
Di kediaman keluarga Yue...
"Bibi Ling, kenapa Suamiku belum datang juga." Ucap Nyonya Yue yang terlihat resah.
Bibi Ling yang kebingungan harus menjawab, jadi panik seketika.
"Hamba juga kurang tahu, Nyonya. Mungkin urusan di sana belum beres, sehingga Tuan Besar harus lebih lama lagi tinggal di sana!" Jawab Bibi Ling sembarang.
Nyonya Yue sudah tampak tidak sabar menunggu Suaminya untuk datang.
Jadi dia meminta Bibi Ling, untuk menanyakan keberadaan Suaminya kepada penjaga gerbang.
Bibi Kiew tidak mengerti alasan sang Nyonya menyuruhnya menanyakan kepada penjaga. Bukankah akan lebih praktis, jika Bibi Ling langsung mencari tahu ke paviliun utama, tempat Tuan Besar tinggal.
Tapi entahlah, Bibi Ling tetap mengikuti kemauan sang majikan.
"Apa Istriku ada di dalam?" Tanya Bangsawan Yue kepada Bibi Ling yang baru saja keluar kamar.
Seketika Bibi Ling merasa lega, dan dia langsung memberi hormat kepada Bangsawan Yue.
"Jawab, Tuan besar. Nyonya ada di dalam." Balas Bibi Ling.
Tanpa menunggu lama, Bangsawan Yue langsung memasuki kamar Istrinya.
"Bagaimana Bibi, apa Suamiku sudah pulang?" Tanya Nyonya Yue tanpa menoleh sama sekali.
Seandainya saja dia menoleh, mungkin Nyonya Yue akan merasa malu, karena ketahuan menanyakan kabar tentang Suaminya langsung.
Seperti yang di ketahui, Nyonya Yue selalu menutup diri beberapa tahun terakhir ini.
Itu karena, Bangsawan Yue selalu menyiksanya dulu karena hasutan Liu Ning, yang menyebutkan jika Nyonya Yue berselingkuh.
"Hemm ... aku di sini!" Ucap Bangsawan Yue.
Nyonya Yue sontak membalikkan badan karena rasa terkejut mendengar suara sang Suami yang di tunggu-tunggunya sedari tadi.
"Tuan!" Kata Nyonya Yue setengah berseru.
"Yuan'er!" Panggil Bangsawan Yue memanggil Istrinya dengan sebutan semasa mudanya dahulu.
Nyonya Yue tersipu mendengar panggilan itu di sematkan padanya.
Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, Nyonya Yue tidak pernah di panggil dengan sebutan seperti itu.
"Tuan, apa yang membuat anda datang kemari?" Tanya Nyonya Yue dengan malu-malu.
Jangankan Nyonya Yue, Bangsawan Yue 'pun sekarang tampak tersipu karena ini kali pertama dia berbicara langsung dengan sang Istri.
Setelah puluhan tahun lamanya, akhirnya Bangsawan Yue memiliki kesempatan untuk berbicara berdua dengan Istrinya itu.
"Yuan'er, aku datang kesini karena ingin meminta maaf darimu. Aku akui, selama ini aku salah karena lebih percaya kepada perempuan jahat itu di bandingkan dirimu. Jika kau ingin marah, silahkan saja, aku tidak akan membantah. Jika kau ingin memukul, maka pukullah aku, dengan pukulan yang lebih keras dari yang aku berikan dahulu. Aku ingin, kau menumpahkan segala kekesalanmu selama puluhan tahun kepadaku, aku ingin membayar, semua hutang yang belum sepeserpun aku kembalikan kepadamu. Yuan'er, untuk itu, silahkan, silahkan kau hukum aku, dengan hukuman yang lebih berat dari yang aku berikan kepadamu." Ucap Bangsawan Yue penuh dengan penyesalan.
Bahkan saat ini, matanya telah basah oleh airmata yang sedari tadi tidak bisa di tahan.
"Tuan! Jangan berbicara seperti itu, aku tahu, aku tahu itu bukan salahmu! Itu semua ulah Liu Ning, jadi anda tidak bersalah sama sekali kepadaku, Tuan! Aku bersyukur, hari ini Tuan datang, dan meminta maaf kepadaku. Itu sudah cukup, cukup untuk membayar semua kesakitan yang aku derita selama ini." Ucap Nyonya Yue dengan derai airmata.
Selama ini, Bangsawan Yue hanya di butakan oleh api cemburu, dan hasutan dari Liu Ning. Sehingga Bangsawan Yue tidak bisa berbicara dari hati ke hati dengan sang Istri.
