Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
156. Pengobatan luka Hu Liena.


Saat Xiulin masih termenung di ruang kurungannya yang baru, di tempat lain, Tabib Hong kini tengah sibuk mengobati luka Hu Liena yang tak kunjung juga darahnya berhenti keluar.


"Putri, bagaimana ini? Semua cara telah 'ku lakukan untuk menghentikan pendarahan. Namun tetap saja, darahnya tidak mau berhenti dan tetap merembes keluar." tutur Tabib Hong yang mulai cemas karena Hu Liena sudah semakin pucat.


"Suruh mereka semua untuk keluar, kecuali Pangeran Jun." jawab lirih Hu Liena.


Tabib Hong mengangguk, lalu dia menginstruksikan semua orang untuk meninggalkan ruangan, dengan alasan dia ingin lebih fokus kepada pengobatan.


"Apa yang terjadi? Mengapa keadaan Putri semakin melemah?" tanya Li Junjie yang mulai cemas.


Hu Liena berusaha bangkit dari tempat tidurnya, Li Junjie dengan sigap menopang tubuh Hu Liena agar tidak mudah ambruk karena sang calon Istri tampak lemas dan tidak berdaya.


"Pangeran, tolong bantu aku untuk masuk ke dalam ruang dimensi rahasia." ucapnya perlahan.


Li Junjie mengangguk, dia mengerti dengan maksud Hu Liena. mungkin dia ingin mengambil obat-obatan untuk dirinya sendiri, namun dirinya terlalu lemah untuk bisa berdiri dan berkeliling di dalam sana.


"Anda juga boleh ikut, Tabib." lanjut Hu Liena yang di balas anggukkan kepala Tabib Hong.


Dengan sisa-sisa tenaganya, Hu Liena lalu membawa kedua orang tersebut untuk memasuki ruang dimensi rahasia.


Wuusshhh!


Ruangan kamar yang mewah, kini berganti dengan ruangan besar yang di penuhi dengan banyaknya obat-obatan hanya dalam hitungan detik saja.


Tabib Hong tercengang, meskipun dia sudah mengetahui dari awal, bahwa Hu Liena memiliki ruang dimensi rahasia. Namun ini adalah pertama kalinya, Tabib Hong melihat sendiri ruang dimensi rahasia tersebut.


Dan yang lebih mengejutkannya, semua obat-obatan di sana berbentuk pil dan juga sirup. Tidak ada yang berbentuk tanaman, ataupun ramuan seperti yang sering dia siapkan selama ini ketika mengobati pasien di kerajaan Ying.


"Nona, apa yang harus lakukan di dalam ruangan yang di penuhi obat-obatan ini?" tanya Tabib Hong kebingungan.


Pasalnya, Tabib Hong tidak tahu harus mulai dari mana mencari obat-obatan yang akan dia pergunakan untuk mengobati Hu Liena jika rak serta ruangannya saja sangat besar. Jangankan mencari obat, di suruh mencari pintu keluar saja mungkin Tabib Hong akan tersesat.


Hu Liena masih terduduk lemas di bantu oleh Li Junjie yang dengan setia menopang tubuhnya agar tidak terkulai di lantai, lalu menunjuk ke deretan rak-rak besar yang berisi obat-obatan cair.


"Di sebelah sana, anda akan menemukan banyak antiseptik untuk mengobati luka luar. Dan di bagian sebelahnya lagi, anda akan menemukan banyak pil antibiotik untuk mencegah infeksi dari dalam." tutur Hu Liena yang langsung di pahami oleh Tabib Hong.


"Pangeran, tolong antar aku pergi kesana!" pinta Hu Liena sesaat setelah Tabib Hong pergi ke tempat yang dia tunjukkan.


Tanpa banyak bicara, Li Junjie langsung melakukan apa yang di minta oleh Hu Liena.


"Cukup, di sini saja!" ucap Hu Liena saat mereka berdua tiba di dekat sebuah brankas kecil.


Li Junjie lalu menurunkan tubuh Hu Liena dari gendongannya, karena tak mungkin juga dia membiarkan Hu Liena berjalan ketika sedang dalam keadaan lemah seperti itu.


Hu Liena mengulurkan tangan untuk membuka pintu brankas, lalu mengambil beberapa peralatan yang dia butuhkan untuk melakukan hecting atau alat-alat kedokteran untuk melakukan penjahitan luka.


Tak lupa juga Hu Liena membawa beberapa toples kecil cairan anestesi untuk dirinya gunakan nanti, saat proses hecting berlangsung.


Meskipun lukanya tidak terlalu lebar, namun jika di biarkan terbuka, Hu Liena takut akan mengalami infeksi yang meradang.


