Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
112. Rencana kedua.


Li Junjie merasa puas dengan ide brilian dari Hu Liena. Dengan ide calon Istrinya tersebut, Li Junjie berharap tidak akan ada lagi para Bangsawan yang mengambil keuntungan dari jalan yang tidak benar.


"Aku setuju denganmu, Putri!" Kata Li Junjie bangga.


"Hamba juga, Putri! Hamba akan mengutus beberapa petugas, untuk segera menangkap semua Bangsawan yang di duga akan melakukan pemberontakan, bersama dengan Bangsawan Mo." Ucap Guotin penuh kepatuhan.


Pada hari itu juga, para prajurit Istana mendatangi semua kediaman para Bangsawan di kerajaan dinasti Ying. Tak satupun dari mereka yang bisa meloloskan diri, dari hukuman penjara.


"Ayah, Ayah, gawat!" Teriak Mo Yan zhen sambil berlari memasuki ruangan pribadi milik Ayahnya.


"Apanya yang gawat? Bicara yang jelas!" Bentak Mo Chong an kepada Anaknya yang kini sedang meminum secangkir teh dengan terburu-buru.


"Itu Ayah, para Bangsawan ...," ucap Mo Yan Zhen dengan gugup.


Mo Chong an merasa kesal karena dari pertama kali datang, Putranya hanya berbicara setengah-setengah saja.


"Cepat katakan! Jangan bikin aku kesal!" Bentak Mo Chong an dengan tidak sabar.


Setelah menarik nafas terlebih dahulu, barulah Mo Yan Zhen berbicara dengan lancar.


"Semua para bangsawan di tangkap oleh Kaisar, dan di jebloskan ke dalam penjara!"


"Apa? Bagaimana mungkin?" Mo Chong an terkejut bukan main begitu mendengar berita tentang penangkapan semua para bangsawan yang menjadi targetnya untuk di jadikan koalisi.


"Semua ini karena ulah Pangeran Jun, Ayah! Dia memberikan laporan kepada Kaisar, kalau para bangsawan telah berbuat kejahatan." ucap Mo Yan Zhen sambil mengepalkan kedua lengan.


"Pangeran Jun!" teriak Mo Chong an geram.


Semua yang telah dia rencanakan sebelumnya, kini menjadi hancur berantakan karena para bangsawan yang Mo Chong an incar, sudah terlebih dahulu di penjarakan oleh Li Junjie.


"Brengsek! Kurang ajar!" Mo Chong an melempar semua benda yang ada di dekatnya saat ini.


Bahkan Putranya saja, Mo Yan Zhen, harus beberapa kali menghindar agar tak terkena lemparan benda-benda yang menyasar kepadanya.


"Ayah, hentikan!" cegah Mo Yan Zhen saat Mo Chong an ingin melempar kendi yang berisi air.


"Kenapa, kenapa kau ingin menghentikanku?" teriak Mo Chong an dengan keras.


"Jangan salah paham dulu, Ayah! Aku menghentikanmu, karena ada alasannya." Ucap Mo Yan Zhen dengan hati-hati.


Mo Chong an kembali menyimpan kendi yang tidak jadi dia lempar, ke tempatnya semula.


"Katakan, apa alasannya?"


Mo Yan Zhen berjalan mendekati sang Ayah, lalu berbisik dengan perlahan.


Wajah Mo Chong an tampak kembali bersemangat setelah mendengar bisikkan dari Putranya.


"Jenius! Kamu benar-benar jenius, Putraku!" puji Mo Chong an sambil menepuk bahu Putranya.


"Aku banyak belajar darimu, Ayah!" ucap Mo Yan Zhen berbangga diri.


Keesokan harinya....


"Apa kau sudah siap?" tanya Mo Chong an kepada sang Putra yang saat ini sedang duduk menikmati secangkir teh.


"Sudah, Ayah!"


"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" Ajak Mo Chong an dengan bersemangat.


Mereka berdua berjalan menuju ke arah depan. Dua kereta kuda sudah di siapkan, untuk keberangkatan mereka berdua.


Setelah Ayah dan anak itu menaiki kereta kuda masing-masing, sang kusir mulai melajukan keretanya.


Suasana hati Mo Chong an sangat tenang sekarang. Rencana yang di buat Putranya sangatlah sempurna. Dia tak perlu lagi memikirkan tentang para bangsawan yang telah di tangkap oleh Kaisar.


