
Yueqin mengeratkan genggaman tangannya di tusuk konde milik Lilian.
Bayangan-bayangan masa lalunya itu sering kali mengganggu pikirannya selama ini.
Yueqin pikir, dengan kematiannya Lilian hidupnya akan berubah. Namun tetap saja, dia tidak pernah merasa puas dan selalu merasa terancam.
Apalagi sekarang, Hu Liena selalu mendominasi di setiap kesempatan.
Ini tidak bisa di biarkan, Yueqin tidak boleh menyerah. Lagipula, yang di hadapinya saat ini hanyalah seorang gadis yang belum pernah mengecap asam garamnya kehidupan.
Yueqin yakin, dia akan bisa dengan mudah menyingkirkan Hu Liena.
"Hu Liena sialan! Kita lihat saja, siapa di antara kita yang akan bertahan!" Ucap Yueqin geram.
...----------------...
Hacciiihhh...
Hacciiihhh...
Hu Liena yang sedang menghitung uangnya bersama Luqiu, jadi bersin-bersin.
"Nona, sepertinya anda masuk angin. Mungkin terlalu lama, berada di luar hari ini." Ucap Luqiu yang merasa khawatir kepada majikannya.
"Tidak apa-apa, ini hanya flu biasa, nanti juga sembuh dengan sendirinya." Balas Hu Liena.
Dia memang sering bersin akhir-akhir ini, padahal sekarang belum memasuki musim dingin.
Hu Liena berpikir, itu karena daya tahan si pemilik asli tubuhnya ini sangatlah lemah sehingga dia sering mengalaminya.
"Tapi jika di biarkan itu akan sangat berbahaya, Nona." Ujar Luqiu bersikeras.
Hu Liena berdecak kesal. "Ck ... bahaya itu, jika kita tidak menghitung uang ini dengan benar. Nanti kalau kurang, bagaimana? Itu kerugian besar buat kita berdua."
"Nona, bisa-bisanya anda membandingkan uang ini dengan kesehatan anda." Balas Luqiu protes karena Hu Liena hanya memikirkan uangnya.
"Kau ini bodoh sekali, Luqiu. Kalau kita miskin, bagaimana kita akan membeli obat-obatan. Sehat sebenarnya adalah, dengan memiliki banyak uang. Kau paham, tidak!"
Luqiu akhirnya paham dengan maksud Hu Liena, karena memang semua ucapannya itu benar.
Jika kita tidak memiliki uang, Tabib pun tidak akan mau memberikan pengobatan.
"Aku mengerti, Nona." Ujar Luqiu seraya mengangguk puas.
"Mulai sekarang kau harus lebih banyak belajar dariku, agar otakmu itu bisa berkembang." Balas Hu Liena dengan bangganya.
Luqiu merasa bersemangat sekali setelah mendengar kata-kata motivasi dari majikannya. Hu Liena memang telah berubah menjadi pintar sekarang, dan Luqiu harus banyak belajar darinya.
"Baik, Nona!" Ucapnya bersemangat.
"Bagus, bagus! Kau memang harus mendengarkan ucapanku."
Setelah selesai menghitung uangnya, Hu Liena memberikan sebagian uang itu kepada Luqiu.
"Ini, ambillah!" Ucap Hu Liena seraya menyodorkan uang ke arah Luqiu.
"Ini untuk apa, Nona?" Tanya Luqiu heran karena dia tidak pernah menyimpan barang milik Hu Liena sebelumnya.
"Ini untukmu, ambillah! totalnya 200 tahil perak, aku sudah menghitungnya dengan benar." Kata Hu Liena sedikit memaksa.
"Tidak Nona, uang ini milik anda." Luqiu berusaha menolak meskipun dia memang sangat membutuhkannya, tapi dia juga tidak bisa menerima uang itu begitu saja.
"Ambil saja, aku tahu kamu sangat membutuhkannya. Lagipula, kamu sudah banyak membantuku belakangan ini." Ucap Hu Liena lagi.
"Itu sudah tanggung jawab saya, Nona. Anda tidak memberikan apa-apa pun juga, saya rela." Luqiu tetap menolak.
