Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
74. Kedatangan Bangsawan Yue.


"Apa untungnya untukku, dengan membuat wajahmu menjadi seperti ini? Tidak ada, bukan? Jadi stop menuduhku yang bukan-bukan!" Sangkal Hu Liena.


"Ciiih ... jangan sok suci, ******!" Cibir Xiulin.


"Terserahlah!" Ujar Hu Liena pasrah dan berbalik untuk pergi.


"Hormat hamba, Tuan Putri!" Ucap seorang pelayan yang datang dengan tergopoh-gopoh.


"Ada apa?" Tanya Hu Liena heran.


"Ada Bangsawan Yue dan Istrinya sedang mencari anda." Jawab pelayan itu dengan panik.


Xiulin yang mendengar ucapan dari sang pelayan. Langsung berteriak kepada Hu Liena.


"Rasakan itu, sialan! Kakekku datang untuk menuntut balas padamu!"


Hu Liena kembali berbalik menghadap Xiulin. Dia menatap wajah Xiulin yang menakutkan, dengan tatapan penuh arti.


"Kita lihat saja! Siapa yang menuntut siapa!" Ucap Hu Liena dengan tegas.


Dia lalu mengikuti langkah kaki pelayan, yang kini menunjukkan jalan.


"Putri, bagaimana ini? Apa benar, Bangsawan Yue datang untuk balas dendam?" Tanya Luqiu cemas.


Sedangkan orang yang sedang Luqiu cemaskan, hanya berdiam dan berjalan dengan tenang, tanpa terpengaruh dengan suasana sekitar.


"Putri!" Panggil Luqiu lirih.


Hu Liena tidak menoleh, dia hanya mengangkat sebelah tangan memberi isyarat Luqiu untuk diam.


Selang berapa lama, rombongan Hu Liena tiba di Aula tempat Hu Boqin menjamu tamunya.


"Silahkan Putri!" Ucap pelayan tadi sopan.


Hu Liena bergerak maju, dan langsung ingin memberi hormat. Tapi gerakannya itu di hentikan oleh Bangsawan Yue dan Istrinya.


"Tidak!"


"Jangan!"


Teriak Bangsawan Yue dan Istrinya secara bersamaan.


Hu Liena kembali ke posisinya semula, namun kini menundukkan kepala.


"Putri Xia menghadap kepada, Ayah!" Ucap Hu Liena kepada Hu Boqin.


Hu Boqin mengangguk, tapi tak berani menerima salam penghormatan Putrinya karena itu di larang.


Sebagai Perdana Menteri, seharusnya dia yang memberi hormat kepada Hu Liena. Dalam silsilah kerajaan, seseorang yang di beri gelar Putri, jauh lebih terhormat dari sosok Menteri sepertinya.


"Putri Xia, maafkan kami karena telah lancang memaksa ingin menemuimu sekarang." Bangsawan Yue memulai pembicaraannya.


"Ada masalah apa, Bangsawan Yue sampai mencariku seperti ini?" Tanya Hu Liena pura-pura heran.


Bangsawan Yue melirik Istrinya untuk meminta bantuan berbicara kepada Hu Liena.


Bukannya dia tidak ingin mengutarakan maksudnya, namun lidahnya terasa kaku begitu berhadapan langsung dengan sosok Putri Xia.


Hu Boqin sudah bisa menebak maksud kedatangan pasangan yang fenomenal dari kerajaannya tersebut.


Beberapa waktu yang lalu, memang Putrinya dan Pangeran Jun membantu keluarga Bangsawan Yue ini, dengan mengirimkan Liu Ning atau Bibi Kiew kembali pulang kesana. Dan kesalahpahaman antara pasangan Suami-Istri tersebut, jadi hilang tak berbekas, dan menguap entah kemana.


"Kami yang muda ini, tidak sepantasnya untuk mendapatkan kehormatan yang begitu besar dari anda berdua, Tuan dan Nyonya Bangsawan." Ucap Hu Liena merendah.


Nyonya Yue merasa puas, selain cantik, Putri Xia ini juga baik. Jadi tidak heran, jika Pangeran Jun akan tergila-gila padanya.


"Tidak Putri! Justru kami yang merasa tidak pantas untuk bertemu dengan anda! Anda dan Pangeran Jun, telah rela membagi waktu kalian berdua demi menolong keluarga kami. Jadi sudah sepantasnya jika kami merendahkan diri untuk membalas budi." Balas Nyonya Yue panjang lebar.


