
Tanpa sepengetahuan siapapun, Hu Liena telah memberikan obat yang bisa membuat orang yang telah memakannya jadi hilang kesadaran, dan hanya akan menuruti kata-katanya Hu Liena saja.
Ya, benar! obat yang Li Jing Sheng masukkan ke dalam mulut Ayah dan Anak dari keluarga Mo, adalah obat penghilang kesadaran.
Dan obat itu akan bereaksi selama tiga hari tiga malam, waktu yang cukup bagi Hu Liena untuk mengetahui tempat persembunyian Putri Song.
"Sudah, biarkan saja mereka pergi." ucap Hu Liena dengan santainya kepada Li Jing Sheng.
"Kakak Ipar ...," Li Jing Sheng ingin memprotes keputusan Hu Liena, namun dia langsung mengurungkan niatnya karena melihat Li Junjie yang sedang menatapnya dengan tatapan sinis.
"Sudahlah, ayo kita masuk. Aku sudah sangat lapar!" ajak Hu Liena sambil menggandeng tangan calon Adik Iparnya.
"Putri! Itu kurang sopan!" tegur Li Junjie kepada Hu Liena agar melepaskan gandengan tangannya.
"Ahhh, baiklah, baiklah, aku minta maaf!" ujar Hu Liena sambil menjauhkan diri dari Li Jing Sheng.
Li Jing Sheng memutar matanya dengan malas mendapatkan perlakuan seperti itu dari Kakak Pertamanya.
Dia merasa tidak habis pikir dengan sang Kakak, setiap dirinya mendekati Hu Liena, pasti Li Junjie akan bersikap impulsif padanya.
Entah itu perkataan, perbuatan, ataupun pernyataan, Kakaknya tidak pernah membiarkan dirinya berbicara, ataupun berdekatan dengan calon Kakak Iparnya.
Padahal dulu sekali, Hu Liena adalah teman akrabnya bersama Putri Li Jiang. Tapi sekarang? Jangankan berdekatan, berbicara saja dengan Hu Liena sangat susah di lakukan.
Sebelum masuk, Hu Liena memberi isyarat kepada kedua Wang bersaudara untuk mengikuti kedua Ayah dan Anak dari keluarga Mo.
Di dalam Aula, Hu Liena kini sedang berada di depan meja yang di penuhi dengan berbagai macam hidangan yang sengaja di siapkan khusus untuknya.
"Waahhhh, aku belum pernah melihat makanan sebanyak ini." ucap Hu Liena dengan mata berbinar.
"Itu semua untukmu, Kakak Ipar. Kau boleh memakan semuanya, jika kau mau." ujar Li Jing Sheng yang langsung mendapat teguran keras lewat tatapan tajam Kakaknya.
"Tentu, aku akan mencoba semuanya." balas Hu Liena dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Jangan terlalu memaksakan diri, Putri." ucap Li Junjie sambil terus menatap ke arah Li Jing Sheng.
"Baiklah, aku hanya akan memakan satu gigitan saja, agar aku bisa mencicipi semua hidangannya." ucap Hu Liena sambil mengangkat sumpit di tangannya.
Li Junjie tak lagi bersuara, dia tak ingin terlalu mengekang keinginan Hu Liena.
Sebenarnya, Li Junjie merasa kesal karena Hu Liena terlihat senang dengan makanan yang di hidangkan oleh sang Adik, Li Jing Sheng.
Padahal, dia sendiri bisa menghidangkan lebih banyak makanan untuk Hu Liena.
Bahkan makanan yang akan dia hidangkan nanti, rasanya jauh lebih enak dari makanan yang di hidangkan oleh Li Jing Sheng.
"Kakak Ipar, kapan kau mempunyai waktu untuk mengunjungi kami di Istana? Aku dan Jiang, sangat merindukan Kakak Ipar." ucap Li Jing Sheng sambil memasang wajah murung menatap Hu Liena.
"Kakak Iparmu sedang sibuk, dia tidak ada waktu untuk bermain-main dengan kalian." Li Junjie langsung membalas ucapan Li Jing Sheng sebelum Adiknya kembali menghasut Hu Liena untuk berkumpul di Istana.
