Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
78. Kebohongan Bangsawan Bai.


"Picik! Benar-benar picik pikiranmu, Liu Ning! Semudah itu kau melupakan pengorbanan selama ini untukmu, menyedihkan! Aku benar-benar menyedihkan!" Teriak Qin Zihui penuh amarah.


Liu Ning tidak bergeming sedikitpun, keputusannya sudah bulat untuk memasuki kediaman Bangsawan Yue. Lagipula, masa depannya bersama sang buah hati jauh lebih berharga dari apapun juga.


Setelah kejadian itu, obsesi Qin Zihui berubah. Dari yang hanya ingin meraih kesuksesan dengan cara benar, menjadi beralih menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya.


Qin Zihui 'pun menjerat hati Nyonya Bai muda, kemudian memasuki kediaman keluarga Bai sebagai Suami dari Putri tunggal keluarga bangsawan tersebut. Karena kepintaran dari Qin Zihui, kepala keluarga Bai yang terdahulu memberikan kehormatan kepada dirinya untuk mengelola semua bisnis dari keluarganya.


Beberapa minggu setelah dirinya memasuki kediaman keluarga Bai, Liu Ning kembali mendatangi dirinya secara diam-diam.


"Zihui, tolong aku!" Ucap Liu Ning tampak sedih.


"Ada apa?" Jawab Zihui datar.


Dia masih merasa kecewa dengan keputusan Liu Ning yang memilih untuk meninggalkan dirinya demi keluarga yang lebih kaya.


"Di kediaman Yue, aku sering di tindas. Dan mereka mengancam akan menyakiti buah hati kita juga." Ujar Li Ning dengan bermuram durja.


Qin Zihui jadi tersentuh hatinya, apalagi ketika menyangkut tentang buah hati mereka. Qin Zihui merasa tidak tega, dan berniat memasukkan Liu Ning juga ke kediaman Bangsawan Bai.


"Apa kau mau hidup denganku sekarang? Semua belum terlambat, Liu Ning. Aku bisa membawamu bersamaku ke kediaman Bangsawan Bai. Aku akan mengatur tempat yang paling nyaman di sana, aku janji!" Ucap Qin Zihui bersungguh-sungguh.


Liu Ning menolak, dia beralasan tidak ingin merepotkan Qin Zihui untuk saat ini. Tapi dia meminta, jika suatu hari dia melahirkan, Liu Ning ingin anak yang di kandungnya terus mendapatkan perlindungan dari Qin Zihui. Bagaimanapun caranya, Qin Zihui harus tetap melindungi anaknya.


Dan tibalah saatnya di mana Istri Qin Zihui hamil dan melahirkan Putri pertamanya. Kelahiran Putri dari Istri Qin Zihui dan Putri dari Liu Ning hanya berbeda tiga minggu saja.


Dan karena Liu Ning kekurangan gizi ketika waktu hamil, karena sering di tindas di keluarga Yue. Sehingga membuat Putrinya yang berumuran tiga minggu masih sangat terlihat kecil, seperti bayi yang baru saja di lahirkan.


Putri dari Nyonya Bai jatuh sakit ketika baru beberapa hari saja di lahirkan. Dan di hari ke tujuh, Putri Qin Zihui akhirnya meninggal. Namun Qin Zihui merahasiakan tentang hal ini dari Istrinya, dan langsung mengganti anak itu dengan bayi dari Liu Ning.


Selama sebulan lebih, Nyonya Bai mengurus bayi dari Liu Ning. Sampai suatu hari, bayi itu di ambil kembali oleh keluarga Yue karena mereka menyangka jika anak itu adalah keturunan dari keluarganya. Karena status Liu Ning masih sebagai selir dari Tuan muda Yue, dan sewaktu menikah juga, Liu Ning mengaku hamil oleh Tuan muda Yu. Jadi Keluarga Besar Yue menganggap bayi itu adalah keturunan asli mereka.


Ketika bayinya menghilang, Liu Ning mengaku seseorang telah menculiknya. Maka dari itu, ketika tersiar kabar bahwa bayi Liu Ning berada di kediaman Bangsawan Bai, semua keluarga Yue datang dan merebutnya kembali.


Dari situlah, Nyonya Bangsawan Bai selalu mengakui Yueqin sebagai Putri kandungnya. Dan juga Qin Zihui, selalu menghasut Istrinya, jika memang benar bayi itu adalah bayi yang di lahirkannya. Namun karena kurangnya dukungan dari segala pihak, membuat Nyonya Bai harus merelakan bayi itu berada di tangan keluarga bangsawan Yue.


Flashback of...


"Istriku tetap tidak boleh mengetahui tentang kebenaran asal-usul Putriku. Jika dia sampai tahu, habislah aku!" Gumam Bangsawan Bai pada dirinya sendiri.


Yengli yang masih berada di sana menemani sang Tuan, hanya menggeleng-gelengkan kepala tanda tak mengerti dengan jalan pikir majikannya.


Dia yang bermain api, dia sendiri yang takut terbakar, pikir Yengli.


