
"Di mana calon Selirku?" teriak Kaisar Wuya saat memasuki area kolam pemandian tempat Yueqin dan Xiulin sebelumnya berada.
"Ampun, Yang Mulia! Kami semua tidak tahu!" ucap ketua pelayan yang berjaga di pintu.
Kaisar Wuya murka, dia lalu memukuli pelayan yang baru saja berbicara.
"Dasar bodoh! Bagaimana bisa, kalian membiarkan calon Selirku melarikan diri!" teriak Kaisar keras.
Dia menyangka, jika Yueqin dan juga Putrinya melarikan diri karena tak ingin menikah, dan memasuki Istananya.
Bahkan sang Kaisar berpikir jika calon Selirnya tersebut, hanya datang untuk menipunya saja.
Beberapa waktu yang lalu, Yueqin bercerita jika dia menginginkan perhiasan dari batu giok es yang sangat langka sekali keberadaannya.
Dan sang Kaisar 'pun, sudah memberikan apa yang di inginkan calon Selirnya tersebut. Namun kini, ketika pernikahan hanya tinggal beberapa hari saja. Calon Selirnya tersebut, justru malah melarikan diri bersama sang Putri.
Dan yang paling membuat Kaisar murka, Yueqin saat datang ke pemandian, dia juga mengenakan satu set perhiasan giok es yang di berikannya.
Sudah pasti, Yueqin pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. pikir Kaisar Wuya.
"Perempuan sialan! Berani sekali dia menipuku!" rutuknya dalam hati.
Memang, orang yang terlanjur kecewa, pasti akan berpikir jelek tentang orang yang telah pergi meninggalkannya. Tanpa mencari tahu dulu, apa penyebab kepergian orang tersebut.
Seandainya Kaisar Wuya bisa berpikir jernih, dan menelusuri penyebab hilangnya sang calon Selirnya tersebut. Pasti dia akan bergerak, untuk mengejar dan menangkap ketiga orang yang menjadi dalang hilangnya Yueqin dan juga Putrinya.
Yaitu Hu Liena, Li Junjie, dan juga Qian Yingzhi yang saat ini tengah bersantai di dalam ruang dimensi rahasia milik Hu Liena.
"Tadi itu mendebarkan sekali!" celetuk Qian Yingzhi yang memulai percakapan.
Hu Liena mengerutkan kening, lalu bertanya kepada orang yang bersangkutan.
"Mendebarkan apa? Bukankah kalian berdua hanya diam dan bersembunyi saja?" ucapnya kesal.
Li Junjie melirik sebentar ke arah Qian Yingzhi yang saat ini terdiam, karena bingung harus membalas seperti apa ucapan sang Putri Putri Agung dari kerajaan dinasti Ying yang banyak akal.
"Mungkin maksudnya Pangeran Qian, saat harus mengintip Ibu Tirimu sedang berendam di kolam. Itu bagian yang mendebarkan!" tutur Li Junjie yang mendapat dukungan penuh dari Qian Yingzhi.
"Anda benar sekali, Pangeran! Itulah maksudku, yang sebenarnya." ucap Qian Yingzhi.
Hu Liena mendelikkan mata ke arah dua orang Pangeran berbeda kerajaan tersebut.
Keduanya saat ini sangat kompak, membela satu sama lain di hadapannya, hingga membuat dirinya semakin merasa sebal.
"Lalu kenapa, kalian berdua tidak menutup mata? Berarti, kalian berdua menikmati pemandangan tersebut, 'kan?" cibir Hu Liena.
"Hem, Putri! Ini bukan waktunya kita untuk berdebat, sebaiknya kita dengan segera keluar dari area bukit Wuya sebelum para penjaga menemukan keberadaan kita semua." ucap Li Junjie berusaha mencairkan suasana yang kian memanas.
Hu Liena tidak menggubris ucapan Li Junjie, dia masih merasa kesal dengan kedua Pangeran.
Bisa-bisanya mereka bilang tentang situasi yang mendebarkan, namun sedikitpun mereka tidak berusaha menghindar atau memalingkan pandangan saat di area kolam.
Kalau bukan karena sedang menjalankan tugas, mungkin Hu Liena akan membiarkan mereka berdua tetap di sana menikmati pemandangan yang menurutnya menjijikkan.
Sadar calon Istrinya telah salah paham, Li Junjie lalu berjalan mendekati tempat Hu Liena berada.
"Dengar, Putri! Kami berdua sudah berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain, tapi 'kan anda tahu sendiri, kami berdua harus tetap fokus menjalankan semua sesuai rencana." tutur Li Junjie yang membuat Hu Liena mengurangi emosinya.