Jika itu sampai terjadi, waktu Hu Liena untuknya akan berkurang. Dan Li Junjie akan merasakan kesepian, karena harus menunggu giliran untuk bertemu dengan calon Istrinya tersebut.
"Tapi ...," Li Jing Sheng ingin kembali berbicara, namun Li Junjie kembali memotong ucapannya.
"Kakak Iparmu baru punya waktu luang untuk makan, tapi kau malah mengganggunya!"
Li Jing Sheng nampak sedih ketika mendengar hal itu dari Kakaknya.
"Maafkan aku, Kakak Ipar!" ucapnya dengan wajah yang semakin di tekuk.
"Setelah semua urusan selesai, aku akan pergi ke Istana, dan menemani kalian berbincang-bincang."
Mata Li Jing Sheng langsung berbinar begitu mendengar ucapan Hu Liena. Namun ketika dia ingin bersorak gembira, sudut matanya tak sengaja melihat wajah Kakaknya yang bersemu merah karena merasa marah.
Oleh sebab itu, Li Jing Sheng langsung menyembunyikan kegembiraannya, dan hanya membungkukkan badan untuk mengucapkan terima kasih kepada Hu Liena.
Sedangkan Li Junjie, kini hanya bisa menggerutu di dalam hatinya karena merasa tidak rela, waktu Hu Liena harus terbagi untuk kedua Adiknya.
"Aku sudah selesai!" ucap Hu Liena sambil menaruh sumpit di atas meja.
Li Junjie langsung berdiri, dan mengajak Hu Liena untuk pulang ke penampungan tempatnya menyembunyikan keluarga Perdana Menteri dan Tabib Hong.
"Kakak Ipar, tidakkah kau ingin tinggal lebih lama di sini? Aku bisa menyuruh pelayan, menyiapkan kamar khusus untukmu." ucap Li Jing Sheng seakan tak mau berpisah dengan Hu Liena.
"Tidak perlu! Kakak Iparmu harus pulang!" tolak Li Junjie tegas.
Li Jing Sheng hanya bisa pasrah dengan keputusan Kakak Pertamanya.
Padahal yang dia inginkan, Kakak Iparnya saja. Tapi Kakak Pertamanya, terlalu mendominasi calon Kakak Iparnya tersebut.
Kalau harus memilih, lebih baik Hu Liena dulu tidak jadi bertunangan dengan Kakaknya.
Dengan begitu, dia bisa bebas berteman dan berkumpul bersama Hu Liena dan juga Adik perempuannya seperti dulu yang sering mereka lakukan sebelum Hu Liena di atur-atur oleh Kakaknya.
"Jangan sedih, aku akan menemuimu nanti di Istana." ucap Hu Liena mencoba menghibur Li Jing Sheng yang kembali berwajah murung.
"Ayo, kita pulang!" ajak Li Junjie yang tak ingin terus melihat drama yang di lakukan Adiknya.
Hu Liena mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Li Junjie yang kini sudah berada beberapa langkah depannya.
Setelah berada cukup jauh dari Li Jing Sheng, Li Junjie akhirnya menghentikan langkah dan menunggu Hu Liena.
"Kenapa berhenti?" tanya Hu Liena heran.
"Menunggumu!" jawab Li Junjie singkat lalu menggandeng tangan calon Istrinya tersebut.
"Pangeran, kenapa kau selalu sinis dengan Adik laki-lakimu?" tanya Hu Liena dengan heran.
Pasalnya, bukan sekali ini saja Hu Liena menyaksikan Li Junjie berbuat hal seperti itu kepada Pangeran Jing, yang nota bene adalah Adiknya sang Pangeran, calon Suaminya.
Tapi sudah sering kali, Hu Liena melihatnya melakukan hal itu.
"uhuk, uhuk!"
Li Junjie langsung pura-pura terbatuk, karena tak menyangka Hu Liena akan menanyakan hal itu padanya.
"Bukan sinis!" bantah Li Junjie.
"Lalu?"
Li Junjie menghentikan kembali langkahnya, dan menatap langsung ke arah Hu Liena.
"Aku hanya tidak ingin dia ...,"
Ucapan Li Junjie terhenti karena malu harus mengakui kalau dia cemburu kepada Adiknya sendiri
"Tidak ingin apa?" tanya Hu Liena semakin heran.