Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
126. Pemeriksaan


"Tidak, Jinhai. Aku ingin melakukannya hari ini." ucap Kaisar Qian dengan tatapan sendu.


Tak terbayangkan, betapa sakitnya hati Kaisar Qiang harus menjalani kehidupannya seperti ini.


Pemuda yang dia besarkan sedari bayi, ternyata bukan Putranya yang asli. Melainkan Putra sang Adik yang sengaja di samarkan identitasnya, untuk merebut kekuasaan yang dia pimpin.


Dan mengenai pemuda yang menurut Pangeran Jun adalah Putra kandungnya yang asli, Kaisar Qian belum bisa mengakuinya sekarang.


Dia tidak ingin tertipu lagi untuk yang kedua kalinya di dalam hidup.


Hu Liena menghampiri Qian Yingzhi yang saat ini sedang berdiri tegak dengan bertelanjang dada.


Meskipun terlihat tegar, Hu Liena tahu jika Qian Yingzhi menyimpan luka yang sangat dalam di hatinya.


Bagaimana tidak terluka, dari kecil hingga dewasa Qian Yingzhi hanya merasakan kepahitan di sepanjang kehidupannya.


"Aku mohon, bersabarlah!" ucap Hu Liena perlahan.


"Anda jangan khawatir, Putri. Sejak kecil, aku sudah terbiasa untuk menahan segala sesuatu yang menyakitkan. Apalagi hanya bersabar, aku pasti bisa melewatinya." jawab Qian Yingzhi dengan tenang.


Li Junjie menatap wajah Qian Yingzhi yang menurutnya sangat mirip dengan raut muka Kaisar Qian. Entah kenapa sekarang hati Li Junjie merasa bersimpati kepada Qian Yingzhi.


"Aku tahu, dan aku yakin, kau pasti akan bisa melewati semuanya." balas Hu Liena sambil menepuk bahu Qian Yingzhi.


Li Junjie melirik Hu Liena, yang saat ini sedang berusaha menyemangati Qian Yingzhi. Dia merasa sangat bangga, memiliki calon Istri yang peduli dengan sesama.


Selain itu, Li Junjie juga merasa prihatin dengan kehidupan yang Qian Yingzhi alami. Dan untuk pertama kalinya, Li Junjie tidak merasa marah, ataupun cemburu ketika Hu Liena berdekatan dengan pria selain dirinya. Karena Li Junjie tahu, Hu Liena melakukan itu semua atas dasar kemanusiaan belaka saja.


"Baiklah, aku akan mendukung setiap keputusanmu, Lo Qian. Dan aku berharap, semua masalah yang ada di kerajaanmu, akan segera terselesaikan." ucap Kaisar Li Jinhai menyemangati Kaisar Qian.


"Terima kasih, Jinhai. Aku juga akan banyak merepotkanmu kali ini." balas Kaisar Qian sambil melirik ke arah Qian Yingzhi yang sekarang masih berdiri bersama Hu Liena dan juga Li Junjie.


Kaisar Li Jinhai hanya mengangguk, mengiyakan perkataan Kaisar Long Qian. Bahkan, tanpa Kaisar Qian minta 'pun, Kaisar Li Jinhai akan dengan senang hati membantunya.


"Anak muda, untuk memeriksa semua luka-lukamu, aku akan memanggil beberapa Tabib dari kerajaanku sendiri, dan beberapa Tabib dari kerajaan dinasti Ying.


Itu semua untuk memastikan, apa lukamu itu baru, atau luka lama yang kau terima selama di dalam kurungan dan siksaan Putri Song Qian. Apa kau bisa terima hal itu? Dan apa kau tidak merasa keberatan dengan perlakuanku sekarang? Jika tidak, kau bisa menolaknya!" ucap Kaisar Qian dengan penuh ketegasan.


Sebagai pemimpin suatu Negara, memang sudah sewajarnya dia melakukan hal itu.


Karena menurut Kaisar Qian, keputusan yang akan dia ambil nantinya, bukanlah untuk kepentingan sendiri. Tapi juga untuk seluruh rakyat kerajaan Qian.


Karena yang di carinya sekarang, bukan sekedar Putranya. Melainkan juga, seorang Putra Mahkota di kerajaan Qian yang sekarang di pimpin olehnya.


