
"Berhenti!" para penjaga perbatasan menghentikan rombongan yang di pimpin oleh Pangeran Li Junjie.
"Periksa gerobak mereka!" teriak salah seorang komandan prajurit.
"Tidak apa-apa, Komandan! Mereka hanya para pelancong yang ingin berdagang di kerajaan Wuya!"
Salah seorang prajurit langsung melapor setelah memeriksa isi gerobak yang di tumpangi Hu Liena dan juga kedua Putri.
"Biarkan gerobak mereka masuk!" teriak si Komandan memberi perintah.
Di dalam gerobak, Putri Li Jiang yang sudah menjadi sosok gadis desa langsung merasa lega.
Dia ketakutan bukan main saat salah seorang dari mereka menatapnya dengan tatapan menjijikkan.
"Jangan cemas, Adik. Penyamaran kita tidak akan mudah terbongkar!" ucap Hu Liena dengan tenang.
"Aku percaya padamu, Kakak Ipar!" jawab Putri Li Jiang.
Setelah gerobak mereka memasuki kota Wuya, mereka sangat kagum dengan pernak-pernik hiasan lampu yang terpasang hampir di setiap sudut Kota.
Lampu lampion yang berwarna merah juga tergantung di sana. Itu menandakan, jika kerajaan Wuya akan segera mengadakan pesta pernikahan yang besar-besaran. Pantas saja penjagaannya di perketat, mungkin karena mereka tidak ingin ada penyusup yang mengacaukan pesta Kaisar mereka.
Namun sayangnya, mereka kalah pintar dengan rombongan Pangeran Li Junjie. Seandainya mereka tahu, jika yang mereka tadi loloskan adalah rombongan Pangeran yang menyamar, mungkin mereka akan merasa sangat geram karena telah berhasil di tipu.
"Bersikaplah sewajarnya, kalian semua di sini harus bisa berpura-pura menjadi pedagang dan berbaur dengan yang lainnya." ucap Li Junjie kepada semua orang.
"Kalian! Sedang apa berkumpul di sana?" teriak para prajurit yang sedang berpatroli.
"Maafkan kami, Tuan. Kami sedang menurunkan barang dagangan kami." jawab Hu Liena sambil berpura-pura ketakutan.
"Ayo, cepatlah! Sebentar lagi, iring-iringan Kaisar dan calon Selirnya akan segera lewat! Jangan sampai gerobak kalian menghalangi jalan yang akan Kaisar lewati!" perintah si prajurit tersebut.
Hu Liena mengangguk patuh, lalu bergegas membantu menurunkan semua barang-barang yang akan mereka jajakan untuk di jual di sana.
"Calon Selir, ya? Cepat sekali Bibi Yueqin mendapatkan hati Kaisar!" gumam Hu Liena perlahan.
"Aku 'kan sudah bilang Istriku, Bibimu itu sangat berbakat dalam merayu pria." balas Li Junjie yang membuat Hu Liena mendelikkan mata.
"Istri?! Ingat, kita belum menikah!" ucap Hu Liena dengan kesal.
"Jangan marah! Sesuai perjanjian, identitas kita berdua selama menyamar di sini adalah Suami-Istri." goda Li Junjie yang spontan membuat Hu Liena mencebik ke arahnya.
Wusshhh!
Wajah Putri Jia Li juga memerah saat Pangeran Li Junjie mengatakan tentang hal tersebut.
Tidak hanya Hu Liena, dia juga sekarang harus berpura-pura menjadi Istrinya Pangeran Jing. Begitupun dengan Putri Jia, yang sekarang menyamar sebagai Istri Pangeran Qian Yingzhi, Kakaknya. Itu semua mereka lakukan, agar tidak ada prajurit yang berani mengganggu para wanita yang ikut dalam misi penyamaran.
Di kerajaan Wuya, para pria tabu menggoda wanita yang sudah memiliki Suami ataupun pasangan. Mereka akan di jatuhi hukuman yang berat jika melakukan hal tersebut.
Berbeda dengan wanita lajang, mereka bebas menggoda, dan tak ada larangan melakukan hal jahat kepada mereka. Itulah sebabnya, Pangeran Chunian selalu mengumbar hawa nafsunya kepada setiap gadis yang dia sukai. Termasuk ketika dia berusaha ingin memperkosa, dan menculik Putri Li Jiang.
