juga, acara pertunangan mereka akan segera di laksanakan setelah perayaan pernikahan Pangeran Jun selesai." tutur Kaisar Li Jinhai sambil menoleh ke arah Kaisar Qian.
Kaisar Qian bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri sang Putri yang masih menundukkan kepalanya di hadapan semua orang.
"Kami semua menunggu jawabanmu, Putri." ucap Kaisar Long Qian lirih.
Perlahan, Putri Jia Li mengangkat kepalanya menatap ke arah Ayahnya yang berdiri tepat di hadapannya saat ini.
"Aku terserah padamu saja, Ayah!" ucapnya sambil kembali tersipu malu.
Semua orang menghela nafas dengan lega, meskipun Putri Jia Li tidak memberikan jawaban langsung, namun sudah di pastikan, jika dia juga menyetujui perihal perjodohan tersebut.
Gelak tawa kedua Kaisar langsung pecah, begitu kata sepakat dari pihak masing-masing telah selesai di ucapkan.
Tanpa menunggu lebih lama, mereka langsung mengumumkan hari perjodohan kedua pasangan muda-mudi tersebut akan di laksanakan sehari setelah pernikahan antara Li Junjie dan Hu Liena.
Itu artinya, pesta rakyat akan di gelar sangat lama di kerajaan Ying.
Kaisar dan juga Permaisuri, lalu mempersilahkan para tamu untuk segera mencicipi hidangan jamuan yang telah tersedia di meja.
Suasana perjamuan semakin ramai, setelah beberapa rombongan penari ikut memeriahkan acara tersebut.
Saat semua orang sedang sibuk menikmati kebahagiaan di dalam acar perjamuan.
Di sebuah ruangan yang gelap, dua orang wanita yang baru saja membuka mata, langsung merasa terkejut dengan tempat keberadaan mereka saat ini.
"Ibu, di mana kita? Mengapa ruangannya menjadi serba gelap? Kemana perginya para pelayan? Dan Kaisar Wuya, di mana dia?" ucap Xiulin kebingungan.
"Ibu juga tidak tahu!" jawab Yueqin sambil memperhatikan sekitar.
Ruangan yang gelap, lantai yang lembab dan juga berbau. Sungguh membuat keduanya merasa tidak nyaman, jika harus berlama-lama berada di situ.
"Aww! Gatal, Bu!" celetuk Xiulin saat dia mulai merasakan gatal di sekujur tubuhnya.
Tangannya mulai dengan cepat menggaruk, bahkan menggosok kulit tangannya yang seperti sedang di gerayangi oleh semut yang sangat banyak.
"Xiulin, jangan di ga- ...," ucapan Yueqin terhenti karena dia juga merasakan hal yang sama dengan yang di alami Putrinya.
Yueqin bahkan lebih parah, karena sewaktu di kolam pemandian dia menenggelamkan dirinya di air yang sudah di campur cairan kimia oleh Hu Liena.
"Ibu, apa yang kau lakukan? Lepaskan!" teriak Xiulin saat tangannya terus di tarik untuk di pergunakan Yueqin sebagai alat penggaruk punggungnya.
"Diamlah Xiulin, Ibu hanya meminjam tanganmu sebentar saja. Punggung Ibu terasa gatal!" jawab Yueqin dengan acuh sambil terus menarik- narik tangan sang Putri yang sudah meringis kesakitan.
Yueqin semakin menggila, punggungnya semakin di garuk malah semakin terasa gatal. Bukan lagi menggunakan tangan Putrinya, Yueqin kini menggosokkan punggungnya permukaan dinding yang kasar untuk mengurangi rasa gatal yang semakin menjadi-jadi.
Yueqin menghentikan aksinya menggosokkan kulitnya ke permukaan dinding, lalu meraba punggungnya yang memang terasa basah.
Dan benar saja, tangan Yueqin saat ini berlumuran darah setelah meraba punggungnya sendiri.
"Darah?! Xiulin, punggung Ibu berdarah?!" teriak Yueqin yang panik juga ketakutan.
"Bagaimana ini, Ibu? Aku juga merasa gatal di seluruh tubuhku. Kepada siapa kita akan meminta obat, kita bahkan juga tidak tahu sedang berada di mana sekarang." keluh Xiulin sambil merangkul tubuh Yueqin yang masih gemetar karena ketakutan.