"Aku tidak keberatan!" jawab Qian Yingzhi tanpa rasa takut atau tertekan sama sekali.


Tatapan Qian Yingzhi yang datar, membuat hati Kaisar Qian semakin sakit. Jika sampai terbukti, pemuda ini ternyata adalah Putranya yang asli. Sungguh, Kaisar Qian tidak akan pernah memaafkan Adik perempuannya, yang telah dengan tega membuat Putranya menjadi seperti ini.


Setelah menerima perintah, si pengawal langsung bergegas keluar dari ruangan.


Dan beberapa saat kemudian, dia datang kembali dengan membawa beberapa orang Tabib yang di minta oleh Kaisar Qian.


Lima orang Tabib yang dia bawa dari kerajaannya, yang sengaja di bawa untuk berjaga-jaga selama dalam perjalanan.


Dan lima orang lagi, Tabib yang di kumpulkan dari kerajaan dinasti Ying. Bahkan Tabib Hong juga ada, di dalam barisan kelima orang Tabib tersebut.


Setelah semua Tabib yang dia butuhkan terkumpul, Kaisar Qian lalu berbicara kepada mereka semua.


"Aku sengaja mengumpulkan kalian di sini, untuk meminta bantuan kalian semua." ucapan Kaisar Qian membuat para Tabib menjadi keheranan.


"Maaf, Yang Mulia Kaisar. Jika kami boleh tahu, apa yang harus kami kerjakan?" tanya salah seorang Tabib dari kerajaan Qian.


"Mudah saja! Aku hanya ingin, kalian memeriksakan kondisi luka yang ada di tubuh pemuda ini. Dan jika kalian sudah siap, kalian bisa memulainya dari sekarang." jawab Kaisar Qian dengan tegas.


Para Tabib saling melirik satu sama lain setelah melihat keadaan Qian Yingzhi, yang tubuhnya di penuhi banyak luka sayatan, dan luka memar.


Tanpa harus mendekat 'pun, para Tabib langsung bisa tahu, jika luka di tubuh si pemuda, bukanlah luka baru yang di dapatkan, melainkan luka lama yang di biarkan begitu saja, tanpa perawatan.


Tapi untuk membuktikan dugaan mereka, Para Tabib akhirnya satu per satu mendekati Qian Yingzhi untuk memeriksa lukanya.


Raut wajah para Tabib menjadi suram begitu melihat dari dekat luka yang ada di bagian dada, perut, dan punggung Qian Yingzhi.


Mereka semua merasa salut, karena pemuda di hadapan mereka sekarang, masih mampu bertahan hidup dengan begitu banyak luka di tubuhnya.


Minimalnya, orang hanya mampu menahan rasa sakit dari satu atau dua luka saja di tubuhnya.


Tapi anak muda ini, bisa bertahan dengan berbagai macam luka goresan, dan juga sayatan yang dalam di atas kulitnya. Sungguh penemuan pertama yang mencengangkan bagi mereka.


Belum lagi luka cambuk, luka bakar, dan beberapa bekas penyiksaan yang lain, yang mereka tidak tahu jenis senjatanya itu apa. Yang jelas, senjata tersebut meninggalkan luka yang sangat dalam.


Di tambah lagi, waktu pemuda tersebut mendapatkan lukanya, itu jelas-jelas menunjukkan waktu yang sangat lama. Mungkin, ketika pemuda ini masih dalam masa pertumbuhan. Dalam kata lain, masih kecil.


"Maafkan kami, Yang Mulia. Kami tidak bisa melanjutkan pemeriksaan ini." ucap salah satu Tabib yang baru sebentar memeriksa Qian Yingzhi.


"Apa maksudmu, Tabib? Apa kau berani melawan perintahku?" tanya Kaisar Qian dengan heran sekaligus marah karena sang Tabib menolak menjalankan perintahnya.


"Bukan begitu, Yang Mulia. Kami ...," sang Tabib tidak melanjutkan kata-katanya.


Dia malah menunduk, dengan airmata yang mulai meluncur dari kelopak matanya.


"Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak bisa, hamba tidak kuat jika harus memeriksa setiap inchi luka, dari pemuda ini. Membayangkannya saja, sudah membuat hamba menderita. Apalagi dia ...,"


Kembali, Tabib tersebut menundukkan kepala di hadapan Kaisar Qian.