
Di Istana Kaisar...
Hu Boqin yang baru mendapat kabar tentang kejadian yang menimpa Xiulin. Langsung bergegas mendekati Hu Liena.
"Apa yang terjadi dengan Kakakmu?" Bisik Hu Boqin.
Hu Liena ingin menjawab, namun Li Junjie tidak memberikan kesempatan untuknya.
"Putrimu mendapatkan karma yang setimpal!"
Hu Boqin menoleh ke arah Li Junjie.
"Apa maksudnya ini, Pangeran?" Tanya Hu Boqin heran.
Li Junjie menjawab dengan santainya kepada Hu Boqin. "Kau bisa mencari tahu sendiri nanti, jika sudah pulang ke kediaman."
Hu Boqin ingin bertanya lagi, namun Hu Liena memberi isyarat agar dia tidak melanjutkan niatnya.
Li Junjie kembali berbicara dengan nada dingin.
"Anda seharusnya lebih bisa mendisiplinkan Istri dan Putri anda yang tercinta itu, agar tidak mengganggu calon Istriku lagi. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mengajari mereka langsung."
Ucapan LI Junjie mampu membuat orang sekeras Hu Boqin bergidik ngeri ketika mendengarnya.
"Baik Yang Mulia Pangeran, hamba akan melaksanakan seperti apa yang di minta oleh anda."
Hu Liena tak tahu harus bereaksi seperti apa ketika melihat interaksi antara kedua orang terdekatnya.
Entah dia harus menangis ataupun tertawa!
Yang jelas, Hu Liena sedang bingung sekarang. Siapa yang ia akan pilih untuk di bela. Yang satu Ayahnya, dan yang satu lagi adalah calon Suaminya, Hu Liena benar-benar di buat bingung oleh keadaan saat ini.
Dia ingin membela sang Ayah, tapi yang di katakan Li Junjie ada benarnya juga.
Jika Hu Liena memihak Li Junjie, kasihan Ayahnya karena harus terpojokkan.
Di tengah kebingungan Hu Liena, terdengar suara Kaisar bergema di dalam ruangan perjamuan.
"Para Menteri, dan para bangsawan yang terhormat! Selain mengumumkan gelar Putri Xia, dan juga sekaligus menyambut tamu khusus Putra-Putri dari kerajaan Qian. Aku, Li Jinhai! Ingin mengumumkan sesuatu yang sangat penting hari ini!"
Semua orang yang tadi sempat gaduh karena kejadian yang menimpa Xiulin, jadi langsung terdiam begitu mendengar suara lantang dari Kaisar.
Kaisar memandang berkeliling menatap semua orang yang hadir di sana.
Setelah berdiam sejenak dan menarik nafas, Kaisar lalu melanjutkan lagi kata-katanya.
"Satu bulan dari sekarang, aku akan mengadakan pesta pernikahan antara Pangeran Jun dan Putri Xia. Dan pada hari itu juga, aku akan mengadakan pesta rakyat yang akan di gelar selama tujuh hari tujuh malam untuk kalian semua."
Pengumuman dari Kaisar membuat beberapa gadis patah hati, adapula yang sampai melirik ke arah Hu Liena dan memakinya di dalam hati.
Di tempat duduknya, Li Jing Sheng dan Li Jiang bersorak saking senangnya.
Mereka bahkan lupa untuk bersikap layaknya seorang Putri dan Pangeran, dan harus rela mendapat teguran dari Permaisuri karena tingkah konyol mereka.
"Kakak, kau dengar itu? Kakak Pertama akan segera menikah dengan Kakak Ipar. Itu artinya, kita bisa dengan leluasa bertemu Kakak Ipar sepuasnya kapanpun juga." Ucap Li Jiang setengah berteriak.
Li Jing Sheng mengangguk puas, ia juga nampak kegirangan begitu mendengar keputusan dari Kaisar.
Dia kemudian berteriak, dan bertepuk tangan untuk Hu Liena. "Kakak Ipar! Kami berdua berbahagia untukmu!"
"Pangeran Jing, Putri Jiang! Bersikaplah yang sopan! Ini jamuan Istana, bukan acara keluarga!" Tegur Permaisuri kepada Putra-Putrinya yang berisik itu.
Li Jing Sheng tersipu mendengar teguran dari sang Ibunda.