"Aku dengar, kalian sedang membutuhkan obat-obatan. Apa benar begitu, Nona?"
Xiulin dan juga Yueqin, langsung terkejut begitu mendengar sebuah suara yang tak asing bagi mereka berdua.
Suara seorang perempuan, yang kini sedang berdiri menatap ke arah mereka berdua di sudut ruangan gelap tempat mereka berada saat ini.
"Siapa kau?" bentak Xiulin keras.
"Siapa aku? Ha-ha, lucu sekali!" si perempuan yang bukan lain adalah Hu Liena tertawa nyaring hingga membuat bulu kuduk Xiulin dan Yueqin berdiri.
Tap... Tap... Tap...
Hu Liena berjalan selangkah demi selangkah mendekati Xiulin dan juga Yueqin yang menatap penuh waspada ke arahnya.
"Kalian ingat aku?" tanya Hu Liena sambil mendekatkan wajahnya hingga beberapa jengkal tersisa ke hadapan muka Yueqin dan Putrinya.
"Hu Liena, kau?!" Xiulin terbelalak saking terkejutnya ia dengan kemunculan Hu Liena secara tak terduga.
Hu Liena tersenyum sinis, tampangnya sangat menakutkan hingga Xiulin bergidik ngeri ketika melihatnya dari jarak dekat.
"Aku pikir, kau sudah melupakanku. Ternyata, aku salah besar." ucap Hu Liena sambil menyeringai.
"Untuk apa kau berada di sini? Cepat pergi!" bentak Yueqin dengan keras.
Hu Liena menangkap tangan Yueqin, yang ingin berusaha menampar wajahnya.
"Kau bilang, untuk apa aku di sini? Tentu saja, aku di sini khusus untuk menyiksa kalian berdua!" ucap Hu Liena sinis sembari menghempaskan tangan Yueqin dengan kasar.
"Aduhh!"
Yueqin meringis, saat tangannya membentur tembok keras di belakangnya.
"Beraninya kau, Hu Liena!" Xiulin meradang saat melihat Ibunya kesakitan.
PLAKK!
Hu Liena balik menampar Xiulin, setelah dirinya berhasil menghindar dari cakaran kuku tajamnya Xiulin yang mengarah ke arah wajahnya.
"Kau?!" Xiulin menggeram marah saat usahanya menyakiti Hu Liena gagal.
"Kenapa? Masih kurang?" tanya Hu Liena setengah berteriak sambil memelototkan mata ke arah Xiulin yang kini tengah memegangi pipi kirinya.
"Berani sekali kau menyakiti Putriku! Akan 'ku bunuh, kamu!" teriak Yueqin sambil dirinya berusaha bangkit menerjang Hu Liena.
"Agghhh!"
Tubuh Yueqin terhempas, saat Hu Liena mendorongnya dengan keras ke arah belakang.
"Kalian benar-benar bodoh, ya. Bagaimana kalian bisa berpikir ingin menyerangku, dengan keadaan kalian yang seperti ini? Payah!" cibir Hu Liena pedas.
Xiulin menggeram marah, dia tidak bisa terima di katakan payah oleh orang yang selalu mereka anggap lemah sejak dulu.
"Diam kau, Hu Liena! Siapa yang payah? Aku, atau kamu?" teriak Xiulin dengan lantang.
"Ha-ha-ha! Kau ini lucu sekali, Kakakku tersayang. Kau ingin membandingkan dirimu, dengan diriku? Sungguh tidak masuk di akal!" cibir Hu Liena yang membuat Xiulin kembali murka.
"Memangnya kenapa? Hah! Kau ini hanya perempuan bodoh, dan selamanya akan tetap begitu. Bodoh!" bentak Xiulin garang.
Hu Liena ingin kembali menimpali ucapan mantan saudara tirinya, tapi sebelum suaranya sempat keluar, sudah ada orang yang terlebih dahulu membalas ucapan dari Xiulin.
"Siapa yang kau sebut bodoh, Xiulin?" Hu Boqin muncul dengan ekspresi muka suram bersama beberapa orang.