Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
38. Pria tampan di kegelapan.


Tidak di sangka-sangka oleh Li Junjie, jika gadis yang akhir-akhir ini selalu menghindar darinya, akan sangat tulus mengucapkan janji itu padanya.


Dia merasa sangat terharu, ucapan Hu Liena saat ini benar-benar telah menyentuh relung hatinya yang terdalam.


"Terima kasih, Nona!" Ucap Li Junjie seraya menggenggam erat tangan Hu Liena.


Hu Liena tidak menjawab, hanya tersenyum penuh kelembutan ke arah Li Junjie.


Li Junjie membalas senyum Hu Liena, dan kembali berbicara. "Aku jadi tidak sabar, ingin segera menikahimu."


"Ish, kau mulai lagi berbicara omong kosong, Pangeran." Ujar Hu Liena yang pura-pura kesal, ia juga menarik paksa tangannya yang di genggam oleh Li Junjie.


Namun diam-diam, wajah Hu Liena berubah merah karena malu mendengar ucapan Li Junjie tersebut.


Kenapa jantungku jadi berdetak kencang seperti ini, apa jangan-jangan, aku memang suka sama Pangeran mesum ini, batin Hu Liena.


Li Junjie terkekeh, ia senang melihat Hu Liena tersipu seperti ini di hadapannya.


"He-he ... itu benar adanya, bukan? sebentar lagi, kita berdua akan menikah. Dan lagi, waktu tujuh hari itu hanya sebentar, Nona." Goda Li Junjie lagi.


Wuusshhh...


Wajah Hu Liena semakin memerah, kali ini, bahkan lebih merah dari sebelumnya.


"Cepat! antarkan aku pulang!" Ucap Hu Liena, lalu berjalan mendahului Li Junjie.


"Sepertinya, kau malu ini malu padaku ya, Nona." Goda Li Junjie sembari berlari menyusul langkah Hu Liena.


"Diamlah, Pangeran!" Bentak Hu Liena seraya mempercepat laju langkahnya.


"Ha-ha ... aku tidak menyangka, gadis seperti dirimu akan terlihat semakin lucu bila sedang merasa malu seperti itu." Li Junjie semakin gencar menggoda Hu Liena.


"Diam!" Teriak Hu Liena kencang.


Namun, bukan Li Junjie namanya jika takut dengan gertakan dari seorang perempuan. Apalagi, Hu Liena terlihat semakin menggemaskan ketika sedang marah.


Itu membuat Li Junjie semakin bersemangat, untuk menggodanya. "Tapi aku benar 'kan Nona? ha-ha!"


"Tidak! aku tidak malu padamu!" Bantah Hu Liena yang semakin mempercepat langkahnya.


Li Junjie tidak berhenti, dia terus mengejar Hu Liena sambil berkata menggoda.


"Kalau tidak malu, kenapa kau tidak mau menungguku? Setidaknya, berjalan perlahan seperti tadi, agar aku bisa melihat jelas wajah cantikmu itu."


"Aku tidak malu! aku hanya ingin cepat sampai dan beristirahat, aku lelah." Balas Hu Liena.


Sama sekali dia tidak menoleh ke arah Li Junjie, yang saat ini sedang berlari mengejarnya.


"Kalau kau tidak menungguku, aku anggap kau itu benar malu. Ckk ... aku tidak menyangka, Tabib dalam ramalan yang di agung-agungkan itu, akan malu bertemu denganku."


Ucapan Li Junjie seketika membuat Hu Liena terhenti, bukan karena kata malu, tapi karena Li Junjie menyebut Hu Liena Tabib dalam ramalan.


"Pangeran!" Panggil Hu Liena.


Li Junjie mendekat, lalu menjawab panggilan Hu Liena. "Kenapa? apa sekarang kau, akan mengakuinya?"


"Bukan begitu, tapi lain kali, kau harus berhati-hati dengan ucapanmu itu. Bagaimana jika ada orang yang mendengarkan ucapanmu tadi? mereka akan datang untuk mengincarku, mengincar Tabib dalam ramalan." Tutur Hu Liena yang menyadarkan Li Junjie dari kesalahannya.


"Ahhh ... kau benar! maafkan aku!" Ujar Li Junjie menyesali akan kebodohan dirinya.


Hu Liena cemberut, ia ingin marah tapi percuma saja. Untung saja di sana hanya ada mereka berdua, jika tidak, semua orang pasti sudah mengejarnya.


Godaan tentang Tabib dalam ramalan sangatlah kuat, terlalu banyak orang yang akan mengincarnya, jika sampai identitas Hu Liena terbongkar sekarang.


