Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
55. Xiulin Putri murba.


Xiulin terkesiap mendengar ucapan dari Permaisuri.


Rencana awalnya ingin mempermalukan Hu Liena, namun malah dirinya yang jadi di permalukan seperti ini. Dan lebih parahnya lagi, orang yang menyerangnya langsung adalah Permaisuri. Orang yang tak mungkin bisa Xiulin balas sama sekali.


"Ha-hamba ...," Ucapan Xiulin seakan tercekat di tenggorokan.


Semua para tamu yang berada di sana, langsung mengalihkan perhatian kepada sosok Xiulin yang terlihat pucat pasi tersebut.


Yueqin yang berada di samping Xiulin 'pun tidak bisa berbuat apa-apa. Statusnya yang hanya menjadi Istri kedua, tidak memiliki hak untuk dirinya berbicara di perjamuan Istana.


Masih untung dia di terima masuk ke area Istana.


Tapi untuk berbicara, Yueqin tidak memiliki hak tersebut. Jika memaksa, bukan tidak mungkin dirinya akan mendapatkan hukuman dari orang nomor satu di Negaranya tersebut.


"Jadi gadis berbakat tahun lalu itu hanyalah Putri murba? Aku baru mengetahuinya sekarang!" Ujar Nyonya Yao dengan ketus.


Tiap tahun Putrinya harus di kalahkan oleh Xiulin.


Tapi hari ini, kesempatan untuk Nyonya Yao membalas terbuka lebar. Dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.


"Berani sekali ya, Putri murba seperti dirinya, bersikap congkak di hadapan Yang Mulia Permaisuri." Balas Nyonya Ming.


"Jadi selama beberapa tahun ini, dia menipu kita dengan identitas Putri Perdana Menteri. Padahal aslinya, hanya Putri murba!"


Cemoohan demi cemoohan di lontarkan untuk Xiulin oleh semua orang.


Xiulin yang mendengar cemoohan tersebut, langsung mengepalkan tangannya dengan erat.


Bukan, bukan seperti ini rencana awalnya!


Xiulin ingin semua orang mencemooh Hu Liena yang bodoh. Namun sekarang, semua orang malah berbalik mencemooh dirinya.


Xiulin ingin berkata untuk membela diri. Namun dia batalkan, karena merasa sesuatu terjadi dengan dirinya.


Kulit Xiulin terasa panas dengan sensasi seperti terbakar. Xiulin meringis, dan langsung mengerang kesakitan.


"Aghh ...."


"Panas!"


"Panas!"


Yueqin tak bisa lagi menahan diri, kondisi Putrinya terlihat menyedihkan.


"Putriku, Putriku! Apa yang terjadi padamu?" Ucap Yueqin yang merasa panik dengan kondisi Xiulin.


Di tempatnya duduk, Hu Liena hanya melirik sekilas ke arah kerumunan orang-orang yang mengelilingi Xiulin dan Ibunya, Yueqin.


Li Junjie merasa ada yang aneh dengan ekspresi Hu Liena yang terlihat senang itu.


Li Junjie 'pun mendekat dan berbisik kepada calon Istrinya tersebut.


"Apa ini ulahmu?" Tanya Li Junjie yang di balas gelengan kepala oleh Hu Liena.


"Kalau bukan kau? Lalu kenapa, dia menjadi seperti itu?" Tanya Li Junjie yang masih merasa janggal dengan kejadian yang menimpa Xiulin.


Hu Liena meminta agar Li Junjie semakin dekat kepadanya.


Setelah itu, Hu Liena membisikkan sesuatu kepada Li Junjie.


Ekspresi Li Junjie berubah-ubah ketika mendengar bisikan Hu Liena. Kadang Li Junjie terlihat marah, kadang terlihat menahan tawa, itulah ekspresi dari Li Junjie saat ini.


"Apa kau sudah paham sekarang?" Tanya Hu Liena yang sudah kembali ke tempat duduknya.


"Tentu saja!" Balas Li Junjie seraya meraih kembali tangan Hu Liena.


"Kau tidak merasa takut padaku?" Tanya Hu Liena yang melihat Li Junjie tidak bereaksi apapun setelah mendengar cerita darinya.


Li Junjie mengerutkan alisnya, lalu berkata heran kepada Hu Liena. "Kenapa?"


"Karena aku sudah membalas orang yang berbuat jahat padaku!" Sahut Hu Liena tanpa ekspresi.


"He-he ... Apa yang harus aku takutkan, dari wanita menggemaskan sepertimu?"


"Menggemaskan?" Tanya Hu Liena.


Li Junjie menyeringai, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Hu Liena.


