Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
93. Tabib Hong menjadi target sasaran.


Para pengawal yang pingsan karena keracunan sudah berangsur pulih. Dan Li Junjie, sudah memerintahkan para pengawalnya yang lain, untuk mencari informasi tentang hilangnya Yueqin dan Xiulin.


"Pangeran, aku mengkhawatirkan keadaan Ayahku. Aku takut, orang itu akan menyerangnya juga." Ucap Hu Liena yang mencemaskan tentang Hu Boqin.


"Bagaimana kalau untuk sementara, kalian tinggal di tempatku saja." Usul Li Junjie yang di tolak langsung oleh Hu Liena.


"Itu tidak boleh, Pangeran." Tegas Hu Liena.


"Lalu bagaimana?" Li Junjie tak ingin memaksakan kehendaknya sendiri.


"Aku akan pulang sekarang, dan melihat keadaan di sana." Balas Hu Liena.


"Aku akan ikut!" Ucap Li Junjie yang tidak di bantah oleh Hu Liena.


Mereka 'pun pergi ke kediaman Perdana Menteri untuk memeriksa keadaan.


Di sebuah kamar...


"Di mana ini?" Ucap Xiulin yang baru membuka matanya setelah tak sadarkan diri dari kemarin.


"Kau sudah bangun, Putriku?" Tanya seorang pria.


Xiulin terkejut, dan langsung melompat dari tempat tidur. "Siapa kau? Jangan dekati aku! Mundur!"


"Dia itu Ayahmu, Nak!" Yueqin berkata sambil melangkahkan kakinya memasuki ruangan.


"Ibu ...," Pekik Xiulin ketika melihat Yueqin datang.


Yueqin menghampiri Xiulin, lalu memeluknya.


"Aku senang bisa melihat Ibu lagi ...," Tangisan Xiulin pecah begitu berada di dalam pelukan sang Ibu.


Yueqin juga mengalirkan airmatanya, karena merasa terharu telah di pertemukan kembali dengan Xiulin.


Yueqin sempat berpikir, jika dia akan terkurung di dalam penjara Pangeran Jun selamanya.


Tapi kemarin, malah ada sekelompok orang yang datang menolong, dan mempertemukan lagi dengan Putrinya di sini.


"Ibu, di mana sebenarnya kita sekarang? Dan dia, mengapa dia memanggil aku dengan sebutan Putriku. Siapa dia sebenarnya, Ibu?" Tanya Xiulin merasa penasaran dengan identitas pria di depannya


"Kita berada di rumah kita yang asli, Sayang. Dan pria ini, pria ini memanglah Ayahmu yang sesungguhnya." Jawab Yueqin tanpa keraguan.


Xiulin tercengang dengan penjelasan Ibunya. Bagaimana mungkin pria ini adalah Ayahnya. Bukankah Ibunya sendiri yang dulu bilang, jika Ayahnya itu sudah meninggal dunia saat dia masih berumur beberapa bulan. Lalu apa sekarang? Mengapa Ayahnya tiba-tiba muncul?


"Tidak, Ibu! Katakan sejujurnya padaku, siapa orang ini?" Teriak Xiulin histeris.


"Dia itu benar-benar Ayahmu, Sayang. Dia Ayah kandungmu! Dan dia juga yang mengeluarkan kita dari penjara bawah tanah Pangeran Jun! Kalau dia memang bukan Ayahmu, lalu untuk apa dia melakukan itu semua, untuk apa?" Teriakan Yueqin tak kalah kerasnya dengan teriakan Xiulin.


"Ibumu benar, aku adalah Ayahmu! Maafkan aku karena datang terlambat untuk menyelamatkan kalian berdua!" Ucap si pria penuh penyesalan.


"Lalu kemana? Kemana kau selama ini?" Bentak Xiulin kepada orang yang mengaku Ayahnya.


"Ayah harus bersembunyi dari musuh, Nak. Ayah sengaja tidak membawa kalian, agar kalian berdua bisa selamat dari kejaran musuh Ayah." Tutur si pria.


"Dan sekarang, untuk apa kau muncul?" Tanya Xiulin penuh selidik.


"Tentu saja untuk menyelamatkan kalian berdua, dan juga membalas musuh besar Ayah!" Kata si pria penuh dengan dendam.