"Tuan, apa yang akan anda lakukan sekarang? Bangsawan Yue tidak akan tinggal diam begitu saja, begitu mengetahui rencana awalnya sudah di gagalkan oleh Tuan." Kata Yengli penuh penekanan.


Bangsawan Bai yang sedang bingung, kini semakin bingung lagi. Ucapan Yengli barusan, menyadarkannya tentang arti kewaspadaan.


"Apa kau punya ide, Yengli?" Bangsawan Bai malah balik bertanya kepada pengawal setianya itu.


"Tidak ada!" Jawab Yengli datar.


Bangsawan Bai mendengus tidak senang dengan jawaban Yengli. Namun dia tidak marah, dia hanya merasa buntu saja dalam berpikir.


"Bilang saja, aku tidak lapar!" Tolak Bangsawan Bai.


Si pelayan kebingungan, jelas-jelas sang Nyonya memintanya agar bisa membawa sang Suami ke tempat dia berada sekarang.


"Tapi tuan ...," Pelayan itu ingin berusaha membujuk Bangsawan Bai.


"Tidak ada tapi-tapi, aku memang tidak lapar. Sampaikan itu kepada Nyonya." Balas Bangsawan Bai datar.


Si pelayan tak bisa berbuat apa-apa, oleh karena itu dia langsung meminta ijin untuk kembali, dan melaporkan penolakan Bangsawan Bai kepada majikannya.


"Di mana Tuan?" Tanya Nyonya Bai heran.


"Jawab Nyonya, Tuan tidak lapar, jadi dia tidak datang." Ucap pelayan tersebut.


Nyonya Bai menarik nafas panjang sebelum kembali memberi perintah kepada pelayan yang barusan.


"Apa kau sudah bilang padanya, jika aku ingin agar dia datang?" Tanya Nyonya Bai dengan kesal.


Pelayan itu mengangguk, lalu menjawab dengan nada ketakutan. "Su-sudah Nyonya! Tuan tetap tidak mau, katanya dia benar-benar tidak lapar."


"Huhhh ... Dasar Suamiku itu, susah sekali di ajak makan. Mungkin dia sedang banyak pikiran, jadi tidak berselera. Sudahlah, aku juga tidak mau makan makanan ini tanpa Suamiku. Sekarang, tolong antarkan aku kesana! Aku ingin menemaninya saja!" Kata Nyonya Bai seraya bangkit dari duduknya.


Pelayan yang tadi, langsung sigap membantu Nyonya Bai untuk pergi menemui Suaminya.


"Mari, silahkan lewat sini, Nyonya!" Ucap pelayan itu dengan sopan.


Nyonya Bai berjalan mengikuti instruksi yang di berikan oleh sang pelayan.


Dia berjalan beriringan dengan beberapa pelayan yang bertugas menjaganya selama perjalanan.


"Yengli, coba pikirkan cara agar Bangsawan Yue bisa menutup mulutnya." Suara Bangsawan Bai langsung terdengar oleh Nyonya Bai yang sudah sampai di halaman.


"Hamba menyarankan, Tuan untuk mendatanginya langsung. Jika Tuan mengirim orang lain untuk memintanya diam, mungkin Bangsawan Yue tetap akan berusaha menghubungi Nyonya, bagaimanapun caranya." Tutur Yengli.


Nyonya Bai sebenarnya ingin segera masuk, namun ketika dia baru berniat melangkahkan kakinya lagi. Terdengar suara Bangsawan Bai, berbicara kembali kepada Yengli.


"Apa yang akan 'ku katakan padanya nanti? Berhenti menganggu Istriku? Atau berhenti mengganggu Putriku dan Liu Ning?"


"Liu Ning? Siapa dia?" Ucap Nyonya Bai di dalam hatinya.


Dia mengurungkan niatnya untuk memasuki ruangan Bangsawan Bai.


Yang di lakukan dirinya sekarang, hanya berdiri di halaman dan mencoba mendengarkan percakapan Suaminya bersama Yengli.


"Bukan itu, Tuan! Tuan bisa meminta Bangsawan Yue untuk tidak mengganggu keluarga Bai lagi. Kalau masalah Putri anda, abaikan saja. Lagipula, mantan kekasih anda juga sudah meninggal dunia!" Jelas Yengli yang membuat Bangsawan Bai marah.


"Apa kau bilang? Abaikan? Bagaimana aku bisa mengabaikan buah hatiku bersama Liu Ning? Dan masalah Liu Ning, siapa yang bilang kalau dia sudah meninggal?" Bentak Bangsawan Bai.


Di halaman, Nyonya Bai tersentak ketika mendengar teriakan Suaminya. Dan yang paling membuatnya terkejut adalah, pengakuan sang Suami tentang masalah Yueqin, dan juga mantan kekasihnya, Liu Ning.


Jadi, Yueqin bukanlah Putriku? Jadi Suamiku selama ini berbohong padaku? Dan Liu Ning, jadi dia adalah Ibu kandung Yueqin sebenarnya? Suamiku, kebohongan apalagi yang kau sembunyikan dariku? batin Nyonya Bai.