"Iya, kau sangat menggemaskan! Sampai-sampai, aku ingin segera menikahimu!" Bisik Li Junjie.


WUSHHH...


Wajah Hu Liena langsung berubah merah seperti tomat.


"Kau, kau jangan menggodaku!" Ujar Hu Liena dengan malu-malu.


Li Junjie semakin merasa gemas dengan Hu Liena yang malu-malu seperti itu.


Dia 'pun meraih tangan Hu Liena, dan menciumnya.


"Aku tidak menggodamu, aku mengatakan yang sebenarnya."


Hati Hu Liena seakan meleleh mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut Li Junjie.


"Sudah, jangan genit seperti itu!" Kata Hu Liena seraya menarik paksa tangannya dari genggaman tangan Li Junjie.


Di kejauhan, Pangeran Yu Zemin mengeratkan giginya kuat-kuat.


Ia tak kuasa menahan rasa cemburunya saat ini ketika melhat interaksi antara Li Junjie dengan Hu Liena.


Meskipun Yu Zemin belum pernah bertemu ataupun berbicara langsung dengan Hu Liena. Tapi Yu Zemin sudah menetapkan Hu Liena sebagai calon pendampingnya di masa depan.


"Li Junjie sialan! Berani sekali dia menyentuh calon pasanganku!" Ucap Yu Zemin geram.


Putri Jia Li yang duduk bersamanya, langsung merasa terkejut dengan ucapan sang Kakak.


"Kakak! Tolong jaga sikapmu, kita sedang berada di kerajaan dinasti Ying. Jadi kita harus berhati-hati dalam berbicara dan bersikap!" Tutur Putri Jia Li berusaha memperingatkan Kakaknya.


Di kursi kejayaan, Kaisar dan Permaisuri kini saling berbisik melihat kemesraan yang di tampilkan Li junjie di hadapan mereka.


"Istriku, lihatlah Putra kita saat ini. Bukankah ini terlihat luar biasa? Putra kita yang jarang sekali tersenyum, kini terlihat bahagia dengan Putri dari sahabatmu itu." Ucap Kaisar.


Permaisuri ingin menjawab ucapan Kaisar, tapi niatnya terhenti karena seorang Kasim datang menghadap kepada mereka.


"Hormat hamba Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri!"


"Ada apa?" Tanya Kaisar tegas.


Sikap Kaisar kepada Kasim, berbanding terbalik dengan sikapnya kepada sang Istri yang lembut dan penuh kasih.


"Maafkan hamba, Kaisar. Putri dari Perdana Menteri sedang sakit, dan Ibunya meminta ijin anda untuk meminta Tabib Istana memeriksanya." Ujar Kasim dengan rasa cemas.


Kaisar menoleh ke arah Hu Liena yang masih berbicara dengan Putra Pertamanya.


"Kau lihat itu, Kasim? Putrinya Perdana Menteri baik-baik saja, dan tentang masalah Ibunya, Nyonya Lilian sudah meninggal puluhan tahun yang lalu."


Kasim menjadi serba salah begitu mendengar perkataan Kaisar. Dia ingin menolak, tapi itu benar adanya. Dia ingin mengiyakan, tapi perempuan tadi bilang jika dia Istrinya Perdana Menteri.


"Hamba, hamba minta maaf Yang Mulia!" Kasim tadi akhirnya berlutut memohon pengampunan atas perkataannya yang sebelumnya.


"Sudahlah, kau boleh memanggil Tabib. Aku tidak mau, ada orang yang meninggal di dalam Istana." Ujar Kaisar yang memutuskan memberi ijin kepada Kasim untuk memanggil Tabib untuk Xiulin.


Tadinya Kaisar berniat untuk tidak mengijinkannya.


Namun Permaisuri meminta secara pribadi, untuk mengobati orang pingsan tersebut. Permaisuri beralasan, tidak ingin nama Istana tercemar karena ada orang yang terluka di dalam Istana. Jika itu sampai terjadi, mungkin orang-orang akan mempermasalahkan tentang hal ini.


"Terima kasih, Yang Mulia Kaisar!" Kasim merasa lega dengan keputusan pemimpin Negaranya.


Jika gadis yang sedang sakit itu sampai terlambat di obati, mungkin dia tidak akan tertolong lagi.


Bukan masalah itu sebenarnya yang di takutkan oleh sang Kasim, tapi karena sekarang ada tamu dari Negara lain di Istana. jika mereka sampai menyebarkan berita ini, mungkin Negara-Negara tetangga akan menggunakan kesempatan ini, untuk menjatuhkan reputasi Kaisar dan keluarga Kerajaan.