Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
56. Changyong.


Tabib kerajaan memeriksa keadaan Xiulin dengan seksama.


Dahi sang Tabib berkerut tebal ketika memeriksa luka-luka yang ada di tubuh Xiulin.


"Bagaimana? Bagaimana kondisi Putriku, Tabib?" Tanya Yueqin yang benar-benar cemas dengan keadaan Putrinya.


Tanda-tanda penyakit Xiulin sama persis dengan tanda-tanda yang akan terjadi dengan Hu Liena jika menggunakan sabun rempah yang dia berikan.


Tabib kerajaan menggeleng, kerusakan di kulit Putri Perdana Menteri kian parah. Dia tidak bisa mengobatinya secepat yang di inginkan.


"Kondisi lukanya benar-benar mengerikan, Putrimu terkena ekstrak minyak daun Parsnip Liar. Dan itu harus melalui penanganan yang lebih serius lagi."


Yueqin menjadi panik, ia tidak menyangka jika racun yang di siapkan untuk Hu Liena malah terkena Putrinya sendiri.


"Tabib, tolong sembuhkan Putriku. Aku akan membayar berapapun yang kau mau, asal Putriku kembali sembuh seperti semula." Ucap Yueqin yang di balas dengan gelengan kepala oleh Tabib.


"Saya ini hanya Tabib kerajaan, dan bukan wewenang saya memutuskan hal itu sendiri."


Yueqin semakin panik, kondisi Putrinya juga semakin kritis.


Seorang Kasim mendekati Yueqin dan berkata dengan suara pelan.


"Maaf Nyonya, sebaiknya anda bergegas. Kaisar tidak ingin acara jamuan ini rusak, karena masalah Putri anda."


Yueqin ingin berteriak memaki Kasim yang mengatakan hal itu padanya. Namun dia tahan, karena masih berada di lingkungan Istana.


"Baik, terima kasih atas kepedulian Yang Mulia Kaisar." Ucap Yueqin pasrah.


Dia lalu meminta beberapa penjaga untuk membawa Xiulin keluar dari ruang perjamuan.


Sesampainya di lorong Istana, terlihat Bibi Kiew sedang duduk bersama para pelayan lain yang menunggu para majikannya.


Sesuai peraturan Istana, para pelayan yang ikut kepada para Tuan, di haruskan menunggu di tempat yang sudah di siapkan oleh pihak Istana.


Yueqin langsung meminta seseorang untuk memanggil Bibi Kiew yang saat ini tengah berbicara dengan kepala pelayan di kediaman Menteri departemen Pertanian.


"Hormat hamba Nyonya!" Ujar Bibi Kiew ketika sudah berada di hadapan Yueqin.


"Ayo kita pergi dari sini!" Ajak Yueqin dengan muka masam.


Bibi Kiew mengangguk, lalu berniat mengikuti langkah majikannya. Namun langkahnya terhenti, karena iring-iringan orang yang mengusung tandi lewat di hadapannya.


Alangkah terkejutnya Bibi Kiew, setelah melihat orang yang ada di atas tandu tersebut.


"Nona Xiulin!" Ucap Bibi Kiew yang kaget melihat ruam merah di sekujur tubuh Xiulin.


Setelah tandu itu berada di depan, Bibi Kiew langsung mengejar di belakangnya.


"Nona!" Bibi Kiew terlihat sedih melihat keadaan Xiulin yang seperti ini.


Para penjaga yang mengusung tandu sudah sampai di kereta kuda milik Perdana Menteri.


Mereka sengaja memilih kereta yang di pakai Hu Boqin sebelumnya, agar keretanya lebih luas dan leluasa. Apalagi, tubuh Xiulin masih terbaring di atas tandu. Jadi tidak memungkinkan untuk mereka menaiki kereta kuda yang lebih kecil dari ini.


Setelah semua orang naik ke atas kereta, Yueqin menyuruh kusir untuk segera melajukan kereta kuda.


"Nyonya, apa yang terjadi dengan Nona?" Tanya Bibi Kiew yang terlihat cemas.


Bukannya menjawab, Yueqin justru menampar Bibi Kiew dengan keras.


PLAKK~


Bibi Kiew langsung terjatuh di lantai kereta, saking kerasnya tamparan Yueqin di pipinya.


"Nyonya, kenapa? kenapa, anda memukul hamba?"


"Kenapa kau bilang? Putriku seperti ini karena minyak racun itu! Dan kau masih tanya, kenapa? Ciihhh ... bodoh!" Bentak Yueqin geram.


