Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
120. Penyambutan Kaisar Li Jinhai.


Mo Chong an tertegun mendengar tuduhan yang di lemparkan Putri Song Qian kepadanya.


Bagaimana mungkin dirinya tega mengkhianati kelompoknya sendiri?


Pasti ada yang tidak beres, ada yang mengadu domba mereka sehingga Putri Song Qian mengira jika dia yang melakukannya, pikir Mo Chong an.


"Putri, anda sudah salah paham! Bukan hamba yang melakukannya! Pasti ada orang lain, yang ingin mengadu domba kita semua!" Mo Chong an berusaha mengelak dari tuduhan yang di berikan.


"Apa?! Salah paham katamu?! Salah paham apanya? Heh! Kau bahkan sudah membongkar identitas Putraku di hadapan semua orang, dan kau masih berani mengatakan itu salah paham? Dasar kau bajingan, Mo Chong an! Aku berharap, aku mempunyai kesempatan untuk bisa membunuhmu dengan tanganku sendiri!"


Putri Song Qian berteriak histeris memaki, dan menyumpahi Mo Chong an dengan keras.


Sedangkan Mo Chong an sendiri, kini terlihat bingung setelah mendengar semua ucapan Putri Song Qian.


Dia! Mo Chong an! Orang yang paling setia kepada Putri Song Qian, telah di ragukan kesetiaannya.


Tuduhan Putri Song Qian telah membuat hati Mo Chong an terasa sakit. Semua pengorbanannya tidak di hargai sama sekali oleh orang yang dia bela selama ini. Mo Chong an merasa kecewa.


Benar-benar kecewa kepada Putri Song Qian!


"Apa kalian sudah selesai? Jika belum, kalian bisa melanjutkannya nanti di penjara!" ucap Hu Liena sambil memberi isyarat kepada para prajurit untuk membawa mereka berdua.


Mo Chong an di seret paksa bersama Putranya Mo Yan Zhen yang terus meronta-ronta minta di lepaskan ikatannya.


Sedangkan Putri Song Qian, di jadikan satu kereta dengan Pangeran Yu Zemin yang saat ini sedang terluka setelah bertarung melawan Li Junjie.


"Mo Chong an sialan! Bajingan! Kurang ajar!" Putri Song Qian masih saja memaki Mo Chong an di dalam keretanya.


Sedangkan Yu Zemin, hanya bisa menatap sang Ibunda sambil menahan rasa sakitnya.


"Bawa mereka semua ke penjara, perketat pengamanan selama dalam perjalanan. Jangan sampai ada satu orang 'pun dari mereka, yang berhasil melarikan diri." Teriak Li Junjie sebelum keberangkatan pulang.


"Baik, Pangeran!" Semua prajurit menjawab dengan sangat kompak.


Akhirnya, setelah semua orang yang berada di sana di tangkap, rombongan Li Junjie dan Hu Liena 'pun kembali ke Ibu Kota.


Semua rakyat menyambut dengan suka cita iring-iringan prajurit yang membawa para pemberontak untuk di adili Kaisar.


Bahkan ada beberapa orang dari mereka sengaja memuji kehebatan, dan keberanian para prajurit yang di pimpin Pangeran Jun dan Hu Liena dalam memberantas pemberontakan.


Kaisar juga merasa sangat senang setelah mendengar berita Putra dan menantunya berhasil membawa, dan menangkap Putri Song Qian dan Pangeran Yu Zemin.


Kedua orang Ibu dan anak ini sudah terlalu banyak menyusahkan semua orang. Mereka berdua bahkan dengan sengaja mengadu domba dua kerajaan, demi kepentingan mereka sendiri.


Untuk itu, Kaisar Li Jinhai secara khusus mengundang Kaisar Qian untuk datang menyaksikan persidangan Adik perempuannya, Putri Song Qian.


Seandainya perbuatan Putri Song Qian tidak merusak kedamaian di kerajaan dinasti Ying, mungkin Kaisar Li Jinhai akan dengan senang hati menyerahkan Putri Song Qian hidup-hidup ke kerajaan Qian untuk di adili di sana.


Namun sayangnya, perbuatan salah satu Putri pendiri kerajaan Qian tersebut, sudah tidak bisa di tolerir lagi. Jadi Kaisar Li Jinhai akan dengan tegas mengadili dan menghukum Putri Song Qian sesuai hukum yang berlaku di kerajaannya.


