Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
121. Utusan kerajaan Qian.


Kaisar mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan pembicaraan orang-orang. Dia lalu berdiri dan berbicara dengan lantang, yang di tujukan kepada Perdana Menteri Hu Boqin.


"AKU, KAISAR KERAJAAN DINASTI YING, LI JINHAI! MEMBERIKAN SERATUS POTONG EMAS BATANGAN, LIMA RATUS RIBU KEPING KOIN EMAS, DAN LIMA RATUS KEPING KOIN PERAK UNTUK PERDANA MENTERI HU BOQIN, ATAS KONTRIBUSI PUTRINYA UNTUK MENANGKAP PARA PEMBERONTAK!"


Para pejabat yang hadir di sana merasa iri dengan hadiah yang di terima Perdana Menteri mereka. Tapi mereka merasa sadar diri, Kaisar memberikan emas-emas itu sebagai hadiah karena Putri dari Perdana Menteri, telah melakukan jasa besar untuk kerajaan. Sedangkan Putri-Putri mereka, tidak melakukan apapun juga untuk kerajaan.


"Terima kasih, atas kebaikan dan kemurahan hati Yang Mulia Kaisar!" Hu Boqin berlutut sebagai balasan atas hadiah yang Kaisar berikan kepadanya.


"Tidak perlu sungkan, Perdana Menteri. Justru aku merasa, jika hadiahku itu masih kurang untuk membalas semua jasa yang telah di berikan Putrimu kepada kerajaan." ucap Kaisar menimpali ucapan dari Perdana Menterinya.


"Maaf, Kaisar! Ada utusan dari kerajaan Qian di luar, dan dia ingin bertemu dengan anda!" salah seorang pengawal Kaisar datang memberikan laporan.


"Biarkan dia masuk!" perintah Kaisar tegas.


Tadinya, dia ingin sekalian mengumumkan acara pernikahan Putranya dengan Hu Liena. Namun niatnya harus tertunda, karena ada utusan yang datang dari kerajaan Qian.


"Hamba Disung, menghadap kepada Yang Mulia Kaisar Ying!" ucap utusan kerajaan Qian sambil berlutut di hadapan Kaisar Li Jinhai.


"Bangunlah, dan katakan, apa yang di perintahkan Kaisar Qian kepadamu!" ucap Kaisar dengan tegas.


Si utusan itu berdiri, namun masih menundukkan kepalanya karena masih merasa segan kepada Kaisar Li Jinhai.


"Hamba di utus untuk menyampaikan permintaan maaf, atas tindakan Yang Mulia Putri Song Qian. Kaisar berjanji, tidak akan ikut campur dalam masalah penentuan hukuman untuk beliau."


Kaisar Li Jinhai merasa puas, dengan keputusan yang telah di ambil Kaisar Qian. Memang harusnya begitu jiwa seorang pemimpin, dia tidak boleh pandang bulu dalam menegakkan hukum dan keadilan.


"Hanya itu saja?" tanya Kaisar Li Jinhai yang di balas anggukkan kepala oleh si utusan Kaisar Qian.


"Baiklah, aku juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Kaisar kerajaan Qian, karena sudah membebaskan kami untuk menegakkan keadilan. Putri Song bukan hanya ingin menggulingkan kerajaan Ying, dia juga bahkan berniat menumbangkan Kaisar Qian." ucap Kaisar Li Jinhai penuh kewibawaan.


"Ayah, Putri Xia ingin menyampaikan sesuatu kepada utusan kerajaan Qian." Li Junjie menyela ucapan sang Ayah karena memang ada yang harus Hu Liena sampaikan kepada orang dari kerajaan tetangga tersebut.


"Tentu, kau boleh melakukannya, Putri. Silahkan!"


Hu Liena maju beberapa langkah, sehingga dirinya kini terlihat jelas oleh semua orang karena berada di tengah-tengah ruangan.


Banyak yang memuji kecantikan, dan keanggunan Hu Liena yang di kenal sebagai Putri Xia sekarang.


"Sebelumnya, saya ingin memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar terlebih dahulu." ucap Hu Liena sambil membungkuk hormat di hadapan Kaisar. "Selanjutnya, saya juga ingin berterima kasih karena anda telah memberikan anugerah yang teramat besar kepada Ayah saya, Perdana Menteri atas semua hadiah, dan juga pujiannya."


Kaisar Li Jinhai mengangguk puas dengan tutur kata yang keluar dari mulut Hu Liena.


"Dan yang paling penting, saya ingin menyampaikan kabar penting kepada Kaisar kerajaan Qian."


"Apa itu, Putri?" tanya Kaisar Li Jinhai heran.


"Ini tentang Putra Mahkota kerajaan Qian, Yang Mulia!" ucap Hu Liena hingga membuat si utusan merasa penasaran.