"Sudahlah! Sebaiknya kita cepat pulang!" Ujar Hu Liena yang membuat Li Junjie semakin merasa bersalah.


Hu Liena menarik nafas berat, mungkin Li Junjie tidak mengetahui bahaya yang sedang mengincar dirinya. Dan dia juga tidak menceritakan lebih rinci tentang kekacauan apa saja yang terjadi, jika statusnya sebagai Tabib dalam ramalan di ketahui khalayak ramai.


"Tidak apa-apa, tapi lain kali, kau harus lebih bisa menjaga kata-katamu." Peringat Hu Liena.


"Baik!" Li Junjie mengangguk patuh.


"Ayo, kita segera pergi dari sini!" Ajak Hu Liena seraya kembali melangkahkan kakinya di ikuti oleh Li Junjie dari arah belakang.


Kali ini, tak ada lagi kata, ataupun candaan yang keluar dari mulut mereka berdua.


Pikiran mereka masing-masing, di penuhi dengan berbagai macam pertanyaan yang tak ada habisnya.


Dari kegelapan, seorang pria tampan muncul setelah kepergian Hu Liena dan Li Junjie.


Bibirnya kini menampilkan seringai jahat, dan terdengar ucapan perlahan dari mulutnya.


"Tabib dalam ramalan? Hmm ... Menarik sekali! Ternyata, gadis itu adalah orang yang aku cari-cari selama ini. Aku harus mendapatkannya, aku harus merebutnya dari Pangeran yang penyakitan itu."


Setelah mengatakannya itu semua, pria tampan itupun menghilang kembali di telan kegelapan.


Seandainya Li Junjie melihat pria ini, mungkin dia akan mengenalinya. Sayang sekali, karena Li Junjie terlalu fokus mengejar Hu Liena, sehingga ia tidak merasakan kehadiran orang lain di sekitar mereka.


Keesokan harinya...


Pagi ini, Luqiu sedang sibuk membangunkan Hu Liena. Sejak pagi sampai siang hari, Hu Liena sangat susah untuk di bangunkan.


"Nona! Bangun! Tuan Perdana Menteri sedang menunggu anda di Aula saat ini, tolong bangun, Nona!" Panggil Luqiu berulang-ulang kali.


Namun, Hu Liena tampak tidak terganggu sama sekali. Dia semakin tenang dalam tidurnya, seperti tidak terjadi apa-apa di sekitarnya


"Aduh, bagaimana ini? Tuan Besar pasti marah, jika Nona tidak kunjung datang juga." Gumam Luqiu perlahan.


Luqiu mondar-mandir di dalam kamar Hu Liena, ia kini tengah bingung memikirkan cara untuk membangunkannya.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menyeret, Nona? Ahh, tidak! jangan! nanti aku bisa di hukum." Gumam Luqiu secara terus-menerus.


"Heyy ... kau! mengapa Nona belum datang juga?" Changing yang di perintahkan menyusul ke tempat Hu Liena, langsung berseru ketika melihat Luqiu mondar-mandir dengan raut wajah yang kebingungan.


Luqiu terkejut, ia tidak memperhatikan sekitar, hingga tidak mengetahui kedatangan pengawal Tuan Besarnya.


"Tuan pengawal! maafkan aku!" Ujar Luqiu ketakutan.


"Apa yang harus di maafkan? aku hanya datang untuk memanggil Nona Hu Liena." Ujar Changing dengan wajah penasaran, bisa-bisanya pelayan Nona ketakutan hanya dengan melihatku saja, pikirnya.


Tubuh Luqiu gemetaran, ia takut untuk mengatakan kebenarannya, jika Nonanya kini masih tidur dan susah untuk di bangunkan.


Dia sendiri bingung harus berbuat apa, untuk membangunkan majikannya itu.


Di tambah lagi sekarang, Tuan pengawal datang untuk mencari Nonanya tersebut.


Bagaimana tidak kebingungan dan ketakutan Luqiu jadinya.


"Itu, Tuan pengawal! Nona, belum bangun dari tidurnya ...," Ucap Luqiu yang membuat terkejut Changing.


"Belum bangun?" Tanya Changing heran.


"Iya, Tuan pengawal." Luqiu mengangguk meyakinkan jawabannya.


Kini Changing yang gantian menjadi bingung, dia ikut mondar-mandir seperti Luqiu tadi.


"Bagaimana ini? di Aula sekarang, ada kasim yang di utus oleh Kaisar sedang menunggu Nona." Ujar Changing yang sontak membuat Luqiu panik.


"Kasim? Utusan Kaisar?" Luqiu berubah panik, dia harus cepat-cepat membangunkan Hu Liena sebelum mereka terkena hukuman karena telah mengabaikan utusan sang Kaisar.