Sebenarnya, ini adalah keuntungan juga buat Hu Liena. Semakin banyak orang yang menjadi pendukungnya, maka semakin banyak pula orang yang akan membelanya suatu saat nanti jika terjadi apa-apa dengan keluarganya.


"Terima kasih, Tuan dan Nyonya Yue. Tapi sudah seharusnya Putriku melakukan hal itu untuk kalian. Lagipula, sosok orang yang kami kirim kepada keluarga kalian juga, sudah membuat keluarga kami berantakan. Dia dengan kejam, telah membunuh Istriku atas permintaan dari Yueqin yang sekarang menjadi Istri keduaku. Dan juga mungkin, statusnya adalah Putri anda, Tuan Bangsawan Yue." Ucap Hu Boqin dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.


Bangsawan Yue langsung menggeleng begitu mendengar kalimat terakhir Perdana Menteri.


"Sejujurnya, Yueqin juga bukan Putriku!" Tegas Bangsawan Yue.


Jangankan Hu Boqin, bahkan Nyonya Yue 'pun terkejut dengan pengakuan Suaminya.


"Suamiku! Apa anda sadar, dengan apa yang anda ucapkan sekarang?" Tanya Nyonya Yue yang masih di liputi rasa heran.


"Sadar! Seratus persen sadar! Yueqin memang bukan Putri kandungku, aku mengetahui hal ini bulan lalu. Oleh sebab itulah, aku mencari-cari Liu Ning untuk menanyakan hal ini padanya. Bisa-bisanya dia menyembunyikan masalah besar ini kepada semua orang. Dia tidak hanya menghancurkan keluarga Perdana Menteri, bahkan keluarga kami juga. Dengan tindakan dia yang seperti ini, bahkan aku ingin membunuhnya berkali-kali." Kata Bangsawan Yue penuh dendam.


"Jika memang Yueqin bukan Putri kandung anda, lalu siapa, orangtua kandung dia yang sebenarnya?" Tanya Hu Boqin yang menjadi penasaran dengan asal-usul Istri keduanya itu.


"Bangsawan Bai! Dia adalah Ayah kandung dari Istri anda!" Jawab Bangsawan Bai singkat.


Tapi setelah mengatakan itu, wajah Bangsawan Bai menjadi murung.


Nyonya Yue mengira, Suaminya murung karena merasa tak rela, jika Putri satu-satunya yang dia jadikan harta berharga miliknya akan di rebut orang lain, oleh karena itulah Nyonya Yue langsung menghibur hati sang Suami.


"Sabar Suamiku, jika memang kau menyayangi Yueqin sebagai Putrimu, itu tidak salah. Sedari kecil, kalian itu sangatlah dekat, jadi sudah sewajarnya anda akan sedih seperti ini." Ucap Nyonya Yue penuh kelembutan kepada Suaminya.


Bangsawan Yue langsung membantah ucapan Istrinya dengan keras. "Tidak, bukan itu masalahnya."


"Lalu apa yang menganggu pikiran anda, Suamiku?" Tanya Nyonya Yue merasa penasaran.


Bangsawan Yue melirik ke arah Hu Liena yang sedang menyesap tehnya dengan tenang.


"Sebelum aku mengetahui kebenaran ini, sudah beberapa kali, Yueqin mengirimiku surat untuk meminta bantuan menyingkirkan Putri sah Perdana Menteri. Dan aku selalu mengabulkan apa yang dia inginkan selama ini, jadi aku ...," Ucap Bangsawan Yue yang langsung terpotong oleh bentakan Hu Boqin. yang marah.


"Lancang!" Bentak Hu Boqin sembari memukul meja.


Bangsawan Yue langsung tertunduk lesu ketika mendengar bentakan Hu Boqin.


Dia hanya bisa pasrah dengan hukuman yang akan di terimanya, karena telah berani menyinggung perasaan Perdana Menteri. Apalagi ini menyangkut keselamatan Putri semata wayang Perdana Menteri.


Pasrah! Hanya itu kata yang ada di dalam benak Bangsawan Yue sekarang.


"Maafkan Suami hamba, Tuan Perdana Menteri!" Ucap Nyonya Yue sedih.


"Maafkan? Tidak, aku tidak akan memaafkannya!" Tegas Hu Boqin.


Nyonya Yue menjadi ketakutan, bagaimana mungkin dia bisa membiarkan Suaminya di hukum atas kesalahannya di masa lalu.