Sementara Putri Jiang hanya menjulurkan lidahnya sembari cengengesan.
Permaisuri bukannya tidak berbahagia mendengar berita ini langsung dari Suaminya. Namun dia hanya menahan diri saja, karena harus menjaga adabnya sebagai Istri dari pemimpin Negara.
Kalau tidak, mungkin Permaisuri saat ini sudah tertawa lepas karena kebahagiaannya.
Putra sulungnya sudah terlalu lama menderita.
Setidaknya, dengan keputusan Kaisar menikahkan Li Junjie dengan Hu Liena saat ini. Akan mengurangi beban penderitaan Putranya itu.
Meskipun mungkin hidupnya tidak akan lama lagi, tapi kalau di akhir hayatnya dia bahagia, Permaisuri akan lebih merasa lega.
Berbeda dengan kebahagiaan keluarga kerajaan.
Pangeran Yu Zemin dari Negara Qian, langsung merasa geram mendengar ucapan Li Jinhai.
Kesempatannya untuk mengambil hati Hu Liena pupus sudah dengan adanya berita ini.
"Brengsek! Aku di kalahkan lagi!" Maki Yu Zemin perlahan.
Tangannya mengepal erat karena menahan api kemarahannya kepada Li Junjie.
Berkali-kali dia di kalahkan oleh musuhnya ini. Bahkan sekarang, Yu Zemin harus menerima kekalahan sebelum sempat melakukan apa-apa.
Putri Jia Li yang ada di sampingnya hanya diam.
Dia merasa takut jika salah berbicara, maka sang Kakak akan murka padanya.
Di hadapan Kaisar dan Permaisuri...
Kini Li Junjie dan Hu Liena sedang memberi penghormatan kepada Kaisar dan Istrinya, Permaisuri Shu.
"Terima kasih Yang Mulia Kaisar! Terima kasih Yang Mulia Permaisuri!" Ucap Hu Liena dengan sopan.
Li Junjie juga melakukan hal yang sama.
Dia membungkuk dengan sebelah tangan menyilang di depan dada.
"Terima kasih Ayahanda! Terima kasih Ibunda!"
Kaisar dan Permaisuri mengangguk puas dengan kesopanan Putra dan calon Menantu mereka.
Keduanya nampak serasi, bak Dewa-Dewi yang turun dari kayangan. Membuat mata semua orang, tak bisa berpaling dari mereka berdua.
"Bangunlah Pangeran, dan Putri Xia, kalian adalah anggota keluarga kerajaan. Jadi tak perlu untuk memberi hormat kepada kami seperti itu." Ujar kaisar yang penuh dengan kasih sayang.
Setelah Kaisar berbicara seperti itu, Li Junjie membantu Hu Liena untuk berdiri tegak. Dan berdiri berdampingan dengannya.
Li Junjie ingin menunjukkan kepada semua orang, bahwa Hu Liena adalah miliknya yang tidak bisa di ganggu gugat.
Khususnya kepada Pangeran Yu Zemin yang dari tadi selalu memperhatikan ke arah Hu Liena.
Li Junjie merasa tidak nyaman dengan tatapan yang di berikan Yu Zemin kepada calon Istrinya tersebut.
Maka dari itu, Li Junjie sebisa mungkin menghalangi tatapan Yu Zemin kepada Hu Liena dengan tubuhnya.
Itulah alasan kenapa Li Junjie hari ini, duduk di sebelah Hu Liena tanpa mau beranjak sedikitpun.
Bahkan ketika Hu Liena berjalan ke hadapan Kaisar dan Permaisuri, Li Junjie 'pun mengikutinya.
"Karena semua yang ingin aku katakan telah tersampaikan, maka aku akan mengakhiri acara perjamuan ini sampai di sini saja."
Ucap Kaisar yang mendapat respon positif dari semua orang.
Ketegangan yang sempat terjadi di ruangan utama perjamuan, kini menguap ke udara.
Beberapa orang bahkan masih ingin meneruskan terus bersaing dengan yang lainnya.
Namun karena Kaisar sudah memutuskan untuk mengakhiri perjamuan, maka mereka hanya bisa pasrah dan menerimanya.
"Kakak Ipar!" Putri Jiang langsung berlari begitu para tamu undangan bubar.
"Hamba Putri!" Balas Hu Liena sopan.