Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
146. Menyusup ke pemandian mata air murni.


Menjelang pagi, Hu Liena beserta Li Junjie dan juga Qian Yingzhi. Mulai bergerak menjalankan rencana mereka untuk memasuki kawasan bukit Wuya secara diam-diam sebelum rombongan Kaisar dan yang lainnya datang.


Mereka sengaja mengambil jalan memutar, dengan bermodalkan Qian Yingzhi sebagai penunjuk jalan di daerah sana.


Hu Liena sekarang berpenampilan layaknya seorang Tuan Muda dengan pakaian yang sangat cocok dengan tubuhnya.


Bedanya, kulit Hu Liena terlihat sedikit hitam karena dia memakai krim berwarna gelap akan warna kulit putihnya tidak terlalu mencolok.


"Ke arah mana lagi kita?" bisik Hu Liena kepada Qian Yingzhi yang berada di depannya.


"Harusnya, di sini ada sebuah lorong yang langsung menghubungkan jalan ke area pemandian." balas Qian Yingzhi sambil mengingat-ingat area sekitar.


"Lewat sini!" ajak Qian Yingzhi saat sudah menemukan apa yang dia cari.


Suara gemericik air mulai terdengar di setiap langkah mereka bertiga. Itu menandakan, jika mata air murni yang mereka tuju sudah tidak jauh lagi dari tempat tersebut.


"Itu, di sana!" tunjuk Qian Yingzhi saat melihat sebuah kolam pemandian yang tampak segar airnya.


"Menurutmu, ini pemandian Kaisar, atau perempuan?" tanya Hu Liena penasaran.


Tujuan utama mereka bukanlah Kaisar Wuya, melainkan Yueqin dan juga Putrinya.


Akan lebih aman, jika mereka langsung membekuk kedua orang Ibu dan Anak tersebut.


Jika menyinggung Kaisar, bukan hanya tidak akan berhasil. Mereka bahkan akan terkurung selamanya di kerajaan tersebut, dan menerima hukuman yang berat karena telah berani menyusup ke kerajaan lain tanpa ijin.


Masalah internal di kerajaan tersebut, selama mereka tidak mengusik kerajaan Ying dengan mempermasalahkan Putranya Pangeran Chunian yang di tangkap. Mereka juga tidak akan mencampuri urusan kerajaan tersebut.


Mau pejabatnya yang tidak bermoral, atau sekalipun Kaisarnya yang tak berperasaan, itu bukan menjadi urusan Hu Liena dan dua yang lainnya.


Urusan mereka di sana hanyalah, menangkap Yueqin dan juga Xiulin untuk di bawa kembali dan di adili di kerajaan Ying.


"Seingatku, ini pemandian untuk para calon Selir, atau Permaisuri. Pemandian untuk Yang Mulia Kaisar, ada di sebelah sana!" bisik Qian Yingzhi sambil menunjuk ke sebuah pohon besar yang lumayan jauh dari tempat mereka berada saat ini.


Hu Liena mengangguk puas, karena jarak pemandian Yueqin dan Kaisar lumayan jauh.


Jadi dirinya bisa merasa lebih tenang dalam merencanakan penangkapan Ibu dan Saudara tirinya tersebut.


"Siapa di sana?" teriak seorang prajurit yang sedang berpatroli.


Hu Liena dan Li Junjie, juga Qian Yingzhi, langsung bersembunyi di balik semak belukar untuk menyamarkan keberadaan mereka.


"Ada apa?" tanya prajurit yang lain penasaran karena teman mereka berlari datang memasuki pemandian calon Selir mereka.


"Aku seperti mendengar ada orang di sini!" jawab si prajurit dengan tegas.


"Cari ke seluruh sudut tempat ini! Jika benar ada orang, tangkap dan kurung dia!" perintah prajurit yang bersikap seperti pemimpin dari yang lainnya.


Hu Liena menyentuh masing-masing tangan Li Junjie dan Qian Yingzhi.


Wuusshhh!


Mereka bertiga memasuki ruangan dimensi rahasia dalam sekejap mata.


"Eh, di mana ini?" tanya Qian Yingzhi terkejut karena dirinya memasuki ruangan asing.


Rak obat tinggi menjulang yang berjejer di setiap rungan. Alat-alat yang entah di gunakan untuk apa juga, banyak terdapat di ruangan tersebut.


Qian Yingzhi bahkan beberapa kali harus mengucek-ngucek matanya karena merasa tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.


"Ini tempat rahasiaku, Pangeran! Pangeran Jing, Putri Jiang dan Adikmu juga, aku pindahkan ke tempat ini." tutur Hu Liena yang membuat Qian Yingzhi membelalakkan mata.


"Apa benar? Lalu, di mana mereka bertiga? Dan kenapa anda membawaku ke tempat ini juga?" ucap Qian Yingzhi mengutarakan rasa kepenasarannya kepada Hu Liena.


"Jika Putri tidak membawamu ke tempat ini, lalu kita bersembunyi di mana? Saat para prajurit menggeledah pemandian tadi." ucap Li Junjie menyindir keras pertanyaan Qian Yingzhi.