"Luqiu! Aku sudah bilang, untuk lebih banyak belajar dariku. Tapi kau tetap saja bodoh seperti ini, cepat ambil! Kalau tidak, aku akan memecatmu." Ancam Hu Liena, yang kesal karena Luqiu selalu menolak pemberiannya.
"No-nona, jangan pecat saya. Saya sudah berada di sini cukup lama, saya sudah bersama Nona sejak kecil. Kalau saya di pecat saya harus pergi kemana, Nona." Ratap Luqiu.
Ratapannya itu membuat Hu Liena sedikit menghiba sekaligus kesal, karena Luqiu tidak bisa mencerna ucapannya dengan baik.
Hu Liena menarik nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Ya sudah, aku tidak jadi memecatmu. Ini, ambil! aku tidak akan mengulang lagi kata-kataku."
"Baik Nona, hamba akan menerimanya. Terima kasih sekali lagi, Nona!" Ucap Luqiu seraya menerima uang yang di sodorkan padanya.
Hu Liena mengangguk puas, Luqiu memang pantas menerima itu semua. "Baiklah, kau boleh pergi sekarang. Aku ingin tidur lebih awal."
"Baik, Nona." Luqiu mengangguk, dia senang karena memiliki banyak uang sekarang.
Biasanya Luqiu hanya memiliki beberapa sen saja setiap bulannya, dan itupun sudah cukup untuk membiayai hidupnya.
Setelah Luqiu pergi, Hu Liena merebahkan dirinya di tempat tidur. Namun pikirannya melayang-layang, untuk menata masa depan.
"Uang sebanyak ini, aku simpan di mana ya? tidak mungkin aku hanya menyimpannya di dalam lemari, kan?" Gumam Hu Liena.
"Ah iya ... kenapa aku tidak menyimpannya di dimensi rahasia saja." Ucap Hu Liena seraya menepuk dahinya perlahan.
Hu Liena bangkit dan duduk di tepi ranjang, setelah itu dia menggenggam kalungnya serta memfokuskan pikirannya.
Woosshhh....
Dalam sekejap mata, tubuh Hu Liena langsung berpindah tempat ke dimensi rahasia.
"Wahhhh ... hebat sekali ternyata." Hu Liena berdecak kagum dengan kemampuan kalungnya itu, dengan kecepatan seperti ini, ia bisa keluar masuk ke dimensi rahasia kapan saja.
"Akhirnya, masalah uang beres juga." Ujar Hu Liena seraya menepuk-nepuk kedua tangan untuk menghilangkan debu yang menempel di sana.
Baru saja Hu liena berniat merebahkan tubuhnya kembali, hidungnya mencium bau yang sangat menyengat di ruangannya.
"Racun katak emas." Gumam Hu Liena seraya mengendus-enduskan hidungnya.
Racun ini sangatlah familier baginya. Semasa di markas militer dulu, ia sering melakukan penelitian terhadap ratusan hewan beracun dan katak emas adalah salah satunya.
Mata Hu Liena bergerak liar untuk mencari posisi targetnya. Setelah mengetahuinya secara pasti, Hu Liena langsung mengeluarkan senjata rahasianya.
Bibir Hu Liena melengkung ke atas membentuk senyuman yang menakutkan. Dalam sekali gerakan tangan, beberapa jarum melesat ke arah jendela kamar.
Clebb~
Clebb~
Clebb~
Aghhh...
Terdengar teriakan dari balik jendela dan dua orang pria langsung roboh tak bernyawa.
Hu Liena beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekat ke arah mayat-mayat itu berada.
Hu Liena berjongkok dan memungut kembali jarum-jarumnya.
"Huhhh ... Sayang sekali, benda berharga seperti ini harus ternoda oleh darah kotor kalian." Cibir Hu Liena seraya menatap jijik kedua mayat pria di hadapannya.
Di pepohonan tempat mereka bersembunyi, kedua Wang bersaudara terkejut menyaksikan keganasan Hu Liena.
Bagaimana bisa, gadis yang kelihatannya lemah itu ternyata memiliki kemampuan yang menakutkan.