Jadi dia memilih untuk melakukan hecting untuk lukanya sendiri. Jika Tabib Hong bisa membantunya, Hu Liena akan sangat bersyukur sekali. Jika tidak, dia akan melakukannya seorang diri.


"Putri, aku sudah mengambil beberapa obat yang mungkin akan anda butuhkan nanti." ucap Tabib Hong setelah dirinya berada di dekat Hu Liena.


Wuusshhh!


Tubuh mereka bertiga kembali berpindah tempat dalam sekejap ke kamar yang sebelumnya mereka berada sebelum memasuki ruang dimensi rahasia.


Li Junjie lalu kembali merebahkan Hu Liena di tempat tidurnya, dan memilih untuk mundur agar Tabib Hong bisa secepat mungkin melakukan pengobatan terhadap luka-luka yang di derita oleh calon Istrinya tersebut.


"Maaf, Putri. Apa yang harus hamba lakukan dengan semua alat-alat ini?" tanya Tabib Hong kebingungan.


Selama dia berkecimpung di dunia pengobatan, ini kali pertama Tabib Hong melihat begitu banyak alat yang tidak tahu harus di gunakan seperti apa.


"Itu alat untuk menjahit luka, Tabib. Jika kau tidak berani melakukannya, aku bisa melakukannya sendiri." tutur Hu Liena yang membuat Tabib Hong menjadi tercengang.


Menjahit luka?! Bagaimana mungkin?! Selama berada di dunia medis, aku belum pernah sama sekali melakukannya, batin Tabib Hong.


Dengan tangan yang gemetar, Tabib Hong membuka kotak yang terdapat banyak alat medis yang belum pernah di lihat sebelumnya.


Hanya benang saja yang Tabib Hong tahu, selain dari itu, tak ada lagi alat yang dia kenal.


"Gunakan ini terlebih dahulu, sebelum menjahit lukanya." ucap Hu Liena sambil menyodorkan toples obat anestesi.


Tabib Hong mengangguk patuh, lalu dia melakukan seperti apa yang Hu Liena beritahukan kepadanya.


Selain menggunakan jarum anestesi, Tabib Hong juga mendapatkan pelajaran cara menjahit luka yang benar dari Hu Liena.


Kini kekaguman Tabib Hong bertambah, selain dia bisa mendapatkan berbagai macam jenis resep obat. Tabib Hong juga mendapatkan banyak pembelajaran yang bisa dia ambil, ketika bersama dengan gadis yang telah di ramalkan oleh para leluhurnya tersebut.


"Huh! Selesai juga akhirnya!" ucap Tabib Hong sambil mengelap peluhnya sendiri.


Setelah bekerja dengan sangat keras, Tabib Hong akhirnya bisa menyelesaikan proses penjahitan.


Luka yang tadinya terkuak, kini telah selesai dia jahit dengan menggunakan metode yang di ajarkan secara instan oleh Hu Liena.


Ini merupakan terobosan terbaru bagi Tabib Hong, untuk meningkatkan pengetahuan medisnya di dunia pengobatan. Dengan memakai cara yang di ajarkan oleh Hu Liena, Tabib Hong yakin, akan semakin banyak yang bisa dia lakukan untuk semua rakyat di kerajaan dinasti Ying yang membutuhkan pertolongannya dalam bidang ilmu pengobatan.


"Kalian berdua boleh keluar, aku ingin beristirahat sebentar." ucap Hu Liena yang masih tampak lemas.


Tabib Hong mengangguk, lalu mengajak Li Junjie untuk meninggalkan ruangan.


Awalnya, Li Junjie ingin menolak ajakan dari Tabib Hong karena masih mengkhawatirkan kondisi calon Istrinya tersebut.


Namun setelah Tabib Hong menjelaskan kondisinya, Li Junjie akhirnya pasrah dan mengikuti langkah kaki Tabib Hong dari arah belakang meninggalkan Hu Liena yang dengan tenang memejamkan matanya di atas tempat tidur.


"Tabib, bagaimana dengan keadaan menantuku?"


Baru saja Tabib Hong keluar ruangan, dia sudah langsung di sambut oleh pertanyaan Kaisar Li Jinhai yang tampak mengkhawatirkan keadaan Hu Liena.


"Tabib Hong sudah bekerja dengan sangat keras, akan lebih baik jika Ayah membiarkannya beristirahat untuk saat ini." ucap Li Junjie yang berjalan dengan tenang di belakang.


"Tapi, Nak! Menantuku- ...,"


"Menantu Ayah baik-baik saja, dia sedang tidur sekarang." Li Junjie langsung memotong ucapan Kaisar Li Jinhai sekaligus memberitahunya tentang situasi terkini Hu Liena.