"Apa maksud anda, Putri? Bisakah anda langsung memberitahukannya, kepada saya?"


"Lancang! Jangan bertindak tidak sopan!" Kasim Istana berusaha menegur utusan kerajaan Qian yang berani mengajukan pertanyaan di hadapan sang Kaisar.


"Maafkan hamba, Yang Mulia!" si utusan menyesali perbuatannya yang tidak bisa menahan kesabaran.


Kaisar Li Jinhai tidak terlalu menggubris apa yang di lakukan utusan tersebut, menurut Kaisar hal itu wajar karena Putri Xia secara tidak langsung menyinggung masalah Putra Mahkota yang telah lama hilang, dan tak di ketahui keberadaannya sekarang.


Dulu, Kaisar Qian menganggap, Pangeran Yu Zemin sebagai Putranya, dan akan menobatkannya sebagai Putra Mahkota beberapa bulan lagi.


Tapi setelah tahu, jika Yu Zemin adalah Putranya yang palsu, Kaisar lalu merubah keputusannya, dan menyebar pengawal ke semua tempat untuk mencari keberadaan Putra Mahkota yang asli.


Karena di kabarkan, Putra asli dari Kaisar Qian masih hidup, dan selama ini di kurung okeh Adiknya sendiri, Putri Song Qian.


Namun sampai saat ini, keberadaan Putra Mahkota kerajaan Qian, belum juga di ketemukan.


"Saya tahu, di mana Putra Mahkota kerajaan Qian berada. Dan jika Kaisar Qian berkenan, dia boleh datang langsung untuk memeriksanya sendiri. Apakah dia Putra Mahkota yang asli? Atau bukan?"


Ucapan Hu Liena sontak membuat semua orang merasa terkejut, kecuali Li Junjie.


Dia sudah tahu siapa orang yang di maksud Hu Liena. Maka dari itu, Li Junjie hanya bersikap biasa saja menanggapinya.


"Putri! Apa anda serius? Apa anda benar-benar tahu, Putra Mahkota ada di mana sekarang?" tanya sang utusan dengan mata berkaca-kaca.


"Apa aku terlihat sedang berbohong? Bahkan di hadapan Kaisar?" Hu Liena balik bertanya hingga membuat si utusan merasa malu.


"Jika di perbolehkan, hamba ingin membawa pulang Putra Mahkota sekarang." ucap si utusan dengan bersemangat.


Hu Liena menggelengkan kepala, "Maaf, tidak bisa! Jika Kaisar ingin melihat Putranya, maka dia sendiri yang harus datang untuk mengenalinya." tolak Hu Liena tegas.


Si utusan merasa terkejut dengan perkataan Hu Liena. Bagaimana mungkin orang nomor satu di Negaranya datang ke kerajaan lain saat ini?


Kondisi Kaisar Qian sedang tidak baik, beberapa tahun terakhir beliau sering sakit-sakitan.


Dan sekarang, seorang gadis menyuruhnya untuk datang? tidak mungkin! Kaisarnya tidak mungkin datang!


"Bagaimana? Apa kau sudah mendengar semuanya dengan jelas?" tanya Hu Liena lantang.


"Sudah, Putri! Tapi ...," si utusan tampak berpikir keras dengan perkataannya.


"Tapi apa?" Hu Liena merasa heran karena dari tadi utusan itu seperti menyembunyikan sesuatu dari semua orang.


"Maafkan hamba, hamba tidak bisa mengatakannya." jawab si utusan sambil menundukkan kepala.


Kaisar Li Jinhai merasa ada yang tidak beres dengan utusan kerajaan tetangga tersebut. oleh arena itu, Kaisar Li Jinhai langsung bersuara, dan memerintahkan si utusan untuk mengatakan yang sebenarnya.


Jika menolak, maka Kaisar tidak akan membiarkannya untuk bisa keluar dari Istananya.


Bisa juga 'kan, kalau sebenarnya utusan ini adalah musuh yang sedang menyamar.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya si utusan menyetujui untuk mengatakan yang sesungguhnya.


"Hamba memang utusan Kaisar Qian, Yang Mulia. Saat ini kondisi Kaisar kami sangat memprihatinkan, beliau sudah mulai lemah, bahkan untuk makan saja harus di bantu para dayang."


"Bagaimana mungkin! Orang yang aku utus kemarin mengatakan, jika Kaisar Qian baik-baik saja. Bahkan dia di sambut dengan baik oleh Kaisar, dan Putri Jia Li." kata Kaisar seakan tidak mempercayai ucapan sang utusan.


"Ampun, Yang Mulia! Hamba tidak berani berbohong, hamba mengatakan yang sejujurnya." balas utusan tersebut kepada Kaisar.