Fokusnya sekarang, hanyalah bagaimana caranya membujuk seseorang yang akan dia temui untuk di jadikan rekan kerjanya.


"Kita sudah sampai, Tuan!" ucap pengawal berkuda dari arah luar.


"Ayo, turun!" ajak Mo Chong an kepada Mo Yan Zhen yang berada di kereta yang satunya.


Mereka berdua 'pun, lalu berjalan memasuki halaman rumah yang tampak sepi tersebut.


Mo Chong an mengetuk pintu yang terbuat dari kayu berbahan tebal.


Satu kali, tidak ada tanggapan. Dua sampai tiga kali, tetap tidak ada tanggapan sama sekali.


Untuk yang ketiga kali, seseorang akhirnya membuka kunci dari dalam.


"Siapa kalian?" tanya penjaga yang membuka kunci.


"Kami datang untuk bertemu dengan Tuan Bao, apa bisa?" ucap Mo Chong an dengan ramah.


Si penjaga memperhatikan Mo Chong an dan Putranya dari atas sampai bawah, sebelum akhirnya bertanya kembali kepada mereka berdua.


"Kalian sudah membuat janji, sebelumnya?" tanya si penjaga dengan sinis.


Mo Chong an menggelengkan kepalanya. Dia memang belum membuat janji apa-apa, karena tahu tentang Tuan Bao juga dari sang Putra.


"Aku belum! Tapi Putraku, mungkin sudah!" jawab Mo Chong an ragu-ragu.


Si penjaga menoleh ke arah Mo Yan Zhen, yang saat ini juga menggelengkan kepalanya.


"Aku juga belum!"


Si penjaga terlihat malas meladeni mereka berdua.


"Ada perlu apa? biar aku tanyakan terlebih dahulu kepada Tuan, mau atau tidaknya bertemu dengan kalian." ucap si penjaga dengan muka di tekuk.


"Kami dari keluarga Mo, ingin mengajak Tuan Bao untuk bekerja sama." jawab Mo Chong an dengan datar. dia juga merasa kesal dengan cara si penjaga menyambut kedatangan dirinya.


Mo Chong an adalah keluarga bangsawan ternama. Pantang bagi Mo Chong an, di perlakukan seperti itu oleh orang biasa. Apalagi, yang melakukan itu kepadanya, hanya berstatus seorang penjaga.


"Baik! Tunggu sebentar!"


_Brugghhh!_


Selesai mengatakannya, si penjaga langsung menutup pintu dengan keras.


Mo Chong an mengeratkan giginya kuat, saking geramnya dia dengan kelakuan si penjaga.


"Awas saja kau! Kalau aku berhasil bertemu dengan Tuanmu, aku akan langsung berbicara kepadanya, agar kau mendapatkan hukuman." Gumam Mo Chong an perlahan.


Seandainya saja dia tidak membutuhkan bantuan Tuan Bao, mungkin dia tidak akan mendatangi rumah kuno ini sekarang.


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka kembali.


"Masuk!" ucap si penjaga datar.


Mo Chong an di susul okeh Putranya, melangkah kaki memasuki rumah kuno milik Tuan Bao.


_Brugghhh!_


Pintu kembali di tutup dengan sangat keras.


Mo Chong an mengepalkan tangannya dengan erat. Dia sudah bertekad, untuk mengadukan perlakuan si penjaga terhadap dirinya, kepada Tuan Bao.


"Lewat sini!" ucap si penjaga menunjukkan jalan.


Sikapnya masih sama, datar, dan juga kasar kepada kedua tamu Tuannya.


Mereka bertiga berhenti di depan sebuah pintu kayu berukiran naga raksasa.


Dalam hati, Mo Chong an memuji keberanian Tuan Bao menggunakan ukiran naga.


Biasanya, yang memakai lambang seperti itu di sebuah Negara hanyalah seorang Kaisar.


Jika ada yang menggunakan lambang tersebut selain dari keluarga kerajaan, maka orang itu akan di anggap sedang menantang Kaisar. Dan akan di sebut sebagai pembangkang.


"Masuklah!"


Setelah mengatakan hal itu, si penjaga langsung pergi tanpa membantu membukakan pintu untuk Mo Chong an dan putranya.


"Kurang ajar!" gerutu Mo Chong an lalu menyuruh sang Putra untuk mendorong pintu.