Penyusup harus tetap di adili, dan di hukum mati!


"Selamat datang, Putraku!" Kaisar Li Jinhai memeluk Putranya Li Junjie saat akan memasuki pelataran Istana.


"Terima kasih atas penyambutannya, Kaisar!"


Li Junjie membungkukkan badan memberi hormat kepada Kaisar Li Jinhai, yang sekaligus adalah Ayahnya sendiri.


"Di mana menantuku yang sangat berbakat?" tanya Kaisar heran saat tak melihat Hu Liena datang bersama Putranya.


"Kami berada di kereta yang berbeda, mungkin sebentar lagi dia sampai, Ayah!" jawab Li Junjie sambil menoleh ke arah iring-iringan para prajurit.


"Itu dia, menantuku!" kata Kaisar sambil berjalan menuju tempat kereta kuda Hu Liena di hentikan.


Li Junjie hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat Ayahnya pergi untuk menyambut calon menantunya dengan sangat bersemangat.


"Kakak Pertama! Di mana Kakak Iparku?" Putri Li Jiang berjalan anggun bersama para dayang Istana.


"Di sana ...," Jawab Li Junjie sambil melirik ke arah Hu Liena yang sedang bercengkrama bersama Kaisar Li Jinhai.


"Baiklah, aku akan kesana." ucap Putri Li Jiang berniat untuk melangkahkan kakinya namun segera di hentikan oleh Li Junjie.


"Tidak perlu! Kau di sini saja, biar aku yang menjemputnya."


Li Junjie berjalan ke arah di mana Hu Liena dan Kaisar Li Jinhai bercakap-cakap.


"Ayah, sebaiknya kita semua langsung pergi ke Aula Istana. Para Menteri pasti sedang menunggu kita, di sana." ujar Li Junjie sambil menggandeng tangan calon Istrinya.


Kaisar tidak menolak, para Menteri memang sudah berkumpul di Aula untuk menyambut keberhasilan Putra dan menantunya.


Dia 'pun lalu berjalan memimpin rombongan menuju Aula tempat di mana semua orang sedang menunggu kedatangan mereka.


"Kakak Ipar, aku merindukanmu." kata Putri Li Jiang saat Hu Liena berada di hadapannya.


"Aku juga sama, Adik." balas Hu Liena sambil tersenyum penuh kelembutan.


Li Junjie melepaskan pegangan tangannya, dan membiarkan Hu Liena berjalan bersama Adik perempuannya hingga ke Aula.


"KAISAR MEMASUKI RUANGAN!"


Seorang kasim langsung memberitahukan kedatangan Kaisar kepada semua para pejabat yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan pahlawan kerajaan yang datang di barisan paling belakang setelah Kaisar mereka.


"Hormat kami kepa Yang Mulia Kaisar!"


Para Menteri dan para pejabat lainnya, serempak bersujud di hadapan Kaisar Li Jinhai.


"Bangunlah, kalian!" ucap Kaisar sambil berjalan ke kursi kebesarannya.


"Duduklah!"


Setelah mendapatkan perintah, semua orang kembali duduk di kursinya masing-masing. Tentu saja, setelah Kaisar terlebih dahulu duduk di singgasana miliknya.


"Kalian semua tahu, jika Putra pertamaku telah menangkap pemberontakan yang di lakukan oleh Putri Song Qian Adik perempuannya Kaisar Qian!


Keberhasilannya, tidak luput dari bantuan calon menantuku, Putri Xia! Putri dari Perdana Menteri Hu Boqin! Oleh sebab itu, aku ingin memberikan hadiah kepada Perdana Menteri Hu Boqin terlebih dahulu, karena telah menjadikan Putrinya menjadi sangat berbakat seperti sekarang ini!"


Kaisar Li Jinhai melambaikan tangan, dan beberapa dayang langsung masuk dengan masing-masing membawa nampan yang di tutup kain.


Jika di hitung, mungkin dayang-dayang itu kurang lebih ada lima belas orang. Dan masing-masing dari mereka semua, tidak ada yang bertangan kosong.


"Buka!" perintah Kaisar kepada kasim Istana.


Kasim 'pun membuka satu persatu kain yang menutupi nampan.


"Wah, emas!"


"Iya, emas batangan!"


"Banyak sekali!"


Semua orang saling berbisik begitu kain penutup nampan sudah terbuka semua.