
Si pria paruh baya mengangguk setuju dengan ucapan Putrinya.
Acara pengobatan massal tersebut di hadiri oleh para Tabib terkenal di dinasti Ying.
Namun di antara para Tabib yang ikut andil dalam acara itu, tidak ada seorang Tabib yang bermarga Ho. Itu artinya, yang di maksud oleh kasim yang mendekati si pria kaya, pastilah Tabib Hong.
"Jika benar dia adalah Adik seperguruan Tabib Hong, ada kemungkinan jika Tabib Guru adalah orang yang selama ini Ayah cari-cari keberadaannya." Bisik si pria paruh baya.
"Mungkin saja itu benar, dan mungkin saja itu tidak, Ayah." Ucap Wanita bercadar pesimis.
Si pria paruh baya menjadi bingung. "Apa maksudnya?"
"Dia mungkin hanya mengincar imbalan dari kita saja. Sejak awal datang, anak buah yang Ayah suruh menyamar itu langsung memamerkan harta. Setelah itu, barulah si kasim mendekat dan menawarkan bantuan. Kalau bukan karena imbalan, mungkin kita tidak akan di dekati dengan mudah Ayah." Jelas wanita bercadar.
Si pria paruh baya membenarkan ucapan Putrinya.
"Kau berkata benar, Putriku. Tapi tidak ada salahnya jika kita pergi menemui Tabib Guru tersebut. Masalah imbalan, itu adalah perkara gampang. Jika dia benar, kita berikan saja yang dia mau, yang penting kau bisa sembuh dari penyakit kulitmu. Dan jika dia hanya ingin menipu kita saja, kita juga bisa langsung membunuhnya dengan mudah." Ucap si pria paruh baya.
Kini giliran si wanita bercadar yang mengangguk setuju dengan ucapan pria paruh baya.
Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya mereka berdua menghampiri si pria mirip Kasim dan memintanya mengantar mereka untuk bertemu dengan Tabib Guru yang di sebutkan.
Benar saja dugaan si wanita bercadar. Si pria yang mirip hakim tersebut, benar-benar meminta imbalan setelah mereka sampai di tempat tujuan.
"Siapa kalian?" Suara berat terdengar keluar dari dalam ruangan yang hanya tertutup tirai.
"Kami datang untuk menemui Tabib Guru!" Jawab si pria paruh baya.
"Ada urusan apa kalian datang? Aku di sini hanya menemani para murid saja melakukan pengobatan, aku tidak membuat janji apapun untuk bertemu dengan orang-orang!" Penolakan keras langsung di layangkan oleh orang yang berada di dalam.
Belum jelas orang yang berada si dalam itu siapa? seorang pria muda? atau paruh baya? Tapi dari suaranya, terpancar jelas kalau orang itu memiliki ilmu tenaga dalam yang tak bisa di pandang lemah.
"Kami datang di bawa oleh muridmu, dan kami juga sudah membayar mahal untuk bisa sampai di tempat ini!" Ucap si pria paruh baya menekankan.
"Aku tidak peduli! Kalian harus tetap pergi dari sini!" Usir orang dari dalam ruangan.
"Kami akan tetap di sini, sampai kau bersedia mengobati penyakit Putriku!" Tegas si pria paruh baya.
Tak ada lagi jawaban, ataupun penolakan dari dalam ruangan. Suasana sekarang, bahkan menjadi sunyi senyap bagaikan berada si sebuah area pemakaman.
Beberapa saat menunggu, akhirnya kesabaran si pria paruh baya, dan juga wanita bercadar habis juga.
"Sebaiknya kita berdua masuk saja, Ayah. Kita seret, dan paksa orang itu untuk mengobati penyakitku. Kalau dia menolak, kita habisi saja dia!" Ucap si wanita bercadar dengan geram.
Si pria paruh baya mengikuti keinginan Putrinya. Mereka berdua langsung memasuki ruangan yang memang dari awal tidak menggunakan penutup apapun selain tirai tipis untuk menghalangi pandangan orang dari luar agar tak bisa melihat tembus ke arah dalam.
"Sialan!" Wanita bercadar merasa frustasi karena ruangan gelap itu ternyata sudah kosong.
