Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
23. Memberi pelajaran kepada pasangan jahat.


Xiulin sudah tak memedulikan harga dirinya lagi, ia terlanjur emosi dengan ucapan Hu Liena yang menyebut dirinya sebagai sampah.


Di tambah lagi dendamnya yang kemarin ketika Hu Liena mencambuk punggungnya belum terbalaskan, menjadikan emosinya semakin meluap-luap.


"Lepaskan aku! aku ingin membunuh wanita sialan ini." Teriak Xiulin.


"Percuma saja, kau tidak akan mampu." Sindir Hu Liena.


"Hu Liena, awas kau!" Xiulin menggertakkan giginya saking marahnya.


Sementara Mo Yan Zhen, menjadi terkejut setelah nama Hu Liena di sebutkan. Ia tak menyangka, jika wanita yang menabraknya ternyata adalah Hu Liena.


Seketika itu, Mo Yan Zhen melepaskan Xiulin dari cengkeramannya.


Sebelum Xiulin menerjang kembali ke arah Hu Liena, Mo Yan Zhen buru-buru menghadangnya.


"Biarkan saya saja yang mengurus wanita ini, Nona." Kata Mo Yan Zhen kepada Xiulin.


Xiulin pun mengangguk menyetujui perkataan dari Mo Yan Zhen.


Setelah Xiulin bergerak mundur, barulah Mo Yan Zhen menoleh ke arah Hu Liena.


"Dengar, Nona! Kau telah membuat dua kesalahan hari ini, dan kesalahan itu takkan bisa di maafkan dengan mudah. Pertama, kau telah menabrak diriku dengan sangat keras. Kedua, kau telah menggunakan mulut kotormu itu untuk menghina gadis terhormat sepertinya." Gertak Mo Yan Zhen seraya memicingkan matanya ke arah Hu Liena.


Mendengar perkataan dari Mo Yan Zhen, Hu Liena segera menutup mulutnya menggunakan kedua tangan.


Mo Yan Zhen mengira, Hu Liena akan terkejut dan merasa takut dengan gertakannya itu.


Namun di detik berikutnya, terdengar suara nyaring Hu Liena yang membuat Mo Yan Zhen tak bisa lagi menahan amarahnya.


"Ha-ha-ha ... gadis terhormat katamu? Lucu sekali, mana ada gadis terhormat yang bertemu diam-diam dengan lawan jenisnya, sebutan yang cocok untuk perempuan seperti itu adalah, murahan!" Sindir Hu Liena seraya menatap sinis ke arah Xiulin yang berada di belakang tubuh Mo Yan Zhen.


"Jaga mulutmu itu, Nona!" Bentak Mo Yan Zhen yang tak bisa lagi menguasai emosinya.


"Kau yang seharusnya menjaga mulutmu!" Bentak Hu Liena tak kalah sengit.


"Kau!" Mo Yan Zhen menunjuk ke arah Hu Liena.


Setelah itu dia mengayunkan tangan berusaha menampar Hu Liena. Namun, gerakannya itu terhenti di udara karena seseorang telah menghentikannya.


Mo Yan Zhen melirik ke arah orang yang sedang menahan gerakan tangannya.


"Berani-beraninya kau mengangkat tangan hinamu ini kepada calon Istriku!" Ucap Li Junjie seraya menghempaskan tangan Mo Yan Zhen.


Mo Yan Zhen mendengus kasar sembari memegangi tangannya yang teras sakit usai di cengkeram orang di hadapannya.


"Jadi wanita sialan ini adalah calon istrimu?" ejek Mo Yan Zhen.


"Jaga bicaramu! tidak sepantasnya kau berbicara seperti itu di hadapan Yang Mulia Pangeran Jun." Guotin menghunuskan pedangnya ke arah Mo Yan Zhen.


Mo Yan Zhen terkesiap, orang yang mencengkeram tangannya ternyata Pangeran Jun. Orang yang paling di segani dan di takuti di seluruh kerajaan dinasti Ying.


Li Junjie sudah tak memedulikan keberadaan Mo Yan Zhen lagi, tatapannya kini hanya tertuju ke arah Hu Liena.


"Apa kau tidak apa-apa, sayang?" Tanya Li Junjie penuh penekanan.


Tubuh Hu Liena memanas karena panggilan sayang tersebut, bukan karena rasa malu. Namun karena rasa amarah yang bergejolak di dalam dadanya.


Berani-beraninya dia memanggilku dengan sebutan menjijikkan seperti itu, batin Hu Liena.


Li Junjie tersenyum manis, lalu bergerak mendekati Hu Liena.


"Sepertinya, kau terguncang karena perbuatan mereka." Ucap Li Junjie sembari melirik ke arah di mana Mo Yan Zhen dan Xiulin berdiri. "Tenang saja, sayang. Aku akan membalaskannya untukmu, dan memberi mereka pelajaran." Lanjut Li Junjie.