Belum selesai rasa terkejut mereka, terdengar suara Hu Liena berbicara lantang.
"Untuk kalian berdua! tidak ada gunanya lagi terus bersembunyi di sana. Cepat kemari, dan bantu aku untuk menyingkirkan mayat mereka."
Keduanya saling bertukar tatap, mereka masih tidak percaya dengan apa yang di lihat dan di dengarnya di tempat itu. Gadis yang selama ini mereka lindungi, ternyata memiliki kemampuan yang sangat mengerikan. Dan mampu melakukan pembunuhan hanya dengan satu tarikan nafas saja.
Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa sekarang, selain menuruti perkataan Hu Liena.
Setelah menenangkan hati mereka, kedua Wang bersaudara langsung muncul di hadapan Hu Liena.
Kesan pertama yang mereka lihat saat ini adalah, kecantikan dan kepolosan.
Tak sedikitpun jejak kekejaman terlintas di mata Hu Liena, seandainya mereka tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mungkin mereka akan tetap akan menganggap jika Hu Liena adalah seorang gadis yang lemah.
"Aku tahu siapa kalian, dan aku juga tahu siapa orang yang mengirim kalian kesini." Ucap Hu Liena tenang kepada Wang bersaudara.
Wang bersaudara tidak bersuara, mereka hanya saling melirik satu sama lain, karena merasa tak berdaya di hadapan Hu Liena.
Keberadaan mereka saja bisa di ketahuinya dengan mudah, di tambah lagi dengan pembunuhan yang baru saja di lakukannya. Ini menambah nilai tambah bagi Hu Liena di mata keduanya.
"Paman berdua jangan tegang seperti itu, di masa mendatang aku akan lebih merepotkan kalian. Jadi, mohon bantuannya." Ujar Hu Liena seraya membungkuk dan tersenyum cerah.
Kedua orang itu menjadi terharu begitu mendengar ucapan Hu Liena, bahkan tanpa di minta sekalipun mereka akan tetap melakukannya.
Keduanya lalu mengangguk dan langsung pergi membawa satu mayat di masing-masing pundak mereka.
Hu Liena menarik nafas berat, satu masalah sudah teratasi, kini gilirannya membalas dendam kepada orang yang telah menginginkan kematiannya.
"Kalian ingin bermain-main dengan racun, baiklah, aku akan membiarkan kalian merasakan permainan yang sebenarnya." Gumam Hu Liena dengan seringai jahatnya.
Setelah selesai mengatakannya, Hu Liena langsung berlari menembus kegelapan malam.
Di paviliun timur...
Hu Liena bergerak cepat menyelinap ke paviliun milik Yueqin.
Dia sengaja datang, untuk memberikan Yueqin pelajaran karena telah berani menginginkan kematian dirinya.
Berbekal ingatan dari pemilik tubuh aslinya, Hu Liena menyusuri setiap sudut paviliun timur.
Hu Liena melompat ke udara dan mendarat tepat di atap kamar utama.
Di atas sana, Hu Liena mengeluarkan bungkusan kertas dari dalam saku jubahnya.
"Racun katak emas ini milikmu, Bibi." Ucap Hu Liena perlahan.
Setelah mengatakannya, Hu Liena menggeser genteng kamar dan menaburkan bubuk racun di antara celah-celahnya. .
Racun katak emas itu sangatlah mematikan, namun Hu Liena sudah memodifikasinya dengan bubuk tanaman lain sehingga effectnya jadi berkurang.
Kandungan racun di dalamnya masih cukup untuk membuat seseorang merasa gatal-gatal dan buang air besar secara terus-terusan.
Setelah melakukan semua tugasnya, Hu Liena langsung kembali ke kediamannya.
Hu Liena merebahkan tubuhnya dengan perasaan gembira, kali ini, tak akan ada lagi yang akan mengganggu istirahatnya.
...----------------...
Aagghhh...
Pagi-pagi sekali kediaman Perdana Menteri di hebohkan dengan suara teriakan Yueqin yang mengeluh gatal di sekujur tubuhnya.