Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
122. Pengumuman pernikahan.


"Ucapan orang ini sepertinya benar, Ayah." Li Junjie berjalan dua langkah menjadi berdiri sejajar dengan Hu Liena, calon Istrinya.


Memang ya, Pangeran satu ini, tidak bisa di pisahkan terlalu lama dari sang kekasih.


Li Junjie selalu saja menggunakan kesempatan sekecil apapun, untuk tetap bisa berdekatan terus dengan sang kekasih hatinya.


"Mengapa kau berkesimpulan seperti itu, Putraku?" Kaisar Li Jinhai merasa heran dengan pemikiran Pangeran Jun.


Dari kedua Putranya, hanya Pangeran Jun yang selalu berselisih paham dengannya dalam memutuskan segala hal.


Namun bagusnya, meskipun berbeda paham, Pangeran Jun tetap menghormatinya sebagai Ayah, sekaligus sebagai pemimpin kerajaan.


"Karena aku mendengarnya sendiri dari Putra Mahkota, tentang kondisi Kaisar Qian." jawab Li Junjie dengan tenang.


"Jika demikian, apa masih memungkinkan untuk mengundang Kaisar Qian tetap datang?" Kaisar menjadi sedikit pesimis dengan keputusan calon menantunya.


"Selain untuk mempertemukan beliau dengan Putra Mahkota, hamba juga ingin memeriksakan kesehatannya, Yang Mulia."


Semua orang mulai berbisik membicarakan keputusan yang di ambil Pangeran Jun dan Putri Xia.


Bahkan ada beberapa orang dari mereka, yang sekarang berbalik tidak senang karena merasa ucapan Hu Liena sangatlah tidak masuk akal.


Bagaimana mungkin orang yang sedang dalam kondisi tidak baik, malah di suruh menempuh perjalanan jauh. Apalagi orang itu adalah seorang Kaisar, bukan orang sembarangan.


Jika terjadi sesuatu yang tidak di harapkan di jalan, bisa terjadi perang karena itu akan di anggap sebuah makar oleh kerajaan mereka.


"Putri Xia, pertimbangkan dulu keputusanmu! Ini sangatlah tidak baik, mengingat kondisi Kaisar Qian sedang dalam keadaan sakit." penasehat kerajaan, Yan Busoi menegur Hu Liena dengan keras.


"Penasehat Yan, aku mengerti akan kekhawatiranmu. Tapi apa yang telah di putuskan oleh calon Istriku, semua sudah di pertimbangkan dengan baik. Posisi Putra Mahkota Qian sedang terancam, jika dia membuka jati dirinya sekarang, dan jika dia pergi untuk menemui Kaisar Qian di Istananya, apa tidak akan terjadi hal lain lagi yang akan menimpanya?


Semua orang tahu, apa yang telah terjadi dengan kerjaan Qian. Tapi kalian semuanya tidak pernah tahu, peristiwa apa saja yang menimpa Putra Mahkota yang asli, hingga sampai saat ini, 'kan?"


Semua orang langsung terdiam mendengar perkataan Li Junjie. Semua merasa jika apa yang di katakan Pangeran Pertama, ada benarnya juga.


Putra Mahkota kerajaan Qian sudah menghilang sejak usianya masih dini. Dan identitasnya sudah di palsukan oleh Adik Ayahnya sendiri yang seorang Putri. Jadi wajar saja, jika kemunculannya sekarang tetap ingin di samarkan.


"Baik, Putri! Hamba mengerti! Hamba akan menyampaikan berita ini langsung kepada Baginda Kaisar." tanpa menunggu lebih lama lagi, sang utusan kerajaan Qian langsung meminta pamit untuk undur diri dari hadapan semua orang.


Kaisar yang sedari tadi masih merasa penasaran dengan sosok Putra Mahkota Qian yang asli, langsung mengajukan pertanyaannya kepada Hu Liena. "Putri, apa anda tahu di mana Putra Mahkota Qian yang asli sekarang?" tanya Kaisar Li Jinhai yang di balas anggukkan kepala oleh Hu Liena.


"Kami sedang menyembunyikannya di tempat yang aman, Ayah! Saat ini, Putra Mahkota sedang dalam tahap pemulihan." Li Junjie bersuara menjawab rasa penasaran Kaisar Li Jinhai.


Awalnya, Kaisar Li Jinhai ingin meminta kepada Hu Liena agar dapat mempertemukannya dengan sosok Putra Mahkota kerajaan tetangganya tersebut.


Namun, setelah mendengar penuturan dari Putranya, Kaisar Li Jinhai jadi berpikir dua kali untuk melakukannya.


"Baiklah, sebaiknya kita lanjutkan acara perjamuan kita. Kasim, silahkan!" ucap Kaisar sambil melirik ke arah Kasim kepercayaannya.