Mo Yan Zhen dan Xiulin bergidik ngeri mendengar ucapan Li Junjie.


Sedangkan Hu Liena merasa mual, karena lagi dan lagi Li Junjie menyebutnya dengan panggilan sayang yang menurutkan sangat menjijikkan.


"Guotin!" Panggil Li Junjie kepada pengawalnya.


"Hamba Pangeran."


"Baik, Yang Mulia!" Balas Guotin antusias.


Dia memang tak merasa senang sedari awal dengan pasangan jahat yang ada di hadapannya ini, dan sekarang adalah waktunya ia untuk beraksi melampiaskan kekesalannya.


Guotin menarik kembali pedang yang telah terhunus dari sarungnya, ia memutuskan untuk mengganti senjata yang akan di gunakannya dengan cambuk yang selalu tergantung di pinggangnya.


Splashh~


Splashh~


Guotin langsung mengayunkan cambuknya beberapa kali ke arah Mo Yan Zhen.


Dan dalam sekejap, terdengar jeritan kesakitan yang sangat memilukan di sana.


"Cukup!" Teriak Li Junjie.


Li Junjie memutuskan untuk menghentikan aksi Guotin, setelah melihat keadaan Mo Yan Zhen yang tak sadarkan diri di tanah.


Sedangkan Xiulin sendiri, kini sedang menggigil ketakutan karena melihat kejadian ini.


Guotin pun menghentikan ayunan tangannya dan menggulung kembali cambuknya.


"Antarkan putra bangsawan Mo ke kediamannya, dan bilang kepada Mo Chong an agar membayar kompensasi kepada Nona Hu Liena. Sebutkan juga kesalahan putranya, dan jika dia tidak mau membayar. Aku sendiri yang akan datang untuk menagihnya." Kata Li Junjie lantang.


Orang-orang yang mendengar ucapan Li Junjie pun menjadi ketakutan.


Bahkan Xiulin merinding mendengar biaya kompensasi yang di sebutkan Li Junjie, bangsawan Mo pasti akan marah besar karena harus mengeluarkan uang sebanyak itu karena kecerobohan putranya. Dan tentu saja Xiulin pun akan di salahkan, karena Mo Yan Zhen melakukan itu semua untuk membantunya.


"Cepat bawa mereka pergi!" Ucap Guotin kepada para pengawal.


Orang-orang yang tadi berkerumun mulai membubarkan diri mereka masing-masing.


Di antara orang-orang itu, bahkan ada yang menyumpahi perbuatan Mo Yan Zhen yang terkesan bodoh di mata mereka.


"Putra bangsawan Mo itu bodoh sekali, berani-beraninya dia ingin melukai calon istri Pangeran Jun." Ucap seorang Nyonya kepada teman yang berjalan di sebelahnya.


"Iya, aku juga sampai merasa takut tadi." Sahut teman si Nyonya tersebut.


"Iya, benar! Apalagi kompensasi yang di bayarkan sangatlah mahal, kita bahkan takkan mampu untuk membayarnya." Ucap yang lainnya menimpali.


"Ehh ... kalian, sedang berbicara apa?" Tanya seorang pedagang yang tak sengaja mendengar obrolan mereka.


"Kami sedang membicarakan putra bangsawan Mo yang di hukum oleh Pangeran Jun, karena berusaha melukai calon istrinya." Jawab si Nyonya setengah berbisik karena takut di dengar oleh yang lainnya.


"Apa!" Si pedagang terperanjat kaget mendengar cerita dari si Nyonya.


"Iya, bahkan Pangeran Jun meminta kompensasi sebesar seribu tahil perak kepada bangsawan Mo."


"Jangan keras-keras, nanti Pangeran Jun mendengarnya." Bisik si Nyonya memperingati teman-temannya.


"Kalau begitu sebaiknya kalian tutup mulut juga, daripada nanti mendapatkan hukuman yang serupa." Ucap yang lainnya.


"Ya sudah, aku pulang dulu. Aku tak akan sanggup jika harus menerima kemarahan dari Pangeran terkejam, di dinasti Ying." Kata si Nyonya tersebut, lalu buru-buru pergi meninggalkan teman-temannya.


...----------------...


Di tempatnya berdiri saat ini, Hu Liena menatap Li Junjie dengan tatapan tajam.


Li Junjie yang mendapatkan tatapan seperti itu dari Hu Liena, hanya tersenyum menanggapinya.


"Kau boleh memandangku sepuasmu, sayang." Ucap Li Junjie kepada Hu Liena.


Hu Liena yang tak bisa lagi menahan kemarahannya, langsung melontarkan kata-kata kasarnya.


"Berhenti mengatakannya, itu sangat menjijikkan."


"Ha-ha ... kau sangat cantik ketika sedang marah begini." Goda Li Junjie yang semakin menambah kemarahan Hu Liena.


"Dasar mesum!"