
Sebenarnya, Kaisar Qian juga merasa tidak tega jika harus mengungkit tentang luka di tubuh sang pemuda di depannya.
Namun, tugasnya untuk menyelidiki tentang kebenaran harus tetap di lakukan.
Apalagi, ini menyangkut tentang identitas penerus kerajaan Qian. Sang Kaisar harus tegas, dan tidak boleh terlalu terlena dengan kesedihan.
"Siapa di antara kalian yang bisa menjelaskan tentang kondisi pemuda ini?" tanya Kaisar Qian penuh penegasan.
Hampir semua Tabib mundur satu langkah, kecuali Tabib Hong yang saat ini bergeming di tempatnya.
Kaisar Qian menatap lurus ke arah Tabib Hong yang saat ini sedang menundukkan kepala.
Bukan karena malu, tapi karena Tabib Hong sedang berpikir bagaimana menyampaikan aspirasinya tentang masalah Kaisar Qian.
"Tabib, apakah anda bersedia?" tanya Kaisar Qian dengan lantang.
"Ini sedikit rumit, Yang Mulia!" jawab Tabib Hong yang mulai mengangkat wajahnya.
Kaisar Qian menautkan kedua alisnya, lalu kembali berbicara singkat. "Katakan!" ucapnya.
Tabib Hong berjalan menghampiri Qian Yingzhi yang saat ini masih berdiri dengan tegak.
"Luka di perutnya masih terlihat baru, mungkin sekitar kurang lebih satu tahunan. Sedangkan luka di bagian punggung pemuda ini, aku kira sudah ada sejak dia kecil, dan ada beberapa bagian bekas luka yang telah memudar." ucap Tabib Hong lalu menghentikan ucapannya sejenak.
"Di bagian rusuk, sepertinya anda pernah mengalami patah tulang. Benar?" tanya Tabib Hong yang di balas anggukkan kepala oleh Qian Yingzhi.
"Dan untuk luka yang di sini, di sini, dan di sini, semuanya seperti luka yang di sayat baru-baru ini. Apa aku benar juga?" ucap Tabib Hong sambil menunjuk beberapa luka yang masih kelihatan basah
"Benar!" Qian Yingzhi hanya menjawab singkat pertanyaan Tabib Hong.
"Kapan anda mendapatkan lukanya, Pangeran?" tanya Tabib Hong lagi seperti ingin memastikan.
Kaisar Qian merasa terkejut dengan sebutan yang di sematkan oleh Tabib Hong kepada si pemuda. Sepertinya, orang-orang dari Pangeran Jun sudah sangat yakin, jika pemuda di depannya ini adalah Putranya yang asli.
"Sekitar beberapa minggu yang lalu, Tabib." jawab Qian Yingzhi dengan datar.
"Jika boleh tahu, siapa yang melakukannya? Dan kenapa, dia melakukan hal ini kepada anda?" tanya Tabib Hong seakan ingin menguak kebenaran itu sendiri.
"Bibi Song yang melakukannya, Tabib. Dan mengenai alasannya, saya juga kurang tahu." jawab Qian Yingzhi dengan ekspresi yang sangat tenang.
Tabib Hong melirik ke arah Li Junjie, lalu beralih ke arah Kaisar Qian.
"Apa sudah cukup, Yang Mulia?" tanya Tabib Hong sambil menggoyangkan kepalanya.
Diam-diam, Hu Liena tersenyum puas dengan pekerjaan Tabib Hong yang sudah seperti penyelidik saja menurut Hu Liena.
Jika di dunia modern, mungkin Tabib Hong akan cocok dengan profesi sebagai jaksa penuntut saja. Atau juga hakim, karena raut mukanya yang tegas, dan juga garang.
Mengingat akan hal itu, hampir saja Hu Liena tertawa ketika membayangkan Tabib Hong memakai jubah hitam, dengan membawa palu di tangannya. Sungguh menggelikan!
"Aku rasa, semua pemeriksaan yang telah di lakukan belum cukup untuk membuktikan pemuda ini sebagai Putraku yang asli." ucap Kaisar Qian yang mengejutkan semua orang.
Bagaimana tidak, semua orang sudah melakukan tugas mereka dengan benar. Dan mereka juga tahu, jika luka-luka sang pemuda di dapatkan sebelum dia belum beranjak dewasa. Namun tetap saja, itu belum cukup untuk meyakinkan seorang Kaisar Qian.
"Jika di perbolehkan, aku ingin mengajak anda ke sebuah tempat. Yang Mulia Kaisar Qian!" ucap Li Junjie sambil maju beberapa langkah ke depan.
Kaisar Qian menoleh ke arah teman masa mudanya, Kaisar Li Jinhai untuk meminta pendapat.