Qian Yingzhi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ucapan Pangeran Jun memang masuk akal, dengan situasi yang sangat mendesak seperti tadi, harusnya dia berterima kasih kepada Putri Xia karena telah mau membawanya ke tempat yang di rahasiakan.


Jika saja Putri Xia bersikap egois, dan meninggalkannya di pemandian tadi, bukan tidak mungkin dirinya akan tertangkap, bukan?


"Sudahlah, jangan di masukkan ke dalam hati. Sekarang, ikuti aku!" potong Hu Liena sambil berjalan ke sebuah rak yang paling tinggi.


Li Junjie bergerak mengikuti kemanapun langkah Hu Liena pergi, di ikuti oleh Pangeran Qian Yingzhi yang masih bingung dengan kejadian yang di alaminya.


Kreettt!


Hu Liena mendorong pintu yang terbuat dari besi, sepertinya pintu tersebut menghubungkan mereka ke sebuah ruangan lain.


"Mereka!" Qian Yingzhi terkejut begitu melihat ketiga orang yang di carinya kini ada di sana.


Tertidur lelap, di atas tempat tidur yang terbuat dari besi dan memiliki bulatan kecil seperti roda di ke empat kaki-kakinya.


"Mereka aman di sini! Nanti, setelah kita keluar dari kerajaan Wuya, aku akan mengeluarkan mereka." tutur Hu Liena.


Qian Yingzhi mengangguk, dia semakin yakin dengan kekuatan Hu Liena dan juga Pangeran Jun.


Sepasang calon pengantin, yang juga pernah menyelamatkan nyawanya waktu sedang terluka saat pelarian dari kejaran anak buah Putri Song Qian.


"Sampai kapan kita harus berada di tempat ini, Putri?" tanya Li Junjie sambil mendudukkan dirinya di kursi yang berada di sudut ruangan.


"Mungkin sebentar lagi!" ucap Hu Liena sambil mengumpulkan beberapa jarum suntik, dan beberapa toples kecil anestesi.


Qian Yingzhi memperhatikan setiap gerak-gerik Hu Liena tanpa mengatakan sepatah katapun juga dari mulutnya. Dia merasa tertarik, dengan kegiatan yang di lakukan Hu Liena. Tangannya begitu terampil, dan seperti sudah terbiasa melakukannya.


Apa Putri Xia seorang Tabib? pikir Qian Yingzhi.


Namun, pertanyaan di dalam pikirannya tersebut, tidak sekalipun Qian Yingzhi ucapkan.


Dia lebih memilih untuk diam, dan memperhatikan setiap gerakan Hu Liena dengan seksama.


Sadar sedang di perhatikan, Hu Liena lalu membuka mulutnya untuk bersuara memberitahukan tentang apa yang sedang di lakukannya.


"Ini adalah obat bius! Jika kau terkena sedikit saja ujung jarumnya, maka kau akan langsung jatuh pingsan." ucap Hu Liena sambil mengacungkan satu buah jarum suntik agar Qian Yingzhi bisa melihatnya dengan jelas.


Menggigil, itu yang di rasakan tubuh Qian Yingzhi saat Hu Liena mengangkat jarum ke arahnya.


Apalagi, setelah dia tahu fungsi dari benda tersebut adakah unyuk menyalurkan obat bius.


Putri Xia orang yang benar-benar tidak boleh di singgung sama sekali, batin Qian Yingzhi.


"Ayo, kita kembali!" ajak Hu Liena setelah selesai menyiapkan barang-barang yang dia butuhkan.


Saat mereka ingin kembali keluar dari ruang dimensi, sudut mata Hu Liena menangkap sebuah toples berwarna putih yang mengandung bahan kimia yang sangat tinggi dosisnya.


Jika cairan tersebut di tuang ke dalam air dalam jumlah banyak, tentu akan menimbulkan reaksi gatal yang sangat menyiksa bagi orang yang menggunakan air tersebut.


Dengan senyum jahat menghiasi wajah cantiknya, Hu Liena lalu meraih botol putih dan pergi keluar dari dimensi rahasia.


Wuusshhh!


Sosok mereka bertiga kembali muncul di ruang pemandian mata air murni di bukit Wuya.


Para prajurit yang banyak tadi, sudah pergi entah kemana saat ini.


"Kaisar Wu, dan calon Selir telah tiba!"


Teriak seorang Kasim memberitahukan kedatangan rombongan Kaisar kepada orang-orang di sana.


"Mau kemana, Putri?" tanya Li Junjie cemas saat Hu Liena malah keluar dari persembunyian mereka.


"Sebentar, aku kembali!" ucap Hu Liena sambil berlari ke arah kolam pemandian.


Setelah dia selesai menuangkan cairan kimia tersebut, Hu Liena berlari kembali ke tempat persembunyiannya.


"Bersiaplah, akan ada pertunjukan setelah ini!" ucap Hu Liena dengan antusias.