"Baiklah, aku percaya! Tapi lain kali, jaga kedua mata anda, Pangeran. Agar tak perlu menyaksikan, apa yang tak sepantasnya." tegur Hu Liena dengan raut wajah yang masih tampak suram.
"Kau bisa mempercayai setiap ucapanku, Putri." ujar Li Junjie dengan perasaan lega.
"Saya juga, saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kali." ucap Pangeran Qian Yingzhi.
Li Junjie memelototi dirinya, dia pikir tidak perlu sampai berjanji seperti itu.
Benar-benar minta di hajar! pikir Li Junjie.
Sore 'pun tiba, Hu Liena lalu mengajak kedua Pangeran untuk keluar dari ruang dimensi rahasia.
Mereka berencana untuk menuruni bukit Wuya, melalui jalan rahasia yang mereka pergunakan waktu datang ke pemandian.
Beberapa saat perjalanan, akhirnya mereka sampai di penginapan tempat mereka semua beristirahat.
Sebelum melakukan hal lain, Hu Liena terlebih dahulu mengeluarkan Pangeran Jing, Putri Jiang, dan juga Putri Jia Li dari ruang dimensi rahasia.
Sedangkan untuk Yueqin dan juga Putrinya, Hu Liena masih membiarkan mereka tetap berada di sana sampai mereka kembali ke kerajaan Ying.
Barulah setelah di sana, Hu Liena berencana akan mengeluarkan mereka berdua.
"Putri Xia, mengapa mereka bertiga belum bangun juga?" tanya Pangeran Qian Yingzhi cemas.
"Jangan khawatir, sebentar lagi, efek obatnya akan hilang." jawab Hu Liena dengan tenang.
Benar saja, baru juga Hu Liena selesai berbicara, Li Jing Sheng sudah mulai membuka kedua matanya.
"Eh, kenapa kalian tidak membangunkanku?" tanya Li Jing Sheng dengan gugup.
Seingatnya, mereka semua akan pergi ke bukit Wuya untuk menangkap kedua buronan Ibu dan Anak.
Tapi dia malah terlelap, dan membuat semua orang menunggunya hingga terbangun.
"Kau tidur terlalu pulas, Adik!" cetus Hu Liena.
"Kakak ...," Putri Jiang sudah menyusul terbangun.
"Adik, kita berdua sudah menyusahkan banyak orang." keluh Pangeran Li Jing Sheng.
Putri Jiang mengernyit, dia masih linglung karena baru saja terbangun dari tidurnya. Dan tentu saja dia masih belum mengerti, apa yang di maksud oleh Pangeran Li Jing Sheng.
"Sudahlah, tidak perlu di bahas lagi!" tukas Hu Liena.
Pangeran Qian Yingzhi, melirik ke arah Adiknya, Putri Jia Li yang masih terlelap di atas tempat tidurnya.
"Bagaimana dengan Adikku, Putri Jia Li? Kenapa dia belum bangun juga, sampai sekarang?" tanya-nya.
"Tidak apa-apa, mungkin dia terlalu lelah hingga membutuhkan waktu lebih banyak untuk menghilangkan efek obatnya." tutur Hu Liena yang di balas anggukkan kepala Pangeran Qian Yingzhi.
"Putri, apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Li Junjie penasaran.
Hu Liena berjalan, dan memeriksa kondisi tubuh orang yang baru terbangun dari efek obat penenang yang dia berikan.
Takutnya, ada efek samping bawaan terjadi kepada tubuh mereka semua. Maka dari itu, Hu Liena dengan sigap memeriksa keadaan mereka.
Setelah di rasa kondisi mereka semua dalam keadaan baik, barulah Hu Liena merasa lebih tenang.
"Kita akan pulang, ke kerajaan Ying sekarang juga!" ucap Hu Liena tanpa beban.
"Eh, Kakak Ipar! Bagaimana dengan rencana awal kita?" tanya Pangeran Jing kebingungan.
Pasalnya, rencana mereka menangkap buronan belum terlaksana. Dan sekarang, mengapa langsung pulang? pikir Li Jing Sheng.
Pangeran Qian Yingzhi memalingkan pandangannya ke arah lain, agar dia tidak keceplosan untuk tertawa ketika mendengar pertanyaan dari Pangeran Jing.
Memang, bukan salahnya jika dia masih merasa kebingungan dengan keadaan saat ini. Pangeran Jing tertidur hampir satu hari satu malam, jadi wajar saja dia merasa tidak mengetahui kejadian yang terjadi semenjak dirinya tertidur dengan lelap.
"Tidak perlu! Kita pulang saja!" tukas Li Junjie tanpa berusaha menjelaskan.