Mengingat akan hal tersebut, Hu Liena menjadi penasaran. Bagaimana bisa, Yueqin dan juga Xiulin bertahan hidup di kerajaan Wuya? Membayangkannya saja membuat hati Hu Liena bergidik ngeri, apalagi jika harus selamanya tinggal di daerah ini lebih lama. Mungkin dia akan merasa muak, dengan peraturan yang menurutnya sangat tidak masuk akal tersebut.
"Minggir! Minggir!"
Pasukan berkuda, mengawal iring-iringan kereta Kaisar kerajaan Wuya.
Usianya yang sudah tidak muda lagi, tidak membuat
menjadi memudar. Justru, Yueqin saat ini tampak seperti seorang Permaisuri dengan perhiasan dan pakaian mewah yang dia kenakan.
Di kereta belakang, Xiulin duduk dengan elegan. Dia memakai pakaian mewah, namun tetap menutupi wajahnya dengan sebuah cadar. Hanya bagian matanya saja yang di biarkan terbuka, mungkin agar orang-orang bisa melihat kedua bola mata almondnya yang indah.
"Wah, lihat! Calon Selir Kaisar sangat cantik!"
"Benar! Putrinya juga, pasti sama cantiknya. Lihat saja matanya, indah!"
Pujian demi pujian keluar dari mulut para penonton yang berjejer di sekitar jalanan yang akan di lewati rombongan Kaisar.
Saat kereta kuda yang di tumpangi Xiulin melewati tempat Hu Liena berada. Tanpa sadar, Xiulin menoleh ke arahnya. Alisnya berkerut, dia seperti mengenali sosok gadis yang berpenampilan sederhana yang sedang menonton iring-iringan kereta mereka.
Namun Xiulin segera menepis pikirannya tersebut. Dia yakin, jika Hu Liena tidak akan bisa melewati penjagaan di perbatasan kerajaan Wuya yang sudah di perketat, atas permintaan Ibunya, yang sebentar lagi akan menjadi Selir Kaisar Wuya.
Lagipula, gadis yang mirip dengan Hu Liena memiliki kulit yang sangat dekil dan juga hitam. Hanya wajahnya saja yang hampir mirip, tapi kulit dan penampilannya saja yang berbeda.
Mungkin itu hanya sebuah kebetulan saja! pikir Xiulin
"Kakakmu ternyata sangat peka, dia sepertinya menyadari kehadiranmu." bisik Li Junjie saat rombongan kereta Kaisar sudah tak terlihat.
"Dia itu bodoh! Tidak akan mungkin bisa menyamai kepintaranku!" ucap Hu Liena narsis.
Li Junjie tak bisa menahan tawanya saat mendengar ucapan Hu Liena. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu di hadapan semua orang.
Namun, Li Junjie tidak mempermasalahkannya. Dia justru malah senang dengan sikap Hu Liena yang sekarang. Selalu blak-blakan, tapi sesuai kebenaran.
"Apa kau lapar?" tanya Li Junjie sambil mengelus puncak kepala Hu Liena.
"Iya, sedikit." jawab Hu Liena lembut.
"Kami juga lapar, Kak." seru Li Jing Sheng dari arah samping.
Mata Li Junjie memutar malas, namun tak urung juga dia mengajak semua orang untuk pergi menuju ke sebuah restoran kecil di seberang jalan.
"Selamat siang, Tuan dan Nyonya. Silahkan masuk!" sambut si pelayan toko sopan.
Rombongan Pangeran Li Junjie 'pun memasuki restoran, dan duduk di kursi yang telah di sediakan.
Mereka sengaja mengambil posisi yang paling belakang, agar tidak terlalu mencolok dari pengunjung yang lain.
Mereka orang-orang baru, jadi belum tahu bagaimana situasi di daerah kerajaan Istana Wuya.
Meskipun ada Putri Jia Li yang memberikan petunjuk jalan, namun mengenai situasi, dia juga sama tidak tahu apa-apa karena dulu selalu berada di dalam Istana saat melakukan kunjungan.
"Aku dengar, Kaisar akan melakukan pesta pernikahan satu minggu lagi dari sekarang."
Terdengar obrolan para pengunjung restoran di belakang tempat duduk mereka.
"Jangan sembarangan bicara! Permaisuri belum mengijinkan Kaisar menikah secepat itu!" bantah teman satu mejanya.
''Sekalipun Permaisuri melarang, Kaisar tetap akan menikahi Selir Yueqin. Pamanku adalah Kasim di Istana, sedikit banyaknya, dia pasti mengetahui rencana Kaisar Wu." ucap si pria tadi dengan berani.