Sang Kasim membuka gulungan kertas yang sudah dia siapkan sebelumnya. Setelah itu dia langsung membacakan tentang dekret Kaisar yang memberikan Hu Liena tiga rumah mewah, tiga hektar lahan pertanian yang masih berada di salah satu kota yang masih termasuk dalam kekuasaan kerajaan Ying. Dan juga, tiga peti koin emas, tiga peti koin perak, dan tiga puluh kotak perhiasan bertahtakan permata.


Semua orang memuji keberuntungan Putri Perdana Menteri yang di anugerahi banyak kekayaan oleh Kaisar mereka. Dan tak satupun dari mereka, yang tak ingin memiliki Putri seberbakat Hu Liena.


"Dan untuk pengumuman yang terakhir! Biar aku yang akan menyampaikannya kepada kalian!"


Kaisar Li Jinhai bangkit dari singgasananya, lalu berdiri dengan tegap di hadapan semua orang.


"AKU, KAISAR LI JINHAI! DENGAN INI MENGUMUMKAN TENTANG PERNIKAHAN PUTRAKU, PANGERAN LI JUNJIE BERSAMA PUTRI XIA, YANG AKAN DI LAKSANAKAN DALAM WAKTU DUA BULAN LAGI DARI SEKARANG! AKU MENGUNDANG SELURUH RAKYAT KERAJAAN YING, UNTUK MENGHADIRI DAN MENYAKSIKAN PERNIKAHAN PUTRA PERTAMAKU! AKU TIDAK PEDULI KALIAN DARI KALANGAN APAPUN, TUA, MUDA, MISKIN, KAYA, SEMUANYA DI HARAPKAN DATANG UNTUK MEMBERIKAN SELAMAT KEPADA PUTRA DAN MENANTUKU!"


Semua orang bersorak gembira setelah mendengar pengumuman langsung dari Kaisar Li Jinhai.


Tak hanya mereka, bahkan Li Junjie saja kini menggenggam tangan calon Istrinya saking bahagianya dia mendengar berita tersebut.


"Sebentar lagi, kita akan menikah Putri! Aku harap, kau sudah siap untuk menjalani sisa kehidupan ini bersamaku!" ucap Li Junjie yang membuat Hu Liena merasa terharu mendengarnya.


Di kehidupan pertamanya, Hu Liena belum pernah merasakan cinta yang begitu besar dari seseorang selain Ayahnya, Ma Boqin.


Ini kali pertama Hu Liena merasakan cinta yang sebenarnya, cinta yang benar-benar tulus dari seorang Pangeran seperti Li Junjie.


Masalah tunangannya dulu di kehidupan pertama, tidak perlu lagi di tanyakan. Karena dia hanya berpura-pura saja mencintainya. Jadi memang, ini benar-benar cinta yang baru Hu Liena rasakan.


"Aku juga berharap, kau akan tetap mencintaiku seperti ini, Pangeran!" ucap Hu Liena sambil mengeratkan genggaman tangannya.


"Adik! Apa benar, Ayah telah mengumumkan pernikahan Kakak Pertama dengan Kakak Ipar?" Pangeran yang baru saja datang dari tugasnya langsung menanyakan kebenaran hak tersebut kepada Putri Li Jiang.


"Itu benar, Kakak! Sebentar lagi, kita berdua akan benar-benar memiliki Kakak Ipar!" balas Putri Li Jiang sambil beruraian airmata.


"Jangan menangis, Adik! Kita harusnya merasa bahagia, karena Kakak Ipar sebentar lagi akan memasuki Istana! Setelah itu, keponakan-keponakan lucu kita, akan datang menyusul mereka!" ucap Pangeran Jing dengan sebuah senyuman di bibirnya.


"Keponakan?!" tanya Putri Li Jiang heran.


"Ish, kau ini, Adik! Jika Kakak Ipar sudah menikah, secara otomatis dia akan hamil dan memberikan kita keponakan-keponakan yang lucu. Apa kau lupa akan hal itu?" Pangeran Jing merasa kesal karena Adiknya, Putri Li Jiang seakan tidak mengerti dengan ucapannya.


"Aish, kenapa aku sampai tidak memikirkan hal itu ya ...," ucap Putri Li Jiang sambil menepuk keningnya sendiri.


Pangeran Jing memutar mata malas, lalu berbicara menyindir Adik perempuannya yang masih suka bersikap manja tersebut.


"Makanya, cari pendamping. Agar kamu tidak lupa lagi, tentang hal ini."


"Kakak! Jangan berbicara seperti itu!" ucap Putri Li Jiang setengah berteriak sambil menutup mulut Pangeran Jing.