Mata Xiulin berkilat dingin begitu mendengar ucapan sang Ayah. Sepertinya, Ayahnya ini bukanlah orang sembarangan. Dia bisa menggunakan kekuatan Ayahnya ini untuk membalas dendam, kepada orang-orang yang telah memperlakukannya menjadi seperti sekarang ini. Dan yang palin utama, dia harus membalas dendam kepada Hu Liena, dan juga Hu Boqin tentunya. Jika bukan karena mereka berdua, hidupnya tidak akan semenderita ini.


"Tentu saja! Aku akan melakukan apapun untukmu, dan juga Ibumu!" Jawab si pria tersebut.


Xiulin mengangguk puas, sedangkan Yueqin menampilkan seringai jahat di wajahnya.


Hu Liena, aku akan membalas semua kesakitan yang kau berikan. Jangan harap kau bisa lolos kali ini, bahkan Dewa 'pun, takkan bisa membawamu keluar dari kematian, batin Yueqin.


Tok... tok... tok...


"Maaf, Tuan. Tabib yang kita cari, sudah berada di luar. Dia meminta ijin, untuk mengobati Nona Besar." Kata seorang penjaga kepada si pria.


"Suruh dia masuk!"


"Baik, Tuan!" Jawab si penjaga, lalu dia keluar kamar dan ketika masuk kembali, dia membawa seseorang bersamanya.


"Hormat hamba, Tuan Qiang!" Si Tabib yang di bawa penjaga mengucapkan salam dan membungkuk hormat.


"Cepat periksa Putriku!" Tuan Qiang langsung meminta Tabib untuk memeriksa kondisi Xiulin.


Beberapa saat 'pun berlalu, Tabib akhirnya menyelesaikan pekerjaannya.


"Bagaimana? Apa kulit Putriku bisa di sembuhkan?" Seiring pertanyaan yang di ajukan pria yang mengaku Ayahnya, Xiulin secara terus-menerus menyentuh kulit wajahnya yang terasa kasar.


"Semua penyakit ada obatnya, Tuan. Dan penyakit Nona Besar, tentu saja bisa di sembuhkan." Jawab Tabib dengan tenang.


"Kalau begitu, kenapa kau tidak segera memberinya obat?" Tanya Tuan Qiang sedikit kesal.


Si Tabib terlihat bingung ketika di tanya hal seperti itu. "Bukannya hamba tidak ingin mengobatinya sekarang, Tuan. Tapi obat yang di butuhkan, sangat susah untuk di dapatkan."


"Katakan saja, apa yang kau butuhkan, Tabib?" Ucap Tuan Qiang dengan lugas.


"Menurut kabar yang hamba dengar, ada seorang Tabib dari kerajaan Ying yang bertugas menjaga sebuah ruang rahasia. Ruang rahasia itu berisi bermacam-macam obat, dan ada beberapa obat dari ruangan tersebut akan mampu menyembuhkan penyakit Nona Besar tanpa meninggalkan bekas dan efek samping apapun setelah meminumnya." Tutur si Tabib tersebut.


Tuan Qiang mendengarkan penuturan si Tabib dengan serius. Dia bertekad untuk melakukan apapun demi kesembuhan Putrinya yang baru dia temukan, mau bagaimanapun juga caranya dia pasti lakukan.


"Siapa nama Tabib itu?" Tanya Tuan Qiang penuh penekanan.


"Tabib Hong, namanya adalah Tabib Hong!" Jawab si Tabib yakin.


Xiulin langsung melirik ketika mendengar nama Tabib Hong di sebut, "Aku mengenal orangnya, Ayah. Dia dulu sering datang ke kediaman kami untuk memberikan pengobatan."


"Baguslah kalau kau kenal, berarti besar kemungkinan kita akan cepat menemukan keberadaannya." Tuan Qiang merasa bersemangat.


Xiulin mengangguk, lalu menambahkan lagi. "Tabib Hong tinggal di pinggiran kota Negara Ying. Dia tinggal seorang diri, dan saudara tiriku Hu Liena sering datang untuk mengunjunginya."


"Hu Liena? Putri Perdana Menteri Hu Boqin?" Tanya Tuan Qiang penasaran.


"Iya, itu dia, Ayah!" Jawab Xiulin pasti.


Yueqin yang dari tadi hanya berdiam diri saja, kini ikut andil bagian dalam pembicaraan.


"Ada apa, Suamiku? Apa kau mengenal gadis tengil itu?" Tanya Yueqin heran.


Tuan Qiang menggeleng, "Tidak, tapi orang yang sering membantuku sering membicarakan tentang dia."


"Siapa? Siapa orang yang sering membantu Ayah?" Xiulin mulai curiga.