Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
110. Obsesi Putri Song Qian.


Qian Yingzhi kini berada di dalam sebuah kamar yang tertutup rapat.


Beberapa prajurit tampak di tugaskan untuk berjaga-jaga di luar.


"Buka pintunya!" ucap Li Junjie kepada prajurit yang bertugas menjaga pintu.


"Hormatku kepada Putri Xia, dan Pangeran Jun!" ucap Qian Yingzhi begitu melihat Hu Liena dan Li Junjie memasuki kamarnya.


"Apa kau beristirahat dengan baik?" tanya Hu Liena.


Qian Yingzhi menjawab pertanyaan dari Hu Liena dengan sebuah anggukkan kepala.


Li Junjie membantu Hu Liena untuk duduk di kursi yang bersebelahan dengan dirinya. Setelah Hu Liena bisa duduk dengan nyaman, barulah Li Junjie melirik, dan mengajak berbicara kepada Qiang Yingzhi.


"Qian yingzhi! Aku ingin, kau menceritakan lebih banyak lagi tentang hidupmu. Tentang siapa-siapa saja orang, yang terlibat di dalam konflik di kerajaan Qian yang Ayahmu pimpin sekarang!"


"Aku tidak tahu, seberapa banyaknya orang yang terlibat dalam konspirasi ini. Tapi aku yakin, jika otak di balik semuanya adalah Putri Song, dan juga Putranya. Mereka sangat berambisi untuk menguasai kerajaan Qian, dan juga ...," Ucapan Qian Yingzhi berhenti sampai di sini.


"Katakan yang jelas!" Tegas Li Junjie.


"Putri Song juga, menginginkan kerajaan Ying!" Ucap Qian Yingzhi sambil menundukkan kepalanya.


"Lancang!" Li Junjie berkata dengan geram.


Hu Liena mengelus punggung Li Junjie untuk menenangkannya, agar tidak terbawa perasaan.


"Apa alasanmu, mengatakan hal itu?" tanya Hu Liena setelah Li Junjie mulai bersikap tenang.


"Aku pernah mendengar, Bibi Song berbicara dengan seseorang." jawab Qian Yingzhi.


"Apa kau tahu, apa isi percakapan mereka?" tanya Hu Liena penuh selidik.


Qian Yingzhi mengangguk, lalu menceritakan tentang isi percakapan Putri Song Qian, dengan seorang pria yang berasal dari kerajaan Ying.


"Apa kau tahu, siapa nama pria itu?" tanya Hu Liena.


"Aku tidak bisa, mendengar jelas namanya. Tapi yang aku tahu, Bibi Song selalu memanggilnya dengan sebutan Tuan Bangsawan." jawab Qian Yingzhi penuh keyakinan.


"Tuan Bangsawan?" ucap Hu Liena dengan dahi berkerut tebal.


Qian Yingzhi mengangguk lagi membenarkan ucapan Hu Liena.


"Satu hal lagi yang ingin aku beritahukan kepada kalian berdua, Putri!" ucap Qian Yingzhi yang membuat Li Junjie dan Hu Liena menjadi penasaran.


"Apa?" tanya Li Junjie tak sabar.


"Bibi Song terobsesi ingin membunuh Kaisar kerajaan Ying, Li Jinhai!"


_Brakk!_


Li Junjie menggebrak meja dengan sangat keras, hingga membuat Qian Yingzhi harus beringsut mundur karena ketakutan.


"Kurang ajar! Berani sekali dia!" ucap Li Junjie menggeram marah.


"Tenanglah, Pangeran! Tidak baik jika kau terus marah-marah seperti ini!" Hu Liena berusaha menenangkan kembali Li Junjie yang kembali di buat marah, oleh pernyataan Qian Yingzhi.


Li Junjie mengatur nafasnya terlebih dahulu agar bisa bersikap lebih tenang, seperti yang di inginkan oleh kekasihnya.


"Ceritakan lagi!" ucapnya setelah menarik nafas beberapa kali.


"Aku tidak tahu lagi, tentang rencana yang akan di lakukan oleh Bibi Song. Tapi aku punya sebuah informasi, yang mungkin bisa membantu penyelidikan kalian berdua." ucap Qian Yingzhi dengan bersemangat.


Sebenarnya, Hu Liena sempat merasa kesal ketika Qian Yingzhi bilang tidak mengetahui rencana Putri Song Qian. Tapi setelah mendengar kalimat terakhir si Qian Yingzhi ini, Hu Liena menjadi bersemangat kembali.