Seandainya saja Bangsawan Yue dulu pernah mencoba untuk berbicara kepada Istrinya, mungkin kejadiannya tidak akan secanggung ini. Mungkin juga hidup Bangsawan Yue juga tidak akan sehampa ini sampai sekarang.
Tak banyak orang tahu, Bangsawan Yue selalu mempertahankan kesetiannya kepada Nyonya Yue.
Bahkan sampai sekarang, Bangsawan Yue tidak pernah mengambil selir lagi.
Hanya Liu Ning yang menjadi selirnya Bangsawan Yue. Itu juga karena terpaksa, karena satu hari sebelum Bangsawan Yue menikah dengan Nyonya Yue muda, dia di jebak oleh Liu Ning.
Dengan di berikannya Bangsawan Yue minuman yang sudah di campur dengan obat perangsang, agar dia tidak bisa menahan hasrat ke laki-lakiannya saat itu. Dan terjadilah kesalahan, yang mengharuskan Bangsawan Yue menikah dengan Liu Ning, yang saat itu berstatus sahabat Nyonya Yue.
"Apa kau mau memaafkanku, Yuan'er?" Tanya Bangsawan Yue penuh harap.
Nyonya Yue mengangguk, dia juga tidak bisa membohongi dirinya yang merindukan sosok pria yang di kasihinya sewaktu masih muda.
"Benarkah? Kau memaafkanku, semudah itu?" Tanya Bangsawan Yue yang seakan belum percaya.
"Iya, aku memaafkanmu, Tuan!'' Ucap Nyonya Yue perlahan.
Bangsawan Yue merasa bahagia tiada tara mendengar kata maaf yang terucap dari mulut Istrinya. Jika memang semudah ini, kenapa dia tidak meminta maaf lebih awal, agar kekosongan hatinya bisa terisi lagi.
"Yuan'er, aku sangat bahagia sekali kau mau memaafkan aku lagi. Aku janji, aku janji tidak akan mengulangi hal yang sama, untuk kedua kali."
Nyonya Yue merasa tersentuh hatinya, dengan janji yang di ucapkan sang Suami. Mulai hari ini, Nyonya Yue juga berjanji bahwa dia tidak akan menghiraukan omongan orang lagi.
"Suamiku!" Suara Nyonya Yue tercekat karena merasa terharu.
Bangsawan Yue merengkuh Istrinya ke dalam pelukan. Sungguh ia merindukan suasana ini sedari dulu. Bangsawan Yue sadar usia mereka tidak muda lagi sekarang, namun dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membahagiakan Istrinya.
"Istriku! Mari memulai semuanya, dari awal lagi!" Ucapnya hingga membuat Nyonya Yue tersipu malu karenanya.
"Aku sudah tua sekarang, Tuan!" Balas Nyonya Yue dengan langsung menundukkan kepalanya.
"Usia bukanlah penghalang, yang penting kita berdua hidup bahagia, sampai mau memisahkan." Kata Bangsawan Yue dengan sungguh-sungguh.
Bagaimana Nyonya Yue tidak terharu dengan permintaan Suaminya yang tulus itu. Dia bahkan tidak bisa tidak, menitikkan airmata tanda bahagia.
Benar kata pepatah. 'Habis gelap terbitlah terang'
Itulah yang sedang di alami oleh kedua insan, yang sudah tidak muda itu lagi sekarang.
Mereka berjanji seiya sekata selamanya, meskipun mungkin nanti akan ada orang yang berusaha memisahkan mereka lagi, mereka tidak akan tergoda, dan akan tetap mempercayai satu sama lainnya.
"Istriku! Kita harus berterima kasih kepada Putri Xia, dan Pangeran Jun. Karena jasa mereka, kita berdua bisa bersatu seperti saat ini." Ucap Bangsawan Yue di tengah-tengah rasa bahagianya.
"Putri Xia?" Nyonya Yue merasa asing dengan nama yang di sebut Suaminya.
Bangsawan Yue mengangguk. "Benar, Putri Xia! Beliau adalah calon Istri dari Pangeran Jun, Putri sah dari kediaman Perdana Menteri."
"Dari kediaman Perdana Menteri ya ...," Ujar Nyonya Yue sembari manggut-manggut patuh.
Dia ingat, orang yang mengabarkan tentang Liu Ning berasal dari kediaman Perdana Menteri. Tapi Orang Itu, tidak menyebutkan tentang nama orang yang mengutusnya, hanya menyebutkan tentang kediaman Perdana Menteri saja.