Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
80.Cepat buka baju!


Sore harinya, setelah pulang dari pasar, Hu Liena meminta Luqiu dan Bao-Yu untuk tidak menganggunya di malam hari.


Setelah semua sesuai rencana, Hu Liena segera bersiap untuk pergi ke kediaman Pangeran Jun.


"Putri, hamba datang untuk menjemput anda!" Ucap Bingwen yang menunggu Hu Liena di balik dinding belakang kediaman Perdana Menteri.


"Kenapa sampai di jemput segala, aku bisa pergi sendiri." Hu Liena tampak kesal kepada Bingwen.


"Maafkan hamba, Putri. Hamba hanya menjalankan perintah saja ...," Kata Bingwen yang merasa serba salah.


Hu Liena memutar mata malas, dia sudah menduga jika Li Junjie akan melakukannya tanpa dia minta.


"Sudahlah, ayo jalan!" Kata Hu Liena pasrah.


Bingwen mempersilahkan Hu Liena masuk ke dalam kereta kuda. Setelah memastikan semuanya aman, Bingwen lalu melajukan kereta kuda tersebut dengan kecepatan sedang.


Di tempat lain...


"Di mana Putri Xia? Apa dia belum sampai juga?" Tanya Li Junjie yang mulai resah.


Guotin menghela nafas panjang ketika Li Junjie menanyakan hal itu padanya.


Bukan apa-apa, ini adalah pertanyaan Li Junjie yang kesekian kalinya kepada Guotin. Padahal dia sudah bilang, jika Putri Xia sedang dalam perjalanan. Dan kemungkinan, akan datang beberapa saat lagi.


Masih saja Pangerannya ini, menanyakan tentang Putri Xia.


"Yang Mulia, mungkin sebentar lagi Putri akan sampai!" Ucap Guotin dengan sabar.


Baru saja dia selesai berbicara, terdengar suara Bingwen datang memberikan laporan.


"Yang Mulia, Putri Xia meminta ijin untuk menemui anda!"


"Masuklah!" Balas Li Junjie dengan penuh semangat.


Setelah Hu Liena memasuki ruangan, Guotin 'pun pamit kepada majikannya.


"Kau kemana saja? Mengapa lama sekali membawa Tuan Putri kemari?" Tanya Guotin yang kesal dengan rekan kerjanya, Bingwen.


"Bukan aku! Tuan Putri yang berlama-lama!" Sangkal Bingwen membela diri.


Di dalam ruangan, Hu Liena berjalan menghampiri sebuah kursi di sebelah Li Junjie.


"Apa anda siap, Pangeran?" Tanya Hu Liena dengan santainya.


"Sangat siap!" Jawab Li Junjie bersemangat.


"Baguslah! Sekarang, tolong tutup matamu!" Perintah Hu Liena.


Tanpa ragu, Li Junjie menutup matanya. Dan menyerahkan semua rasa kepercayaan, kepada Hu Liena sepenuhnya.


Hu Liena meraih tangan Li Junjie dengan tangannya yang sebelah kiri, dan tangan kanannya, dia pergunakan untuk menyentuh liontin kalung dimensi rahasia.


Woosshhh...


Mereka berdua berpindah tempat dengan sangat cepat. Dan sekarang, telah memasuki dimensi rahasia tanpa ada hambatan sama sekali.


"Huhhhh ...," Hu Liena membuang nafas kasar saat mengetahui dirinya telah berhasil membawa Li Junjie ke tempat rahasianya.


"Bukalah!" Li Junjie 'pun membuka mata setelah di suruh oleh Hu Liena.


"Di mana ini?" Tanya Li Junjie heran.


"Ini adalah dimensi rahasia milikku! Kau harus berjanji, untuk merahasiakan tempat ini dari siapapun!" Tegas Hu Liena.


"Tanpa di minta sekalipun, aku akan merahasiakannya." Ucap Li Junjie yang membuat Hu Liena mengangguk puas.


Hu Liena bangkit, dan berjalan menuju ruang pasien rahasia yang baru di temukannya tadi siang.


"Kemarilah!" Panggil Hu Liena setelah semua persiapan rampung.


Li Junjie menurut, dia 'pun datang menghampiri Hu Liena.


"Buka baju!" Perintah Hu Liena tegas.


"Pangeran! Cepat buka bajumu!" Ucap Hu Liena sekali lagi.


"Putri, ini ...," Balas Li Junjie penuh keraguan.