"Silahkan Ayah, dan Yang Mulia Kaisar menunggu di sini." ucap Li Junjie sambil menunjuk ke arah deretan kursi yang ada di sana.
Sepertinya, kursi-kursi itu sengaja di sediakan khusus untuk orang yang ingin menjenguk, atau bertemu dengan keluarga mereka yang berada di dalam sana.
Setelah Kaisar Qian dan Ayahnya duduk, Li Junjie membawa Qian Yingzhi dan Hu Liena bersamanya masuk ke dalam sebuah lorong di sampingnya.
Kaisar Qian tidak banyak bertanya, dia hanya menunggu apa saja yang akan di lakukan, dan di tunjukkan oleh Putra Kaisar Li Jinhai kepadanya.
"Lepaskan aku!" terdengar suara dari balik dinding di sebelah ruangan tempat Kaisar Qian berada.
Suara itu jelas adalah suara Putri Song Qian, yang sengaja Li Junjie keluarkan dari tahanan dan di bawa ke ruangan tempat dirinya sedang bersama Qian Yingzhi dan Hu Liena saat ini.
Ruangan yang terpisah oleh dinding tipis yang juga terhubung dengan tempat Kaisar Qian dan Kaisar Li Jinhai berada.
"Kau! Untuk apa kau ada di sini?" terdengar suara Putri Song Qian membentak seseorang.
Tidak ada jawaban, yang terdengar hanya suara Putri Song Qian yang sedang meludahi seseorang.
"Jawab aku!" teriak Putri Song Qian dengan kencang.
Namun tetap, tak ada satupun, orang yang menjawab teriakannya.
"Aku tanya sekali lagi! Sedang apa kau di sini, Pangeran sialan! Apa kau ingin menertawakanku? Atau kau ingin memberitahu semua orang, kalau kau adalah Putra Mahkota Qian yang asli? Heh, jangan mimpi! Bahkan, Ayahmu saja tidak tahu, kalau kau adalah anak kandungnya!" teriak Putri Song Qian mencibir keras ke arah Qian Yingzhi.
Hati Kaisar Qian menjadi sangat sedih begitu mendengar kebenaran tentang Putranya yang asli.
Bagaimana dia bisa begitu bodoh, tidak bisa mengenali Putra kandungnya sendiri. Dan malah dengan tega, menyuruh banyak Tabib memeriksa semua luka di tubuh pemuda tersebut, hanya untuk menghilangkan keraguan di hatinya.
Sungguh sangat menyedihkan!
Bahkan Putri Xia, dan Pangeran Jun saja yang tidak memiliki hubungan khusus dengan Putranya sangat percaya, dan yakin jika pemuda yang datang ke hadapannya sebagai Putranya tersebut, adalah Putranya yang asli. Bukan Putranya yang palsu, seperti Yu Zemin.
"Aku tidak ingin menertawakanmu! Justru aku, merasa sangat kasihan padamu!" ucap Qian Yingzhi yang akhirnya membuka suara.
"Kasihan? Heh, atas dasar apa kau merasa kasihan padaku?" ucap Putri Song Qian dengan sinis.
"Aku tidak perlu menjawab, karena kau tahu sendiri kebenarannya seperti apa." balas Qian Yingzhi datar.
Putri Song Qian mendengus kasar lalu menerjang ke arah Qian Yingzhi yang saat ini berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Bajingan! Berani sekali kau mengatakan hal seperti itu kepadaku, sialan! Justru kau yang harus di kasihani, bukan aku!"
Kaisar Qian semakin merasakan sakit di hatinya dengan semua ucapan yang terlontar dari sang Adik yang sangat dia sayangi selama ini.
"Bibi benar, aku yang patutnya di kasihani. Selama puluhan tahun Bibi mengurungku, selama itu pula, aku masih bersikap baik padamu. Bibi tahu kenapa? Karena aku masih menganggapmu sebagai kerabatku, meskipun setiap hari, selama puluhan tahun Bibi selalu menyiksaku." ucap Qian Yingzhi tanpa ekspresi apapun yang tampak di wajahnya.
Mungkin, semua luka dan penderitaan yang dia terima selama bertahun-tahun. Sudah membuat hatinya mati rasa, dan membuatnya menjadi sosok pemuda yang dingin yang tak bisa menampilkan ekspresi sedih ataupun bahagia.
"Diam kau, bajingan! Aku menyesal, tidak membunuhmu waktu itu!"
"Song Qian!" Kaisar Qian berteriak membentak Putri Song Qian yang sedang meronta-ronta meminta di lepaskan agar bisa menerjang ke arah Qian Yingzhi.
"Ka-Kakak ...,'' suara Putri Song Qian bergetar saat melihat Kaisar Qian berdiri dengan muka yang merah padam.