
Di sebuah ruangan...
"Aku tidak menyangka, jika Pangeran Jun akan bersikap semanis itu kepadamu, Nona." Ujar Luqiu mengutarakan kekagumannya.
"Apanya yang manis? Aku justru ingin membunuhnya dan mengiris mulut kotornya itu." Balas Hu Liena ketus.
Luqiu tersentak mendengar ucapan majikannya, "Nona, kau tidak boleh berbicara seperti itu. Berbahaya!"
"Aku tidak peduli!" Teriak Hu Liena.
Dia memang sedang marah saat ini, karena Li Junjie memanggilnya 'sayang' dan itu menurutnya sangat memalukan.
"Tapi tetap saja Pangeran Jun sudah membantu anda hari ini, Nona. Lagipula, apa yang di katakannya itu memang benar." Luqiu masih bersikukuh membela Li Junjie.
"Apanya yang benar?" Ucap Hu Liena seraya melirik ke arah Luqiu.
"Benar, kalau anda itu calon istrinya Pangeran Jun." Jawab Luqiu datar.
"KAU!" Hu Liena menunjuk ke arah Luqiu, tapi hanya kata itulah yang keluar dari mulutnya.
Sedangkan Luqiu, yang melihat majikannya terlihat frustasi seperti itu. Justru malah menyunggingkan senyumannya, "Anda tidak bisa menolaknya, Nona."
"Ah, sudahlah!" Balas Hu Liena dengan depresi.
Melihat majikannya yang sudah kewalahan menahan amarahnya, Luqiu pun lalu mengalihkan pembicaraan.
"Nona! Kau perhatikan tidak, ekspresi wanita jahat itu tadi?"
Wajah Hu Liena kembali ceria ketika Luqiu menyinggung tentang Xiulin.
"Um! Aku sangat puas." Sahut Hu Liena penuh semangat.
"Aku pikir dia akan di hukum cambuk juga, ternyata harapanku gagal. Tapi tidak apa-apa, aku akan mengurusnya nanti." Imbuh Hu Liena.
"Aku juga berpikir seperti itu, Nona." Ujar Luqiu penuh antusias.
"oh, iya. Pria yang bersama Xiulin tadi itu, siapa sebenarnya?"
Hu Liena masih penasaran dengan sosok Mo Yan Zhen yang mirip tunangannya yang biadab di kehidupan sebelumnya.
"Dia itu putra bangsawan Mo, Nona. Aku juga tidak tahu, ada hubungan apa Nona Xiulin dengannya. Yang jelas, Nona harus berhati-hati kepadanya." Ucap Luqiu memperingati majikannya.
"Kau tenang saja, aku juga tidak menyukainya." Terang Hu Liena.
"Aku percaya anda, Nona. Lagipula, Pangeran Jun lebih tampan dari putra bangsawan Mo." Ujar Luqiu dengan polosnya.
BRAKKK
Hu Liena menggebrak meja, lalu berteriak kepada Luqiu. "Jangan kau sebut pria mesum itu lagi di hadapanku!"
Di ruangan sebelah...
"Dasar gadis bodoh!" Gumam Li Junjie.
Sementara Guotin yang sedari tadi menemaninya hanya terdiam di tempat, ia bingung harus bereaksi seperti apa ketika mendengar Hu Liena mengutuk majikannya .
ya ... mereka saat ini berada di ruang yang bersebelahan dengan Hu Liena.
Tempat mereka mencuri dengar rencana jahat Xiulin dan Mo Yan Zhen sebelumnya.
Setelah rombongan Mo Yan Zhen dan Xiulin pergi, Hu Liena meneruskan niatnya untuk bersantai di kedai tersebut.
Sementara Li Junjie, kembali ke tempat awalnya bersama Guotin. Dan tentu saja, Hu Liena tidak mengetahui keberadaan Li Junjie saat ini, jika tidak, mungkin Hu Liena takkan mau minum di satu atap yang sama dengan orang yang di bencinya.
...----------------...
Di kediaman bangsawan Mo...
"Tuan, tuan!"
Seorang pelayan berlari memasuki ruangan kerja Mo Chong an.
"Ada apa?" Tanya Mo Chong an menatap pelayannya keheranan.
"Tu-tuan muda ...," Ucap si pelayan itu gugup.
"Katakan yang jelas!" Bentak Mo Chong an kepada pelayan tersebut.
"Tuan muda sudah datang." Jawab si pelayan.
Bukan hal baru jika putranya itu datang, lagipula tempatnya memang di sana. Untuk apa pelayan itu dengan hebohnya memberitahukan tentang orang yang sudah jelas-jelas tinggal satu atap dengan dirinya.
"Bukan itu maksud hamba, Tuan."