Bibi Kiew memegangi pipinya yang terasa panas.


"Nyonya, ini bukan salah hamba." Sangkal Bibi Kiew.


PLAKK~


PLAKK~


Bibi Kiew mengerang kesakitan karena tamparan keras dari Yueqin.


Usianya yang tak muda lagi membuat daya tahan tubuhnya tak bisa lagi menahan rasa sakit.


"Ampun Nyonya! Ampun!" Rintih Bibi Kiew pilu.


"Ibu ... panas!" Di tengah-tengah rintihan Bibi Kiew, terdengar suara Xiulin yang menyayat hati.


Yueqin tadinya ingin menampar kembali pelayan setianya itu.


Namun begitu mendengar suara Putrinya yang mengerang kesakitan, tak ayal membuat Yueqin merasa sakit hati.


"Kau dengar itu? Putriku kesakitan seperti ini gara-gara ide gilamu! Masih untung aku hanya memukulmu, bukan membunuhmu!" Hardik Yueqin dengan mata membelalak karena marah.


Bibi Kiew meringis mendengar makian dari majikannya itu.


Maksud dari Bibi Kiew memberi Hu Liena minyak ekstrak Parsnip Liar juga hanya membantu Yueqin balas dendam. Bukan maksud dirinya untuk membuat Xiulin celaka.


Lagipula, minyak itu untuk Hu Liena!


Kalaupun Xiulin tak sengaja memakainya, itu bukan salah Bibi Kiew. Salahkan saja Xiulin yang ceroboh, dan tak bisa melakukan semuanya dengan benar.


Tak selang berapa lama, kereta yang membawa Yueqin akhirnya tiba di kediaman Perdana Menteri.


Semua orang yang melihat kondisi Xiulin bergidik ngeri, dan juga merasa jijik dengan benjolan-benjolan nanah yang mulai keluar dari kulit Xiulin.


Mereka semua seperti enggan membantu Xiulin karena rasa jijik mereka.


"Apa yang kalian lihat! Cepat bawa Nona masuk ke dalam, dan panggil Tabib Hong secepatnya." Bentak Yueqin kepada para pelayan.


Bentakan Yueqin sontak membuat semua para pelayan yang tadinya sedang berbisik, langsung bergegas melakukan tugas yang di perintahkan.


Meskipun begitu, ada beberapa dari mereka yang mensyukuri kejadian ini.


Terutama para pelayan yang pernah mendapatkan hukuman dari Xiulin.


Mereka dengan berbangga hati mendo'akan Xiulin agar tak bisa sembuh lagi, atau cacat selamanya.


Agar Xiulin tidak bisa lagi menyiksa mereka di kemudian harinya.


Di sudut halaman, seorang gadis yang sedang menangis, langsung terdiam begitu mendengar kabar tentang kepulangan Xiulin.


"Changyong, berhentilah menangis. Nona Xiulin sudah datang, cepatlah pergi kesana, dan memohon kepada Nona Xiulin agar Adikmu di bebaskan."


"Benarkah? Di mana dia sekarang?" Tanya gadis yang bernama Changyong dengan antusias.


Dia sudah beberapa hari ini tidak melihat kehadiran sang Adik yang sama juga bekerja di kediaman Perdana Menteri sebagai pelayan dengannya.


Dan Adik Changyong saat ini belum di ketahui keberadaannya setelah di sekap oleh Xiulin untuk di jadikan pelampiasan amarahnya.


Changyong bahkan rela melakukan tugas berbahaya dari Yueqin untuk mengirim sabun yang berisi minyak ekstrak Parsnip Liar kepada Hu Liena.


Dengan syarat, agar Yueqin bisa membantunya menolong sang Adik dari cengkraman Xiulin yang kejam, dan tak berprikemanusiaan.


Namun tak di sangka, Yueqin hanya memanfaatkan kelemahannya saja.


Adiknya bahkan sampai saat ini belum terdengar kabarnya sedikit 'pun.


Bahkan Changyong sudah berusaha menyelinap ke ruangan Xiulin pagi ini, namun tetap, Adiknya tidak di ketemukan juga.


Changyong merasa putus asa, Adiknya adalah sisa keluarga dia satu-satunya.


Jika sampai sang Adik meninggal, Changyong pasti akan merasa kesepian.


"Dia sedang di tandu, dan di bawa ke paviliun timur milik Nyonya." Jelas teman Changyong.