Hu Liena baru sadar, jika Li Junjie sekarang ini merasa malu kepadanya.


"Aku akan keluar, dan kembali setelah kau siap!" Hu Liena berucap sembari berjalan menuju pintu keluar.


Li Junjie termenung sendirian di ruangan itu tanpa bergerak sedikitpun.


Dia ingin menuruti perintah Hu Liena, tapi merasa malu. Tapi kalau diam saja di situ, bagaimana cara Hu Liena mengeluarkan racunnya. Sedikit banyaknya, Li Junjie tahu cara mengeluarkan racun dari pria yang telah menyelamatkannya dulu.


Pria itu melakukan hal yang sama, seperti Hu Liena memperlakukannya sekarang.


Perlahan, Li Junjie menggerakkan tangannya untuk melepas satu-persatu pakaian yang menempel di tubuhnya.


"Aku sudah siap!" Teriak Li Junjie.


Meskipun tidak keras, tapi teriakan itu bisa terdengar oleh Hu Liena dengan jelas. Terbukti, dia langsung datang ke dalam ruangan dan menghampiri Li Junjie.


"Bersiaplah, aku akan segera melakukan pengobatan!" Ucap Hu Liena sembari menyimpan semua peralatan yang dia bawa.


Setelah Li Junjie berada dalam posisi pas, barulah Hu Liena mengeluarkan jarum emas yang telah dia siapkan. "Bertahanlah, ini akan sedikit menyakitkan."


Hu Liena menusukkan 107 jarum di titik akupuntur Pangeran Jun. Jarum yang ke 108, Hu Liena tusukkan tepat di jari telunjuk.


Seketika, darah hitam mulai keluar dari ujung jari telunjuk Pangeran Jun, tanda racun ikut terbuang bersama darah yang keluar itu.


Beberapa saat 'pun berlalu, kemudian Hu Liena mencabut jarum emas miliknya satu-persatu.


"Aku akan menunggu di luar!" Kata Hu Liena sembari berjalan meninggalkan Li Junjie seorang diri.


Li Junjie bangkit, dan mengenakkan kembali pakaiannya.Setelah itu, dia keluar menemui Hu Liena.


"Minumlah obat ini ...," Hu Liena menyodorkan sebuah.


Li Junjie meminumnya tanpa ragu.


"Racun di tubuhmu sudah di keluarkan, tapi efeknya masih akan tetap terasa. Aku akan memberimu beberapa pil obat, untuk menekan efek racun tersebut." Kata Hu Liena sembari memeriksa denyut nadi Li Junjie.


"Kalau racunnya sudah keluar, kenapa efeknya masih ada?" Tanya Li Junjie yang heran dengan penuturan Hu Liena.


"Itu karena, racunnya sudah mengendap di dalam tubuhmu terlalu lama. Bahkan racun itu sudah menyatu di dalam aliran darahmu. Oleh sebab itu, kau harus rutin meminum obat penawar racun yang aku buat." Ucap Hu Liena lagi dengan serius.


"Ini! Minumlah obat ini setiap hari pagi dan malam...," Kata Hu Liena sembari menyodorkan botol porselen yang berisi pil.


"Meskipun racun itu masih ada, tapi tidak sampai mengancam nyawa. Kau bisa berumur panjang sekarang, dan jangan takut tentang masalah racun lagi yang akan mengancam hidupmu. Selama tidak ada seseorang yang membunuhmu, nyawamu itu akan tetap aman." Ucap Hu Liena kemudian.


Li Junjie mengangguk, lalu menyimpan botol porselen yang di berikan oleh Hu Liena.


"Sebaiknya, kita keluar dari tempat ini sekarang. sebelum ada orang yang curiga." Ucap Hu Liena sambil meraih tangan Li Junjie.


Dia lalu meminta Li Junjie untuk memejamkan mata, dan melakukan hal yang sama seperti waktu mereka datang ke dimensi rahasia.


Woosshhh...


Li Junjie dan Hu Liena telah kembali ke tempat semula.


"Bukalah matamu, Pangeran!" Kata Hu Liena sambil bangkit berdiri.


"Mau kemana?" Tanya Li Junjie yang heran karena Hu Liena seperti sedang bersiap.


"Pulang!" Balas Hu Liena datar.


"Tetaplah di sini, dan beristirahatlah!" Pinta Li Junjie.


Dia sungguh tak mau berpisah dengan Hu Liena.


"Di sini?" Tanya Hu Liena kebingungan.