"Waktu itu, aku pernah berpapasan dengan anaknya Tuan Bangsawan, yang sering membantu Bibi Song menjalankan misinya. Kalau tidak salah, namanya Tuan Muda Mo ... Mo apa ya, aku lupa!" ujar Qian Yingzhi sambil menepuk dahinya sendiri.


"Mo Yan Zhen?" kata Hu Liena sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Ahhhh, benar sekali! Namanya, Mo Yan Zhen!"


Hu Liena melirik ke arah Li Junjie yang kini juga sedang menatapnya dengan tajam.


"Pangeran! Apa mungkin, Tuan Bangsawan yang membantu Putri Song Qian adalah Bangsawan Mo?"


"Tidak salah lagi, itu pasti dia!" Balas Li Junjie penuh keyakinan di dalam dirinya.


Tidak perlu menerka-nerka lagi, tentang siapa orang yang membantu Putri Song Qian. Semua sudah jelas, jika Mo Yan Zhen saja terlibat, berarti Mo Chong an juga pasti ikut dalam konspirasi ini.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Pangeran Qian?" tanya Hu Liena sambil melirik ke arah Qian Yingzhi yang sedang menatap mereka berdua.


"Jika di ijinkan, aku ingin membantu di pihak kerajaan Ying. Selain itu, aku juga masih membutuhkan bantuan kalian untuk menyelamatkan Ayahku, Kaisar Qian." ucap Qian Yingzhi penuh tekad.


Hu Liena merasa penasaran dengan sosok Kaisar Qian, yang Qian Yingzhi bilang sedang sakit parah.


"Apa kau tahu, apa penyakit yang di derita Ayahmu?" tanya Hu Liena yang di jawab gelengan kepala oleh si Qian Yingzhi.


"Aku tidak tahu! Tapi kata Paman Kasim, Ayahku sering mengeluh dadanya terasa sesak, dan jantungnya tidak beraturan." tutur Qian Yingzhi.


"Paman Kasim? Siapa dia?" tanya Hu Liena heran.


"Dia itu, orang kepercayaan Ayahku!" jawab Qian Yingzhi cepat.


Hu Liena seperti mendapatkan angin segar begitu mendengar masih ada orang yang setia, kepada Kaisar Qian.


"Apa dia bisa membantu kita?" tanya Hu Liena dengan antusias.


"Membantu dalam hal apa?" tanya Qian Yingzhi merasa heran.


"Aku berencana menyusup, ke dalam Istana kerajaan Qian." ucap Hu Liena yang membuat Qian Yingzhi jadi terbelalak.


Menyusup? Ke Istana kerajaan Qian? itu bukan pekerjaan mudah, batin Qian Yingzhi.


"Bisa tidak?" ucap Ju Liena merasa tidak sabar dengan jawaban Qian Yingzhi.


"Itu pekerjaan sulit, Putri!" ucap Qian Yingzhi dengan bingung.


Li Junjie menatap sinis ke arah Qian Yingzhi, yang meremehkan kemampuan calon Istrinya.


"Jawab saja, orang kepercayaan Ayahmu itu bisa membantu atau tidak?" ucap Li Junjie sarkas.


Seketika, Qian Yingzhi merasa gugup karena Li Junjie seperti tidak senang dengan ucapannya tadi.


"Bisa, pasti bisa, Pangeran!" ucap Qian Yingzhi dengan pasrah.


"Bagus! Kalau sudah siap, kabari kami!" kata Li Junjie sambil bangkit dari tempat duduknya.


Hu Liena juga ikut berdiri, dan mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu.


Sebelum keluar dari kamar, Hu Liena kembali menoleh ke arah Qian Yingzhi yang sedang menatap mereka berdua dengan kebingungan.


"Jika kau sudah memiliki rencana untuk memasukkan kami ke dalam Istana kerajaan Qian, kau bisa bilang kepada penjaga untuk mencarikan Paman Wang bersaudara. Mereka yang akan membantumu nanti, ok!" Setelah mengatakan itu, Hu Liena langsung keluar tanpa harus menunggu jawaban Qian Yingzhi terlebih dahulu.


Beruntung sekali Pangeran Jun mendapatkan pasangan, seperti Putri Xia. Sudah cantik, pemberani, pintar, dan juga baik hati. Huhh, kapan aku akan mendapatkan jodoh seperti itu! batin Qian Yingzhi.