"Brengsek! Kita di tipu!" Teriak si pria paruh baya.
"Si Tabib Guru itu sudah lari, Ayah! Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya si wanita kesal.
Si pria paruh baya mengepalkan kedua tangannya dengar erat. "Kita cari, dan bunuh dia!"
"Kalian tidak perlu repot-repot! Aku sudah datang kesini!" Suara pria mirip Kasim terdengar jelas oleh si pria paruh baya, dan juga oleh si wanita yang mengenakan cadar.
Perasaannya kini di landa kecemasan, akankah mereka terjebak di sini?
"Ayah! Aku rasa, kita berdua telah di jebak!" Wanita bercadar mulai cemas.
"Ayah rasa juga begitu ...," Si pria paruh baya tidak menyangkal sama sekali ucapan Putrinya.
"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya si wanita bercadar dengan tubuh gemetar.
Si pria paruh baya berusaha menenangkan Putrinya dengan cara menggenggam erat tangan sang Putri.
"Kita keluar sekarang! Kita tidak perlu takut dengan siapapun, Ayah sudah meminta para penjaga untuk mengikuti kita ke tempat ini! Jika kita dalam bahaya, mereka akan langsung datang dan menyelamatkan kita berdua!" Ucapan si pria paruh baya mampu membuat wanita bercadar merasa tenang.
Mereka berdua 'pun keluar, dan langsung melihat sosok pria mirip si Kasim sedang berdiri menghadap ke arah mereka.
"Siapa kau sebenarnya? Di mana Tabib Guru yang kau janjikan itu?" Bentak si wanita bercadar setelah keberaniannya kembali muncul.
"Tabib Guru, hanyalah sebuah alasan untuk memancing kalian ke tempat ini." Jawab si pria mirip Kasim tenang.
"Brengsek! Kau akan mati jika berani macam-macam dengan kami!" Hardik si wanita.
Pria mirip Kasim hanya tertawa keras mendengar ucapan seperti itu dari si wanita bercadar.
"Diam kau! Atau aku akan menutup mulutmu untuk selamanya!" Si pria paruh baya mulai terpancing emosi oleh kelakuan si Kasim.
"Siapa orang yang kau ancam barusan, Qiang Geming?" Dari atas bangunan, terdengar suara perempuan yang bukan lain adalah Hu Liena.
"Ayah!" Tubuh wanita bercadar kembali gemetar.
"Siapa kau?" Tanya pria paruh baya yang memang adalah Qiang Geming.
Dan wanita bercadar yang bersamanya, tentu saja adalah Xiulin yang sengaja menutupi tubuhnya dengan kain longgar berwarna hitam lengkap dengan penutup kepala yang juga berwarna hitam.
"Tanyakan saja kepada Kakakku langsung!" Jawab Hu Liena dengan datar.
"Aku bukan Kakakmu! Dan kau juga bukanlah Adikku!" Teriak Xiulin keras.
"Ha-ha! Tidak di sangka, Kakakku akan melupakan kebersamaan kita secepat ini!" Sindir Hu Liena sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Diam kau Hu Liena sialan!" Bentak Xiulin makin terdengar kasar.
"Kau yang seharusnya diam, Kakak!" Balas Hu Liena.
Si pria mirip Kasim merasa geram karena Hu Liena masih saja memanggil Xiulin dengan panggilan Kakak.
"Berhenti memanggil dia Kakak, Putri! Aku tidak mau mempunyai saudara Ipar dari anak seorang penyusup seperti dia!" Ucapan si pria mirip Kasim mampu membuat kedua orang Ayah dan Anak tersebut menjadi sangat terkejut.
"Kau!" Ucap Xiulin sambil menunjuk si Kasim.
Berbeda dengan reaksi Xiulin yang tampak ketakutan. Reaksi Qiang Geming justru sebaliknya. Dia kini malah tertawa keras begitu mengetahui sosok pria mirip Kasim adalah Pangeran Jun.
"Ha-ha-ha! Pangeran lemah dari dinasti Ying berani muncul menghadang jalanku! Menyedihkan!" Ejek Qiang Geming.