"Lalu apa?" Mo Chong an sudah kehabisan kesabarannya menghadapi ucapan si pelayan bodohnya ini.
"Tuan Muda, dia ... dia terluka, Tuan." Akhirnya si pelayan menyelesaikan perkataannya.
"Apa!" Mo Chong an langsung berdiri dari tempatnya, membuat si pelayan tertunduk ketakutan.
"Di mana dia sekarang?" Bentaknya lagi.
"Di ... di Aula, Tuan." Jelas si pelayan.
"Cepat! antarkan aku kesana!"
Setelah berada di aula, Mo Chong an melihat Istrinya sedang menangisi kondisi putranya yang terbaring di atas tandu.
"Putraku, putraku yang malang! siapa yang melakukan semua ini padamu?" Ucap Nyonya Besar Mo di sela-sela tangisannya.
Hati Mo Chong an menjadi tergerak mendengarnya, dia seakan merasakan kesedihan yang sedang di rasakan oleh istrinya.
"Istriku!" Panggil Mo Chong an.
Mendengar suara suaminya, Nyonya Besar Mo langsung menoleh ke arah asal suara.
"Suamiku, lihatlah! Putra kita terluka parah." Ujarnya seraya menunjuk ke arah Mo Yan Zhen yang terbaring lemah.
"Kau tenanglah dulu, Istriku. Sebaiknya, kita memanggil Tabib untuk memeriksa kondisi putra kita." Ujar Mo Chong an berusaha untuk menenangkan istrinya.
"Bagaimana aku bisa tenang, jika putraku terluka seperti ini." Kata Nyonya Besar Mo.
"Setidaknya, biarkan Tabib mengobati lukanya terlebih dahulu." Bujuk Mo Chon an kepada istrinya.
"Baiklah!" Ucap Nyonya Besar Mo menyerah.
Dia juga tidak ingin melihat Putranya terus-menerus mengerang kesakitan seperti ini.
Mo Yan Zhen membuka matanya perlahan, dia kembali mendapatkan kesadarannya setelah pingsan selama hampir 4 jam.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih sakit? mana, bagian mana yang terasa sakit?" Nyonya Besar Mo terus mencecar putranya dengan pertanyaan.
Mo Yan Zhen sendiri hanya mengernyit menahan kesakitan.
"Istriku! Berikan kesempatan Putra kita untuk berbicara." Tegur Mo Chong an pelan.
Nyonya Besar Mo melirik Putranya yang terlihat kebingungan, lalu dia menoleh ke arah Suaminya dan berkata. "Baiklah, mungkin aku terlalu mengkhawatirkannya."
"Tidak apa-apa, itu hal wajar karena kau adalah Ibunya." Balas Mo Chong an.
Mo Chong an bergerak menghampiri Putranya, lalu membuka suara. "Apa yang terjadi sebenarnya?"
Sejujurnya, Mo Chong ingin marah dan mengutuk pelaku yang telah membuat Putranya menjadi seperti ini. Namun, ia ingin mengetahui dulu kebenarannya, dari mulut sang Putra.
"Ini semua gara-gara Hu Liena, Ayah. Seandainya saja aku tidak bertemu dengannya hari ini, mungkin Pangeran Jun takkan membuatku terluka seperti sekarang ini." Terang Mo Yan Zhen, ia sengaja menyalahkan Hu Liena atas kejadian yang menimpa dirinya.
"Hu Liena?" Dahi Mo Chong an berkerut mendengar nama yang belum pernah di dengarnya.
"Hu Liena, Putri sah dari Perdana Menteri. Dia adalah gadis yang ingin di singkirkan oleh Nyonya Yue saat ini." Jelas Mo Yan Zhen.
"Kurang ajar! Ternyata dia orangnya." Ucap Mo Chong an geram.
Dia baru tahu, jika gadis yang membuat Putranya terluka itu adalah orang yang sama dengan orang yang akan di singkirkannya.
"Iya Ayah, dia orangnya." Ujar Mo Yan Zhen yang juga memancarkan kebencian di matanya."
"Baiklah, mulai sekarang dia juga akan menjadi musuh besar kita." Tegas Mo Chong an kepada Putranya.
Mo Yan Zhen terlihat bahagia begitu mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Ayahnya. Namun, kebahagiaannya itu hanya sementara.
Karena pada saat bersamaan, seorang Penjaga datang untuk memberi laporan mengenai tagihan yang harus di bayarkan oleh Mo Chong an.
"Hormat hamba, Tuan. Di depan gerbang, ada Nona Hu Liena yang sedang membuat kekacauan." Lapor si Penjaga.
"Kurang ajar! Berani sekali gadis sialan itu datang dan membuat onar di kediamanku!"